"Kenapa kita mudah kecewa kepada orang lain?"
Mungkin pertanyaan di atas sesuai dengan keadaan diri kita. Atau boleh jadi ada yang merasa pertanyaan itu tak cocok baginya. Ia lebih memilih membuat pertanyaan, "Kenapa orang lain selalu mengecewakan saya?" Atau pertanyaan-pertanyaan yang intinya menjadikan dirinya sebagai objek penderitaan.
Pertanyaan pertama adalah pertanyaan yang mengarah pada renungan menuju kedewasaan atau kematangan diri. Ia adalah pertanyaan yang selalu mencurigai diri sendiri sebagai biang keladi semua persoalan yang menimpanya. Ia adalah pertanyaan yang mencari-cari dan menengok ke dalam diri sendiri, ada kesalahan apa pada dirinya sehingga mudah kecewa pada orang lain.
Sedangkan pertanyaan kedua adalah sebaliknya. Bisa kita rincikan sendiri.
Jadi, kenapa kita mudah kecewa pada orang lain?
Jawabnya mudah. Karena kita mengharapkan orang lain menjadi sama dengan yang kita inginkan. Kita menggunakan ukuran kita untuk mengukur orang lain. Kita menggunakan selera kita untuk menilai orang lain. Kita hanya memandang dari sudut pandang kita yang tentunya berbeda dari sudut pandang orang lain yang kita kecewa kepadanya.
Misalnya, kita bertanya kepada orang lain ia memilih A atau B, tapi dalam hati kita berharap ia memilih A, sedangkan kenyataannya ia memilih B. Atau kita berharap seseorang yang kita jadikan tempat bertanya menjawab dengan jawaban yang memuaskan, sementara ia sama sekali tak bisa menjawab. Maka jadilah kita kecewa.
Misalnya pula, seorang suami yang mengharapkan pulang ke rumah disambut oleh istri dan anak-anaknya dengan sambutan hangat penuh kerinduan. Tapi ternyata tidak. Sang istri sedang sibuk menyelesaikan pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai. Sementara anak-anak sedang asyik bermain sehingga rumah tampak berantakan.
Atau seorang istri yang berperan menjadi ibu rumah tangga, ia berharap suaminya pulang ke rumah dalam kondisi ceria dan bisa bergantian membantu menyelesaikan pekerjaan rumah atau menemani anak-anak. Tapi ternyata sang suami pulang masih membawa masalah dari tempat pekerjaannya sehingga ia tampak suntuk.
Seorang murid bisa kecewa pada gurunya karena sang guru ternyata memiliki perilaku yang dianggap jauh dari kesempurnaan, atau ketika ia memiliki pertanyaan maka sang guru tak bisa menjawabnya dengan memuaskan. Sebaliknya seorang guru bisa kecewa pada muridnya karena kurang adab, tidak bisa menyerap pelajaran dengan baik dan kadang perilakunya menjengkelkan.
Rakyat kecewa pada pemimpinnya karena dianggap tak bisa memimpin dengan baik. Anehnya di saat yang sama pemimpin juga kecewa kepada rakyatnya karena tak bisa dipimpin, mudah mengeluh dan protes kepada pemimpinnya.
Dan seterusnya, dan seterusnya.
Dalam hal kondisi di mana ada satu pihak yang kecewa kepada pihak lain, atau kedua pihak yang akhirnya saling kecewa satu sama lainnya, maka dipastikan ada sesuatu yang salah. Salah berharap. Salah mengukur. Menilai orang lain dengan standard yang sama dengan yang ada pada dirinya. Sedangkan orang lain berharap ingin dimengerti, ingin dipahami. Dan begitulah keadaan sejatinya semua orang.
Jadi, kenapa kita mudah kecewa?
Pertama, karena kita memasang harapan yang tak bisa ditawar terhadap orang lain. Kita berharap orang akan memberikan kita 10 namun ternyata mereka hanya memberi kita 5.
Kedua, karena kita tak mau memulai untuk memahami atau mengerti keadaan orang lain. Kita inginnya selalu dipahami dan dimengerti, seolah semua orang terlahir untuk menjadi pelayan kita.
Ketiga, mungkin karena kita terlalu menggantungkan harapan pada sebab-akibat secara duniawi, sementara kita lupa bahwa penentu segala hal yang kita dapatkan adalah Dia Yang Mahakuasa, Allah Rabbul 'aalamiin.
Setelah ini, masihkah kita mudah kecewa? []








