Keikhlasan itu bukan berarti
menyembunyikan kebaikan, tapi selalu membicarakan kebaikan diri adalah cara yang
mudah untuk membatalkan keikhlasan.
Bagi
orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.
Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka
itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. (QS. Yunus [10]: 26)
Amal yang terbaik dan dekat dengan keikhlasan
adalah amal yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang lain. Biar saja Allah yang
tahu dan membalas amal yang sedang atau sudah diperbuat.
Namun jika kita selalu menyembunyikan
kebaikan-kebaikan, padahal di sisi lain sedang merebak keburukan di masyarakat
kita, maka hal ini bukanlah efek keikhlasan, melainkan kelemahan.
Orang yang beramal baik di keramaian tapi
tidak melakukannya saat sendirian adalah seorang yang berlaku riya
(ingin dilihat beramal). Namun orang yang beramal baik di dalam kesendirian
tapi tidak bisa melakukannya dengan baik saat di keramaian adalah orang jujur
yang lemah.
Ikhlas itu bukanlah tidak mengharapkan pamrih
sama sekali, melainkan mengharapkan pamrih terbaik dari Sang Pemberi yang
terbaik.
Orang yang merasa dirinya telah ikhlas berbuat
lalu menceritakannya kepada orang banyak, maka dia telah membatalkan
keikhlasannya itu menjadi debu-debu yang beterbangan. Namun jika dia
membicarakan kebaikan amalnya kepada Allah dalam meminta sesuatu kepada-Nya,
maka hal ini termasuk tawassul yang diperbolehkan. []





0 comments:
Posting Komentar