Khutbah Pertama
ุงْูุญَู
ْุฏُ ِِููู ุงَูุฐِู َูุนَุฏَ ุณَุงุฆِِِููู ุจِุงْูุฅِุฌَุงุจَุฉِ، َูุญَุฐَّุฑَ
ุงْูู
ُุนْุฑِุถَِูู ุนَْู ุฐِْูุฑِِู ุจِุถَِْูู ุงْูู
َุนِูุดَุฉِ
ูุงูุตّูุงَุฉُ َูุงูุณَّูุงَู
ُ ุนََูู َูุจِِّู ุงูุฑَّุญْู
َุฉِ ุงََْููุงุฏِู ุฅَูู
ุณَุจِِูู ุงَّููุฌَุงุฉِ َูุงูุณَّุนَุงุฏَุฉِ
َูุขِِูู َูุฃَุตْุญَุงุจِِู ุฎَْูุฑِ ุงْูุจَุฑَِّูุฉِ َูู
َْู ุชَุจِุนَُูู
ْ
ุจِุฅِุญْุณَุงِِูู ุฅَูู َْููู
ِ ุงَِْูููุงู
َุฉِ
ุฃَู
َّุง ุจَุนْุฏُ: َูุฅِِّูู ู
ُูุตُِููู
ْ ุฃََُّููุง ุงْูุฅِุฎَْูุฉُ ุจِุชََْููู ุงِููู
ุงَْููุงุฆِِู
َูู
َْู َูุชَِّู ุงَููู َูุฌْุนَْู َُูู ู
َุฎْุฑَุฌًุง ََููุฑْุฒُُْูู ู
ِْู ุญَْูุซُ َูุง َูุญْุชَุณِุจُ
َู ุงุชَُّููุง ุงَููู ุญََّู ุชَُูุงุชِِู ََููุง ุชَู
ُูุชَُّู ุฅَّูุง َูุฃَْูุชُู
ْ ู
ُุณِْูู
َُูู
Sidang Jum’at Rahimakullaah, setelah Khatib mengingatkan akan pentingnya taqwa kepada Allah sebagai
jalan keluar dan kunci kemuliaan, Khatib ingin mengajak jamaah sekalian untuk
merenungkan sejenak tentang krisis yang mendera kehidupan umat manusia dewasa
ini dalam berbagai aspek: ekonomi, politik, sosial, moral dan bermacam-macam
krisis lainnya.
Banyak pakar mencoba mengurai dan menawarkan solusi. Ekonom berkata,
“selesaikan dulu masalah ekonomi, yang lain akan mengikuti.” Politikus
membantah, “Ekonomi itu mudah, yang penting politik dulu ditata.” Moralis
menyergah, “Moral dulu dibenahi baru yang lain.” Demikianlah, para pakar dan
pengamat dadakan saling beradu kepintaran, sementara krisis demi krisis belum
mampu dihentikan.
Lalu bagaimana sikap kita sebagai umat Islam, ayyuhal Ikhwah? Tentu,
segala persoalan yang kita hadapi tidak boleh tidak, mestilah kita carikan
petunjuk dan cara penyelesaiannya dari panduan hidup kita, way of life kita,
yakni Kitabullaah dan Sunnah Rasulullah saw.
Dengan jelas Al-Qur’an mendiaknosa bahwa kesulitan dan keruwetan hidup di dunia
ini berpangkal dari sikap manusia yang enggan mengikuti petunjuknya.
ูู
ู ุฃุนุฑุถ ุนู ุฐูุฑู ูุฅู ูู ู
ุนูุดุฉ
ุถููุง
“Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka sesungguhnya baginya
penghidupan yang sempit lagi sulit.” (Thaha: 124)
Jamaah Jum’at Rahimakumullah,
Apabila manusia sudah tidak sudi mengindahkan peringatan Allah, enggan
menjadikan petunjuk al-Qur’an sebagai panduan hidupnya, maka krisis kemanusian
paling berbahaya akan menimpa mereka, yaitu kematian hati. Sehingga tidak
jarang kita saksikan, seperti kata orang bijak:
َูู
ْ ู
ِْู ู
ُุดَุงุฉٍ ุชَุญْุณَุจُُูู
ْ
ุฃَุญَْูุงุกَ، َูุฌََูุงุฏَุฉُ ุฃَุฌْุณَุงุฏِِูู
ْ ُُِููููุจِِูู
ْ ู
ََูุงุจِุฑُ
Betapa banyak orang gagah berjalan, Kau pikir mereka itu masih hidup,
Rupanya, kegagahan tubuhnya,hanyalah kuburan bagi hatinya yang mati
Sungguh kematian hati adalah puncak krisis kemanusian yang sebenarnya.
Sedangkan penyebab kematian hati adalah berpaling dari peringatan dan ajaran
Allah. Oleh karena itu, secara menggelitik, Allah memperingatkan kaum beriman
agar menghindari penyebab krisis ini. Allah berfirman:
ุฃูู
ูุฃู ููุฐูู ุขู
ููุง ุฃู ุชุฎุดุน
ูููุจูู
ูุฐูุฑ ุงููู ูู
ุง ูุฒู ู
ู ุงูุญู ููุง ูููููุง ูุงูุฐูู ุฃูุชูุง ุงููุชุงุจ ู
ู ูุจู ูุทุงู ุนูููู
ุงูุฃู
ุฏ
ููุณุช ูููุจูู
ููุซูุฑ ู
ููู
ูุงุณููู
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk
hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada
mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah
diturunkan Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka
lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah
orang-orang yang fasik. (al-hadid: 16)
Jika hati telah mengeras dan membatu, artinya hati manusia telah mati.
Saat itulah manusia akan menjelma sebagai makhluq mengerikan yang disebut
sebagia orang-orang fasiq. Ciri-ciri mereka; rakus terhadap dunia, menghalalkan
segala cara, tidak peduli kesengsaraan orang lain yang penting dirinya untung
dan masa bodoh dengan halal-haram, tidak berfikir dosa-pahala, entar dulu
masalah surga-neraka yang penting happy.
ุฃََُّููุง ุงْูุฅุฎَْูุฉُ، َูุฐَุง ู
َุง
ุฃُُููู ู
ุงَ ุณَู
ِุนْุชُู
ْ، َูุฃุณْุชَุบِْูุฑُ ุงَููู ِูู ََُูููู
ْ
َูุงْูุญَู
ْุฏُ ِِููู ุฑَุจِّ
ุงْูุนَุงَูู
َِูู ::
Khutbah Kedua
ุงْูุญَู
ْุฏُ ِِููู ุฑَุจِّ
ุงูุนَุงَูู
َِูู، ูุงูุตََّูุงุฉُ ูุงูุณَّูุงَู
ُ ุนَูู ู
ُุญَู
َّุฏٍ َูุจَุนْุฏُ:
Jama’ah Juma’at Rahimakumullaah,
Kehidupan orang fasik, orang yang telah mati hatinya itu serba paradoks
(saling bertolak belakang). Seperti kata Ibrahim bin Adham, ada 10 fenomena
sikap bertolak belakang dari kehidupan orang yang telah mati hatinya:
ู
َุนْุฑَِูุฉُ ุงِููู ุฏَُูู
ุชَุฃْุฏَِูุฉِ ุญَِِّูู
(1) Mengenal Allah, tanpa menunaikan hak-Nya
ِูุฑَุงุกَุฉُ ุงููุฑุขِู ุฏَُูู
ุงْูุนَู
َُู ุจِِู
(2) Membaca al-Qur’an tanpa diamalkan
ุงْูุงِุฏِّุนَุงุกُ ุจِุญُุจِّ
ุงูุฑَّุณُِูู ูุชَุฑُْู ุณَُّูุชِِู
(3) Mengaku mencintai Nabi, tapi meninggalkan
sunnahnya
ุงْูุงِุฏِّุนَุงุกُ ุจِุนَุฏَุงَูุฉِ
ุงูุดูุทุงู َูุงูุทَّุงุนَุฉُ َُูู
(4) Mengaku bermusuhan dengan setan, tapi masih
menuruti ajakannya
ุงْูุงِุฏِّุนَุงุกُ ุจِุฏُุฎُِูู
ุงْูุฌََّูุฉِ َูุนَุฏَู
ُ ุงْูุนَู
َِู ََููุง
(5) Mengaku bakal masuk
surga, tapi tanpa usaha untuk meraihnya
ุงْูุงِุฏِّุนَุงุกُ ุจِุงَّููุฌَุงุฉِ
ู
َِู ุงَّููุงุฑِ َูุฑَู
ُْู ุฃَُْููุณِِูู
ْ َِูููุง
(6) Yakin selamat dari
neraka, malah nyemplung ke dalamnya
ุงََْููุงุฆُِู ุจِุฃَู ุงْูู
َْูุชَ
ุญٌَّู َูุนَุฏَู
ُ ุงْูุงِุณْุชِุนْุฏَุงุฏِ َُูู
(7) Yakin dengan datangnya
kematian, tapi lupa membuat persiapan
ุงْูุงِุดْุชِุบَุงُู ุจِุนُُููุจِ
ุงَّููุงุณِ َูุชَุฑُْู ุนُُููุจِ ุฃَُْููุณِِูู
ْ
(8) Sibuk membicarakan aib
orang lain, melupakan aibnya sendiri
ุฏَُْูู ุงْูุฃَู
ْูุงุชِ ู
َุนَ ุนَุฏَู
ِ
ุงْูุงِุนْุชِุจَุงุฑِ ุจِِู
(9) Sering mengubur mayit, tidak pernah mengambil
perlajarannya
ุฃَُْูู ِูุนْู
َุฉِ ุงِููู َูุนَุฏَู
ُ
ุดُْูุฑِِู ุนَََْูููุง
(10) Nikmat Allah dimakan, tapi tak pernah
disyukuri
Sepuluh sikap paradoksal inilah sesungguhnya yang menjadi sumber krisis
kemanusian. Sebab kata, Ibrahim bin Adham, sepuluh perkara ini menyebabkan doa
tidak akan dikabulkan. Lalu apa artinya jika Allah sudah tidak lagi mendengar
doa hamba-Nya? Itu berarti Allah membiarkan hamba-Nya menyelesaikan
persolanannya sendiri tanpa pertolongan dan rahmat-Nya. Jika sudah begitu,
sejuta solusi yang ditawarkan oleh pakar paling hebat sekali pun tidak akan
mampu menyelesaikan masalah manusia yang terus mendera. Na’udzu
billaahi min dzaalik.
Jamaah Jumat Rahimakumullaah,
Maka satu saja kata kuncinya: “Krisis apa pun yang mendera manusia,
solusinya hanya satu: Hidupkan hati dengan mengikuti petunjuk-Nya.” Sebagaimana
firman-Nya: َูู
َْู َูุชَِّู
ุงَููู َูุฌْุนَْู َُูู ู
َุฎْุฑَุฌًุง، ََููุฑْุฒُُْูู ู
ِْู ุญَْูุซُ َูุง َูุญْุชَุณِุจُ “Barang
siapa bertaqwa kepada Allah, akan diberikan kepadanya jalan keluar dan
diberi-Nya rizqi dari arah yang tidak diduga-duga.” (at-Thalaq: 2)
َูุณْุฃَُู ุงََّููู ุงْูุนَุงَِููุฉَ
ِูู ุงูุฏِِّูู َูุงูุฏَُّْููุง ูุงْูุขุฎِุฑَุฉِ، ุงَُّูููู
َّ ุตَِّู ุนََูู ู
ُุญَู
َّุฏٍ َูุขِِูู
ูุตَุญْุจِِู ูุงูุชَّุงุจِุนَِูู ุฃุฌْู
َุนَِูู
ูุงْูุญَู
ْุฏُ َِّููู ุฑَุจِّ
ุงْูุนَุงูู
َِูู ุงُูููู
َّ ุฅَّูุง َูุณْุฃََُูู ุจِุฃุณَู
ุงุกَِู ุงْูุญُุณَْูู ุฃْู ุชَุฑْุญَู
ََูุง
َูุชَุฑْุญَู
َ ุฌَู
ِูุนَ ุฃُู
َّุฉِ َูุจَِِّูู ู
ُุญَู
َّุฏٍ
ูุงุตْุฑِْู ุนََّูุง ุงْูุจََูุงุกَ
َูุงَْููุจَุงุกَ َูุงِْููุชََู ูุงْูู
ِุญََู، َูุงْูุตُุฑَْูุง ุนَูู ุงْูุฃَุนْุฏَุงุกِ ุจِุฑَุญْู
َุชَِู
َูุง ุฃุฑْุญَู
ُ ุงูุฑَّุงุญِู
َِูู
ุฑَุจََّูุง ุขุชَِูุง ِูู ุงูุฏَُّููุง
ุญَุณََูุฉً َِููู ุงْูุขุฎِุฑَุฉِ ุญَุณََูุฉً ََِูููุง ุนَุฐَุงุจَ ุงَّููุงุฑِ
ูุตَِّู ุงَُّูููู
َّ ุนََูู
ู
ُุญَู
َّุฏٍ َูุงْูุญู
ْุฏُ ِููู ุฑَุจِّ ุงْูุนَุงَูู
َูู
ุฃَِูู
ِ ุงูุตََّูุงุฉَ




0 comments:
Posting Komentar