• KEAGUNGAN AL QURAN

    Al-Quran adalah cahaya yang menerangi kebutaan, penawar hati yang menyembuhkan penyakit dan kehampaannya, suguhan lezat bagi jiwa, taman indah sanubari, penuntun nurani menuju negeri yang damai.

  • BUAH TARBIYAH

    Kita bukanlah orang yang sudah benar-benar baik apalagi terbaik, melainkan hanya orang yang keburukannya tertutupi.

  • DOSA-DOSA YANG DIREMEHKAN

    Tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari 3 hari. Siapa yang mendiamkan saudaranya lebih dari 3 hari kemudian ia mati, maka ia masuk neraka.

  • CIRI PENGHUNI SURGA

    Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh. Inilah yang dijanjikan kepadamu.

  • SEREMONI

    Sejak pagi keluarga mempelai perempuan bersiap diri menyambut tamu yang telah lama dinanti-nanti. Akhirnya datang juga. Mempelai laki-laki dikawal rombongan sekeluarga.

19 Juli 2012

Ramadhan Cahaya Hati

Di antara ketiga elemen pembentuk jatidiri manusia, unsur jiwa paling sering diabaikan. Unsur jasadiyah (badan) dan fikriyah (intelektual) telah menempati prioritas yang tinggi pada tangga keberhajatan insan. Orang lapar segera menyadari kelaparannya manakala tubuh lemas dan gemetar. Saat kepala terasa sakit, badan demam, flu menyerang, dan sebagainya, yang segera terpikir adalah istirahat, obat atau dokter. Betapa sabar para pasien menunggu antrean untuk berobat. Betapa besar harta dan tenaga dikeluarkan untuk mengobati penyakit yang mulai menggawat. Biaya obat, rawat inap, administrasi kesehatan, dan sebagainya begitu mudah dibayarkan demi kesembuhan yang segera. Muncullah ungkapan “Sehat itu mahal”.
Masa depan juga mahal. Begitu mahalnya, setiap orang tua tak ragu mengeluarkan ongkos pendidikan berjuta bahkan berpuluh juta untuk membekali anak-anaknya dengan pendidikan formal. Semua itu demi masa depan mereka kelak. Di era belakangan, beberapa gelintir peserta didik rela merogoh koceknya untuk membeli bocoran soal ujian nasional. Dan ketidakjujuran itu pun menjadi sesuatu yang tak tabu untuk dilakukan secara “berjamaah”.
Di zaman saat mana teknologi informasi dan peranan media berkembang pesat, semua orang berlomba-lomba mengakses perkembangan terbaru fasilitas dunia yang digandrunginya. Tidak mengikuti berita sehari saja akan terlihat seperti orang desa yang tersesat di tengah kota besar. Orang-orang yang tidak menggunakan fasilitas-fasilitas terkini akan dianggap sebagai orang kuno, gagap teknologi, atau kurang pergaulan. Saling kritik hingga saling menjatuhkan mulai menjadi gaya hidup sebagian masyarakat bukan hanya gaya berpolitik.
Namun di tengah keramaian itu, ada satu sisi pada diri manusia yang menjerit kesepian. Itulah ruh, jiwa spiritualnya. Itulah hati yang sering diacuhkannya. Apalah artinya tubuh yang bugar, makanan lezat yang terhidang, kekayaan materi yang berlimpah, keluarga yang dibanggakan, jika semua itu tidak dijiwai dengan hati yang sehat. Yakni hati yang selamat, hati yang selalu cenderung untuk kembali kepada Tuhannya.
“Pada hari ketika harta dan anak-anak tiada lagi berguna, kecuali bagi orang-orang yang datang kepada Allah dengan qalbun salim.” (Asy-Syu’ara: 88-89)
Dari tiga klasifikasi hati yang dikemukakan Ibnul Qayyim Al-Jauziyah – meliputi hati yang sehat (qalbun salim), hati yang mati (qalbun mayyit), hati yang sakit (qalbun maridh) – nyatalah banyak di antara manusia yang tergolong sakit hati dan sebagian lainnya telah mati. Sementara sedikit saja yang memiliki hati yang sehat.
Hati yang sehat selalu bersegera menyambut dan menjawab panggilan Allah, melalui corong speaker di masjid atau mushalla, melalui undangan majelis ilmu, atau melalui tangan-tangan faqir yang meminta, atau melalui sorot mata mereka yang faqir namun tak mau meminta-minta karena menjaga kehormatan dirinya, atau melalui jeritan dan rintihan tak terdengar dari kaum tertindas. Hati yang sehat tampak pada wajah yang berseri-seri dan senyum yang teduh. Itulah senyum cinta yang tulus pada saudara seiman dan sesama manusia, bukan senyum politis, senyum basa-basi atau senyum kepura-puraan.
Hati yang mati sebaliknya. Ia tak akan mau menyambut apalagi menjawab panggilan Allah Ta’ala untuk kebahagian dunia dan akhirat. Ia telah diseru untuk menuju kehidupan tapi ia malah lebih menyukai kematian. Tak ada nama Allah di dalamnya. Dan ia tak kenal apa itu pahala dan dosa, ketaatan dan maksiat, serta tak peduli akan yang halal dan yang haram.
Sedangkan hati yang berpenyakit, kadang-kadang ia seperti hati yang sehat – kalau sedang sadar – dan kadang-kadang ia seperti hati yang mati – kalau sedang lalai atau lupa. Maka periksalah hati kita masing-masing. Sehatkah, mati, atau berpenyakitkah ia? Kita hanya bisa menjawabnya dengan kejujuran kita pada diri sendiri, bukan kepada orang lain.
Hati yang sakit penaka tubuh penuh luka dan telah menjadi borok. Rupanya tak elok dipandang, baunya tak sedap, dan semua orang tak ingin mendekat. Bagaimanakah buruk rupa hati para koruptor yang korupsi diam-diam karena takut ketahuan atau terang-terangan karena korupsinya beramai-ramai? Entah bagaimana buruknya hati pemecah belah umat dan bangsa, provokator yang menyulut terorisme dan meledakkan bom, kemudian mengajak anak bangsa untuk berhati-hati kepada orang yang taat beragama dan mewaspadai anak-anak remaja jika mereka tidak menjadi hedonis. Demikian juga mereka yang salah jalan ingin menebar rahmat dengan kekerasan. Semoga hati itu belum mati alias masih bisa diobati.
Ramadhan datang membawa satu bentuk nikmat: kesempatan. Itulah kesempatan untuk kita memperbaiki diri, mengobati penyakit hati yang melekat pada tiap-tiap kita, sehingga sucilah hati itu dari kotoran-kotorannya. Tak perlu lagi ada kecurigaan pada sesama, rasa dengki dan iri yang tak beralasan, saling telikung dan mengkhianati. Biarlah Ramadhan kali ini datang sebagai pengobat rindu kita akan kedamaian surgawi yang ingin kita ciptakan di dunia ini, tanpa prasangka dan kebencian yang terpendam. Kita mendekatkan diri kepada Allah dengan shalat kita, puasa, dan ibadah lainnya. Maka selayaknyalah kita yang sama-sama beribadah kepada-Nya merasakan nikmatnya cinta dalam satu keimanan.
Mari sambut Ramadhan ini dengan kebersihan hati, dan kemauan untuk terus menyucikannya. Sebab, seruan ibadah Ramadhan adalah untuk meraih predikat taqwa – seperti tertera dalam Surat Al-Baqarah ayat 183. Sedangkan, “Taqwa itu ada di sini!” sabda Rasulullah SAW seraya menunjuk ke dadanya, dan itu artinya qalbu (hati). “Ingatlah bahwa di dalam jasad ada sekerat daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasadnya, dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Marhaban ya Ramadhan. Semoga bulan suci ini turut menyucikan hati kita semua. []

Prio Sudiyatmoko
Share:

Kenapa Kita Mudah Kecewa?

"Kenapa kita mudah kecewa kepada orang lain?" Mungkin pertanyaan di atas sesuai dengan keadaan diri kita. Atau boleh j...