Belajar, Berbagi, Melayani

  • KEAGUNGAN AL QURAN

    Al-Quran adalah cahaya yang menerangi kebutaan, penawar hati yang menyembuhkan penyakit dan kehampaannya, suguhan lezat bagi jiwa, taman indah sanubari, penuntun nurani menuju negeri yang damai.

  • BUAH TARBIYAH

    Kita bukanlah orang yang sudah benar-benar baik apalagi terbaik, melainkan hanya orang yang keburukannya tertutupi.

  • DOSA-DOSA YANG DIREMEHKAN

    Tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari 3 hari. Siapa yang mendiamkan saudaranya lebih dari 3 hari kemudian ia mati, maka ia masuk neraka.

  • CIRI PENGHUNI SURGA

    Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh. Inilah yang dijanjikan kepadamu.

  • SEREMONI

    Sejak pagi keluarga mempelai perempuan bersiap diri menyambut tamu yang telah lama dinanti-nanti. Akhirnya datang juga. Mempelai laki-laki dikawal rombongan sekeluarga.

08 November 2016

Bukan Soal Kata "Pakai"


Jangan terpaku pada kata "pakai", tapi berilah perhatian lebih pada kata "DIBOHONGI" dan "DIBODOHI" serta sikap melampaui batas dari seorang nonmuslim yang memaksakan diri bicara tentang ayat Al-Qur'an. Padahal seorang muslim saja tidak bisa sembarangan mengomentari Kalam Allah tanpa dasar ilmu, apalagi yang bukan muslim.

Jika anda mengatakan "kamu dibohongi Al-Qur'an", maka anda telah menista Al-Qur'an dengan jelas. Dan jika anda mengatakan "kamu dibohongi pakai Al-Qur'an", maka pertanyaannya "Siapa yang membohongi?"

Dalam konteks Al-Maaidah 51, 57, atau ayat lain semisal An-Nisaa 144 yang melarang setiap mu'min memberikan loyalitas kepada orang kafir, tentunya yang dimaksud dengan orang yang membohongi adalah 'ulama dan para da'i yang menyampaikan ayat-ayat tersebut kepada ummat. Sementara ayat tersebut sudah jelas isinya, yakni larangan memilih orang kafir menjadi wali, teman setia, bahkan pemimpin yang kepadanya diberikan kecintaan dan loyalitas.

Menengok lebih jauh lagi, sesungguhnya orang yang pertama kali menyampaikan ayat itu adalah Rasulullah SAW, kemudian diikuti para sahabat, tabi'in, dan seterusnya hingga 'ulama kontemporer dan para da'i. Dari sini, sangat jelas pejabat itu telah menuduh Rasulullah SAW, para sahabat dan tabi'in, hingga 'ulama dan para da'i selama ini melakukan pembohongan dan pembodohan kepada ummat. Pembohongan dengan larangan memilih orang kafir sebagai pemimpin, dan pembodohan dengan ancaman neraka bagi muslim yang memilih orang kafir menjadi pemimpinnya. Sungguh ini jelas-jelas penistaan, mengolok-olok Rasulullah SAW, para sahabat, 'ulama, da'i, kaum muslimin, dan ajaran Islam itu sendiri.

Karenanya, dalam menghadapi persoalan Al Maaidah 51 ini, janganlah fokus kita teralihkan dari substansi penistaan yang menggunakan kata "dibohongi" dan "dibodohi" menuju perang kata "pakai". Tak perlu sibuk mengolah kalimat yang menggunakan kata "pakai" dan yang tidak untuk mencari persamaannya. Jika tak menggunakan kata "pakai", maka dia telah menistakan Al-Qur'an. Dan jika menggunakan kata "pakai", maka dia telah menghina Rasulullah SAW, kaum muslimin dan ajaran Islam itu sendiri. Ini adalah penistaan yang berat, dan tak ada toleransi untuknya. []
Share:

04 Maret 2016

Zukhrufal Qaul (Perkataan Indah) yang Menyesatkan


Orang yang tunduk hatinya kepada Allah, maka pola pikir, cara merasa dan tindakannya mengikuti al-Qur'an dan Sunnah. Adapun orang yang dikuasai oleh syaithan dan hawa nafsunya, maka ia menuntut al-Qur'an agar mengikutinya. Karenanya, tidaklah mengherankan ketika ada orang yang mengatakan bahwa teks-teks agama perlu ditafsir ulang, dengan menyesuaikan keinginan dan seleranya. Dan tidaklah sedikit orang yang mengutip ayat untuk membenarkan pemikiran mereka dengan seleranya sendiri.

Teringatlah kita akan Iblis ketika menggelincirkan Adam dan Hawa agar mereka melanggar larangan Allah, "Walaa taqrabaa haadzihisy syajarah...!". Iblis tidak mengatakan, "Bermaksiatlah kamu wahai Adam!" atau "Jangan pedulikan larangan Tuhanmu!". Tapi Iblis justru mengatakan, "Sesungguhnya Tuhanmu melarang kalian mendekatinya agar kalian tidak menjadi malaikat atau makhluk abadi." seraya Iblis bersumpah bahwa ia adalah teman setia yang peduli kepada Adam AS.

Begitulah di antara cara syaithan (termasuk syaithan dari kalangan manusia) untuk menyimpangkan manusia dari jalan Allah yang lurus. Mereka menggunakan perkataan yang terdengar bagus untuk mengelabui semua orang. Terkadang mereka menggunakan baju toleransi, kadang atas nama HAM, demokrasi, keadilan, kebhinekaan, nasionalisme, seni dan sebagainya. Namun seringkali mereka tak menggunakannya secara adil dan konsisten, selalu ada standart ganda. Orang yang menyimpang dibela atas nama hak asasi, tapi orang yang mengajak kepada kebaikan dikatakan munafik lagi sok suci. Begitulah zukhrufal qauli ghururan, ancaman syaitan manusia dan jin yang harus selalu kita waspadai.

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

"Dan demikianlah Kami jadikan bagi setiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah untuk menipu (manusia). Jika Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak melakukannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan." (QS. Al-An'aam: 112) []
Share:

Kenapa Kita Mudah Kecewa?

"Kenapa kita mudah kecewa kepada orang lain?" Mungkin pertanyaan di atas sesuai dengan keadaan diri kita. Atau boleh j...