28 Maret 2018
Ciri-ciri Penghuni Neraka
Dalam kiriman sebelumnya, kami menyampaikan "Ciri-ciri Penghuni Surga" kajian Surat Qaaf ayat 31-35 dari Kitab Al-Fawaaid Ibnul Qayyim. Maka sekarang kami sampaikan "Ciri-ciri Penghuni Neraka Jahannam" dari kitab yang sama, mengkaji Surat Qaaf ayat 24-27. Semoga pengetahuan ini memotivasi kita untuk memiliki ciri-ciri yang Allah sebutkan dalam ayat 31-35 dan sebaliknya menjauhi ciri-ciri dalam ayat 24-27.
Allah berfirman, “Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala, yang sangat menghalangi kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu, yang menyembah sembahan yang lain beserta Allah, maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat.” Yang menyertai dia berkata (pula), “Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh.” (Qaaf: 24-27)
1. kaffaarin (ingkar: terhadap nikmat dan hak-hak Allah; terhadap Allah, kepada tauhid, asma dan sifat-sifat-Nya; terhadap para rasul, para malaikat, kitab-kitab-Nya, dan pertemuan dengan-Nya)
2. ‘aniidin (menentang kebenaran, keras kepala)
3. mannaa’il lil khair (menolak kebajikan, baik berupa ketaatan dan ibadah kepada Allah maupun berupa ihsan kepada sesama manusia)
4. mu’tadin (melanggar batas: berbuat zhalim, tirani, sewenang-wenang terhadap orang lain, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan)
5. muriibin (ragu-ragu)
6. ja’ala ma’allaahi ilaahan aakhar (musyrik: menyembah, mencintai, dan loyal kepada selain Allah)
Ketika ia disidang di mahkamah Allah, ia menjawab bahwa setan telah menyesatkannya, namun setan cuci tangan seraya berkata seperti yang dikatakan Iblis kepada penghuni neraka, “...Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadap kamu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku....” (Ibrahim: 22)
Renungkanlah ini, wahai saudara! []
Ciri-ciri Calon Penghuni Surga
1. Awwaab
Artinya: “Orang yang kembali taat kepada Allah setelah maksiat, pulang kepada dzikrullah setelah ghaflah.” (Ibnul Qayyim Al-Jauziyah), “Orang yang mengingat dosa-dosanya lalu beristighfar dan bertaubat.” (Ubaid bin Umair), “Orang yang apabila mengenang kesalahannya saat sendirian, ia memohon maghfirah kepada Allah.” (Imam Mujahid), “Orang yang berbuat dosa, lalu bertaubat, kemudian berbuat dosa lagi, dan bertaubat lagi...!” (Said bin Musayyab).
2. Hafiizh
Artinya: “Memelihara apa-apa yang diamanatkan Allah kepadanya dan apa-apa yang difardukan atasnya.” (Ibnu Abbas), “Memelihara semua hak dan nikmat Allah padanya.” (Qatadah), “Menahan dirinya dari kemaksiatan dan larangan Allah.” (Ibnul Qayyim).
Dijelaskan oleh Ibnul Qayyim: “Nafsu adalah kekuatan menuntut dan kekuatan menahan. Awwaab artinya menuntut dirinya kembali kepada Allah (pro-surga), dan hafiizh artinya daya tahan (resistensi) terhadap kemaksiatan (anti-neraka).”
3. Khasyiyar Rahmaana bil ghaiib
“Takut kepada Allah Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan, mencakup ikrar atas wujud, rububiyyah, qudrah, dan ilmu-Nya, adanya pengawasan Allah terhadap semua gerak-gerik hamba-Nya, ikrar terhadap kitab-kitab-Nya, para rasul, perintah dan larangan-Nya, juga terhadap janji dan ancaman-Nya. Tanpa semua ini, khasyiyah kepada Allahur Rahman tidak sah.”
4. Jaa-a bi qalbin muniib
“Datang dengan hati yang kembali kepada Allah dari kemaksiatan, karena hakikat inabah adalah menghadapnya qalbu kepada ketaatan kepada Allah, kepada mencintai dan memperhatikan Allah.”
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami dan masukkan kami ke dalam golongan itu, sehingga kelak berlaku atas kami firman-Mu:
“Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya), (yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat. Masukilah surga itu dengan aman sejahtera, itulah hari kekekalan. Bagi mereka apa yang mereka kehendaki di dalamnya, dan pada sisi Kami ada tambahannya.” (Qaaf: 31-35)









