Pertanyaan:
Dalam sebuah Blog oleh kelompok Islam tertentu dikatakan bahwa dzikir Al-Ma'surat itu bid'ah, karena banyak dalil yang dhaif bahkan palsu seperti doa Rabithah. Benarkah Al-Ma'surat oleh Hasan Al-Bana itu amalan ahlul Bid'ah. Dan bagaimanakah hukum berdzikir/berdo'a tanpa dalil?"
15 Mei 2012
Wirid al-Ma'tsurat Hasan Al-Banna Bid'ah?
Apakah setiap kali ada yang menuduh sesat dan bid'ah, lantas kita harus latah ikut-ikutan menuduh sesat, tentu tidak. Harus ada analisa dan kajian yang mendalam, serta hujjah yang tidak hanya satu sisi, ketika kita ingin mengatakan bahwa sebuah fenomena itu sebagai bid'ah.
Dalam hal ini saya tidak berposisi sebagai 'pembela' wirid Al-Ma'tsurat-nya Hasan Al-Banna. Seandainya memang di dalamnya ada hadits yang tidak shahih, tentu kita harus jujur mengatakannya. Dan tentu salah besar kalau kita bilang bahwa wirid Al-Ma'tsurat itu disusun oleh Rasulullah SAW, sehingga kalau tidak dibaca pagi dan petang, seolah-olah kita tidak melaksanakan sunnah beliau SAW.
Kalau kita bedah lebih dalam, sebenarnya di dalam wirid itu ada banyak lafadz Al-Quran dan doa serta dzikir. Lafadz Al-Quran sendiri pasti shahih, bahkan sampai kepada kita lewat jalur mutawatir. Lafadz doa-doanya, meski sebagian ada yang diklaim lemah riwayatnya, tetapi tidak bisa dinafikan bahwa banyak juga yang riwayatnya shahih.
Kalau doa rabithah yang terletak di bagian akhir, tidak ada seorang pun yang bilang bahwa lafadz doa itu berasal dari Rasulullah SAW. Doa itu 100% gubahan Hasan Al-Banna sendiri. Kalau ada yang bilang doa itu dari Rasulullah SAW, tentu orang tersebut kurang paham kedudukannya. Jadi bukan tempatnya kalau kita bilang doa rabithah itu adalah hadits palsu. Sebab dari awal pengarangnya memang tidak mengatakan bahwa lafadz doa itu sebagai doa Rasulullah SAW.
Ada pun doa dan lafadz dzikir yang riwayatnya dianggap lemah, bisa kita bicarakan dari sisi ilmu hadits dan ilmu fiqihnya.
Ilmu Hadits
Dari segi ilmu hadits, kelemahan riwayat suatu hadits memang sering dilontarkan oleh para kritikus hadits. Dan biasanya, para ahli hadits memang saling berbeda pendapat dalam masalah kuat atau lemahnya suatu riwayat. Mirip dengan para ahli fiqih yang sering berbeda pendapat, para ahli hadits pun demikian juga.
Suatu riwayat mungkin dibilang shahih oleh Imam Al-Bukhari, tetapi belum tentu dishahihkan juga oleh Imam Muslim. Sebaliknya, tidak semua hadits shahih di dalam kitab Muslim, otomatis pasti dishahihkan oleh Al-Bukhari.
Jadi secara ilmu hadits, ketika ada pihak yang mendhaifkan suatu hadits, kita jangan lantas putus asa dulu, bahwa seolah-olah hadits itu pasti dhaif. Barangkali analisa kedhaifan itu lebih merupakan opini sebagai ulama hadits, sementara barangkali banyak ulama hadits lainnnya yang mengatakan bahwa hadits itu tidak dhaif.
Untuk itu kita perlu melakukan studi lebih mendalam tentang komentar para ulama hadits secara lebih banyak lagi. Tipsnya, jangan hanya membaca satu buku rujukan saja, tetapi gunakan sekian banyak kitab rujukan, agar wawasan kita tidak sempit dan tidak terkesan kurang ilmu.
Ilmu Fiqih
Dari segi ilmu fiqih, ada perdebatan juga tentang hukum berdoa dan dzikir bila tidak menggunakan riwayat dari Rasulullah SAW. Apakah hukumnya boleh atau tidak boleh, atau makruh.
Mereka yang mengharamkan berdoa dengan lafadz yang bukan dari riwayat Rasulullah SAW berhujjah bahwa doa itu bagian dari ibadah ritual, seperti hukum shalat. Jadi berdoa disejajarkan dengan melakukan shalat, dimana lafadz-lafadz yang dibaca harus sesuai dengan aturan yang telah Rasulullah SAW tentukan.
Sehingga dalam pandangan mereka, kalau wirid Al-Ma'tsurat itu mengandung hadits yang lemah, jadinya bid'ah. Karena beribadah dengan menggunakan lafadz-lafad yang dianggap tidak qath'i bersumber dari Rasulullah SAW.
Di pihak lain, sebagian lain ulama mengatakan bahwa tidak semua doa sejajar kedudukannya dengan ritual shalat. Contoh sederhana, ketika kita minta kepada Allah SWT agar lulus ujian dengan nilai maksimal, rasanya tidak ada satu pun hadits yang mengajarkan hal itu. Lantas, apakah kita tidak boleh minta kepada Allah SWT dalam arti berdoa agar lulus ujian?
Ketika kita minta kepada Allah SWT agar diberikan istri yang shalihah, cantik, tinggi, langsing, putih, terang, pintar, dan seterusnya, tentu kita tidak akan menemukan contoh lafadz doa seperti itu di dalam hadits-hadits yang shahih. Lalu apaka kita tidak boleh berdoa meminta kepada Allah SWT agar mendapat istri yang seperti itu?
Ketika kita meminta kepada Allah SWT agar hubungan baik dengan sesama saudara seiman dan seagama dikuatkan, lalu kita tidak menemukan lafadz yang tepat dan pas dari hadits nabawi, apakah kita tidak boleh berdoa kepada Allah SWT tentang hal itu?
Kesimpulannya, di tengah para ulama ada perbedaan pendapat tentang hukum berdoa bukan dengan lafadz yang bersumber dari Rasulullah SAW. Ada yang menjadikannya sebagai syarat dan ada yang bilang kita bebas minta apa saja kepada Allah SWT sesuai dengan keinginan kita, tanpa harus meniru doa Rasulullah SAW.
Kalau melihat prakteknya, saya yakin Anda bukan termasuk yang mengharuskan berdoa selalu dengan sepeti apa yang dicontohkan Rasulllah SAW. Sebab betapa banyak kita berdoa kepada Allah SWT dengan harapan agar dikabulkan, sementara yang kita minta itu tidak ada contoh lafadznya dari Al-Quran dan As-Sunnah. Tetapi kita tetap meminta juga kepada Allah SWT, Kita tetap berdoa kepada-Nya, walau dengan lafadz yang kita gubah sendiri.
Sebab Allah SWT memang memerintahkan kita untuk meminta kepada-Nya, tanpa memberi batasan bahwa yang kita minta itu harus yang ada contoh lafadz doanya dari Rasulullah SAW.
Maka kalau di dalam wirid Al-Ma'tsurat itu ada hadits yang dhaif atau malah lafadz yang sama sekali bukan hadits, sebenarnya tidak ada yang perlu diributkan. Sebab ada pendapat yang kuat bahwa berdoa itu tidak harus dengan lafadz yang dicontohkan oleh Rasulllah SAW. Silahkan meminta kepada Allah SWT dengan lafadz yang kita karang sendiri, asalkan tidak bertentangan dengan ketentuan syar'i.
Disunting dari:
Ahmad Sarwat, Lc
http://trimudilah.blogspot.com/2010/03/wirid-al-matsurat-hasan-al-banna-bidah.html
Kematian Hati Puncak Krisis Multidimensi
Khutbah Jum'at Oleh: Ust. Hamim Thohari
Sidang Jum’at Rahimakullaah, setelah Khatib mengingatkan akan pentingnya taqwa kepada Allah sebagai
jalan keluar dan kunci kemuliaan, Khatib ingin mengajak jamaah sekalian untuk
merenungkan sejenak tentang krisis yang mendera kehidupan umat manusia dewasa
ini dalam berbagai aspek: ekonomi, politik, sosial, moral dan bermacam-macam
krisis lainnya.
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لِلهِ الَذِي وَعَدَ سَائِلِيهِ بِالْإِجَابَةِ، وَحَذَّرَ
الْمُعْرِضِينَ عَنْ ذِكْرِهِ بِضَنْكِ الْمَعِيشَةِ
والصّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ اَلْهَادِي إلَى
سَبِيلِ النَّجَاةِ وَالسَّعَادَةِ
وَآلِهِ وَأَصْحَابِهِ خَيْرِ الْبَرِيَّةِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانِهِ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
أَمَّا بَعْدُ: فَإِنِّي مُوصِيكُمْ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ بِتَقْوَى اللهِ
الْقَائِلِ
وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
وَ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Sidang Jum’at Rahimakullaah, setelah Khatib mengingatkan akan pentingnya taqwa kepada Allah sebagai
jalan keluar dan kunci kemuliaan, Khatib ingin mengajak jamaah sekalian untuk
merenungkan sejenak tentang krisis yang mendera kehidupan umat manusia dewasa
ini dalam berbagai aspek: ekonomi, politik, sosial, moral dan bermacam-macam
krisis lainnya.
Banyak pakar mencoba mengurai dan menawarkan solusi. Ekonom berkata,
“selesaikan dulu masalah ekonomi, yang lain akan mengikuti.” Politikus
membantah, “Ekonomi itu mudah, yang penting politik dulu ditata.” Moralis
menyergah, “Moral dulu dibenahi baru yang lain.” Demikianlah, para pakar dan
pengamat dadakan saling beradu kepintaran, sementara krisis demi krisis belum
mampu dihentikan.
Lalu bagaimana sikap kita sebagai umat Islam, ayyuhal Ikhwah? Tentu,
segala persoalan yang kita hadapi tidak boleh tidak, mestilah kita carikan
petunjuk dan cara penyelesaiannya dari panduan hidup kita, way of life kita,
yakni Kitabullaah dan Sunnah Rasulullah saw.
Dengan jelas Al-Qur’an mendiaknosa bahwa kesulitan dan keruwetan hidup di dunia
ini berpangkal dari sikap manusia yang enggan mengikuti petunjuknya.
ومن أعرض عن ذكري فإن له معيشة
ضنكا
“Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka sesungguhnya baginya
penghidupan yang sempit lagi sulit.” (Thaha: 124)
Jamaah Jum’at Rahimakumullah,
Apabila manusia sudah tidak sudi mengindahkan peringatan Allah, enggan
menjadikan petunjuk al-Qur’an sebagai panduan hidupnya, maka krisis kemanusian
paling berbahaya akan menimpa mereka, yaitu kematian hati. Sehingga tidak
jarang kita saksikan, seperti kata orang bijak:
كَمْ مِنْ مُشَاةٍ تَحْسَبُهُمْ
أَحْيَاءَ، وَجَلَادَةُ أَجْسَادِهِمْ لِقُلُوبِهِمْ مَقَابِرُ
Betapa banyak orang gagah berjalan, Kau pikir mereka itu masih hidup,
Rupanya, kegagahan tubuhnya,hanyalah kuburan bagi hatinya yang mati
Sungguh kematian hati adalah puncak krisis kemanusian yang sebenarnya.
Sedangkan penyebab kematian hati adalah berpaling dari peringatan dan ajaran
Allah. Oleh karena itu, secara menggelitik, Allah memperingatkan kaum beriman
agar menghindari penyebab krisis ini. Allah berfirman:
ألم يأن للذين آمنوا أن تخشع
قلوبهم لذكر الله وما نزل من الحق ولا يكونوا كالذين أوتوا الكتاب من قبل فطال عليهم الأمد
فقست قلوبهم وكثير منهم فاسقون
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk
hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada
mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah
diturunkan Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka
lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah
orang-orang yang fasik. (al-hadid: 16)
Jika hati telah mengeras dan membatu, artinya hati manusia telah mati.
Saat itulah manusia akan menjelma sebagai makhluq mengerikan yang disebut
sebagia orang-orang fasiq. Ciri-ciri mereka; rakus terhadap dunia, menghalalkan
segala cara, tidak peduli kesengsaraan orang lain yang penting dirinya untung
dan masa bodoh dengan halal-haram, tidak berfikir dosa-pahala, entar dulu
masalah surga-neraka yang penting happy.
أَيُّهَا الْإخْوَةُ، هَذَا مَا
أقُولُ ماَ سَمِعْتُمْ، وَأسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ
وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ
الْعَالَمِينَ ::
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ
العَالَمِينَ، والصَّلَاةُ والسَّلاَمُ عَلى مُحَمَّدٍ وَبَعْدُ:
Jama’ah Juma’at Rahimakumullaah,
Kehidupan orang fasik, orang yang telah mati hatinya itu serba paradoks
(saling bertolak belakang). Seperti kata Ibrahim bin Adham, ada 10 fenomena
sikap bertolak belakang dari kehidupan orang yang telah mati hatinya:
مَعْرِفَةُ اللهِ دُونَ
تَأْدِيَةِ حَقِّهِ
(1) Mengenal Allah, tanpa menunaikan hak-Nya
قِرَاءَةُ القرآنِ دُونَ
الْعَمَلُ بِهِ
(2) Membaca al-Qur’an tanpa diamalkan
الْاِدِّعَاءُ بِحُبِّ
الرَّسُولِ وتَرْكُ سُنَّتِهِ
(3) Mengaku mencintai Nabi, tapi meninggalkan
sunnahnya
الْاِدِّعَاءُ بِعَدَاوَةِ
الشيطان وَالطَّاعَةُ لَهُ
(4) Mengaku bermusuhan dengan setan, tapi masih
menuruti ajakannya
الْاِدِّعَاءُ بِدُخُولِ
الْجَنَّةِ وَعَدَمُ الْعَمَلِ لَهَا
(5) Mengaku bakal masuk
surga, tapi tanpa usaha untuk meraihnya
الْاِدِّعَاءُ بِالنَّجَاةِ
مِنَ النَّارِ وَرَمْيُ أَنْفُسِهِمْ فِيهَا
(6) Yakin selamat dari
neraka, malah nyemplung ke dalamnya
اَلْقَائِلُ بِأنَ الْمَوْتَ
حَقٌّ وَعَدَمُ الْاِسْتِعْدَادِ لَهُ
(7) Yakin dengan datangnya
kematian, tapi lupa membuat persiapan
الْاِشْتِغَالُ بِعُيُوبِ
النَّاسِ وَتَرْكُ عُيُوبِ أَنْفُسِهِمْ
(8) Sibuk membicarakan aib
orang lain, melupakan aibnya sendiri
دَفْنُ الْأَمْواتِ مَعَ عَدَمِ
الْاِعْتِبَارِ بِهِ
(9) Sering mengubur mayit, tidak pernah mengambil
perlajarannya
أَكْلُ نِعْمَةِ اللهِ وَعَدَمُ
شُكْرِهِ عَلَيْهَا
(10) Nikmat Allah dimakan, tapi tak pernah
disyukuri
Sepuluh sikap paradoksal inilah sesungguhnya yang menjadi sumber krisis
kemanusian. Sebab kata, Ibrahim bin Adham, sepuluh perkara ini menyebabkan doa
tidak akan dikabulkan. Lalu apa artinya jika Allah sudah tidak lagi mendengar
doa hamba-Nya? Itu berarti Allah membiarkan hamba-Nya menyelesaikan
persolanannya sendiri tanpa pertolongan dan rahmat-Nya. Jika sudah begitu,
sejuta solusi yang ditawarkan oleh pakar paling hebat sekali pun tidak akan
mampu menyelesaikan masalah manusia yang terus mendera. Na’udzu
billaahi min dzaalik.
Jamaah Jumat Rahimakumullaah,
Maka satu saja kata kuncinya: “Krisis apa pun yang mendera manusia,
solusinya hanya satu: Hidupkan hati dengan mengikuti petunjuk-Nya.” Sebagaimana
firman-Nya: وَمَنْ يَتَّقِ
اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ “Barang
siapa bertaqwa kepada Allah, akan diberikan kepadanya jalan keluar dan
diberi-Nya rizqi dari arah yang tidak diduga-duga.” (at-Thalaq: 2)
نَسْأَلُ اللَّهَ الْعَافِيَةَ
فِى الدِّينِ وَالدُّنْيَا والْآخِرَةِ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ
وصَحْبِهِ والتَّابِعِينَ أجْمَعِينَ
والْحَمْدُ للَّهِ رَبِّ
الْعَالمِينَ اللهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ بِأسَماءِكَ الْحُسْنَى أنْ تَرْحَمَنَا
وَتَرْحَمَ جَمِيعَ أُمَّةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ
واصْرِفْ عَنَّا الْبَلَاءَ
وَالْوَبَاءَ وَالْفِتَنَ والْمِحَنَ، وَانْصُرْنَا عَلى الْأَعْدَاءِ بِرَحْمَتِكَ
يَا أرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنيَا
حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وصَلِّ اللَّهُمَّ عَلَى
مُحَمَّدٍ وَالْحمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمينَ
أَقِمِ الصَّلَاةَ









