"Ya Allah, sesungguhnya kami meminta kepada-Mu permohonan yang terbaik, doa yang terbaik, kesuksesan yang terbaik, ilmu dan amal yang terbaik, ganjaran pahala yang terbaik, kehidupan dan kematian yang terbaik, dan teguhkanlah kami, perberatlah timbangan amal kebaikan kami, dan benarkanlah iman kami, tinggikanlah derajat kami, terimalah shalat kami, ampunilah kesalahan-kesalahan kami, dan kami memohon kepada-Mu derajat yang tinggi dari surga." []
28 September 2012
Doa Permohonan Terbaik
Jika Anda memiliki mushaf Al-Qur'an terbitan Timur Tengah (Mushaf 'Utsmany) dan yang mengikutinya, maka di bagian akhir biasanya terdapat Doa Khatmil Qur'an. Teks doa dalam gambar di atas adalah salah satu kalimat doanya yang saya ketik ulang dan kata ganti tunggal diganti dengan jamak. Alangkah baiknya jika kita menghafal dan mengamalkan doa ini, bukan hanya dalam kesempatan Khatmil Qur'an (khataman Al-Qur'an), namun juga dalam setiap kesempatan, dikarenakan isi doa ini begitu indah dan bermakna jika kita coba renungi maknanya. Betapa banyak di antara kita berdoa kepada Allah SWT saat kita membutuhkan sesuatu terkait dengan perkara keduniaan yang bersifat sementara. Maka tidakkah kita juga bersungguh-sungguh memohon kepada-Nya agar diberikan keteguhan (Ats-Tsabat) dalam perkara-perkara yang paling utama? Karena itulah, post ini saya beri judul "Doa Permohonan Terbaik" atau "The Best Request" sesuai dengan sebagian redaksi dari doa tersebut.
Berikut adalah terjemah dari teks doa di atas:
11 September 2012
Kisah Pengorbanan Sejati
Betapa cerdas seorang pemuda yang hidup terasing dari kebiasaan kaumnya. Sebab, ia berpikir lebih maju daripada mereka. Dalam kesendiriannya, ia temukan kesadaran tentang hakikat dirinya, serta betapa sesat kondisi kaumnya. Ia pun mengkritik, “Pantaskah kalian jadikan berhala-berhala sebagai tuhan? Sesungguhnya aku melihat kalian dalam kesesatan sejati.” Demikianlah ia termasuk seseorang yang diberi ‘penglihatan’ akan keagungan Tuhannya. Dan demikianlah ia menjadi seorang yang penuh keyakinan (QS. 6: 74-75).
Juga ketika ia ‘mencari’ Tuhannya, segera saja ditolaknya segala benda langit yang terbenam, apakah itu bintang, bulan, atau matahari. Maka ia pun berkata, “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb Pencipta langit dan bumi, cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukan termasuk orang yang mempersekutukan-Nya.” (QS. 6: 76-79).
Adakah di zaman kini sosok sepertinya, atau setidaknya yang belajar darinya – salah seorang dari dua Khalilullah di antara manusia? Ketika ada seorang penguasa yang seenaknya saja ‘membunuhi’ rakyatnya – secara jelas atau terselubung – adakah penguasa itu berlagak menjadi tuhan, layaknya Namrudz sang raja Babilon yang ditantang oleh Ibrahim untuk bisa menghidupkan dan mematikan, lalu dipanggilnya dua orang tawanan, ia bunuh yang satu dan ia biarkan yang lainnya tetap hidup? Namun ketika ditantang menerbitkan matahari dari arah terbenamnya, ia terdiam seribu bahasa (QS. 2: 258).
Pengorbanan Ibrahim AS
Ibrahim AS bukanlah seperti kebanyakan pengamat yang suka melontar kritik tapi kemudian lari tak mau menerima resiko akibat kritiknya itu – melontarkan kritik memang lebih mudah daripada dikritik. Tapi Ibrahim, ia tetap tegar mengkritisi orang-orang zhalim dan perilaku menyimpang kaumnya. Walaupun setelah itu ia dilempar ke dalam api yang menyala-nyala, tak sedikit pun ia gentar. Dan kemudian ia pun harus hijrah dari negerinya. Maka perginya ke barat (ke Palestina hingga menginjakkan kaki di negeri Fir’aun) – adalah tetap dalam rangka pengorbanan kepada Tuhannya (QS. 35: 95-99).
Pengorbanan macam apa dari seorang istri yang merekomendasi istri untuk suaminya? Dan ketika dikaruniai Isma’il AS sebagai bukti bahwa Allah mendengar doanya – dan Allah Maha Mendengar – maka pengorbanan setelah itu lebih besar lagi. Pengorbanan macam apa dari seorang suami dan ayah, yang mencintai keluarganya, dengan meninggalkan mereka di lembah tandus yang tiada bertanam-tanaman – di sisi rumah Allah (Ka’bah) yang dihormati? Untuk apakah semua itu? Supaya mereka mendirikan shalat, supaya dijadikan hati sebagian manusia cenderung kepada mereka, dan supaya Tuhan memberi mereka rezeki di padang gersang itu dengan buah-buahan supaya mereka bersyukur (QS. 14: 37).
Siapakah yang lebih didengarnya, ketika Tuhan mewahyukan kepadanya lewat mimpi agar ia menyembelih anaknya, Tuhan ataukah syaitan penggoda yang diikutinya? Nyatanya, ia tetap bersungguh hati mengorbankan sang anak di pangkuannya sendiri. Itu pun dilakukan tanpa memaksa sang anak yang mulai beranjak dewasa, sebab anak itu juga sama memiliki kesungguhan dan kesabaran hati. Belakangan, kisah pengorbanan keluarga itu menjadi salah satu ritual ummat pengikut millah (ajaran)nya – rangkaian ibadah haji hingga idul qurban.
Itulah sosok kekasih Allah. Ia telah menjadikan dirinya seorang yang cerdas. Ketika melihat diri dan alam semesta, memperhatikan kelakuan kaumnya, ia tidak melihat itu sebagai sesuatu yang wujud semata. Ia melihat hakikat di balik semua itu, bahwa ia harus taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah.
Maka segala pengorbanan itu bukanlah untuk diri, istri, anak, keturunan, atau untuk kaumnya. Pengorbanan itu hanyalah untuk Allah. Pantaslah jika ia dijuluki Khalilullah – di samping Muhammad SAW – sebab hatinya telah terisi penuh hanya dengan nama Tuhannya. Namun pengorbanan yang dilakukan untuk Tuhannya itulah yang membawa kebaikan bagi dirinya, keluarganya, dan juga pengikutnya. Dan perhatikanlah bagaimana namanya terus kita sebut di dalam shalat setelah kita bershalawat atas Nabi akhir zaman.
Pengorbanan Muhammad SAW dan Ummatnya
Muhammad SAW adalah juga seorang yang cerdas. Adalah ia seorang yang suka menyendiri berpikir tentang keadaan kaumnya, ber-tahannuts di ketinggian Gua Hira melihat fenomena kerusakan masyarakatnya di bawah sana. Dan seperti Ibrahim AS yang ‘mencari’ Tuhan, pada saat yang ditentukan turunlah wahyu kepadanya “Iqra’ bismi Rabbikalladzii khalaq...”, bukan hanya ke dalam pikirannya melainkan jauh ke dalam hatinya. Setelah itu adalah tanda tanya besar yang membentang, membuatnya ‘gelisah’ beberapa waktu lamanya. Namun Tuhannya tak membiarkan keadaan itu berlarut-larut.
Ketika turun ayat-ayat berikutnya, hadirlah ketenangan pada jiwanya, namun ia tak lantas bertenang-tenang diri seolah tak ada apa-apa. “Hai orang yang berselimut, bangkit dan berilah peringatan!” (Al-Muddatstsir: 1-2). “Hai orang yang berselimut, bangunlah di malam hari untuk shalat, kecuali sedikit daripadanya!” (Al-Muzzammil: 1-2). Maka seolah-olah perkataan itu – seperti disebutkan dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an – adalah seperti ini:
“Ini adalah seruan dari langit, suara Tuhan Yang Mahaagung lagi Mahatinggi ... Bangunlah ... Bangunlah untuk menyongsong urusan besar yang sedang menantimu dan tugas berat yang akan dibebankan kepadamu. Bangunlah untuk berjuang dan berusaha, berkiprah dan bersusah payah. Bangunlah, waktu tidur dan istirahat telah berlalu ... Bangunlah dan bersiapsiagalah menyongsong urusan ini ...”
Kini ayat-ayat Al-Qur’an itu seutuhnya berada dekat di samping kita. Dan semua itu pada hakikatnya juga diturunkan bagi kita, sebagai pedoman kehidupan. Ketika setiap kita mulai berpikir tentang diri, mencari hakikat atau rahasia tertinggi yang menjadi pencarian umat manusia selama ini, maka Allah Sang Pencipta menurunkan sesuatu untuk dibaca, agar kita kembali pada-Nya. Maka sudahkah kita membacanya dengan bacaan yang benar sebagai bukti keimanan kita? (QS. 2: 121). Ataukah kita sudah membacanya namun belum juga stercerahkan dan tiada merasakan kelezatan darinya? Betapa banyak orang-orang membacanya tanpa kelezatan iman dan pengorbanan yang terlahir dari proses pembacaan itu.
Adakah kita menangis saat membaca atau mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an. Bukan menangis karena iramanya yang syahdu, tapi karena kita menghayati kandungan maknanya? Ataukah kita hanya bisa menangis saat menyimak lagu-lagu sedih, atau menonton film dan kisah yang mengharukan? Sungguh, alangkah jauh kita dari Al-Qur’an, alangkah kurangnya kecerdasan dan pengorbanan di dalam jiwa kita.
Jika kita memahami dan menyadari betul, bahwa hidup ini hanya sekali, nyawa kita hanya satu dan tak ada umur cadangan, maka apakah akan kita sia-siakan hidup yang singkat ini dan mempersingkatnya lagi dengan tujuan yang singkat dan kerdil?
Orang-orang yang cerdas selalu merindukan dan mencari enlightenment moment (saat-saat pencerahan) dalam hidup mereka. Saat pencerahan itu hadir di dalam hati mereka, jadilah mereka manusia berhati cahaya. Mereka tak lagi hidup untuk dirinya sendiri. Mereka tak lagi hidup hanya untuk keluarganya, masyarakatnya, atau untuk nilai-nilai duniawi yang selalu membelenggu setiap manusia yang lemah.
Mereka hidup untuk memperjuangkan nilai-nilai abadi yang jauh berbeda dengan kenyataan yang mereka temui. Maka jadilah mereka seperti orang-orang yang memegang bara api yang tak boleh dilepas, tapi itu harus mereka lakukan. Itulah perumpamaan orang-orang yang berpegang teguh pada agamanya. Mereka berkorban untuk menegakkan nilai-nilai abadi itu walaupun seringkali cobaan yang berat menimpa mereka. Atau dengan kata lain, seringkali dunia tidak berpihak kepada mereka. Tapi apakah yang bisa diperbuat oleh dunia ini terhadap mereka? Tidak ada. Sebab, telah mereka tambatkan semua harapannya kepada sumber segala harapan: Allah. []
07 September 2012
Mengelola Aset 5T Menuju Sukses Dunia-Akhirat

Tak banyak orang menyadari (sadar lebih tinggi dari sekedar mengetahui) bahwa untuk sukses di dunia sekaligus di akhirat diperlukan modal/aset yang cukup. Kita hidup di dunia ini antara lain memiliki misi mengumpulkan serta mengembangkan aset tersebut dalam rangka meraih kebaikan yang besar di sisi Allah SWT.
Surga itu mahal harganya. Untuk bisa menebusnya, seorang insan harus bersungguh-sungguh mengarahkan segala aktivitas hidupnya dalam rangka menghambakan diri kepada Allah, semua ia niatkan hanya untuk keridhaan-Nya. Maka untuk meraih surga yang mahal itu diperlukanlah usaha dan pengorbanan yang mahal, yang mana hal itu seringkali bertentangan dengan hawa nafsu insani.
Surga itu mahal harganya. Untuk bisa menebusnya, seorang insan harus bersungguh-sungguh mengarahkan segala aktivitas hidupnya dalam rangka menghambakan diri kepada Allah, semua ia niatkan hanya untuk keridhaan-Nya. Maka untuk meraih surga yang mahal itu diperlukanlah usaha dan pengorbanan yang mahal, yang mana hal itu seringkali bertentangan dengan hawa nafsu insani.
Berapakah
harga surga itu? Jelas tak ternilai dan tak bisa dibanding dengan dunia dan
isinya. Maukah nyawa Anda ditukar dengan emas batangan yang bernilai milyaran bahkan trilyunan? Terserah Anda mau mengukurnya dengan rupiah, dolar, dinar atau yang lainnya. Tentu Anda mengatakan bahwa nyawa Anda lebih mahal dari itu semua. Maka bisakah surga (kebahagiaan sejati) diperoleh dengan tiket seharga 5T? Lima Trilyun itu
walaupun sedikit, jarang yang memilikinya. Jika tiket masuk surga seharga 5T
(trilyun), maka hanya segelintir orang saja yang bisa membelinya. Tapi 5T di
sini bukan lima trilyun, melainkan 5 pola interaksi yang utuh seorang muslim
terhadap Al-Qur’anul Karim, lebih besar dari sekedar lima trilyun.
Apa sajakah
5T itu?
- TILAWAH membacanya
- TAHFIZH menghafalnya
- TADABBUR merenungi dan menghayatinya
- TATHBIQ mengaplikasikan
(mengamalkannya)
- TABLIGH menyampaikan (menyebarluaskan,
mengajarkannya)
Jika seseorang
berhasil mengumpulkan kelima aset tersebut, maka ia disebut sebagai pribadi
yang Qur’ani. Jika sekelompok orang atau masyarakat berhasil mengumpulkan modal
tersebut secara berjamaah, maka mereka disebut sebagai generasi Qur’ani atau
masyarakat Qur’ani. Inilah bentuk masyarakat yang kita cita-citakan yang dengannya Allah SWT membukakan barakah dari segala penjuru.
Mewujudkan
generasi Qur’ani adalah kunci sukses di dunia dan kunci kemenangan akhirat.
Suatu masyarakat (di perkotaan maupun perkampungan) yang membangun generasinya
sebagai generasi Qur’ani adalah masyarakat yang diliputi kesejahteraan,
keberkahan dan kebahagiaan dalam hidupnya. Namun semua itu hanyalah pengantar
menuju kemenangan yang sesungguhnya di sisi Allah SWT.
Mari kita kaji satu persatu Aset 5T itu secara singkat, semoga ini memotivasi kita meraih satu demi satu 5T untuk hidup dan kehidupan yang lebih baik.
T-1 : TILAWAH
Tilawah atau membaca Al-Qur’an adalah
konsekuensi pertama setelah seseorang memenuhi rukun iman yang ketiga (iman
kepada Kitab-kitab Allah), sedangkan Al-Qur’an adalah Kitab Allah yang terakhir
dan satu-satunya yang masih terpelihara keasliannya hingga akhir zaman.
“Orang-orang
yang telah Kami berikan Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang
sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar
kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.”
(QS. Al-Baqarah: 121)
Membaca bahkan merupakan perintah yang pertama kali
diwahyukan (Iqra’!). Meskipun iqra’ juga berlaku untuk aktivitas membaca secara
luas, tapi pemilihan nama Al-Qur’an yang berarti bacaan menunjukkan penting dan
utamanya aktivitas membaca Al-Qur’an tersebut.
Rasulullah SAW sendiri telah menegaskan tentang
pentingnya membaca Al-Qur’an sebagai sebab keselamatan seseorang di akhirat
kelak.
اِقْرَأُوا الْقُرآنَ
فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ
"Bacalah Al-Qur'an, karena sesungguhnya ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai penolong kepada ashhab-nya (orang yang selalu membacanya)." (HR. Muslim)
Orang yang banyak membaca Al-Qur’an adalah dia yang banyak
mendapatkan kebaikan (pahala).
مَنْ
قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ
بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا.
لاَ
أَقُولُ آلم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ
“Barang siapa
membaca satu huruf dari Kitab Allah Ta’ala, maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan digandakan sepuluh kali
lipat. Aku tidak mengatakan alif-laam-miim itu satu huruf, tapi alif satu
huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf.”
(HR. Tirmidziy)
Selain itu, ada juga keutamaan yang didapat oleh
orang-orang yang bermajelis dalam majelis Al-Qur’an yang tidak bisa
didapatkannya pada majelis-majelis yang lain.
مَا
اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ
وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ
وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللهُ
فِيمَنْ عِنْدَهُ
“Tidaklah
sekelompok orang berkumpul di suatu rumah (masjid) dari rumah-rumah Allah untuk
membaca Kitabullah (Al-Qur’an) dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan
ketenangan akan turun kepada mereka, kasih sayang akan menyelimuti mereka, para
malaikat akan mengelilingi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan
makhluk yang ada di sisi-Nya.”
(HR. Muslim dan Abu Dawud).
“Sesungguhnya orang-orang yang senantiasa membaca Kitabullah, mendirikan shalat, menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, secara diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Faathir: 29-30).
“Sesungguhnya orang-orang yang senantiasa membaca Kitabullah, mendirikan shalat, menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, secara diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Faathir: 29-30).
T-2 : TAHFIZH
Ketika seseorang menghafal Al-Qur’an atau sebagian dari ayat-ayat yang telah dibacanya, maka dia akan mendapatkan kebaikan lebih banyak lagi. Sebab, untuk menghafalkan Al-Qur’an diperlukan pengulangan baik dalam membaca maupun mendengar. Artinya, dia mendapatkan pahala yang besar karena semakin banyak membaca dan mendengarkan Al-Qur’an.
Dewasa ini boleh dikatakan tidak mudah untuk
membudayakan tradisi Hifzhul Qur’an di masyarakat. Terlebih tantangan budaya entertainment
semakin merebak sementara tradisi membaca Al-Qur’an saja semakin ditinggalkan.
Untuk kalangan pesantren maupun aktivis Islam, program Hifzhul Qur’an tentunya
sudah tidak asing lagi. Bahkan sebagian mereka sudah sampai pada tahap
menghafal keseluruhan Al-Qur’an sekaligus memahaminya.
Untuk masyarakat umum, program Hifzhul Qur’an perlu dimulai
dengan sesuatu yang dalam benak kebanyakan orang dipandang sebagai hal yang
“mungkin”. Maksudnya, mengapa tidak kita gulirkan semacam Program Menghafal Juz 'Amma bagi masyarakat kebanyakan. Kami beranggapan, memulai hafalan Al-Qur’an dari Juz ‘Amma adalah
pilihan yang tepat bagi masyarakat luas. Sebab, selain suratnya pendek-pendek
dan sering dibaca dalam shalat berjamaah, kandungan maknanya pun sesuai untuk untuk
menjadi renungan yang membangkitkan kesadaran imani menjelang akhir zaman. Dan
jika program tahfizh dan tadabbur Juz ‘Amma ini sukses di masyarakat luas, maka
akan sangat mudah melanjutkannya dengan surat-surat dan juz yang lain.
T-3 : TADABBUR
Membaca Al-Qur’an tidaklah sama dengan membaca bacaan lainnya, bahkan dengan membaca Hadits Nabawi atau Hadits Qudsi sekalipun. Sebab, Al-Qur’an benar-benar kalam Allah Ta’ala sehingga untuk membacanya bukan hanya diperlukan keseriusan dan pemahaman, namun juga kekhusyu’an seperti khusyu’-nya seseorang yang sedang shalat, dzikir atau berdoa.
Membaca Al-Qur’an tidaklah sama dengan membaca bacaan lainnya, bahkan dengan membaca Hadits Nabawi atau Hadits Qudsi sekalipun. Sebab, Al-Qur’an benar-benar kalam Allah Ta’ala sehingga untuk membacanya bukan hanya diperlukan keseriusan dan pemahaman, namun juga kekhusyu’an seperti khusyu’-nya seseorang yang sedang shalat, dzikir atau berdoa.
Ada satu kondisi yang cukup ironis sekaligus memprihatinkan. Seorang
pemuda mengatakan bahwa ia bisa sampai “lupa diri” saat memainkan lagu dengan
alat musiknya. Dengan nada curhat, ia mengeluh karena tidak bisa merasakan
getaran serupa saat shalat ataupun membaca Al-Qur’an.
Ada sebagian saudara kita yang sangat tersentuh dan menangis
ketika mendengarkan lagu-lagu dan musik syahdu, apalagi jika mereka sedang
bersedih, patah hati atau mengalami cobaan yang berat. Mereka mungkin
menganggap bahwa itu adalah pengalaman spiritual yang berharga. Namun mereka
tidak memahami bahwa hal itu tidak bernilai ibadah, bahkan boleh jadi sia-sia.
Kenapa? Karena pengalaman itu tidak didapatnya dengan sarana ibadah yang benar.
Allah
SWT menegaskan dengan suatu pertanyaan yang mengisyaratkan adanya hubungan
antara tadabbur Al-Qur’an dengan kualitas hati para pembacanya:
“Maka apakah mereka
tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24)
Untuk
dapat melakukan tadabbur terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, seseorang perlu
menghadirkan hatinya saat membaca Al-Qur’an. Ia harus terlebih dulu membuka
gembok-gembok yang mengunci hatinya itu dengan kunci yang terdapat di dalam
Al-Qur’an itu sendiri.
Karenanya,
jika seseorang telah membaca Al-Qur’an namun belum bisa menikmatinya, belum
bisa menghadirkan hati dalam membacanya, maka yang perlu dilakukan adalah terus
membacanya dengan kualitas yang semakin ditingkatkan. Ada beberapa kiat agar
bacaan Al-Qur’an itu meresap di dalam hati sehingga bisa menjadi pencerahan
spiritual yang dahsyat.
Memahami keagungan Al-Qur'an
Dengan menyadari keagungan Al-Qur’an,
bahwa ia adalah kalam Ilahi, maka seseorang akan menjaga kesucian zhahir batin
saat berinteraksi dengannya. Ia akan sungguh-sungguh memenuhi adab tilawah,
menghadirkan hati dan pikirannya fokus kepada Allah. Sebab, membaca Al-Qur’an
adalah berkomunikasi dengan Allah. Maka, siapakah yang tidak menginginkan
kemuliaan ini?
Berusaha memahami makna bacaan
Hendaknya seorang pembaca
Al-Qur’an berusaha memahami apa yang dibacanya. Bagi kita yang belum menguasai
bahasa Arab, maka setidaknya bacalah terjemah Al-Qur’an dengan tekun. Kita
perdalam pemahaman tersebut, dan akan lebih baik jika kita membaca tafsirnya
juga. Kelak ketika kita membaca kembali ayat-ayat itu, kita akan membacanya
dengan bacaan yang lebih berkesan.
Pengkhususan
Hendaknya pembaca Al-Qur’an
menganggap bahwa ayat yang sedang dibacanya diturunkan secara khusus untuk
dirinya. Utamanya, ini yang berkaitan dengan ayat-ayat ‘adzab, ayat-ayat yang
berisi ancaman, atau ayat-ayat yang menceritakan tentang orang-orang yang dimurkai.
Maka yang dimaksud dengan takhshish adalah seorang pembaca Al-Qur’an
merasa bahwa ayat-ayat itu langsung tertuju kepada dirinya. Umpamanya, ayat
yang dibacanya tentang gambaran yang terjadi di neraka, maka si pembaca
merasakan betul kengerian dan kedahsyatan di dalamnya. Hal ini bukanlah sebagai
pikiran negatif, melainkan untuk memupuk rasa khauf kepada Allah.
Melepaskan diri dari egoisme
Adapun ketika membaca ayat
tentang surga, tentang karakter orang-orang mu’min yang dijanjikan kemenangan,
janganlah kita merasa sudah memenuhi kriteria itu. Lepaskanlah keangkuhan diri,
bacalah Al-Qur’an hingga meresap di dalam hati, seraya terus berdoa dan yakin
kepada-Nya.
Tentang takhshish dan tabarriy,
kita akan teringat sebuah syair yang merupakan ungkapan hati seorang ‘alim: “Wahai
Tuhanku, tidaklah aku layak menjadi ahli surga. Tapi aku juga tidak akan
sanggup jika harus ke neraka.”(Imam Syafi’i pernah berkata semacam itu
menjelang wafatnya). Sebagian orang tidak menyukai munajat itu karena dianggap
permohonan yang plin-plan. Menurut mereka, seharusnya berdoa saja memohon surga
dan berlindung dari ‘adzab neraka. Alasan itu bisa diterima, dan memang kita
harus berdoa penuh keyakinan. Namun kita perlu memahami bahwa munajat itu
adalah buah tadabbur serta keseimbangan antara rasa khauf dan raja’.
Membacanya secara tartil (murattal)
Membaca Al-Qur’an disunnahkan
secara tartil, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat, tapi dengan irama
yang mengalir lembut sehingga ayat-ayat itu mengalir masuk ke dalam hati.
Bahkan jika perlu, kita melatih diri mengiramakan Al-Qur’an dengan baik hingga
irama itu mempengaruhi suasana emosi/perasaan kita saat membaca Al-Qur’an. Namun
perlu diingat, hendaknya kita tidak mengiramakan Al-Qur’an secara berlebihan
dan terlalu memaksakan diri dengan irama yang menyulitkan, seperti yang
dilakukan sebagian orang sehingga membuat orang lain terpesona dengan suaranya
yang merdu, bukan terhadap kandungan makna Al-Qur’an itu sendiri. Semoga Allah
senantiasa membimbing kita menuju keridhaan-Nya.
T4 : TATHBIQ
Seorang pembaca
Al-Qur’an dituntut untuk berperilaku sebagaimana yang Allah kehendaki dalam
Al-Qur’an. Keseharian dalam hidupnya adalah pencerminan dari ayat-ayat yang
dibacanya.
Memang
benar bahwa ash-habul Qur’an (orang-orang yang berinteraksi dengan
Al-Qur’an, selalu membacanya) akan mendapat pertolongan di hari kiamat dengan
Al-Qur’an itu. Namun jika seseorang membaca Al-Qur’an sementara apa yang ia
perbuat tidak sesuai dengan apa yang dibacanya atau ia tidak bersungguh-sungguh
berusaha mengamalkan apa yang dibacanya, maka dikhawatirkan ia telah memperolok-olok
firman Allah SWT – dengan kata lain ia telah berolok-olok kepada Allah – wana’uudzubillahi
min dzalik. Rasulullah SAW telah mengingatkan:
وَ
الْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ
“Dan
Al-Qur’an itu adalah hujjah bagimu (bukti yang akan menolongmu) atau hujjah
atasmu (bukti yang akan memberatkanmu).” (HR.
Ibnu Majah, An-Nasa’i, Ahmad)
Ketika
seseorang membaca Iyyaaka na’budu wa-iyyaaka nasta’iin, tapi setelah itu
masih juga mengagungkan sesembahan selain Allah, meminta tolong kepada dukun,
jin atau berdoa kepada ahli kubur, maka ayat dalam surat Al-Fatihah yang selalu
dibacanya itu adalah ayat yang akan menjadi bukti pemberat baginya di akhirat
kelak.
Jika
seseorang membaca surat Al-Hujurat bahkan menghafalnya, tapi setelah itu
lidahnya selalu berkata tidak baik dan berprasangka buruk kepada saudaranya,
membicarakan kekurangan orang lain di belakang mereka, suka mencela dan
mencari-cari aib orang lain, mengadu domba, tidak mendukung usaha ke arah
ishlah (perbaikan), juga tidak bersikap sopan dalam membicarakan Rasulullah,
dan sebagainya, maka surat Al-Hujurat yang dibacanya itu justru akan
memberatkannya di akhirat.
Dan
terlalu banyak contoh lainnya untuk disebutkan di sini. Intinya, hendaklah kita
meneladani para sahabat dan salafush shalih dalam interaksi mereka terhadap
Al-Qur’an. Para sahabat, seperti dituturkan Ibnu Mas’ud RA, ketika menerima
pelajaran dari Rasulullah SAW sepuluh ayat Al-Qur’an, maka mereka tidak beralih
kepada ayat-ayat yang lainnya hingga sepuluh ayat itu diamalkan.
T5 : TABLIGH
“Sampaikanlah
dariku walaupun hanya satu ayat.” Demikian arahan Rasulullah SAW. Ini adalah
keutamaan yang besar bagi seorang pembaca Al-Qur’an. Seseorang yang
menyampaikan Al-Qur’an kepada orang lain berarti ia berda’wah, mengajak manusia
untuk kembali ke jalan Allah. Dengan demikian, ia melakukan pekerjaan para nabi
dan rasul (menjadi pewarisnya).
Adapun
da’wah yang diemban para nabi dan rasul, menurut Said Hawwa meliputi tiga
aktivitas utama, yakni tadzkir, tazkiyah dan ta’lim.
Tadzkir adalah memberi peringatan kepada manusia bahwa mereka kelak akan
mempertanggungjawabkan kehidupannya kepada Allah pada Hari Kiamat untuk
kemudian menerima balasan sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah.
Kemudian
Tazkiyah, menyucikan jiwa. Seorang da’i perlu memiliki kemampuan memotivasi
umat untuk membersihkan jiwa dari penyakit-penyakit hati yang jauh lebih
berbahaya daripada penyakit fisik. Membaca Al-Qur’an dengan penuh tadabbur
serta usaha untuk mengamalkannya adalah bagian dari usaha tazkiyah yang
bisa dilakukan secara mandiri.
Berikutnya
Ta’lim adalah aktivitas mengajarkan, yakni mengajarkan manusia tentang jalan
yang semestinya mereka tempuh, apa yang harus dilakukan dan apa yang harus
ditinggalkan, mengajarkan kepada manusia tentang bagaimana beribadah kepada
Allah, bagaimana berinteraksi antarmanusia dan bagaimana memperbaiki kehidupan.
Mengajarkan Al-Qur’an dapat mencakup semua hal itu.
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ
وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik
orang
di antara kamu adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya kepada orang
lain.” (HR. Bukhori)
Dan,
seseorang yang menyampaikan Al-Qur’an kepada umat manusia adalah dia yang oleh
Allah An-Naafi’ dijadikan bermanfaat dengan Al-Qur’an yang telah diajarkan
Allah kepadanya.
اللَّهُمَّ
انْفَعْنَا وَارْفَعْنَا بِالْقُرْآنِ الْعَظِيمِ
“Ya Allah, jadikanlah kami bermanfaat
dan tinggikanlah derajat kami dengan Al-Qur’anul ‘Azhim.”
*****
Itulah Aset 5T yang patut diusahakan
setiap insan muslim dalam kehidupannya. Boleh jadi ada orang yang telah
mengumpulkan modal tersebut seluruhnya, ada yang baru 4T, 3T atau ada yang 1T
saja belum. Yang terpenting adalah niat dan tekad untuk selalu berusaha, karena
Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala bagi orang-orang yang berbuat kebaikan,
sekalipun usaha itu belum berhasil. Wallaahul Musta'aan, Wallaahu A'lam. []










