26 Maret 2012
Membangun Ambisi
Mari kita belajar dari jari telunjuk kita. Acungkanlah jari telunjuk Anda. Kapan biasanya Anda acungkan jari telunjuk seperti itu? Tentu bisa kapan saja. Tapi pasti ada saat-saat tertentu. Kalau seorang guru bertanya pada murid-muridnya, lalu ada beberapa anak mengacungkan jari telunjuknya, itu artinya mereka merasa bisa menjawab dan mereka ingin menunjukkan pada guru dan teman-temannya bahwa mereka bisa. Mereka ingin menunjukkan kemampuannya meskipun jawaban mereka belum tentu benar. Ini yang kita pahami sebagai ambisi, hasrat untuk maju, keinginan berprestasi, atau sering kita istilahkan dengan cita-cita.
Dari kata ambisi, kita mengenal juga istilah ambisius. “Si Fulan orang yang ambisius.” Kalimat itu biasanya memiliki kesan negatif. Ambisius diartikan terlalu berambisi. Tapi mari kita coba ambil makna positif dari kata ambisi. Karena yang terpenting adalah yang menjadi tujuan akhir ambisi itu. Sehingga positif atau negatifnya akan ditentukan dengan tujuan akhir itu. Seseorang yang berambisi kepada harta berbeda dengan seseorang yang berambisi kepada kebaikan yang ingin dia lakukan dengan harta yang didapatnya. Maka ambisi mencari harta bisa jadi positif atau negatif tergantung pada niatnya. Begitu pula dengan ambisi mencari ilmu dan hal lainnya, positif atau negatifnya ditentukan oleh tujuan akhirnya. Jadi sekali lagi, kita coba mengambil makna positif dari kata “ambisi”.
Tapi ternyata ambisi itu bukan sekedar keinginan. Memang telah saya katakan bahwa keinginan adalah kata kunci kesungguhan dalam berusaha. Tapi ambisi adalah bukti bahwa seseorang benar-benar jujur dengan keinginannya. Seseorang bisa saja sangat menginginkan sesuatu. Namun ambisi itulah yang akan menunjukkan apakah dia benar-benar menginginkan ataukah hanya mengangankan sesuatu itu.
Ibnul Qayyim Al-Jauziyah mengemukakan kriteria cita-cita atau harapan seseorang dengan sangat tepat. Harapan, kata beliau, akan benar-benar disebut sebagai harapan apabila ada tiga keadaan yang menyertainya. Jika salah satunya hilang, maka harapan itu hanya bisa disebut sebagai angan-angan.
Pertama, harus ada kecintaan seseorang terhadap apa yang dia cita-citakan. Tentunya kecintaan ini merupakan kekuatan besar yang membuatnya benar-benar fokus terhadap objek cita-cita itu. Seperti seseorang yang mencintai kekasihnya, maka dia akan selalu memikirkan tentang diri kekasihnya itu, selalu berhubungan dengannya, serta memelihara hubungan itu supaya jangan sampai terputus. Bahkan sebagian orang memiliki sarana-sarana khusus untuk dapat mengingat orang yang dicintainya. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa cita-cita itu harus “memenuhi” segenap relung hati seseorang.
Kalau ada yang bertanya, “Maukah Anda masuk surga?”, pasti kita menjawab, “Ya, saya mau!”. Namun kemauan yang jujur atas keinginan kita untuk masuk surga akan terbukti dengan kondisi batin yang bisa kita rasakan sendiri. Bisakah kita mencintai surga padahal kita belum pernah melihatnya? Kalau begitu, sudahkah kita cari tahu tentangnya lebih jelas lagi dengan sumber-sumber terpercaya? Dan saat mendapat keterangan yang jelas tentang surga, apakah kita semakin merindukannya? Adakah getaran di hati dan lintasan di benak pikiran kita tentang surga? Misalnya ketika kita bekerja, melakukan aktivitas yang dibilang orang aktivitas duniawi, kita berpikir sejenak tentang kaitan pekerjaan kita dengan surga yang kita cita-citakan. Kita berpikir bahwa pekerjaan itu adalah di antara sekian banyak “kendaraan” yang membawa kita menuju surga. Atau saat kita sedang shalat, berdzikir, berdoa, membaca Al-Qur’an, kita pun fokus pada aktivitas itu. Apalagi ketika kita membaca ayat-ayat bertema surga dalam aktivitas itu. Kita seharusnya merasakan “sensasi” surga dalam pikiran dan hati kita ketika menunaikan ritual-ritual itu, bukan hanya dalam lisan atau gerakan fisik semata. Ya, itu bukti bahwa keinginan kita bukan sekedar angan-angan.
Cita-cita akan dunia juga menuntut syarat kriteria ini, bahwa pemilik cita-cita tersebut harus mencintai dunia yang dia inginkan. Kalau ada orang mengatakan bahwa dia ingin kaya, sedangkan dia tidak mendefinisikan dengan jelas kekayaan seperti apa dan sebanyak apa yang dia inginkan, maka kekayaan itu hanya angan-angan. Jika ada seorang pelajar atau mahasiswa menginginkan prestasi dalam studinya tapi dia tak pernah membayangkan prestasi seperti apa yang akan diraihnya, bahkan tak tahu apa kegunaan prestasi itu untuknya, maka dia berangan-angan. Tapi yang lebih menyedihkan lagi adalah orang-orang yang tak punya keinginan untuk berprestasi dalam hal yang dia bisa. Mungkin mereka adalah orang-orang yang sudah merasa cukup dalam hidupnya. Mereka jalani hidup ini mengalir saja, tak ada tujuan-tujuan “hebat” dalam benaknya. Bagi mereka, yang terpenting kebutuhan mereka tercukupi secara reguler, ada jaminan tetap mendapatkan “jatah”. Atau yang penting hidup ini normal dan nyaman, mereka tak mengganggu orang lain dan tak terganggu oleh orang lain. Mungkin itu gambaran orang-orang individualis. Semoga saya dan Anda bukan termasuk yang demikian.
Kriteria kedua tidak terpisahkan dengan yang pertama. Jika yang pertama adalah rasa cinta terhadap apa yang kita cita-citakan sehingga gambaran tentang cita-cita itu selalu hadir di dalam benak dan hati kita, maka yang kedua ini lebih merupakan rasa cemas kalau-kalau cita-cita itu tidak terwujud. Ada ketakutan yang besar apabila cita-cita kita tidak kesampaian.
Seseorang yang jatuh cinta pada pujaan hatinya merasa khawatir kalau-kalau cintanya akan ditolak. Atau dia khawatir ada orang lain yang mencintainya dan orang itu yang diterima sebagai kekasihnya. Sementara dia sendiri terjatuh dalam lembah frustasi dan patah hati. Seseorang yang menginginkan kekayaan akan cemas kalau-kalau dia tidak berhasil meraih keuntungan dari usahanya. Sesungguhnya dia cemas pada keadaan yang merupakan lawan kata “kekayaan” yakni “kemiskinan”. Begitu juga bagi para perindu surga. Mereka cemas kalau-kalau mereka tak bisa masuk surga sebab itu artinya mereka harus masuk ke tempat lain yang bukan surga. Seseorang yang beribadah kepada Tuhannya karena kecintaan kepada-Nya juga akan khawatir kalau-kalau ibadahnya itu tidak diterima, sehingga mereka tidak mendapat cinta-Nya melainkan kemurkaan-Nya. Jadi demikianlah kriteria kedua untuk sebuah cita-cita, yakni khawatir kalau-kalau cita-cita itu tidak terwujud.
Kriteria ketiga adalah konsekuensi logis dari yang pertama dan yang kedua. Seorang pemilik cita-cita harus mengerahkan segenap potensi yang dia miliki untuk mewujudkan cita-cita atau impiannya agar menjadi kenyataan (turning dream into reality). Dengan demikian, kecintaan dan harapan akan sesuatu yang dicita-citakan, serta kekhawatiran akan hilangnya sesuatu itu, akan menjadi sia-sia jika tidak diikuti dengan langkah nyata. Semua itu hanyalah angan-angan karena hanya ada “karsa” tanpa “daya”.
Mungkin ada orang yang merasa hatinya tergetar jika mendengar nama Allah disebut. Dia bisa menangis ketika mendengar gambaran tentang surga karena kerinduannya menjadi ahli surga. Dan dia pun menangis karena rasa takut akan ancaman-Nya ketika mendengar tentang siksa neraka. Tapi saat dia diseru untuk menunaikan hak-Nya atau untuk melakukan berbagai kebaikan yang dianjurkan, dia tidak bersegera menjalankannya. Maka kita katakan bahwa dia belum ber-mujahadah atau bersungguh-sungguh dalam mewujudkan cita-citanya. Ada saja tantangan dan cobaan untuk menempuh usaha menuju cita-cita yang mulia. Maka cukuplah ini sebagai renungan bagi kita semua, bahwa sangat mungkin kita termasuk orang yang pandai dalam berangan-angan.
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS. Ali ‘Imran: 142) []









