15 Juni 2012

Komitmen dalam Perjuangan (Khutbah KH. Rahmat Abdullah)


(Khutbah Jum’at oleh KH. Rahmat Abdullah)


(Khutbatul Hajah)... Amma Ba’du:


Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah...
Sebelum seorang manusia bekerja dan beramal, sebelum seorang muslim melakukan amal-amal yang banyak dalam kehidupannya; pertama-tama yang harus dimiliki adalah al-fahmu. Sebuah pemahaman yang benar tentang ad-diin, tentang agama ini. Sesudah itu, dia harus punya komitmen untuk melaksanakannya. Dia pun merawat amal itu dengan kesabaran dan memilih yang terbaik dari segala kemungkinan yang terbuka di depannya.

Ketika Allah membebaskan seseorang, dari semisal kewajiban berperang, mempertahankan dan memperjuangkan Islam – seperti Rasulullah melaksanakannya, 27 kali pertempuran beliau pimpin langsung, 35 kali dipimpin oleh para sahabat, 62 kali perang besar, dengan belasan perang-perang kecil, semua bukan dilandasi nafsu tapi semata-mata pelaksanaan perintah Allah SWT. Bahkan untuk nafsu, (perang) itu adalah hal yang tidak menyenangkan. Ada beberapa kelompok yang dibebaskan (tidak wajib) bertempur, yaitu perempuan, ibu-ibu, kakek-kakek, jompo-jompo, dan bayi-bayi. Barulah nanti menjadi fardhu ‘ain kalau musuh masuk kota, sudah masuk di celah-celah rumah; istri tidak perlu izin suami untuk bertempur, pembantu, budak, tidak perlu izin tuannya untuk bertempur, semua sudah menjadi fardhu ‘ain yang tidak bisa dihindari.

Nah, di antara orang-orang yang tidak boleh dituduh desertir, melarikan diri dari kewajiban, dan tidaklah mereka disebut berdosa lantaran tidak berperang, adalah orang-orang sakit, orang-orang lemah, dan orang-orang yang tidak punya biaya, tidak punya senjata, tidak punya kendaraan untuk berperang, karena (yang seperti) ini bukan membantu tapi malah merepotkan dalam pertempuran. Allah SWT menyebutkan dalam Surat At-Taubah ayat 91-92:

Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: "Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu." lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.

Tidak ada dosa, tidak ada halangan, tidak boleh mereka dituduh malas, tidak boleh mereka disebut desertir melarikan diri dari kewajiban membela Islam. Siapa mereka? Pertama, dhu’afa. Para ahli tafsir di antaranya Imam al-Qurthubi, Imam Ibnu Katsir, Syaikh Jamaluddin al-Qassimi, dan beberapa ahli tafsir sepakat bahwa ad-dhu’afa itu adalah an-nisaa, wal ajaaiz, wa syuyukh, wa sibyan. Perempuan-perempuan, kakek-kakek, nenek-nenek dan anak-anak; yang tidak mungkin bekerja berat, apalagi berperang, yang logikanya hanya dua: membunuh atau dibunuh.

Karena memang Quraisy, sesudah ditinggalkan Muslimin yang hijrah ke Madinah, tidak puas kota Makkah ditinggalkan begitu saja oleh kaum Muslimin. Mereka mengejar dan selalu melakukan tindakan-tindakan. Dan begitulah karakter abadi kekuatan kafir terhadap kekuatan beriman dengan cara apapun; (saat ini) dengan surat kabar, dengan majalah, dengan partai, dengan kekuatan apa saja. Karenanya, kita disunnahkan shalat khauf kalau lagi perang, shalat dua raka’at Imamnya dia berdiri raka’at pertama, makmumnya tasyahud, untuk apa? Dia pergi yang lagi piket jaga gantian. Semua disebabkan Allah SWT mengatakan yang artinya: “Orang-orang kafir sangat menginginkan kamu lalai, tidak memelihara, tidak menjaga senjata-senjata kamu dan barang-barang bawaan kamu, bahan makanan.” (QS. An-Nisaa: 102)

Kita tahu dalam perang modern ini ada dua pos yang selalu diincar musuh: tentara dan perekonomian. Amerika mengembargo senjata untuk negeri semacam Indonesia, tentaranya lemah, pesawatnya kuno, tank-tanknya gampang mogok. Ekonominya dikelola orang-orang lain yang memusuhi Islam. Dan setiap muncul kekuatan baru yang akan menguasai negeri ini dengan jalan siyasah seperti demokrasi, partai dan sebagainya, mereka akan tetap mencoba menghalangi jalan kesana.

Nah, ketika golongan-golongan ini dibebaskan, pertama dhu’afa, dan yang kedua al-mardho orang-orang sakit, yang ketiga orang-orang yang tidak punya biaya, tidak punya alat-alat untuk membela dalam pertempuran; tidak boleh mereka disebut melarikan diri dari kewajiban; dan mereka tidak berdosa. Cuma, ayat ini tidak berhenti di sini. Apakah oleh karena orang sudah bebas, tidak lagi wajib bertempur kayak kakek-kakek, nenek-nenek, anak-anak, perempuan-perempuan, lalu mereka senang-senang? Seolah mereka mengatakan: kita sudah tidak wajib berperang, enak.

Di sinilah letak perbedaan mana mental munafiqin dan mana mental orang beriman. Kalau munafiqin selalu senang, orang-orang yang selalu absen dan maunya di belakang. Betul-betul senang apabila mereka tidak tercatat di buku induk pasukan, tidak dimasukkan ke dalam pasukan yang ikut membela Islam. Begitulah fakta yang terungkap dalam perang Badr, Uhud, Hunain, Khandak dan bermacam-macam perang yang lain.

Di sinilah terlihat perbedaan munafiq dan mu’min. Mereka bisa siapa saja, di mana saja; kalau mereka benar-benar beriman, sedih hatinya kalau tidak bisa ikut membela Islam. Sedih, sungguh-sungguh kesedihannya kalau dia tidak bisa membela agamanya dengan apa yang bisa dia bela. Mungkin di Indonesia ini 99 persen umat islam bisa berkata “Saya tidak bisa haji karena miskin.” 95 persennya mengatakan, “Saya tidak bisa membayar zakat lantaran saya miskin. Saya tidak bisa keluari infaq dan sedekah, untuk diri saja sudah berat.” Semua bisa diterima secara syar’an wa ‘aqlan, secara akal menurut standar syariat agama kita bisa diterima alasan itu. Dan secara logika juga masuk akal kalau mereka tidak bayar zakat dan tidak pergi haji, karena untuk makan pun sulit umpamanya.

Tapi tidak satu persen pun, tidak dua persen pun bisa diterima alasan orang mengatakan, “Saya tidak bisa berdoa, saya tidak bisa simpati, saya tidak bisa suka kepada perjuangan Islam.” Ini sudah di ambang batas. Kelewat batas orang yang mengatakan cinta saja tidak bisa, simpati saja pada perjuangan tidak bisa, berdoa saja tidak bisa, menggerakkan hati dan bibir untuk meminta kepada Allah SWT, “Ya Allah, saya tidak bisa berjuang, saya tidak mempunyai ilmu yang cukup untuk mewakili perjuangan ini, di front-front perjuangan.” Kalau di Palestina perjuangannya langsung dengan jasad dengan nyawa, kalau di tempat lain mungkin dengan pena dia menulis di surat kabar, majalah, buku-buku, ada yang di mimbar-mimbar, ada yang di gedung parlemen, ada yang menyelamatkan uang negara kalau dia menjadi menteri yang baik. Sekali lagi tidak bisa mereka mengatakan, “Saya tidak bisa berbuat apa-apa.”

Maka Allah SWT mengatakan atas 3 hal ini dalam firman yang tadi saya sampaikan, orang lemah, orang sakit, dan tidak memiliki biaya, mereka tidak berdosa bila tidak ikut dalam pertempuran, tapi syarat: “idzaa nahsohuu lillaahi wa rasuulih.” Apabila mereka memiliki nashohu: ketulusan hati, punya azzam yang kuat, punya cinta dan kesetiaan, punya tekad. Seandainya dia bisa, dia harus melakukan perjuangan itu. Barulah orang-orang lemah, orang sakit, perempuan, yang tidak wajib perang itu lepas dari kewajiban. Karena tidak semua amal digerakkan oleh badan saja, karena ada amal lisan namanya dzikir, ucapan, amar ma’ruf nahi munkar, ada amal jasad seperti haji, umrah, sa’i, thawaf, ada amal hati seperti menjaga diri dari riya, mengikhlaskan, memaafkan saudara kita, memasang niat yang kuat untuk memperjuangkan agama Allah, maka Allah mensyaratkan itu, “idzaa nahsohuu lillaahi wa rasuulih.” Himpunan yang berjalin antara tekad, ketulusan hati, kecintaan, kemauan berbuat seandainya punya modal untuk itu.

Kalau ada orang mengatakan, “Biarin aja, ini urusan dunia, nggak ada urusannya dengan urusan akhirat.” Tetapi, ketika orang-orang yang sudah bercokol di Senayan kebanyakan orang kafirnya, dibantailah rakyat, siapa yang bertanggung jawab? Rakyat itu bertanggung jawab atas masa depan dan kondisi mereka.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah...
Nah, memang tidak ada jalan untuk menghukum orang-orang yang berbuat baik di antara muhsinin itu yang punya nashohu, orang yang memiliki ketulusan hati, kekuatan azzam, kesucian niat, kecintaan, tekad yang kuat untuk berbuat. Apa tandanya? ... tidak juga berdosa, tidak boleh disebut malas atau melarikan diri dari kewajiban. Siapa? Orang-orang yang sudah datang kepadamu, nggak punya modal, nggak punya apa-apa, tapi punya kekuatan tenaga, punya niat yang baik. Mereka berharap Rasulullah bisa memberikan kuda atau unta, membekalinya dengan tombak, pedang dan panah supaya bisa ikut berjihad.

Namun, ketika mereka datang, engkau hanya bisa mengatakan kalau sudah habis semua kuda, semua unta sudah habis, tombak panah sudah terbagikan, engkau hanya bisa menjawab, “Saya tidak menemukan apa-apa lagi, saya tidak punya apa-apa lagi, kuda, unta, tombak, panah, sudah habis. Saya tidak bisa bawa kamu ikut berperang.” Terpaksa mereka pergi dengan air mata yang berlinang. Menangis karena tidak bisa bergabung dalam sebuah perang yang mungkin akan menjadikan mereka cacat, buntung tangannya, atau mati syahid di sana. Itulah tanda kesungguhan orang-orang beriman. Mereka pun berlalu dengan duka yang teramat dalam. Semua itu lantaran mereka tidak punya sedikit pun biaya untuk membeli perlengkapan perang.

Kalau sekarang, orang berlomba-lomba cari modal jutaan hingga milyaran untuk jadi polisi, jadi camat, jadi tentara, jadi menteri. Dulu, di masa sahabat, orang mencari duit sendiri untuk setor nyawa (syahid). Itulah bedanya zaman di mana hedonisme, orang berkiblat pada kesenangan dunia sehingga lupa pada niat akhirat. Oleh karena itu, Rasulullah saw bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Tirmidzi, “Dunia itu isinya cuma 4 kelompok saja.”

Jumlah manusia milyaran, tapi kualitas manusia cuma empat. Yang pertama, seseorang yang Allah berikan ilmu dan harta. Fahuwa ya’malu bihi waya’lamu annalillaahi fiihi haqqan wayashilu bihii rahimah. Dia laksanakan kewajiban berharta kalau dia kaya, dia tahu Allah memiliki hak dalam harta itu, ada zakat, ada infaq, shadaqah. Dan dengan harta yang Allah berikan itu dia menyambung silaturahim.

Dulu semasa orang belum punya motor, cita-cita kalau sudah ke Jakarta mau silaturahim kepada kerabat minimal sebulan sekali. Ternyata setelah punya motor, setahun sekali pun tidak. Alasannya, “Nanti, setelah punya mobil.” Sudah punya mobil, silaturahim tidak jalan juga, telpon pun tidak diangkat. Orang lebih suka kumpul dengan kolega dagang, dengan teman-teman bisnis. Kalau memberi orang tua seratus ribu, terasa berat, tapi untuk traktir teman ratusan ribu tidak berat. Inilah di masa orang memuja kesenangan.

Golongan yang kedua, orang yang diberi ilmu tidak dapat harta. Miskin, tapi punya ilmu. Apa dia bilang dalam hatinya, “Kalau saja Allah memberi saya harta dan kekayaan seperti yang diberikan kepada si fulan yang shalih dan baik itu di mana dengan ilmunya dia beramal, sungguh saya juga akan beramal, saya iri, saya ingin seperti dia.” Yang satu beramal karena kaya dan berilmu, yang satu berilmu saja tidak punya harta. Dua-duanya ini sama dalam satu derajat kebaikan.

Di masa lalu ada orang shalih bernama Ali Al-Fath. Ketika orang menggiring kambing-kambing qurban, Ali Al-Fath yang memang miskin tapi berilmu, akhlaqnya bagus, dia bilang, “Ya Allah, sekarang saya mau mendekatkan diriku dengan-Mu. Tapi dengan apa? Kambing tak punya. Aku hanya bisa mendekat dengan-Mu dengan duka-duka dan kesedihanku.” Para komentator kisah ini mengatakan apa artinya mendekatkan diri kepada Allah dengan kesedihan. Artinya, adalah ikut bersedih dengan kesedihan umat, ikut prihatin dengan keprihatinan umat, ikut senang kalau umat senang, ikut berduka kalau umat berduka. Itulah kita maksud dengan selalu memikirkan keadaan dan nasib umat.

Yang ketiga ialah seseorang yang Allah berikan harta tapi tidak memiliki ilmu. Siang malam kerjaannya maksiat. Tidak mau menunaikan hak-hak Allah. Dan dia tidak menyambung silaturahim. Salah satu bentuk memutuskan silaturahim adalah zina. Kelompok yang ketiga ini Rasulullah berkata adalah kelompok yang paling buruk kedudukannya. Punya harta tapi tidak memiliki ilmu, dia gunakan harta itu sebagai sarana untuk maksiat. Melakukan maksiat apa saja yang bisa memuaskan nafsu rendahnya.

Kelompok berikutnya, yang keempat, orang yang tidak diberikani ilmu juga tidak memiliki harta. Sudah miskin, bodoh. Dia bilang, “Kalau Allah memberikan saya kekayaan seperti orang ini (orang yang kaya tapi bodoh), saya akan berbuat kayak dia. Saya akan maksiat, saya akan berzina, saya akan mabuk.” Walaupun dia tidak melakukan, kedudukannya sama dengan orang yang melakukan maksiat (yang menikmati maksiat karena dia kaya), sementara yang keempat ini miskin tapi bodoh.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah...
Imam Bukhari dalam Shahih Bukhari, Kitab paling shahih setelah Al-Qur’an, memberikan judul bab dalam hadits beliau yang shahih, bab al-‘ilmu qablal qauli wal ‘amal, bab ilmu dulu sebelum banyak bicara dan beramal. Dalilnya fa’lam annahu laa ilaaha illallah (QS. 47: 19) “Ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan selain Allah” kemudian “fastaghfiruhu” barulah amal, barulah kata, beristighfarlah atas dosa dan kesalahanmu.

Modal awal kita adalah ilmu. Karena tidak berilmu, walau belum berbuat dosa, orang yang bercita-cita maksiat tadi sudah memiliki derajat yang sama dengan para pemaksiat itu. Orang yang kelompok kedua, walaupun belum beramal karena dia miskin, namun dia berilmu, dia bisa men-set niatnya sehingga mendapat kedudukan yang sangat terhormat dan mulia.

Yang kedua ada kemauan. Seperti beberapa sahabat Nabi yang tidak ikut berperang, tapi dengan air mata berlinangan, betul-betul sungguh kesedihannya. Itu namanya punya komitmen, punya ketulusan hati, punya kecintaan. Karena itu, selalulah pasang niat untuk berbuat baik.

Orang mengatakan kalau soal pergi haji bukan soal punya duit. Mungkin ini benar. Betapa banyak orang yang uangnya milyaran tapi tidak pergi-pergi haji juga. Bahkan penduduk Saudi sendiri tidak semuanya sudah berhaji. Tidak semuanya karena uang, tapi yang terpenting adalah niat dan juga azzam. Seperti itulah yang kerap dilakukan nenek-nenek dan kakek-kakek kita supaya bisa berangkat haji. Setiap hari mereka menabung. Berapa pun, yang penting menabung supaya bisa berangkat haji. Subhanallah! Kenapa hal itu jarang dilakukan generasi sekarang? Ini semua karena orang pada zaman ini, yang makan pendidikan modern, tapi kalah dalam soal niat, kalah dalam soal komitmen. Mengapa? Karena kesenangan hari ini adalah kiblat orang modern, hedonisme.

Baarakallahu lii walakum fil Qur’aanil ‘Azhiim.... []

Suplemen Majalah Saksi Edisi 15/Thn VI/2004:
Khutbah Jum’at Ust. Rahmat Abdullah (Allahuyarham) di Masjid Baitus Salam, PLN Cabang Jaksel, April 2004
Share:

0 comments:

Posting Komentar

Kenapa Kita Mudah Kecewa?

"Kenapa kita mudah kecewa kepada orang lain?" Mungkin pertanyaan di atas sesuai dengan keadaan diri kita. Atau boleh j...