Prio Sudiyatmoko
19 Juli 2012
Ramadhan Cahaya Hati
Di antara ketiga elemen pembentuk jatidiri manusia, unsur jiwa paling
sering diabaikan. Unsur jasadiyah (badan) dan fikriyah (intelektual)
telah menempati prioritas yang tinggi pada tangga keberhajatan insan. Orang
lapar segera menyadari kelaparannya manakala tubuh lemas dan gemetar. Saat
kepala terasa sakit, badan demam, flu menyerang, dan sebagainya, yang segera
terpikir adalah istirahat, obat atau dokter. Betapa sabar para pasien menunggu
antrean untuk berobat. Betapa besar harta dan tenaga dikeluarkan untuk
mengobati penyakit yang mulai menggawat. Biaya obat, rawat inap, administrasi
kesehatan, dan sebagainya begitu mudah dibayarkan demi kesembuhan yang segera.
Muncullah ungkapan “Sehat itu mahal”.
Masa depan juga mahal. Begitu mahalnya, setiap orang tua tak ragu
mengeluarkan ongkos pendidikan berjuta bahkan berpuluh juta untuk membekali
anak-anaknya dengan pendidikan formal. Semua itu demi masa depan mereka kelak.
Di era belakangan, beberapa gelintir peserta didik rela merogoh koceknya untuk
membeli bocoran soal ujian nasional. Dan ketidakjujuran itu pun menjadi sesuatu
yang tak tabu untuk dilakukan secara “berjamaah”.
Di zaman saat mana teknologi informasi dan peranan media berkembang
pesat, semua orang berlomba-lomba mengakses perkembangan terbaru fasilitas
dunia yang digandrunginya. Tidak mengikuti berita sehari saja akan terlihat
seperti orang desa yang tersesat di tengah kota besar. Orang-orang yang tidak
menggunakan fasilitas-fasilitas terkini akan dianggap sebagai orang kuno, gagap
teknologi, atau kurang pergaulan. Saling kritik hingga saling menjatuhkan mulai
menjadi gaya hidup sebagian masyarakat bukan hanya gaya berpolitik.
Namun di tengah keramaian itu, ada satu sisi pada diri manusia yang menjerit
kesepian. Itulah ruh, jiwa spiritualnya. Itulah hati yang sering diacuhkannya.
Apalah artinya tubuh yang bugar, makanan lezat yang terhidang, kekayaan materi
yang berlimpah, keluarga yang dibanggakan, jika semua itu tidak dijiwai dengan
hati yang sehat. Yakni hati yang selamat, hati yang selalu cenderung untuk
kembali kepada Tuhannya.
“Pada hari ketika harta dan
anak-anak tiada lagi berguna, kecuali bagi orang-orang yang datang kepada Allah
dengan qalbun salim.” (Asy-Syu’ara: 88-89)
Dari tiga klasifikasi hati yang dikemukakan Ibnul Qayyim Al-Jauziyah –
meliputi hati yang sehat (qalbun salim), hati yang mati (qalbun mayyit),
hati yang sakit (qalbun maridh) – nyatalah banyak di antara manusia
yang tergolong sakit hati dan sebagian lainnya telah mati. Sementara sedikit
saja yang memiliki hati yang sehat.
Hati yang sehat selalu bersegera menyambut dan menjawab panggilan Allah,
melalui corong speaker di masjid atau mushalla, melalui undangan
majelis ilmu, atau melalui tangan-tangan faqir yang meminta, atau melalui sorot
mata mereka yang faqir namun tak mau meminta-minta karena menjaga kehormatan
dirinya, atau melalui jeritan dan rintihan tak terdengar dari kaum tertindas.
Hati yang sehat tampak pada wajah yang berseri-seri dan senyum yang teduh.
Itulah senyum cinta yang tulus pada saudara seiman dan sesama manusia, bukan
senyum politis, senyum basa-basi atau senyum kepura-puraan.
Hati yang mati sebaliknya. Ia tak akan mau menyambut apalagi menjawab
panggilan Allah Ta’ala untuk kebahagian dunia dan akhirat. Ia telah diseru
untuk menuju kehidupan tapi ia malah lebih menyukai kematian. Tak ada nama
Allah di dalamnya. Dan ia tak kenal apa itu pahala dan dosa, ketaatan dan
maksiat, serta tak peduli akan yang halal dan yang haram.
Sedangkan hati yang berpenyakit, kadang-kadang ia seperti hati yang
sehat – kalau sedang sadar – dan kadang-kadang ia seperti hati yang mati –
kalau sedang lalai atau lupa. Maka periksalah hati kita masing-masing.
Sehatkah, mati, atau berpenyakitkah ia? Kita hanya bisa menjawabnya dengan kejujuran
kita pada diri sendiri, bukan kepada orang lain.
Hati yang sakit penaka tubuh penuh luka dan telah menjadi borok. Rupanya
tak elok dipandang, baunya tak sedap, dan semua orang tak ingin mendekat.
Bagaimanakah buruk rupa hati para koruptor yang korupsi diam-diam karena takut
ketahuan atau terang-terangan karena korupsinya beramai-ramai? Entah bagaimana
buruknya hati pemecah belah umat dan bangsa, provokator yang menyulut terorisme
dan meledakkan bom, kemudian mengajak anak bangsa untuk berhati-hati kepada
orang yang taat beragama dan mewaspadai anak-anak remaja jika mereka tidak
menjadi hedonis. Demikian juga mereka yang salah jalan ingin menebar rahmat
dengan kekerasan. Semoga hati itu belum mati alias masih bisa diobati.
Ramadhan datang membawa satu bentuk nikmat: kesempatan. Itulah
kesempatan untuk kita memperbaiki diri, mengobati penyakit hati yang melekat
pada tiap-tiap kita, sehingga sucilah hati itu dari kotoran-kotorannya. Tak
perlu lagi ada kecurigaan pada sesama, rasa dengki dan iri yang tak beralasan,
saling telikung dan mengkhianati. Biarlah Ramadhan kali ini datang sebagai
pengobat rindu kita akan kedamaian surgawi yang ingin kita ciptakan di dunia
ini, tanpa prasangka dan kebencian yang terpendam. Kita mendekatkan diri kepada
Allah dengan shalat kita, puasa, dan ibadah lainnya. Maka selayaknyalah kita
yang sama-sama beribadah kepada-Nya merasakan nikmatnya cinta dalam satu
keimanan.
Mari sambut Ramadhan ini dengan kebersihan hati, dan kemauan untuk terus
menyucikannya. Sebab, seruan ibadah Ramadhan adalah untuk meraih predikat taqwa
– seperti tertera dalam Surat Al-Baqarah ayat 183. Sedangkan, “Taqwa itu ada di
sini!” sabda Rasulullah SAW seraya menunjuk ke dadanya, dan itu artinya qalbu
(hati). “Ingatlah bahwa di dalam jasad ada
sekerat daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasadnya, dan jika ia rusak,
maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah
hati.” (HR.
Bukhari dan Muslim).
Marhaban ya Ramadhan. Semoga bulan suci ini turut menyucikan hati kita
semua. []
Prio Sudiyatmoko









