16 November 2012

Menghadapi Fluktuasi Ambisi


Kegagalan seringkali menghancurkan harapan-harapan yang kita miliki. Impian atau cita-cita, ambisi yang begitu kuat pada mulanya, seketika memudar begitu cepat. Posisikan diri Anda sebagai seorang caleg yang kalah dalam pemilu. Telah Anda kerahkan segalanya, pikiran, tenaga, dan dana yang begitu besar. Anda giring masyarakat agar mau memilih Anda saat pemilu. Dan ketika melihat antusiasme masyarakat dalam kampanye, Anda yakin betul akan menang, Anda akan terpilih sebagai anggota dewan. Dalam khayal, Anda bayangkan kursi legislatif yang akan Anda duduki. Dan tersemat pada diri Anda sebutan wakil rakyat.
Tapi apa yang terjadi? Anda gagal. Anda pun kecewa kepada masyarakat yang telah menikmati jasa Anda tapi tak mau memilih Anda. Anda yang semula bercita-cita mulia, ingin membangun dan memajukan masyarakat, kini balik berburuk sangka dan kecewa berat pada masyarakat itu. Cita-cita yang telah Anda canangkan sebelumnya, sirna seketika.
Ambisi itu memang tidak stabil. Kadang naik, kadang turun. Seperti juga yang Anda rasakan sebagai mood atau suasana hati. Kalau Anda sedang mood dalam suatu aktivitas, pasti Anda akan mengerjakannya dengan senang hati, ada bayarannya atau tidak. Anda tidak terlalu perhitungan dengan untung-ruginya. Pekerjaan itu Anda lakukan dengan ringan, tanpa beban, tanpa merasa terpaksa. Seandainya pun Anda bisa bekerja 24 jam non-stop, Anda tetap akan melakukannya. Bahkan pun kalau sehari itu sama dengan 40 jam, mungkin Anda tetap akan melakukannya. Sebaliknya, jika mood Anda sedang jelek, jangankan 10 jam bekerja, 1 jam saja sudah terasa membosankan. Anda akan bekerja dalam kondisi perasaan yang tersiksa. Kenapa? Karena Anda terpaksa, tidak ada ketulusan dalam melakukannya.
Itulah keadaan ambisi. Ia memang bisa mengambil bentuk sebagai obsession (obsesi) tapi seringkali ia juga menjelma menjadi obtuseness (kebodohan). Dan tampak jelas di antara keduanya ada obstacle (hambatan atau rintangan).
Awalnya adalah pengetahuan seseorang akan sesuatu yang bermanfaat. Pengetahuan itu kemudian menumbuhkan rasa suka. Kemudian muncullah keinginan untuk memilikinya. Munculnya keinginan itu diiringi pula dengan penambahan pengetahuan tentang sesuatu itu. Dia akan berpikir dan mencari tahu bagaimana cara mendapatkannya. Itu jika dia benar-benar menginginkannya. Jika dalam proses mencari tahu serta usaha mendapatkannya dia selalu terbayang dengan sesuatu itu dan tidak bisa tidur dibuatnya, maka itu artinya ambisi telah menjadi obsesi. Hal ini mirip dengan seseorang yang jatuh cinta. Dia selalu membayangkan kekasihnya dan sulit menikmati kehidupan normalnya sehari-hari.
Saat dia telah mengetahui jalan untuk mendapatkan sesuatu (yang dia inginkan) itu, maka dia pun mulai berpikir lagi. Dan dia akan bertanya dalam hati, “Apakah saya bisa? Mampukah saya? Apa resiko yang harus saya hadapi?” dan seterusnya.
Jika kemudian dia merasa tak akan bisa mendapatkannya, sementara obsesinya terus terfokus pada keinginan itu namun tanpa melakukan apa-apa, maka itu artinya ambisi telah menjelma menjadi kebodohan. Dan itulah yang disebut dengan angan-angan. Angan-angan itu membuatnya tak bisa tidur. Tapi anehnya dia tak melakukan apa-apa, hanya mengkhayal.
Ada kalanya ambisi seseorang hilang. Seringkali dia terpengaruh oleh komentar dan opini negatif orang lain terhadap apa yang dicita-citakan. Mereka mengatakan bahwa dia tak akan bisa melakukannya, terlalu berat, terlalu memaksakan diri, dan berbagai komentar lain. Kebanyakan, yang sering membuatnya turun semangat adalah ketika mereka menceritakan kemungkinan pahit dari cita-citanya itu berdasarkan pengalaman mereka atau dari kisah lama yang mereka tahu. Inilah “teror” secara halus terhadap orang yang ingin sukses.
Karena kemudian dia pun menjadi takut gagal, maka dia mengurungkan ambisinya itu. Kemudian ambisi-ambisi yang lain akan bermunculan seiring dengan bertambahnya informasi tentang dunia luar, tentang segala hal yang belum dia ketahui selama ini. Tapi ada kalanya setelah itu dia tak memiliki ambisi apa-apa lagi. Banyak orang-orang sepertinya yang lebih memilih untuk hidup apa adanya, mengalir begitu saja tanpa ada cita-cita besar hingga ajal menjemput mereka. Maka wajar saja jika tak ada prestasi besar dalam hidup mereka.
Tapi uniknya manusia selalu berubah-ubah. Kondisi hati memang tidak stabil, seperti namanya qalbu yang artinya sesuatu yang tidak tetap, tempat terjadinya perubahan gagasan. Maka boleh jadi setelah lama ambisi itu hilang, tiba-tiba ia muncul lagi. Dan bisa jadi pula seseorang kemudian melakukan apa yang dulu tidak berani dia lakukan. Kenapa? Karena ada motivasi, ada sesuatu yang mendorong atau menariknya untuk melakukan itu.
Apa yang mendorong dan apa yang menarik sehingga dia kembali berambisi? Yang mendorong adalah realitas dan yang menarik adalah idealitas. Biasanya realitas itu berbentuk ketidaknyamanan, kekurangan, kebutuhan, atau keadaan bahaya. Maka umumnya seseorang akan bergerak jika dia tidak nyaman, atau jika dia membutuhkan sesuatu, atau merasa ada hal yang membahayakan dirinya. Tapi itu terjadi jika dia merasakan adanya ketidaknyamanan, kebutuhan atau keadaan bahaya itu. Jika dia tak menyadari adanya hal-hal tersebut, meskipun kenyataannya memang demikian, maka dia pun tidak akan bergerak.
Sedangkan idealitas itu berbentuk cita-cita, bayangan tentang sesuatu yang indah dan menyenangkan, keberlimpahan materi, keamanan dan kenyamanan, dan sebagainya. Karena semua itu belum terwujud, jauh di depan sana, maka idealitas itu memiliki sifat menarik. Hati kita akan tertarik sehingga kita ingin ke sana, ingin segera sampai ke tempat tujuan. Tentu ini juga sangat bergantung pada variabel pengetahuan kita tentang idealitas itu. Kalau kita tidak punya idealitas, tak punya cita-cita yang besar, atau tak punya selera yang tinggi, maka kita pun tak akan tertarik dan kita tak akan bergerak.
Kemudian, umpamanya ambisi kita sedang menyala-nyala setelah sebelumnya redup. Kita bersemangat dalam menyelesaikan suatu pekerjaan yang mendukung terwujudnya ambisi kita itu. Ambisi itu tidak sekedar menjadi obsession yang membuat kita selalu gelisah jika ia belum tercapai. Tapi ambisi itu membuat kita selalu on mission dalam semua aktivitas yang kita lakukan. Kita bekerja dan terus bekerja karena ambisi itu belum juga terwujud.
Apa yang terjadi kemudian? Umpamakan bahwa lagi-lagi kita menemui kesulitan dan gagal. Lagi-lagi ambisi kita memudar. Memang begitulah adanya. Ambisi selalu fluktuatif sebagaimana hati yang terus berubah-ubah. Karena itu, kita tak bisa menafikan peran penting hati kita. Stabilitas hati mendukung stabilnya ambisi. Sementara stabilitas hati kita tergantung pada kesehatannya. Jadi sekiranya kita mengalami kegagalan, kemudian ambisi kita menurun, maka terapi atas penyakit hati adalah solusi yang tepat.
“Ingatlah bahwa di dalam jasad ada sekerat daging. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh jasadnya, dan apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah, sekerat daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Seringkali kita turun semangat dalam melakukan sesuatu karena kita dibutakan oleh sesuatu yang kita kerjakan. Tapi lebih tepatnya kita dibutakan oleh pikiran kita sendiri. Wujud dari turunnya semangat atau ambisi itu adalah berhentinya kita bekerja, mengambil waktu jeda, melupakan semua itu sesaat, atau kita meninggalkannya sama sekali. Jika keinginan untuk meraih sukses ternyata masih ada, maka keinginan dan semua cita-cita itu pun menjadi kabur dan samar. Tinggallah kita menjadi orang yang berangan-angan, punya cita-cita besar tapi berjiwa kerdil. Dan bentuk yang paling sering kita ambil adalah penundaan. Kalau kita teliti dengan cermat, penundaan ini adalah bentuk ketertipuan kita akan hakikat kehidupan.
Orang yang berangan-angan memang tak pernah berpikir tentang kematian yang bisa datang kapan saja, bahkan bisa jadi besok. Orang yang berangan-angan bahwa suatu ketika dia akan sukses dalam pekerjaannya, tapi selalu menunda-nunda apa yang sedang dikerjakan, berarti dia memprediksikan bahwa dia masih akan hidup lebih lama lagi. Mungkin dia selalu berpikir, “Ah, besok saja saya melakukannya, besok saja saya beramal shalih, nanti saja serius beribadah, sekarang kerjakan yang lain dulu atau sekarang santai saja dulu. Toh, masih ada nanti atau besok.” Tapi ternyata nanti atau besoknya dia berpikir seperti itu lagi. Dengan kata lain, orang ini tidak kuat kemauannya, tidak punya kesungguhan. Dan semoga itu bukan kita.
Memang kalau kita mau jujur, persoalan kesegeraan dan sebaliknya penundaan kita dalam mengerjakan “proyek-proyek ibadah” kita adalah bagian dari ukuran kualitas keimanan kita. Maka kita akan semangat bekerja jika kondisi keimanan kita sedang fit dan semangat itu akan turun jika kondisi keimanan kita menurun. Cara kita melaksanakan proyek ibadah kita akan menunjukkan semua itu dengan jelas.
Cara terbaik untuk memperbarui ambisi amal shalih adalah banyak mengingat mati. Inilah tema yang sering dihindari di zaman yang serba hedonistik ini. Budaya yang marak di sekitar kita adalah budaya hiburan, having fun, lupa diri dan lupa daratan, yang semua itu cenderung membuat para penikmatnya lupa akan hakikat kehidupan. Akhirnya kita pun lalai dalam nyanyian dan musik yang menghanyutkan pikiran, tontonan yang membuat kita makin mengkhayal, obrolan yang tak ada nilainya, dan berbagai sarana yang menjadi kesenangan belaka. Maka menjadi wajar jika masyarakat seperti itu sulit diajak untuk maju.
Kita tak bermaksud negative thinking terhadap masyarakat dan menyalahkan keadaan sebab kita adalah bagian dari masyarakat itu sendiri. Tapi inilah tantangannya. Kita ditantang untuk melawan arus. Maksudnya, bagaimana kita menjadi baik walaupun lingkungan kurang kondusif. Kita perlu mempopulerkan tradisi dzikrul maut, sedang di saat yang sama banyak orang terlalu mencintai kehidupan dan takut akan kematian. Inilah tema yang mencerdaskan, seperti telah disabdakan Rasulullah SAW: “Orang yang paling cerdas adalah orang yang dapat mengendalikan nafsunya dan beramal untuk bekal pasca-kematian.” (HR. Tirmidzi)
Kita sepakat dengan itu. Dan selayaknya kita tak perlu berselisih lagi tentangnya. Tapi masalahnya, bisakah kita menjalankannya? Dan bagaimana mungkin kecerdasan bisa didapat dengan cara mengingat kematian? Lalu bisakah dzikrul maut itu memperbarui ambisi kita? Maksudnya, apa mungkin kita bisa bertambah semangat dengan memikirkan kematian?
Seorang teman bercerita kepada saya bahwa suatu ketika dia sering membaca buku-buku tentang kematian dan Hari Kiamat. Katanya, di masa-masa itu dia menjadi lesu, tidak semangat dalam bekerja. Mungkin banyak juga orang yang mengalami hal semacam itu. Saya menduga hal itu disebabkan kurang sempurnanya kesadaran kita bahwa keseluruhan hidup ini adalah ibadah, bukan hanya pada saat-saat ibadah yang bersifat ritual.
Sebenarnya kita hanya perlu mengalokasikan ruang di hati kita untuk porsi dzikrul maut yang cukup besar. Dan perlu ada pengaturan dalam hati, ada kalanya kita menangis saat dzikrul maut karena mengingat dosa-dosa sehingga kita segera memohon ampunan Allah. Dan ada kalanya kita bertambah semangat saat dzikrul maut karena tak ingin menyia-nyiakan waktu yang tersisa sehingga kita beramal sesegera mungkin.
Bisa jadi kita mengalami kondisi jiwa yang berlawanan. Pada awalnya kita menangis seakan hampir putus asa, tapi segera setelah itu kita bersemangat seperti ingin menaklukkan dunia. Kondisi itu tidaklah aneh. Sebab, saat kita menangis dan merintih, kita melakukannya dengan penuh harap kepada Allah akan rahmat dan ampunan-Nya. Dan saat kita bersemangat, kita ingin membuktikan bahwa kita sungguh-sungguh berusaha meraih ridha-Nya.
Orang yang selamanya bersedih dan turun semangat, biasanya tak memiliki arah yang jelas di dunia ini. Dia tak punya rencana kerja-kerja besar yang bisa dia perankan. Sementara orang yang selamanya berpacu dengan dunianya dan memiliki kerja-kerja besar yang sedang dijalaninya, maka dia akan mengalami kegersangan jiwa. Dia pandai memanfaatkan fasilitas dunia ini, tapi sayangnya dunia inilah yang dia jadikan tujuan akhirnya.
Karenanya yang kita perlukan adalah irama hidup yang seimbang. Kita memang harus punya ambisi untuk menjadi sesuatu dalam kehidupan ini. Tapi kita pun harus sadar bahwa kehidupan ini bukanlah tujuan kita. Ia hanya sarana yang akan mengantarkan kita pada tujuan sebenarnya. Maka dzikrul maut menjadi penting untuk dilakukan. Jika kita sering mengingat mati, maka kita akan sibuk mempersiapkan diri dengan amal kebaikan. Dan semua pekerjaan yang disebut pekerjaan duniawi pun termasuk bagian dari bekal menghadapi kematian.
Kita juga harus pandai dan bijak menyikapi dan memperlakukan semua dimensi waktu dalam hidup ini. Memang, kita punya masa lalu yang terkadang kita sesali. Atau masa lalu itu tersimpan dalam memori kita sebagai kekayaan motivasi. Kita juga punya masa depan yang sering berwujud menjadi angan-angan atau keraguan besar. Tapi hidup kita hanyalah hari ini. Jika hari ini hanya diisi dengan mengenang masa lalu dan mengangankan masa depan, maka kita tak akan bergerak. Masa lalu itu harus menjadi pendorong sedangkan masa depan adalah sesuatu yang menarik. Tapi hidup kita tinggal hanya hari ini saja. Dan kita harus melakukan sesuatu. Soal hasil, itu bukan urusan kita, yang penting kita benar-benar beramal. []
Share:

0 comments:

Posting Komentar

Kenapa Kita Mudah Kecewa?

"Kenapa kita mudah kecewa kepada orang lain?" Mungkin pertanyaan di atas sesuai dengan keadaan diri kita. Atau boleh j...