
Menjadi pribadi yang konsisten memang tidak
mudah. Dalam bahasa agama, kita mengenal istilah “istiqomah” yang maknanya
sering didekatkan dengan konsistensi. Dalam Surat Huud ayat 112, ada perintah
Allah kepada Nabi Muhammad SAW agar beliau selalu istiqomah, “Fastaqim...”.
Bahkan turunnya ayat itu menjadikan rambut beliau beruban. Ini menunjukkan
demikian beratnya perintah untuk tetap istiqomah, konsisten di jalan yang
benar.
Konsisten, mungkinkah
gambarannya seperti seorang yang berjalan di atas jalan lurus dan dia memandang
jauh ke depan? Dia hanya melihat ke satu titik yang menjadi tujuannya dan tak
mau menengok kiri-kanan betapapun di sekitar jalan itu banyak tempat yang
menarik untuk disinggahi. Banyak orang yang singgah di tempat-tempat itu.
Sebagiannya dia kenal dengan baik. Bahkan mereka mengajaknya untuk singgah.
Segala bujuk rayu, kadang disertai paksaan, tak henti-hentinya menghadang. Tapi
dia tetap memandang jauh ke depan, melihat tujuannya dengan jelas. Orang lain
mungkin tak melihat tempat yang dia tuju atau mereka melihatnya sebagai titik
kecil yang lebih baik diabaikan saja. Dia melihatnya begitu terang, jelas
sekali. Dan demikianlah dia tetap konsisten, tak menoleh kiri-kanan, tak peduli
berapa orang yang mempedulikan dirinya. Dia tetap persisten, maju terus
sehingga sampai kepada tujuannya yang sejati. Dia pun tetap resisten, bisa
mencegah dan menolak bujuk rayu serta paksaan untuk singgah di tempat
peristirahatan pinggir jalan.
Ya, konsistensi itu
memang indah tapi juga tidak mudah. Perjuangan untuk konsisten seringkali
terasa pahit namun buahnya terasa manis. Pada sebagian orang yang sudah
terbiasa ‘menderita’ dalam perjuangannya, mereka bahkan bisa merasakan manisnya
kepahitan dalam perjuangan. Kenapa? Karena visi yang jauh ke depan menembus
batas-batas duniawi terasa begitu manis di hati mereka. Sehingga, derita perjuangan
yang mereka alami tak berarti apa-apa dibandingkan indahnya tujuan mereka.
Sebagai perumpamaan, mungkin begitulah yang dialami perempuan-perempuan Mesir
yang mengiris-iris tangan mereka sendiri tanpa merasa sakit sebab mereka
terbuai keindahan wajah Nabi Yusuf yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
Sungguh, penampakan Yusuf membuat mereka tak merasakan sakit, bahkan sempat
memuji-muji Allah dan mengatakan, “Ini bukan manusia, melainkan malaikat yang
mulia!”.
“Perempuan-perempuan
itu,” tulis KH. Rahmat Abdullah (dalam artikel yang berjudul “Energi Cinta”),
“...bukan contoh yang baik untuk cinta, kecuali untuk mengambil ‘ibrah (pelajaran),
bila seraut wajah yang tak kebal luka dapat membuat mereka tak merasakan sakit
mengiris-iris jari, bagaimana leburnya semua rasa sakit dan pengorbanan para
pecinta, ketika kekuatan bashirah (mata hati) mereka
diperlihatkan kesenangan abadi di surga.” []




0 comments:
Posting Komentar