• KEAGUNGAN AL QURAN

    Al-Quran adalah cahaya yang menerangi kebutaan, penawar hati yang menyembuhkan penyakit dan kehampaannya, suguhan lezat bagi jiwa, taman indah sanubari, penuntun nurani menuju negeri yang damai.

  • BUAH TARBIYAH

    Kita bukanlah orang yang sudah benar-benar baik apalagi terbaik, melainkan hanya orang yang keburukannya tertutupi.

  • DOSA-DOSA YANG DIREMEHKAN

    Tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari 3 hari. Siapa yang mendiamkan saudaranya lebih dari 3 hari kemudian ia mati, maka ia masuk neraka.

  • CIRI PENGHUNI SURGA

    Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh. Inilah yang dijanjikan kepadamu.

  • SEREMONI

    Sejak pagi keluarga mempelai perempuan bersiap diri menyambut tamu yang telah lama dinanti-nanti. Akhirnya datang juga. Mempelai laki-laki dikawal rombongan sekeluarga.

31 Desember 2015

Perjalanan Hidup: Pendakian Menuju Kematangan

Hidup ini adalah perjalanan. Setidaknya itulah yang kita pahami jika kita bicara masalah usia, waktu, atau proses hidup itu sendiri. Kalimat innaa lillaahi wainnaa ilaihi raaji’uun adalah isyarat bahwa hidup ini adalah perjalanan. Bahwa kita punya asal-usul yang akan menjadi tempat kembali. Kita ini milik Allah dan kita akan berpulang kepada-Nya. Adanya perbedaan antara past time (masa lalu), present time (masa kini), dan future time (masa depan) juga menunjukkan isyarat adanya perjalanan. Bahwa kita berada pada satu titik (masa kini), berasal dari masa lalu dan akan menuju ke masa depan.

Masa lalu kita di dunia adalah ketiadaan, kemudian kita ada, lalu menjadi tiada lagi. Keberadaan kita di dunia ini bermula dari titik kelahiran dan berakhir pada titik kematian. Di antara kedua titik itu terdapat fase-fase kehidupan yang secara umum bergerak dari keadaan lemah, menjadi kuat, kemudian menjadi lemah kembali. Fase-fase itu adalah masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa, dan masa tua.
Jika titik-titik itu kita hubungkan, maka tergambarlah sebuah garis yang merupakan garis perjalanan hidup (journey of life). Setiap ruas garis tersebut menggambarkan episode tertentu yang masing-masing memiliki karakter yang berbeda. Tidak semua orang mengalami seluruh episode itu karena kematian tidak harus menunggu masa tua. Ada death probabilities, kemungkinan-kemungkinan terjadinya kematian kapan saja.

Saya pernah membaca sebuah artikel yang ditulis oleh seorang seniman. Dalam artikel itu, dia bercerita tentang kisah kehidupan, bahwa hidup hanyalah untuk menunggu kematian. Setiap orang, siapapun dia dan apapun aktivitasnya, adalah camat (calon mati). Yang saya heran, dia menyajikan artikel itu sebagai guyonan alias lawakan belaka. Ini adalah hal yang aneh tapi nyata, mengherankan tapi banyak terjadi. Dewasa ini orang dengan gampang bicara soal kematian tapi tak ada kesan ‘takut’ sedikit pun. Dan kita pun telah banyak mendengar kata ‘surga’ dan ‘neraka’ tapi mungkin sedikit sekali kita terkesan akan maknanya.

Pelajaran yang dapat diambil dari kasus itu adalah fenomena kelupaan insani atau kita sebut saja fenomena kelalaian massal. Banyak orang yang lupa bahwa hidup adalah sebuah perjalanan. Ketika seseorang berada pada masa muda, dia tak mau memikirkan masa tuanya dengan baik. Bahkan sangat mungkin dia tak pernah menginginkan masa tua itu. Banyak juga orang yang usianya terus bertambah tapi kelakuannya tak mencerminkan orang yang ingat akan kematian – dan kematian datang tanpa pandang usia. Banyak orang yang kedewasaannya tidak sejalan dengan bertambahnya usia. Bilangan usianya bertambah, tapi mereka terus saja dalam keadaan lalai akan kematian sehingga tak pernah mau mempersiapkannya.

Harusnya, semakin dewasa (usia) seseorang, semakin lama hidup ini dijalaninya, dia melakukan perjalanan mendaki. Dia semakin ke atas, kualitasnya semakin baik. Dalam aspek keimanan dia semakin berkualitas. Dalam aspek mental spiritual, dia semakin matang. Boleh jadi dalam aspek finansial, dia pun semakin matang. Memang ada saja fluktuasi, terkadang naik dan terkadang turun. Tapi dengan kesadaran untuk bergerak ke atas menuju kemuliaan, dia segera naik kembali. Dia akan bertaubat dan melakukan koreksi atas kesalahannya. Dia akan bangkit lagi bila mengalami kegagalan, dan seterusnya hingga ajalnya tiba. Tiada waktu yang tersisa kecuali untuk perbaikan diri menuju Allah tercinta. []
Share:

Kenapa Kita Mudah Kecewa?

"Kenapa kita mudah kecewa kepada orang lain?" Mungkin pertanyaan di atas sesuai dengan keadaan diri kita. Atau boleh j...