12 Agustus 2013

Seremoni


Prosesi pernikahan itu berjalan normal. Seperti umumnya. Sejak pagi keluarga mempelai perempuan bersiap diri menyambut tamu yang telah lama dinanti-nanti. Akhirnya datang juga. Mempelai laki-laki dikawal rombongan sekeluarga. Begitu berseri wajahnya walau mungkin “dag dig dug” di hatinya. Tapi tetap ia coba menampakkan kesan yakin, optimis, percaya diri. Kebahagiaan sejati tinggal selangkah lagi.
Hadirlah saya di sana. Duduk di antara para hadirin, saya mengambil posisi yang nyaman, jauh dari pusat keramaian. Kopiah telah terpasang rapi. Ternyata baju terlihat agak kusut. “Ah, cuma sedikit, tak masalah.” Demam panggung kerap menjadi momok sesaat. Aneh, padahal begitu sering saya bicara di atas mimbar.
Sepasang mempelai sudah siap. Petugas KUA sibuk membolak-balik dokumen. Para saksi (formal) juga telah menempati posisinya masing-masing.
Kini giliran saya. Majulah saya tampil di hadapan para hadirin. Seketika mereka menenangkan dirinya masing-masing, menyimak lantunan ayat-ayat yang saya bacakan. Itulah di antara “aktivitas” saya beberapa tahun terakhir, menjadi pembaca Al-Qur’an dalam seremoni.
Sebagian teman mengenal saya sebagai “tukang” baca Al-Qur’an. Biasanya saya diminta jadi qari dalam seremoni pembukaan berbagai kegiatan. Seolah itu sudah menjadi “cap” pada diri saya, sejak masih di SMA dulu, saat saya kuliah, dan sampai kini cap itu masih dipertahankan. Bagi saya, no problem. Mungkin itulah yang bisa saya lakukan di panggung da’wah. Mereka senang diperdengarkan bacaan Al-Qur’an dan saya pun suka membacakannya. Hingga suatu saat, saya ditugasi sebagai qari dalam acara pengajian di masjid dekat rumah. Dalam kajian, Ustadz yang menjadi pemateri mengritik soal acara pembacaan Al-Qur’an. Sebenarnya dia mengritik fenomena umat muslim pada umumnya. “Sekarang ini,” katanya, “Al-Qur’an hanya formalitas. Kalau ada acara-acara seperti ini, Al-Qur’an dibaca, tapi di rumah tidak pernah baca. Kenapa tadi si qari tidak baca artinya sekalian? Jadi semua orang bisa paham.”
Alasan itu bisa diterima, walaupun berbeda nilai dan rasanya antara membaca Al-Qur’an dan membaca terjemahnya, termasuk dalam mendengarkannya. Bagaimanapun, manfaat itu bisa diraih jika interaksi dengan Al-Qur’an dilakukan secara utuh. Sehingga ketika membaca atau menyimak Al-Qur’an, ada sensasi atau perasaan unik yang dialami, seolah “kita keluar dari dunia nyata memasuki alam yang berbeda”. Ini bukan tentang hipnotis atau pengembaraan alam bawah sadar, tapi lebih merupakan kekhusyu’an. Ya, membaca Al-Qur’an memang ibadah, dan ia adalah bentuk dzikir yang utama.
“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenanglah kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tiada seorang pemberi petunjuk pun baginya.” (Az-Zumar: 23)
Akhirnya, seremoni itu selesai juga, lancar. Sepasang pengantin telah bersanding dan para hadirin pun memberi ucapan selamat. Setelah itu mereka mulai antre menikmati hidangan. Di sela-sela itu, seorang perempuan – sedikit lebih muda dari saya – mendekati. “Pak, tadi yang dibaca surat apa ya?” ia bertanya. “Surat An-Nuur ayat 30 sampai 35,” jawab saya. Kuat dugaan saya, ia terdorong untuk bertanya karena saya bacakan juga terjemah ayat-ayat itu, langsung saya bacakan sendiri.
Ia bukanlah seorang perempuan berjilbab. Saat itu pun ia hanya menyelendangkan kerudungnya. Tapi ayat yang ia tanyakan – yakni yang saya bacakan – di antaranya ialah tentang interaksi lawan jenis, seruan menutup aurat, seruan agar kaum perempuan tidak menampakkan “perhiasan”nya kepada mereka yang tidak berhak. Saya berpikir, mungkin ayat-ayat seputar tema itu, seperti juga Al-Ahzab ayat 59, belum pernah didengarnya. Mungkin ayat-ayat ini, juga ayat Al-Qur’an seluruhnya, jarang disuarakan dengan lantang. Mungkinkah ia “dikalahkan” oleh suara-suara lainnya?
Dan orang-orang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al-Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka.” (Fushshilat: 26)
Tentu saja Al-Qur’an tak akan dapat dikalahkan oleh kalimat-kalimat lainnya. Tapi kenyataan dalam mana seruan selain Al-Qur’an lebih keras gaungnya, menjadi ujian bagi kita umat yang memikul amanah superberat ini. Seremonial Al-Qur’an seperti yang saya kemukakan bukannya tak berarti apa-apa. Ia tetap perlu sebagai syi’ar. Tapi perlu juga disadari bahwa gaung Al-Qur’an jangan sampai hanya ada dalam seremoni-seremoni, jangan hanya terpojok di sudut-sudut masjid dan forum terbatas. Sebab, Al-Qur’an adalah pedoman kita umat manusia dalam mengarungi kehidupan yang penuh tantangan ini.
Seluruh rangkaian hidup ini adalah ujian buat kita. Ujian yang hanya sekali, tak ada ujian susulan atau perbaikan. Setelah mati, kita tinggal menunggu saja, layakkah kita mendapat surga ataukah sebaliknya. Semua itu ditentukan oleh “kinerja” kita, bagaimana kita menempuh ujian-ujian itu. Dan sebenarnya cara menjawab “soal-soal” ujian itu telah diberikan oleh Allah SWT yang memberikan ujian. Kunci jawaban itu adalah Al-Qur’an. Masih perlu contoh? Allah berikan juga contohnya untuk kita. Adalah Rasulullah SAW, “Kaana khuluquhul qur’an, akhlaknya adalah Al-Qur’an.” demikian papar ‘Aisyah RA. Apa yang kurang? Yang kurang adalah kemauan kita. []
Share:

0 comments:

Posting Komentar

Kenapa Kita Mudah Kecewa?

"Kenapa kita mudah kecewa kepada orang lain?" Mungkin pertanyaan di atas sesuai dengan keadaan diri kita. Atau boleh j...