Kegagalan seringkali menghancurkan harapan-harapan yang kita miliki.
Impian atau cita-cita, ambisi yang begitu kuat pada mulanya, seketika memudar
begitu cepat. Posisikan diri Anda sebagai seorang caleg yang kalah dalam
pemilu. Telah Anda kerahkan segalanya, pikiran, tenaga, dan dana yang begitu
besar. Anda giring masyarakat agar mau memilih Anda saat pemilu. Dan ketika
melihat antusiasme masyarakat dalam kampanye, Anda yakin betul akan menang, Anda
akan terpilih sebagai anggota dewan. Dalam khayal, Anda bayangkan kursi legislatif
yang akan Anda duduki. Dan tersemat pada diri Anda sebutan wakil rakyat.
Tapi apa yang terjadi? Anda gagal. Anda pun
kecewa kepada masyarakat yang telah menikmati jasa Anda tapi tak mau memilih
Anda. Anda yang semula bercita-cita mulia, ingin membangun dan memajukan
masyarakat, kini balik berburuk sangka dan kecewa berat pada masyarakat itu.
Cita-cita yang telah Anda canangkan sebelumnya, sirna seketika.
Ambisi itu memang tidak stabil. Kadang naik,
kadang turun. Seperti juga yang Anda rasakan sebagai mood atau suasana
hati. Kalau Anda sedang mood dalam suatu aktivitas, pasti Anda akan
mengerjakannya dengan senang hati, ada bayarannya atau tidak. Anda tidak
terlalu perhitungan dengan untung-ruginya. Pekerjaan itu Anda lakukan dengan
ringan, tanpa beban, tanpa merasa terpaksa. Seandainya pun Anda bisa bekerja 24
jam non-stop, Anda tetap akan melakukannya. Bahkan pun kalau sehari itu sama
dengan 40 jam, mungkin Anda tetap akan melakukannya. Sebaliknya, jika mood
Anda sedang jelek, jangankan 10 jam bekerja, 1 jam saja sudah terasa
membosankan. Anda akan bekerja dalam kondisi perasaan yang tersiksa. Kenapa?
Karena Anda terpaksa, tidak ada ketulusan dalam melakukannya.
Itulah keadaan ambisi. Ia memang bisa mengambil
bentuk sebagai obsession (obsesi) tapi seringkali ia juga menjelma menjadi
obtuseness (kebodohan). Dan tampak jelas di antara keduanya ada obstacle
(hambatan atau rintangan).
Awalnya adalah pengetahuan seseorang akan sesuatu
yang bermanfaat. Pengetahuan itu kemudian menumbuhkan rasa suka. Kemudian muncullah
keinginan untuk memilikinya. Munculnya keinginan itu diiringi pula dengan
penambahan pengetahuan tentang sesuatu itu. Dia akan berpikir dan mencari tahu
bagaimana cara mendapatkannya. Itu jika dia benar-benar menginginkannya. Jika
dalam proses mencari tahu serta usaha mendapatkannya dia selalu terbayang
dengan sesuatu itu dan tidak bisa tidur dibuatnya, maka itu artinya ambisi
telah menjadi obsesi. Hal ini mirip dengan seseorang yang jatuh cinta. Dia
selalu membayangkan kekasihnya dan sulit menikmati kehidupan normalnya
sehari-hari.
Saat dia telah mengetahui jalan untuk mendapatkan
sesuatu (yang dia inginkan) itu, maka dia pun mulai berpikir lagi. Dan dia akan
bertanya dalam hati, “Apakah saya bisa? Mampukah saya? Apa resiko yang harus
saya hadapi?” dan seterusnya.
Jika kemudian dia merasa tak akan bisa
mendapatkannya, sementara obsesinya terus terfokus pada keinginan itu namun
tanpa melakukan apa-apa, maka itu artinya ambisi telah menjelma menjadi
kebodohan. Dan itulah yang disebut dengan angan-angan. Angan-angan itu
membuatnya tak bisa tidur. Tapi anehnya dia tak melakukan apa-apa, hanya
mengkhayal.
Ada kalanya ambisi seseorang hilang. Seringkali dia
terpengaruh oleh komentar dan opini negatif orang lain terhadap apa yang dicita-citakan.
Mereka mengatakan bahwa dia tak akan bisa melakukannya, terlalu berat, terlalu
memaksakan diri, dan berbagai komentar lain. Kebanyakan, yang sering membuatnya
turun semangat adalah ketika mereka menceritakan kemungkinan pahit dari
cita-citanya itu berdasarkan pengalaman mereka atau dari kisah lama yang mereka
tahu. Inilah “teror” secara halus terhadap orang yang ingin sukses.
Karena kemudian dia pun menjadi takut gagal, maka
dia mengurungkan ambisinya itu. Kemudian ambisi-ambisi yang lain akan
bermunculan seiring dengan bertambahnya informasi tentang dunia luar, tentang
segala hal yang belum dia ketahui selama ini. Tapi ada kalanya setelah itu dia
tak memiliki ambisi apa-apa lagi. Banyak orang-orang sepertinya yang lebih memilih
untuk hidup apa adanya, mengalir begitu saja tanpa ada cita-cita besar hingga
ajal menjemput mereka. Maka wajar saja jika tak ada prestasi besar dalam hidup mereka.
Tapi uniknya manusia selalu berubah-ubah. Kondisi
hati memang tidak stabil, seperti namanya qalbu yang artinya sesuatu
yang tidak tetap, tempat terjadinya perubahan gagasan. Maka boleh jadi setelah
lama ambisi itu hilang, tiba-tiba ia muncul lagi. Dan bisa jadi pula seseorang
kemudian melakukan apa yang dulu tidak berani dia lakukan. Kenapa? Karena ada
motivasi, ada sesuatu yang mendorong atau menariknya untuk melakukan itu.
Apa yang mendorong dan apa yang menarik sehingga dia
kembali berambisi? Yang mendorong adalah realitas dan yang menarik adalah idealitas.
Biasanya realitas itu berbentuk ketidaknyamanan, kekurangan, kebutuhan, atau keadaan
bahaya. Maka umumnya seseorang akan bergerak jika dia tidak nyaman, atau jika dia
membutuhkan sesuatu, atau merasa ada hal yang membahayakan dirinya. Tapi itu terjadi
jika dia merasakan adanya ketidaknyamanan, kebutuhan atau keadaan bahaya itu.
Jika dia tak menyadari adanya hal-hal tersebut, meskipun kenyataannya memang
demikian, maka dia pun tidak akan bergerak.
Sedangkan idealitas itu berbentuk cita-cita,
bayangan tentang sesuatu yang indah dan menyenangkan, keberlimpahan materi,
keamanan dan kenyamanan, dan sebagainya. Karena semua itu belum terwujud, jauh
di depan sana, maka idealitas itu memiliki sifat menarik. Hati kita akan
tertarik sehingga kita ingin ke sana, ingin segera sampai ke tempat tujuan.
Tentu ini juga sangat bergantung pada variabel pengetahuan kita tentang
idealitas itu. Kalau kita tidak punya idealitas, tak punya cita-cita yang
besar, atau tak punya selera yang tinggi, maka kita pun tak akan tertarik dan
kita tak akan bergerak.
Kemudian, umpamanya ambisi kita sedang
menyala-nyala setelah sebelumnya redup. Kita bersemangat dalam menyelesaikan
suatu pekerjaan yang mendukung terwujudnya ambisi kita itu. Ambisi itu tidak
sekedar menjadi obsession yang membuat kita selalu gelisah jika ia belum
tercapai. Tapi ambisi itu membuat kita selalu on mission dalam semua
aktivitas yang kita lakukan. Kita bekerja dan terus bekerja karena ambisi itu
belum juga terwujud.
Apa yang terjadi kemudian? Umpamakan bahwa lagi-lagi
kita menemui kesulitan dan gagal. Lagi-lagi ambisi kita memudar. Memang begitulah
adanya. Ambisi selalu fluktuatif sebagaimana hati yang terus berubah-ubah.
Karena itu, kita tak bisa menafikan peran penting hati kita. Stabilitas hati
mendukung stabilnya ambisi. Sementara stabilitas hati kita tergantung pada
kesehatannya. Jadi sekiranya kita mengalami kegagalan, kemudian ambisi kita
menurun, maka terapi atas penyakit hati adalah solusi yang tepat.
“Ingatlah bahwa di dalam jasad ada sekerat
daging. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh jasadnya, dan apabila ia rusak,
maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah, sekerat daging itu adalah hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Seringkali kita turun semangat dalam melakukan
sesuatu karena kita dibutakan oleh sesuatu yang kita kerjakan. Tapi lebih
tepatnya kita dibutakan oleh pikiran kita sendiri. Wujud dari turunnya semangat
atau ambisi itu adalah berhentinya kita bekerja, mengambil waktu jeda, melupakan
semua itu sesaat, atau kita meninggalkannya sama sekali. Jika keinginan untuk
meraih sukses ternyata masih ada, maka keinginan dan semua cita-cita itu pun menjadi
kabur dan samar. Tinggallah kita menjadi orang yang berangan-angan, punya
cita-cita besar tapi berjiwa kerdil. Dan bentuk yang paling sering kita ambil
adalah penundaan. Kalau kita teliti dengan cermat, penundaan ini adalah bentuk
ketertipuan kita akan hakikat kehidupan.
Orang yang berangan-angan memang tak pernah
berpikir tentang kematian yang bisa datang kapan saja, bahkan bisa jadi besok.
Orang yang berangan-angan bahwa suatu ketika dia akan sukses dalam
pekerjaannya, tapi selalu menunda-nunda apa yang sedang dikerjakan, berarti dia
memprediksikan bahwa dia masih akan hidup lebih lama lagi. Mungkin dia selalu
berpikir, “Ah, besok saja saya melakukannya, besok saja saya beramal shalih,
nanti saja serius beribadah, sekarang kerjakan yang lain dulu atau sekarang
santai saja dulu. Toh, masih ada nanti atau besok.” Tapi ternyata nanti atau
besoknya dia berpikir seperti itu lagi. Dengan kata lain, orang ini tidak kuat
kemauannya, tidak punya kesungguhan. Dan semoga itu bukan kita.
Memang kalau kita mau jujur, persoalan kesegeraan
dan sebaliknya penundaan kita dalam mengerjakan “proyek-proyek ibadah” kita
adalah bagian dari ukuran kualitas keimanan kita. Maka kita akan semangat
bekerja jika kondisi keimanan kita sedang fit dan semangat itu akan turun jika
kondisi keimanan kita menurun. Cara kita melaksanakan proyek ibadah kita akan
menunjukkan semua itu dengan jelas.
Cara terbaik untuk memperbarui ambisi amal shalih
adalah banyak mengingat mati. Inilah tema yang sering dihindari di zaman yang
serba hedonistik ini. Budaya yang marak di sekitar kita adalah budaya hiburan, having
fun, lupa diri dan lupa daratan, yang semua itu cenderung membuat para
penikmatnya lupa akan hakikat kehidupan. Akhirnya kita pun lalai dalam nyanyian
dan musik yang menghanyutkan pikiran, tontonan yang membuat kita makin mengkhayal,
obrolan yang tak ada nilainya, dan berbagai sarana yang menjadi kesenangan belaka.
Maka menjadi wajar jika masyarakat seperti itu sulit diajak untuk maju.
Kita tak bermaksud negative thinking
terhadap masyarakat dan menyalahkan keadaan sebab kita adalah bagian dari
masyarakat itu sendiri. Tapi inilah tantangannya. Kita ditantang untuk melawan
arus. Maksudnya, bagaimana kita menjadi baik walaupun lingkungan kurang kondusif.
Kita perlu mempopulerkan tradisi dzikrul maut, sedang di saat yang sama banyak
orang terlalu mencintai kehidupan dan takut akan kematian. Inilah tema yang
mencerdaskan, seperti telah disabdakan Rasulullah SAW: “Orang yang paling
cerdas adalah orang yang dapat mengendalikan nafsunya dan beramal untuk bekal
pasca-kematian.” (HR. Tirmidzi)
Kita sepakat dengan itu. Dan selayaknya kita tak
perlu berselisih lagi tentangnya. Tapi masalahnya, bisakah kita menjalankannya?
Dan bagaimana mungkin kecerdasan bisa didapat dengan cara mengingat kematian?
Lalu bisakah dzikrul maut itu memperbarui ambisi kita? Maksudnya, apa
mungkin kita bisa bertambah semangat dengan memikirkan kematian?
Seorang teman bercerita kepada saya bahwa suatu
ketika dia sering membaca buku-buku tentang kematian dan Hari Kiamat. Katanya,
di masa-masa itu dia menjadi lesu, tidak semangat dalam bekerja. Mungkin banyak
juga orang yang mengalami hal semacam itu. Saya menduga hal itu disebabkan
kurang sempurnanya kesadaran kita bahwa keseluruhan hidup ini adalah ibadah,
bukan hanya pada saat-saat ibadah yang bersifat ritual.
Sebenarnya kita hanya perlu mengalokasikan ruang
di hati kita untuk porsi dzikrul maut yang cukup besar. Dan perlu ada
pengaturan dalam hati, ada kalanya kita menangis saat dzikrul maut
karena mengingat dosa-dosa sehingga kita segera memohon ampunan Allah. Dan ada
kalanya kita bertambah semangat saat dzikrul maut karena tak ingin
menyia-nyiakan waktu yang tersisa sehingga kita beramal sesegera mungkin.
Bisa jadi kita mengalami kondisi jiwa yang
berlawanan. Pada awalnya kita menangis seakan hampir putus asa, tapi segera
setelah itu kita bersemangat seperti ingin menaklukkan dunia. Kondisi itu
tidaklah aneh. Sebab, saat kita menangis dan merintih, kita melakukannya dengan
penuh harap kepada Allah akan rahmat dan ampunan-Nya. Dan saat kita
bersemangat, kita ingin membuktikan bahwa kita sungguh-sungguh berusaha meraih
ridha-Nya.
Orang yang selamanya bersedih dan turun semangat,
biasanya tak memiliki arah yang jelas di dunia ini. Dia tak punya rencana
kerja-kerja besar yang bisa dia perankan. Sementara orang yang selamanya berpacu
dengan dunianya dan memiliki kerja-kerja besar yang sedang dijalaninya, maka
dia akan mengalami kegersangan jiwa. Dia pandai memanfaatkan fasilitas dunia
ini, tapi sayangnya dunia inilah yang dia jadikan tujuan akhirnya.
Karenanya yang kita perlukan adalah irama hidup
yang seimbang. Kita memang harus punya ambisi untuk menjadi sesuatu dalam
kehidupan ini. Tapi kita pun harus sadar bahwa kehidupan ini bukanlah tujuan
kita. Ia hanya sarana yang akan mengantarkan kita pada tujuan sebenarnya. Maka dzikrul
maut menjadi penting untuk dilakukan. Jika kita sering mengingat mati, maka
kita akan sibuk mempersiapkan diri dengan amal kebaikan. Dan semua pekerjaan
yang disebut pekerjaan duniawi pun termasuk bagian dari bekal menghadapi kematian.
Kita juga harus pandai dan bijak menyikapi dan
memperlakukan semua dimensi waktu dalam hidup ini. Memang, kita punya masa lalu
yang terkadang kita sesali. Atau masa lalu itu tersimpan dalam memori kita
sebagai kekayaan motivasi. Kita juga punya masa depan yang sering berwujud
menjadi angan-angan atau keraguan besar. Tapi hidup kita hanyalah hari ini.
Jika hari ini hanya diisi dengan mengenang masa lalu dan mengangankan masa
depan, maka kita tak akan bergerak. Masa lalu itu harus menjadi pendorong
sedangkan masa depan adalah sesuatu yang menarik. Tapi hidup kita tinggal hanya
hari ini saja. Dan kita harus melakukan sesuatu. Soal hasil, itu bukan urusan
kita, yang penting kita benar-benar beramal. []





0 comments:
Posting Komentar