Hadirlah
saya di sana. Duduk di antara para hadirin, saya mengambil posisi yang
nyaman, jauh dari pusat keramaian. Kopiah telah terpasang rapi. Ternyata
baju terlihat agak kusut. “Ah, cuma sedikit, tak masalah.” Demam
panggung kerap menjadi momok sesaat. Aneh, padahal begitu sering saya
bicara di atas mimbar.
Sepasang
mempelai sudah siap. Petugas KUA sibuk membolak-balik dokumen. Para
saksi (formal) juga telah menempati posisinya masing-masing.
Kini
giliran saya. Majulah saya tampil di hadapan para hadirin. Seketika
mereka menenangkan dirinya masing-masing, menyimak lantunan ayat-ayat
yang saya bacakan. Itulah di antara “aktivitas” saya beberapa tahun
terakhir, menjadi pembaca Al-Qur’an dalam seremoni.
Sebagian
teman mengenal saya sebagai “tukang” baca Al-Qur’an. Biasanya saya
diminta jadi qari dalam seremoni pembukaan berbagai kegiatan. Seolah itu
sudah menjadi “cap” pada diri saya, sejak masih di SMA dulu, saat saya
kuliah, dan sampai kini cap itu masih dipertahankan. Bagi saya, no problem.
Mungkin itulah yang bisa saya lakukan di panggung da’wah. Mereka senang
diperdengarkan bacaan Al-Qur’an dan saya pun suka membacakannya. Hingga
suatu saat, saya ditugasi sebagai qari dalam acara pengajian di masjid
dekat rumah. Dalam kajian, Ustadz yang menjadi pemateri mengritik soal
acara pembacaan Al-Qur’an. Sebenarnya dia mengritik fenomena umat muslim
pada umumnya. “Sekarang ini,” katanya, “Al-Qur’an hanya formalitas.
Kalau ada acara-acara seperti ini, Al-Qur’an dibaca, tapi di rumah tidak
pernah baca. Kenapa tadi si qari tidak baca artinya sekalian? Jadi
semua orang bisa paham.”
Alasan
itu bisa diterima, walaupun berbeda nilai dan rasanya antara membaca
Al-Qur’an dan membaca terjemahnya, termasuk dalam mendengarkannya.
Bagaimanapun, manfaat itu bisa diraih jika interaksi dengan Al-Qur’an
dilakukan secara utuh. Sehingga ketika membaca atau menyimak Al-Qur’an,
ada sensasi atau perasaan unik yang dialami, seolah “kita keluar dari
dunia nyata memasuki alam yang berbeda”. Ini bukan tentang hipnotis atau
pengembaraan alam bawah sadar, tapi lebih merupakan kekhusyu’an. Ya,
membaca Al-Qur’an memang ibadah, dan ia adalah bentuk dzikir yang utama.
“Allah
telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang
serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit
orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenanglah kulit
dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan
kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa
yang disesatkan Allah, niscaya tiada seorang pemberi petunjuk pun
baginya.” (Az-Zumar: 23)
Akhirnya,
seremoni itu selesai juga, lancar. Sepasang pengantin telah bersanding
dan para hadirin pun memberi ucapan selamat. Setelah itu mereka mulai
antre menikmati hidangan. Di sela-sela itu, seorang perempuan – sedikit
lebih muda dari saya – mendekati. “Pak, tadi yang dibaca surat apa ya?”
ia bertanya. “Surat An-Nuur ayat 30 sampai 35,” jawab saya. Kuat dugaan
saya, ia terdorong untuk bertanya karena saya bacakan juga terjemah
ayat-ayat itu, langsung saya bacakan sendiri.
Ia
bukanlah seorang perempuan berjilbab. Saat itu pun ia hanya
menyelendangkan kerudungnya. Tapi ayat yang ia tanyakan – yakni yang
saya bacakan – di antaranya ialah tentang interaksi lawan jenis, seruan
menutup aurat, seruan agar kaum perempuan tidak menampakkan
“perhiasan”nya kepada mereka yang tidak berhak. Saya berpikir, mungkin
ayat-ayat seputar tema itu, seperti juga Al-Ahzab ayat 59, belum pernah
didengarnya. Mungkin ayat-ayat ini, juga ayat Al-Qur’an seluruhnya,
jarang disuarakan dengan lantang. Mungkinkah ia “dikalahkan” oleh
suara-suara lainnya?
Dan
orang-orang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan
sungguh-sungguh akan Al-Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya,
supaya kamu dapat mengalahkan mereka.” (Fushshilat: 26)
Tentu
saja Al-Qur’an tak akan dapat dikalahkan oleh kalimat-kalimat lainnya.
Tapi kenyataan dalam mana seruan selain Al-Qur’an lebih keras gaungnya,
menjadi ujian bagi kita umat yang memikul amanah superberat ini.
Seremonial Al-Qur’an seperti yang saya kemukakan bukannya tak berarti
apa-apa. Ia tetap perlu sebagai syi’ar. Tapi perlu juga disadari bahwa
gaung Al-Qur’an jangan sampai hanya ada dalam seremoni-seremoni, jangan
hanya terpojok di sudut-sudut masjid dan forum terbatas. Sebab,
Al-Qur’an adalah pedoman kita umat manusia dalam mengarungi kehidupan
yang penuh tantangan ini.
Seluruh
rangkaian hidup ini adalah ujian buat kita. Ujian yang hanya sekali,
tak ada ujian susulan atau perbaikan. Setelah mati, kita tinggal
menunggu saja, layakkah kita mendapat surga ataukah sebaliknya. Semua
itu ditentukan oleh “kinerja” kita, bagaimana kita menempuh ujian-ujian
itu. Dan sebenarnya cara menjawab “soal-soal” ujian itu telah diberikan
oleh Allah SWT yang memberikan ujian. Kunci jawaban itu adalah
Al-Qur’an. Masih perlu contoh? Allah berikan juga contohnya untuk kita.
Adalah Rasulullah SAW, “Kaana khuluquhul qur’an, akhlaknya adalah Al-Qur’an.” demikian papar ‘Aisyah RA. Apa yang kurang? Yang kurang adalah kemauan kita. []





0 comments:
Posting Komentar