Belajar, Berbagi, Melayani

  • KEAGUNGAN AL QURAN

    Al-Quran adalah cahaya yang menerangi kebutaan, penawar hati yang menyembuhkan penyakit dan kehampaannya, suguhan lezat bagi jiwa, taman indah sanubari, penuntun nurani menuju negeri yang damai.

  • BUAH TARBIYAH

    Kita bukanlah orang yang sudah benar-benar baik apalagi terbaik, melainkan hanya orang yang keburukannya tertutupi.

  • DOSA-DOSA YANG DIREMEHKAN

    Tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari 3 hari. Siapa yang mendiamkan saudaranya lebih dari 3 hari kemudian ia mati, maka ia masuk neraka.

  • CIRI PENGHUNI SURGA

    Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh. Inilah yang dijanjikan kepadamu.

  • SEREMONI

    Sejak pagi keluarga mempelai perempuan bersiap diri menyambut tamu yang telah lama dinanti-nanti. Akhirnya datang juga. Mempelai laki-laki dikawal rombongan sekeluarga.

01 Desember 2011

Keutamaan Berinteraksi dengan Al-Quran


Begitu banyak keutamaan berinteraksi dengan Al-Qur'anul Karim, atau menjadi sahabat Al-Qur'an di dunia ini, dalam bentuk aktivitas membaca, menghafal, merenungi isinya, mengamalkan hingga menda'wahkannya. Berikut ini beberapa hadits yang memotivasi kita untuk senantiasa menjadikan Al-Qur'an sebagai sesuatu yang selalu mengisi hidup dan kehidupan kita.

Bertemankan Malaikat

مَثَلُ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرآنَ وَهُو حَافِظٌ لَهُ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَمَثَلُ الَّذِى يَقْرَأُ وَهُوَ يَتَعَاهَدُهُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَدِيدٌ فَلَهُ أَجْرَانِ
“Perumpamaan orang yang membaca Al-Qur’an dan ia menghafalnya, maka ia bersama para malaikat yang mulia lagi berbakti. Dan perumpamaan orang yang membaca Al-Qur’an dengan tekun sedangkan ia mengalami kesulitan atasnya, maka ia mendapatkan dua pahala.”  (Shahih Bukhari 4556; hadits lainnya: Sunan Abu Dawud 1242; Sunan At-Tirmidzi 2829; Sunan Ad-Darimi 3234; Musnad Ahmad 23080, 23493, 23644, 24197, 24413)


Pertolongan di Akhirat

اقْرَأُواْ الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ
“Bacalah Al-Qur’an, karena kelak ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai pemberi syafa’at (pertolongan) kepada ashab-nya (orang-orang yang selalu berinteraksi dengan Al-Qur’an).” (Shahih Muslim 1337; hadits lainnya: Sunan Darimi 3177; Musnad Ahmad 21126, 21136, 21169, 21186)

Perumpamaan yang Adil

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الأُتْرُجَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ لاَ رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ
وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ
“Perumpamaan seorang mu’min yang suka membaca Al-Qur’an seperti buah utrujjah (sejenis jeruk), aromanya sedap dan rasanya pun sedap. Namun seorang mu’min yang tidak membaca Al-Qur’an bagaikan buah tamrah (kurma), tidak punya aroma tetapi rasanya manis. Perumpamaan seorang munafiq yang membaca Al-Qur’an ibarat buah raihanah, aromanya sedap namun rasanya pahit. Dan seorang munafiq yang tidak membaca Al-Qur’an bagaikan buah hanzhalah, tidak punya aroma dan rasanya pun pahit.” (Shahih Bukhari 5007, 7005; hadits lainnya: Shahih Muslim 1328; Sunan Abu Daud 4191; Sunan Tirmidzi 2791; Sunan Nasa’i 4952; dan yang lainnya)


Ciri-ciri Orang yang Terbaik

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik orang di antara kamu adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya kepada orang lain.” (Shahih Bukhari 4639, 4640; Sunan Abu Daud 1440; Sunan Tirmidzi 2832, 2834; dan yang lainnya)


Kekayaan yang Patut Dicemburui

لاَ حَسَدَ إلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ : رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْقُرْآنَ فهُوَ يَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللَّيلِ وَ آنَاءَ النَّهَارِ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَهُوَ يُنفِقُهُ آنَاءَ اللَّيلِ وَ آنَاءَ النَّهَارِ
“Tiada patut beriri hati kecuali terhadap dua perkara: (terhadap) orang yang diberi (kemahiran) Al-Qur’an oleh Allah lalu dia beribadah dengan membacanya di waktu-waktu malam dan waktu-waktu siang, dan orang yang diberi (anugrah) harta lalu dibelanjakannya (di jalan Allah) di waktu-waktu malam dan waktu-waktu siang.” (Shahih Bukhari 6975; hadits lainnya: Shahih Muslim 1350-1352; Sunan Tirmidzi 1859; dan lainnya)

Jauhnya Pengaruh Syaithan

لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَفِرُّ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِى تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ
Dari Abu Hurairah RA: Bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian bagai kuburan, karena sesungguhnya syaithan akan lari dari rumah yang di dalamnya dibaca Surat Al-Baqarah.” (Shahih Muslim 1300; hadits lainnya: Sunan Tirmidzi 2802; Musnad Ahmad 7487, 8089, 8560, 8681)


Pelipatgandaan Pahala yang Tak Terhitung

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ تَعَالى فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لاَ أقُولُ آلم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفْ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ
“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah Ta’ala (Al-Qur’an), maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan tersebut dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan sepertinya. Aku tidak mengatakan alif-laam-miim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan miim satu huruf.” (Sunan Tirmidzi 2835)


Kemuliaan Bagi Orang Tua

مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَعَمِلَ بِمَا فِيهِ أَلْبَسَهُ اللهُ وَالِدَيْهِ تَاجًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ََضَوْؤُهُ أَحْسَنُ مِنْ ضَوْءِ الشَّمْسِ في بُيُوتِ الدُّنْيَا فَمَا ظَنُّكُمْ بِالَّذِي عمِلَ بِهَذَا ؟
“Barangsiapa yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkan ajarannya, maka Allah akan memakaikan mahkota kepada kedua orang tuanya pada Hari Kiamat nanti, yang mana sinarnya lebih baik dari sinar matahari di rumah-rumah dunia. Maka apa perkiraanmu terhadap orang yang mengamalkan ini?” (Sunan Abu Dawud 1241)


Rasa Aman dan Bahagia

اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ وَلاَ يَغُرَّنَّكُمْ هَذِهِ الْمَصَاحِفُ الْمُعَلَّقَةُ فَإِنَّ اللَّهَ تَعالَى لاَ يُعَذِّبُ قَلْبًا وَعَى الْقُرْآنَ
“Bacalah Al-Qur’an, dan lembaran-lembaran yang tergantung ini tidak akan menipu kalian, karena sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan menyiksa hati yang menampung Al-Qur’an.” (Sunan Darimi 3186)
إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ مَأْدُبَةُ اللهِ فَمَنْ دَخَلَ فِيهِ فَهُوَ آمِنٌ
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah hidangan Allah, barang siapa yang memasukinya maka ia akan aman.” (Sunan Darimi 3188)


Kemuliaan Dunia-Akhirat

إِنَّ اللَّه يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا ويَضَعُ بِهِ الآخَرِينَ
“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat banyak kaum dengan Kitab ini, dan dengannya pula Allah merendahkan kaum yang lain.” (Shahih Muslim 1335; Sunan Ibnu Majah 214; Musnad Ahmad 226; Sunan Darimi 3231)
يُقَالُ لِصاحِبِ الْقُرْآنِ: اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلْ في الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُهَا
“Akan diperintahkan kepada pembaca al-Qur’an: ‘Bacalah dan naiklah dan bacalah dengan tartil seperti dulu kamu membacanya di dunia karena kedudukanmu ditentukan oleh ayat terakhir yang dapat kamu baca.” (Sunan Tirmidzi 2838; Sunan Abu Daud 1252; Musnad Ahmad 6508)


Sakinah, Rahmah, Naungan Malaikat dan Kebanggaan Allah

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
“Tidaklah sekelompok orang berkumpul di satu rumah (masjid) dari rumah-rumah Allah untuk membaca Kitabullah (Al-Qur’an) dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, kasih sayang akan menyelimuti mereka, para malaikat akan mengelilingi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk yang berada di sisi-Nya.” (Shahih Muslim 4867; hadits lainnya: Sunan Abu Daud 4295; Sunan Tirmidzi 1345, 1853; Sunan Ibnu Majah 221; Musnad Ahmad 7118, 10091, 10260)


Sentuhan Keindahan

لَيْسَ مِنَّا َمَن لَّمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ  وَزَادَ غَيْرُهُ يَجْهَرُ بِهِ
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak melagukan Al-Qur’an” (sementara dalam riwayat lainnya menambahkan) dan mengeraskannya.” (Shahih Bukhari 6973; hadits lainnya: Sunan Abu Daud 1257, 1258; Musnad Ahmad 1396, 1430, 1467; Sunan Darimi 1452, 3352)


Bukti Penolong atau Penyengsara

وَ الْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ
“Dan Al-Qur’an itu adalah hujjah bagimu (bukti yang akan menolongmu) atau hujjah atasmu (bukti yang akan memberatkan bagimu).” (Shahih Muslim 328; Sunan Tirmidzi 3439; Sunan Nasa’i 2394; Sunan Ibnu Majah 276; Musnad Ahmad 21828, 21834; Sunan Darimi 651)
Share:

27 November 2011

Nasehat Kyai Sepuh kepada Da'i Muda

Oleh: Ust. Hamim Thohari, BIRKH (Hons.)

Nasehat Kyai Sepuh kepada santrinya yang baru semangat-semangatnya berdakwah:

Ngger, Putraku...
Jangan hanya bisa mengata
mencaci dan mencela
ini salah itu salah
ini sesat itu bid'ah
apakah surga telah kau tempah **
untuk orang lain neraka bernanah??

Ngger, Putraku...
Apalah yang sudah kau buat
Para dai jauh sebelum perang bubat
telah berjuang tegakkan syariat
tancapkan tinggi panji syahadat
tanpa maki tanpa hujat


Ngger, Putraku...
tidak sejengkal tanah pusaka
luput dari jejak kaki mereka
tidak gunung tidak belantara
tidak darat tidak samodara
semua bersaksi atas dakwahnya


Ngger, Putraku....
Di seantero nusantara
mereka telah menyantrikan budaya
tahlil menjadi pengganti kidung puja dan mantra
kemben sedada menjadi kebaya
sesaji menjadi sedekah kepada yang papa
gotong royong berlandaskan birri wat-taqwa


Ngger, Putraku...
Seharusnya kau menjaga
bukan membawa luka
seharusnya kau tautkan yang menganga
bukan malah membentang samodra
Betapa pun mereka tidak sempurna
Mereka telah berjasa
Hidayah kita di dada
Mengalir lewat arwah mereka

______________
* terinspirasi tulisan Cik Abd. Naddin Shaiddin "Pak M Syuaib Asren Kini Meninggalkan Kita." Ucapan terimakasih kepada yang berbahagia Cik Abd. Naddin Shaiddin
** tempah = pesan
Share:

20 November 2011

Obat Perangsang Taubat



Saudaraku, mengapa banyak orang yang menunda-nunda taubat? Di sisi lain, mengapa pula banyak orang-orang yang selalu ketagihan taubat? Jawabannya sederhana. Golongan pertama belum tahu kelezatan taubat dan buahnya. Sedangkan golongan kedua sudah merasakannya. Lalu dimana posisi Anda? Apakah bersama para penunda atau para pecandu taubat?

Sesungguhnya, keengganan bertaubat itu menyesakkan dada dan menggelisahkan hati. Juga membuat hidup tidak berkah dan jauh dari ketenangan. Lalu bagaimana dengan orang yang sudah tidak merasa ada beban apa-apa lagi ketika terus menerus berbuat dosa? Ini lebih parah. Ibarat tangan yang mati rasa, dicubit pun tak bereaksi apa-apa. Ada satu bait syair yang mengatakan:
مَنْ يَهُنْ يَسْهُلِ الْهَوَانُ عَلَيْهِ
مَا لِجُرْحٍ بِمَيَّتٍ إِيْلَامُ
Orang yang terbiasa hina, tak pedulikan kehinaan.
Bagai orang yang sudah mati, luka tak menimbulkan rasa sakit lagi.

Jiwa yang tidak doyan taubat adalah jiwa yang sedang sakit. Perlu segera diobati. Sebab kalau dibiarkan berlarut-larut, ia akan mati. Padahal kematian jiwa berarti kesengsaraan dunia akhirat. Na’udzu billah.
Berikut ini saya sajikan 7 tablet obat perangsang, agar kita selalu bersemangat mengkonsumsi taubat setiap hari demi kesehatan jiwa kita. Ya, tiada hari tanpa taubat. Itulah motto orang beriman.

1.Semua Orang Punya Dosa
Apa alasan yang membuat orang berkecil hati sampai enggan bertaubat? Tidak ada. Tidak ada alasan selain alasan yang dibuat-buat. Mungkin beralasan “Dosa saya sudah terlalu banyak”. Katakan padanya, bahwa yang dosanya banyak bukan hanya Anda. Semua orang pernah berbuat dosa. Bahkan banyak orang yang dosanya lebih besar dan lebih banyak dibanding Anda. Ingatlah sabda rasulullah saw:
كُلُّ بُنِيْ آدَمَ خَطَّاءٌ . وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ
“Setiap keturunan nabi Adam pernah berbuat dosa. Dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah orang yang mau bertaubat” (Hr. Ibnu Majah; Hasan).
Jadi, banyaknya dosa bukan alasan untuk semakin menjauh dari Allah. Bukan pula alasan untuk menjauh dari orang-orang shalih. Justru sebaliknya, banyaknya dosa merupakan alasan yang sangat kuat untuk berubah menjadi the best. Sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang mau bertaubat. Sejauh apapun orang tersesat jalan, berbaliklah sekarang juga.

2. Allah Maha Penyayang
Karena kasih sayang Allah, maka seseorang masuk ke dalam surga. Bukan lantaran amal ibadahnya semata. Maka dari itu, jangan pernah berbangga diri dan menyombongkan amal. Sebaliknya, jangan pernah pula seseorang berputus asa terhadap kasih sayang Allah karena dosa-dosanya.
Allah berfirman:
وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ
“Dan kasih sayangku meliputi segala sesuatu”(Qs. Al-a’raf/7;156)
Bukankah Anda, saya dan kita semua adalah sesuatu? Ya Allah, sebagaimana kasih sayangmu meliputi segala sesuatu, dan kami juga sesuatu, maka liputilah kami dengan kasih sayangMu.
Malu rasanya, terhadap Allah yang sebaik itu, kita sering menaikkan dosa-dosa. Padahal ia selalu menjulurkan tali kasih sayangNya kepada kita dengan berbagai nikmat. Kalau kita malu berbuat buruk kepada orang yang banyak berjasa kepada kita, maka sepantasnya kita lebih malu berbuat maksiat kepada Allah yang telah memberi kita berbagai kenikmatan.

3. Allah Maha Pengampun
Kalau tidak ada orang yang berbuat dosa, lalu kepada siapa Allah memberikan ampunanNya? Bahkan orang yang dosa-dosanya sudah melampaui batas sekalipun, Allah berkenan mengampuni semua dosanya, tanpa kecuali. Sambutlah firman Allah berikut:
يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
"Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Qs. Az-zumar/39:53)

4. Allah Suka Padamu
Siapa diantara kita yang tidak pernah berbuat dosa lagi setelah bertaubat? Tidak ada. Maka dari itu, bertaubatlah segera setiap kali kita terlanjur berbuat dosa, walau berkali-kali dalam sehari. Mau disukai dan dicintai Allah? Sering-seringlah bertaubat. Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang banyak bertaubat dan orang-orang yang mensucikan diri” (Qs. Al-baqarah/2;222)

5. Tanda Kenal
Siapa yang banyak bertaubat kepada allah, itu pertanda bahwa ia mengenal Allah. Sebaliknya, siapa yang tidak mau bertaubat, maka sejatinya ia tidak kenal Allah. Bagaimana kita tidak bertaubat sedangkan Allah Maha Pengampun? Dan bagaimana kita tidak bertaubat sedangkan siksaan Allah sangat mengerikan bagi orang yang enggan bertaubat dari dosa-dosanya? Allah berfirman dalam hadits qudsiy:
عَلِمَ عَبْدِي أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ قَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِي
“HambaKu tahu bahwa Tuhannya mengampuni dosa dan memberi sanksi. Sungguh telah aku ampuni hambaKu” (Hr. Ahmad).

6. Taubat Itu Ibadah
Subhanallah...! Allah suka terhadap hambaNya yang bertaubat. Lebih dari itu, taubat itu sendiri merupakan ibadah kita kepada Allah. Kalau begitu, mau berapa kali kita bertaubat dalam sehari? Semakin banyak bertaubat berarti semakin banyak pula ibadah kita kepada Allah. Pantaslah, kalau rasulullah saw beristighfar dan bertaubat kepada Allah seratus kali dalam sehari.
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah agar kalian beruntung” (Qs. An-nur/24:31). Jadi, taubat itu perintah Allah, dan menjalankan perintahNya adalah ibadah. Orang yang taqwa bukanlah orang yang tidak pernah berbuat dosa. Melainkan, orang yang taqwa adalah orang yang bila terlanjur berbuat dosa, maka ia segera berttaubat.


7. Habislah Dosa
Rasulullah saw bersabda:
اَلتَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ
“Orang yang bertaubat dari dosa, itu seperti orang yang tidak punya dosa” (Hr. Ibnu Majah; Hasan)
Sebagai penutup, ada warning keras dari Allah bagi orang yang tidak berbenah diri dengan taubat dan amal shalih. Ia akan mati su’ul-khatimah. Allah berfirman:
ثُمَّ كَانَ عَاقِبَةَ الَّذِينَ أَسَاءُوا السُّوأَى
“Kemudian kesudahan orang-orang yang berbuat buruk adalah keburukan” (Qs. Ar-rum/30:10). []


Share:

16 November 2011

Mengapa Doa Kita Belum Dikabulkan?



Warga Bashrah mengadu kepada Ibrahim bin Adham mengapa doa mereka belum juga dikabulkan oleh Allah. Maka ia berkata kepada mereka:

Wahai warga Bashrah, hati kalian telah mati karena sepuluh hal:
kalian mengenal Allah, tapi tidak mau menunaikan hak-Nya.
kalian membaca Kitab Allah, tapi tidak mau mengamalkannya.
kalian mengaku cinta kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tetapi kalian meninggalkan sunnahnya.
kalian mengaku bermusuhan dengan setan, tapi kalian justru akur dengannya.
kalian mengatakan cinta kepada surga, tapi tidak mau beramal untuk menuju ke sana.
kalian mengatakan takut kepada neraka, tapi kalian menggadaikan diri kalian kepadanya.
kalian mengatakan bahwa kematian itu benar adanya, tapi kalian tidak mau mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
kalian sibuk mencari aib saudara kalian, tapi mengabaikan aib kalian sendiri.
kalian memakan karunia Tuhan, tapi tidak mau mensyukurinya.
kalian mengubur orang mati, tapi tidak mau mengambil pelajaran darinya.
Share:

15 November 2011

Kebeningan Hati Mengungkap Keagungan Al-Qur'an


Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah mengatakan: “Allah menurunkan Al-Qur’an adalah untuk kita renungkan, kita telaah sebagai petunjuk, kita ingat-ingat sebagai penghibur, kita tafsirkan dengan bentuk dan pengertian yang terbaik, kita percayai dan yakini, serta kita tegakkan perintah-perintah dan larangan-larangannya semaksimal mungkin. Kita pun bisa menuai buah ilmu-ilmu yang bermanfaat yang akan mengantarkan kita kepada Allah dari pepohonan dan taman hikmahnya, baik dari tanaman-tanaman maupun bunga-bunganya. Sebab, Al-Qur’an adalah kitab Allah yang akan menunjukkan segala hal mengenai Allah bagi siapa saja yang ingin mengenal-Nya.
Al-Qur’an adalah jalan yang digariskan oleh Allah bagi siapa saja yang ingin menempuh perjalanan menuju ke hadirat-Nya. Al-Qur’an adalah cahaya Allah yang terang benderang, yang akan melenyapkan kegelapan. Al-Qur’an adalah rahmat Allah yang dianugerahkan kepada kita demi kebaikan semua makhluk. Al-Qur’an juga merupakan faktor penyambung antara Allah dengan para hamba-Nya ketika faktor-faktor lainnya telah terputus. Al-Qur’an adalah gerbang utama Allah di mana kita bisa memasukinya tatkala gerbang-gerbang yang lainnya telah ditutup.
Al-Qur’an adalah Ash-Shiraathal Mustaqiim (jalan lurus) yang tidak akan membuat pendapat dan opini-opini kita menjadi miring. Al-Qur’an adalah Adz-Dzikrul Hakiim (peringatan bijak) yang tidak akan menjadikan keinginan-keinginan dan hawa nafsu kita menjadi tersesat. Al-Qur’an adalah An-Nuzuulul Kariim (anugerah mulia) yang tidak akan pernah membuat para ulama merasa puas dan kenyang, sebab keajaibannya tidaklah habis, ayat-ayatnya tidaklah sirna, dan petunjuk-petunjuknya tidaklah bertentangan.
Setiap kali pandangan kita terhadap Al-Qur’an bertambah kuat dalam berpikir dan merenung, setiap kali itu pulalah kita mendapatkan tambahan petunjuk dan pengetahuan. Setiap kali kita gali kandungannya, setiap kali itu pulalah terpancar sumber-sumber hikmah dan kebijasanaan dengan deras. Al-Qur’an adalah cahaya pandangan yang akan menerangi kebutaan, penawar hati yang akan menyembuhkan penyakit dan kehampaannya, nyawa bagi hati, suguhan lezat bagi jiwa, taman indah sanubari, serta penuntun nurani menuju negeri yang damai.”



Share:

Kenapa Kita Mudah Kecewa?

"Kenapa kita mudah kecewa kepada orang lain?" Mungkin pertanyaan di atas sesuai dengan keadaan diri kita. Atau boleh j...