Belajar, Berbagi, Melayani

  • KEAGUNGAN AL QURAN

    Al-Quran adalah cahaya yang menerangi kebutaan, penawar hati yang menyembuhkan penyakit dan kehampaannya, suguhan lezat bagi jiwa, taman indah sanubari, penuntun nurani menuju negeri yang damai.

  • BUAH TARBIYAH

    Kita bukanlah orang yang sudah benar-benar baik apalagi terbaik, melainkan hanya orang yang keburukannya tertutupi.

  • DOSA-DOSA YANG DIREMEHKAN

    Tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari 3 hari. Siapa yang mendiamkan saudaranya lebih dari 3 hari kemudian ia mati, maka ia masuk neraka.

  • CIRI PENGHUNI SURGA

    Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh. Inilah yang dijanjikan kepadamu.

  • SEREMONI

    Sejak pagi keluarga mempelai perempuan bersiap diri menyambut tamu yang telah lama dinanti-nanti. Akhirnya datang juga. Mempelai laki-laki dikawal rombongan sekeluarga.

06 Maret 2019

Kita dan Masalah

Siapakah kita di hadapan masalah, baik itu masalah pribadi, orang lain atau masalah bersama?

• Problem Solver
• Problem Speaker
• Problem Trader
• Problem Maker

Problem solver berfokus pada selesai dan terpecahkannya masalah, tanpa perlu banyak bicara dan tanpa harus mengumumkannya kepada banyak orang.

Problem speaker berfokus pada kepuasan batinnya untuk menyebarluaskan masalah sehingga semua orang harus tahu apa yang dirisaukannya.

Problem trader cukup cerdik dengan mencari-cari keuntungan dari masalah yang ditemuinya, terutama masalah orang lain atau masalah bersama.

Problem maker tak ingin menyelesaikan masalah, ia bahkan menghadirkan masalah baru dan membesarkan masalah yang sudah ada. Dan sebenarnya, problem speaker dan problem trader sangat berpotensi menjadi problem maker.

Namun seringkali orang yang menjadi problem maker ini sulit dinasehati dan tak pernah merasa dirinya salah. Seperti orang-orang yang dikatakan kepada mereka, "Laa tufsidu fil ardhi!" Dan mereka menjawab, "Innamaa nahnu mushlihuun." []
Share:

28 Maret 2018

Ciri-ciri Penghuni Neraka

Dalam kiriman sebelumnya, kami menyampaikan "Ciri-ciri Penghuni Surga" kajian Surat Qaaf ayat 31-35 dari Kitab Al-Fawaaid Ibnul Qayyim. Maka sekarang kami sampaikan "Ciri-ciri Penghuni Neraka Jahannam" dari kitab yang sama, mengkaji Surat Qaaf ayat 24-27. Semoga pengetahuan ini memotivasi kita untuk memiliki ciri-ciri yang Allah sebutkan dalam ayat 31-35 dan sebaliknya menjauhi ciri-ciri dalam ayat 24-27.

Allah berfirman, “Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala, yang sangat menghalangi kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu, yang menyembah sembahan yang lain beserta Allah, maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat.” Yang menyertai dia berkata (pula), “Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh.” (Qaaf: 24-27)

1.  kaffaarin (ingkar: terhadap nikmat dan hak-hak Allah; terhadap Allah, kepada tauhid, asma dan sifat-sifat-Nya; terhadap para rasul, para malaikat, kitab-kitab-Nya, dan pertemuan dengan-Nya)
2.  ‘aniidin (menentang kebenaran, keras kepala)
3.  mannaa’il lil khair (menolak kebajikan, baik berupa ketaatan dan ibadah kepada Allah maupun berupa ihsan kepada sesama manusia)
4.  mu’tadin (melanggar batas: berbuat zhalim, tirani, sewenang-wenang terhadap orang lain, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan)
5.  muriibin (ragu-ragu)
6.  ja’ala ma’allaahi ilaahan aakhar (musyrik: menyembah, mencintai, dan loyal kepada selain Allah)


Ketika ia disidang di mahkamah Allah, ia menjawab bahwa setan telah menyesatkannya, namun setan cuci tangan seraya berkata seperti yang dikatakan Iblis kepada penghuni neraka, “...Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadap kamu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku....” (Ibrahim: 22)

Renungkanlah ini, wahai saudara! []
Share:

Ciri-ciri Calon Penghuni Surga



Dikutip dari kitab Al-Fawaaid karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, menjelaskan kandungan Surat Qaaf ayat 31-33. Ciri-ciri penghuni surga sebagai berikut:


1. Awwaab

Artinya: “Orang yang kembali taat kepada Allah setelah maksiat, pulang kepada dzikrullah setelah ghaflah.” (Ibnul Qayyim Al-Jauziyah), “Orang yang mengingat dosa-dosanya lalu beristighfar dan bertaubat.” (Ubaid bin Umair), “Orang yang apabila mengenang kesalahannya saat sendirian, ia memohon maghfirah kepada Allah.” (Imam Mujahid), “Orang yang berbuat dosa, lalu bertaubat, kemudian berbuat dosa lagi, dan bertaubat lagi...!” (Said bin Musayyab).



2. Hafiizh

Artinya: “Memelihara apa-apa yang diamanatkan Allah kepadanya dan apa-apa yang difardukan atasnya.” (Ibnu Abbas), “Memelihara semua hak dan nikmat Allah padanya.” (Qatadah), “Menahan dirinya dari kemaksiatan dan larangan Allah.” (Ibnul Qayyim).

Dijelaskan oleh Ibnul Qayyim: “Nafsu adalah kekuatan menuntut dan kekuatan menahan. Awwaab artinya menuntut dirinya kembali kepada Allah (pro-surga), dan hafiizh artinya daya tahan (resistensi) terhadap kemaksiatan (anti-neraka).”



3. Khasyiyar Rahmaana bil ghaiib

“Takut kepada Allah Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan, mencakup ikrar atas wujud, rububiyyah, qudrah, dan ilmu-Nya, adanya pengawasan Allah terhadap semua gerak-gerik hamba-Nya, ikrar terhadap kitab-kitab-Nya, para rasul, perintah dan larangan-Nya, juga terhadap janji dan ancaman-Nya. Tanpa semua ini, khasyiyah kepada Allahur Rahman tidak sah.”



4. Jaa-a bi qalbin muniib

“Datang dengan hati yang kembali kepada Allah dari kemaksiatan, karena hakikat inabah adalah menghadapnya qalbu kepada ketaatan kepada Allah, kepada mencintai dan memperhatikan Allah.”



Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami dan masukkan kami ke dalam golongan itu, sehingga kelak berlaku atas kami firman-Mu:

“Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya), (yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat. Masukilah surga itu dengan aman sejahtera, itulah hari kekekalan. Bagi mereka apa yang mereka kehendaki di dalamnya, dan pada sisi Kami ada tambahannya.” (Qaaf: 31-35)
Share:

24 Maret 2017

INSPIJARI: Inspirasi dari Lima Jari Tangan

"A" TELUNJUK
Telunjuk melambangkan arah, tujuan, motivasi yang kuat dalam mewujudkan cita-cita. Tak akan sukses orang yang tak punya arah dalam hidupnya. Dan tak bisa disebut sukses orang yang setelah sukses malah kehilangan arah. Jadi, tetaplah memiliki arah dan tujuan yang jelas. Selalulah kita berambisi kuat dalam meraih apa-apa yang mendatangkan manfaat bagi kita dan orang-orang di sekitar kita. Maka huruf "A" di sini juga merupakan akronim dari AMBITION (himmah).

"B" JARI TENGAH
Jari tengah melambangkan kekuatan dan keseimbangan. Sekalipun telunjuk itu hebat, tapi ada jari tengah yang lebih tinggi darinya. Maka ambisi saja tak cukup. Harus ada endurance, kekuatan kita untuk bertahan lama dalam menempuh berbagai cobaan dan rintangan untuk meraih apa yang kita cita-citakan. Orang yang memiliki daya tahan dan mental tahan banting adalah ia yang memiliki sikap tawazun (keseimbangan) dalam hidupnya, sebagaimana bangunan yang berdiri kokoh memiliki keseimbangan dengan strukturnya yang proporsional. Sering kita saksikan orang yang pada awalnya sangat bersemangat tiba-tiba ia futur (mandeg, berhenti) di tengah jalan. Kenapa? Karena ia tidak menerapkan prinsip keseimbangan dalam mencapai tujuannya. Maka huruf "B" bermakna BALANCE (muwazanah).

"C" JARI MANIS
Jari Manis melambangkan kebermaknaan kita dalam hidup ini. Apa maksudnya? Sebagian orang menyebutnya ring finger, kita pun lebih suka memakai cincin di jari manis, kecuali para penggila cincin batu akik yang bisa memakainya di semua jari. Kita pasti memiliki kenangan manis akan seseorang jika seseorang itu bermakna bagi kita. Dan seseorang menjadi bermakna bagi orang lain ketika ia telah memberikan manfaat baginya.

Maka huruf "C" bermakna CONTRIBUTION (kebermanfaatan), sumbangsih yang kita berikan kepada lingkungan sekitar kita, baik itu keluarga, teman dan sahabat, tetangga, lingkungan kerja dan seterusnya. Maka jadikanlah adanya kita membuat lingkungan sekitar kita lebih baik daripada tiadanya kita. Jangan sampai adanya kita sama saja dengan tiadanya kita. Terlebih lagi, jangan sampai adanya kita lebih buruk daripada tiadanya kita. Ada orang yang meninggalkan dunia ini lalu banyak orang yang menangisi dan mengenangnya. Adapula orang yang meninggal lalu semua orang bergembira dan menyumpahinya. Dan ada lagi orang yang meninggal lalu keesokan harinya ia dilupakan. Kira-kira, kita ingin termasuk yang bagaimana?

"D" KELINGKING
Kelingking adalah jari kecil yang lemah dan paling sensitif dengan benturan. Maka jari ini mewakili perasaan diri kita sebagai insan yang kerdil dan lemah. Bukan dalam arti mengerdilkan potensi kita, bukan melemahkan motivasi dan ambisi kita, melainkan kesadaran bahwa betapapun hebatnya kita, betapa besarnya kontribusi kemanfaatan yang bisa kita berikan, maka semua itu bukanlah apa-apa jika tanpa niat mencari keridhoan Allah. Banyak amal yang besar bernilai kecil karena niatnya. Pun banyak amalan kecil bernilai besar karena niatnya.

Huruf "D" berarti DEDICATION (dedikasi, pengabdian). Jadikanlah kontribusi kita bukan untuk membesarkan diri kita. Jika kita bekerja untuk suatu organisasi, maka bekerjalah untuk membangun kebaikan organisasi itu, bukan sekedar untuk memenuhi kepentingan pribadi kita. Merendahlah kita, maka kita akan dimuliakan. Sebaliknya, jika kita meninggikan diri, maka hanyalah kerendahan dan kehinaan yang akan kita dapatkan.

"E" IBU JARI
Selain disebut ibu jari, ia disebut pula dengan jempol. Tentunya kita ingat dengan sebutan "anak jempolan", yakni anak yang selalu berbuat baik, tampil dengan performance yang bagus, bahkan selalu berprestasi. Huruf "E" di sini adalah EXCELLENCE atau kesempurnaan. Jika kita mengajukan sangkalan, "Bukankah tiada manusia yang sempurna?", maka semangat excellence di sini bukanlah keharusan mencapai kesempurnaan, namun lebih berarti menuju kesempurnaan. Bila kita telah meraih satu kebaikan, janganlah merasa cukup apalagi merasa sudah sempurna, tapi terus ditingkatkan kualitasnya. Hari ini harus lebih baik dari kemarin, esok harus lebih baik dari hari ini.

Demikian INSPIJARI, semoga bermanfaat.
Share:

12 Januari 2017

Mengintip Neraka Jahannam

Disalin dari: Telegram Channel Majelis Ilmu Farid Nu'man

Syaikh Shalih Al Fauzan Hafizhahullah berkata:

جهنم : اسم من أسماء النار، قيل : سميت بذلك لبعد قعرها، وقيل : لظلمتها، من الجهومة وهي الظلمة

Jahanam: nama salah satu neraka, disebutkan: dinamakan demikian karena begitu dalam dasarnya. Disebutkan: karena gelapnya, diambil dari kata Al Juhumah yaitu kegelapan. (Syaikh Shalih Fauzan, Syarh Al ‘Aqidah Al Wasithiyah, Hal. 79)

Maknanya: “Sumur yang paling jauh di bawah, artinya tidak berakhir azabnya.” (Al Lubab fi Ulumil Kitab, 8/312)

📌 Inilah sebagian penghuninya

🔘 Orang kafir dan munafiq

وَعَدَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا

Allah telah menyediakan bagi kaum munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir, neraka jahanam mereka kekal di dalamnya. (QS. At Taubah: 68)      

🔘 Pembunuh seorang mu’min

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا

Barang siapa yang sengaja membunuh seorang beriman maka balasannya adalah neraka jahaman dia kekal di dalamnya. (QS. An Nisa: 93)

🔘 Penentang Rasulullah dan tidak mengikuti jalan kaum beriman

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. An Nisa: 115)

🔘 Iblis dan para pengikutnya

قَالَ اخْرُجْ مِنْهَا مَذْءُومًا مَدْحُورًا لَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنْكُمْ أَجْمَعِينَ  

 Allah berfirman: "Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya". (QS. Al A’raf: 18)

🔘 Para Diktator

إن في جهنم واد ، في ذلك الوادي بئر يقال له هبهب ، حق على الله تعالى أن يسكنها كل جبار

“Sesungguhnya di neraka jahanam ada sebuah lembah, di lembah tersebut terdapat sumur yang dinamakan Hab Hab, yang Allah Ta’ala tetapkan sebagai tempat tinggal bagi setiap diktator.” (HR. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Ausath, 8/193/3683. Al Hakim, Al Mustadrak ‘alash Shahihain, 20/179/8918. Imam Al Haitsami mengatakan sanadnya hasan. Majma’uz Zawaid, 5/197. Ini lafaz  milik Al Hakim)

🔘 Bunuh Diri

وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ عُذِّبَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ

“Barangsiapa yang membunuh dirinya sendiri dengan besi maka dengannya dia akan diazab di neraka jahanam.” (HR. Bukhari No. 1363, 5778, 6048, 6105, 6652, Muslim No. 109)

🔘 Imam Muslim membuat Bab:

بَاب غِلَظِ تَحْرِيمِ قَتْلِ الْإِنْسَانِ نَفْسَهُ وَأَنَّ مَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ عُذِّبَ بِهِ فِي النَّارِ وَأَنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ

Bab Tentang Beratnya Keharaman Seseorang Membunuh Dirinya Sendiri dan Siapa Yang Membunuh Dirinya Dengan Sesuatu Maka Dia Akan Siksa Dengan Sesuatu Tersebut, Dia Tidak Akan Masuk Surga Kecuali Jika Dia Seorang Muslim.

Farid Nu'man Hasan
📡 Join Channel: bit.ly/1Tu7OaC
Share:

08 November 2016

Bukan Soal Kata "Pakai"


Jangan terpaku pada kata "pakai", tapi berilah perhatian lebih pada kata "DIBOHONGI" dan "DIBODOHI" serta sikap melampaui batas dari seorang nonmuslim yang memaksakan diri bicara tentang ayat Al-Qur'an. Padahal seorang muslim saja tidak bisa sembarangan mengomentari Kalam Allah tanpa dasar ilmu, apalagi yang bukan muslim.

Jika anda mengatakan "kamu dibohongi Al-Qur'an", maka anda telah menista Al-Qur'an dengan jelas. Dan jika anda mengatakan "kamu dibohongi pakai Al-Qur'an", maka pertanyaannya "Siapa yang membohongi?"

Dalam konteks Al-Maaidah 51, 57, atau ayat lain semisal An-Nisaa 144 yang melarang setiap mu'min memberikan loyalitas kepada orang kafir, tentunya yang dimaksud dengan orang yang membohongi adalah 'ulama dan para da'i yang menyampaikan ayat-ayat tersebut kepada ummat. Sementara ayat tersebut sudah jelas isinya, yakni larangan memilih orang kafir menjadi wali, teman setia, bahkan pemimpin yang kepadanya diberikan kecintaan dan loyalitas.

Menengok lebih jauh lagi, sesungguhnya orang yang pertama kali menyampaikan ayat itu adalah Rasulullah SAW, kemudian diikuti para sahabat, tabi'in, dan seterusnya hingga 'ulama kontemporer dan para da'i. Dari sini, sangat jelas pejabat itu telah menuduh Rasulullah SAW, para sahabat dan tabi'in, hingga 'ulama dan para da'i selama ini melakukan pembohongan dan pembodohan kepada ummat. Pembohongan dengan larangan memilih orang kafir sebagai pemimpin, dan pembodohan dengan ancaman neraka bagi muslim yang memilih orang kafir menjadi pemimpinnya. Sungguh ini jelas-jelas penistaan, mengolok-olok Rasulullah SAW, para sahabat, 'ulama, da'i, kaum muslimin, dan ajaran Islam itu sendiri.

Karenanya, dalam menghadapi persoalan Al Maaidah 51 ini, janganlah fokus kita teralihkan dari substansi penistaan yang menggunakan kata "dibohongi" dan "dibodohi" menuju perang kata "pakai". Tak perlu sibuk mengolah kalimat yang menggunakan kata "pakai" dan yang tidak untuk mencari persamaannya. Jika tak menggunakan kata "pakai", maka dia telah menistakan Al-Qur'an. Dan jika menggunakan kata "pakai", maka dia telah menghina Rasulullah SAW, kaum muslimin dan ajaran Islam itu sendiri. Ini adalah penistaan yang berat, dan tak ada toleransi untuknya. []
Share:

04 Maret 2016

Zukhrufal Qaul (Perkataan Indah) yang Menyesatkan


Orang yang tunduk hatinya kepada Allah, maka pola pikir, cara merasa dan tindakannya mengikuti al-Qur'an dan Sunnah. Adapun orang yang dikuasai oleh syaithan dan hawa nafsunya, maka ia menuntut al-Qur'an agar mengikutinya. Karenanya, tidaklah mengherankan ketika ada orang yang mengatakan bahwa teks-teks agama perlu ditafsir ulang, dengan menyesuaikan keinginan dan seleranya. Dan tidaklah sedikit orang yang mengutip ayat untuk membenarkan pemikiran mereka dengan seleranya sendiri.

Teringatlah kita akan Iblis ketika menggelincirkan Adam dan Hawa agar mereka melanggar larangan Allah, "Walaa taqrabaa haadzihisy syajarah...!". Iblis tidak mengatakan, "Bermaksiatlah kamu wahai Adam!" atau "Jangan pedulikan larangan Tuhanmu!". Tapi Iblis justru mengatakan, "Sesungguhnya Tuhanmu melarang kalian mendekatinya agar kalian tidak menjadi malaikat atau makhluk abadi." seraya Iblis bersumpah bahwa ia adalah teman setia yang peduli kepada Adam AS.

Begitulah di antara cara syaithan (termasuk syaithan dari kalangan manusia) untuk menyimpangkan manusia dari jalan Allah yang lurus. Mereka menggunakan perkataan yang terdengar bagus untuk mengelabui semua orang. Terkadang mereka menggunakan baju toleransi, kadang atas nama HAM, demokrasi, keadilan, kebhinekaan, nasionalisme, seni dan sebagainya. Namun seringkali mereka tak menggunakannya secara adil dan konsisten, selalu ada standart ganda. Orang yang menyimpang dibela atas nama hak asasi, tapi orang yang mengajak kepada kebaikan dikatakan munafik lagi sok suci. Begitulah zukhrufal qauli ghururan, ancaman syaitan manusia dan jin yang harus selalu kita waspadai.

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

"Dan demikianlah Kami jadikan bagi setiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah untuk menipu (manusia). Jika Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak melakukannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan." (QS. Al-An'aam: 112) []
Share:

Kenapa Kita Mudah Kecewa?

"Kenapa kita mudah kecewa kepada orang lain?" Mungkin pertanyaan di atas sesuai dengan keadaan diri kita. Atau boleh j...