16 Oktober 2012
Kisah Hasan Al-Bashri dan Seorang Gadis Kecil
Sore itu Hasan al-Bashri sedang duduk-duduk di teras
rumahnya. Rupanya ia sedang bersantai makan angin. Tak lama setelah ia duduk
bersantai, lewat jenazah dengan iring-iringan pelayat di belakangnya. Di bawah
keranda jenazah yang sedang diusung berjalan gadis kecil sambil terisak-isak.
Rambutnya tampak kusut dan terurai, tak beraturan.
Al-Bashri tertarik penampilan gadis
kecil tadi. Ia turun dari rumahnya dan turut dalam iring-iringan. Ia berjalan
di belakang gadis kecil itu. Di antara tangisan gadis itu terdengar kata-kata
yang menggambarkan kesedihan hatinya. "Ayah, baru kali ini aku mengalami
peristiwa seperti ini." Hasan al-Bashri menyahut ucapan sang gadis kecil,
"Ayahmu juga sebelumnyatak mengalami peristiwa seperti ini."
Keesokan harinya, usai salat subuh,
ketika matahari menampakkan dirinya di ufuk timur, sebagaimana biasanya Al-Bashri
duduk di teras rumahnya. Sejurus kemudian, gadis kecil kemarin melintas ke arah
makan ayahnya. "Gadis kecil yang bijak," gumam Al-Bashri. "Aku
akan ikuti gadis kecil itu."
Gadis kecil itu tiba di makam
ayahnya. Al-Bashri bersembunyi di balik pohon, mengamati gerak-geriknya secara
diam-diam. Gadis kecil itu berjongkok di pinggir gundukan tanah makam. Ia
menempelkan pipinya ke atas gundukan tanah itu. Sejurus kemudian, ia meratap
dengan kata-kata yang terdengar sekali oleh Al-Bashri. "Ayah, bagaimana keadaanmu
tinggal sendirian dalam kubur yang gelap gulita tanpa pelita dan tanpa pelipur?
Ayah, kemarin malam kunyalakan lampu untukmu, semalam siapa yang menyalakannya
untukmu? Kemarin masih kubentangkan tikar, kini siapa yang melakukannya, Ayah?
Kemarin malam aku masih memijat kaki dan tanganmu, siapa yang memijatmu
semalam, Ayah? Kemarin aku yang memberimu minum, siapa yang memberimu minum
tadi malam?
Kemarin malam aku membalikkan badanmu
dari sisi yang satu ke sisi yang lain agar engkau merasa nyaman, siapa yang
melakukannya untukmu semalam, Ayah?" "Kemarin malam aku yang
menyelimuti engkau, siapakah yang menyelimuti engkau semalam, ayah? Ayah,
kemarin malam kuperhatikan wajahmu, siapakah yang memperhatikan tadi malam
Ayah? Kemarin malam kau memanggilku dan aku menyahut penggilanmu, lantas siapa
yang menjawab panggilanmu tadi malam Ayah? Kemarin aku suapi engkau saat kau
ingin makan, siapakah yang menyuapimu semalam, Ayah? kemarin malam aku
memasakkan aneka macam makanan untukmu Ayah, tadi malam siapa yang memasakkanmu?"
Mendengar rintihan gadis kecil itu,
Hasan al-Bashri tak tahan menahan tangisnya. Keluarlah ia dari tempat
persembunyiannya, lalu menyambut kata-kata gadis kecil itu. "Hai, gadis
kecil! jangan berkata seperti itu. Tetapi, ucapkanlah, "Ayah, kuhadapkan
engkau ke arah kiblat, apakah kau masih seperti itu atau telah berubah, Ayah?
Kami kafani engkau dengan kafan yang
terbaik, masih utuhkan kain kafan itu, atau telah tercabik-cabik, Ayah?
Kuletakkan engkau di dalam kubur dengan badan yang utuh, apakah masih demikian,
atau cacing tanah telah menyantapmu, Ayah?"
"Ulama mengatakan bahwa hamba
yang mati ditanyakan imannya. Ada yang menjawab dan ada juga yang tidak
menjawab. Bagaimana dengan engkau, Ayah? Apakah engkau bisa
mempertanggungjawabkan imanmu, Ayah? Ataukah, engkau tidak berdaya?"
"Ulama mengatakan bahwa mereka
yang mati akan diganti kain kafannya dengan kain kafan dari sorga atau dari
neraka. Engkau mendapat kain kafan dari mana, Ayah?"
"Ulama mengatakan bahwa kubur
sebagai taman sorga atau jurang menuju neraka. Kubur kadang membelai orang mati
seperti kasih ibu, atau terkadang menghimpitnya sebagai tulang-belulang
berserakan. Apakah engkau dibelai atau dimarahi, Ayah?"
"Ayah, kata ulama, orang yang
dikebumikan menyesal mengapa tidak memperbanyak amal baik. Orang yang ingkar
menyesal dengan tumpukan maksiatnya. Apakah engkau menyesal karena kejelekanmu
ataukah karena amal baikmu yang sedikit, Ayah?"
"Jika kupanggil, engkau selalu
menyahut. Kini aku memanggilmu di atas gundukan kuburmu, lalu mengapa aku tak
bisa mendengar sahutanmu, Ayah?" "Ayah, engkau sudah tiada. Aku sudah
tidak bisa menemuimu lagi hingga hari kiamat nanti. Wahai Allah, janganlah Kau
rintangi pertemuanku dengan ayahku di akhirat nanti."
Gadis kecil itu menengok kepada Hasan
al-Bashri seraya berkata, "Betapa indah ratapanmu kepada ayahku. Betapa
baik bimbingan yang telah kuterima. Engkau ingatkan aku dari lelap lalai."
Kemudian, Hasan al-Bashri dan gadis
kecil itu meninggalkan makam. Mereka pulang sembari berderai tangis.
Maraji': Mutiara Hikmah dalam 1001
Kisah (Al-Islam)
14 Oktober 2012
Solusi Gundah Gulana (Galau) dan Kesedihan Menurut Sunnah
علاج الهم والحزن في السنة .. بالقرآن !!
قال النبي ﷺ "ما أصاب عبدا هم ولا حزن فقال: اللهم إني عبدك ابن عبدك ابن أمتك ناصيتي بيدك، ماض في حكمك، عدل في قضاؤك أسألك بكل اسم هو لك سميت به نفسك أو أنزلته في كتابك، أو علمته أحدا من خلقك أو استأثرت به في علم الغيب عندك أن تجعل القرآن ربيع قلبي، ونور صدري وجلاء حزني وذهاب همي، إلا أذهب الله حزنه وهمه وأبدله مكانه فرحا".
رواه أحمد وصححه الألباني
Nabi
shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang hamba ditimpa gundah gulana dan kesedihan lalu
mengucapkan: [Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba lelaki-Mu, dan anak dari hamba
perempuan-Mu. Ubun-ubunku berada di tangan-Mu, berlaku pada diriku segala
keputusan-Mu, dan sangat adil segala ketetapan-Mu terhadapku. Aku memohon dengan seluruh nama yang Engkau sebutkan untuk diri-Mu, atau yang
Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan pada salah seorang hamba-Mu, atau yang Engkau
sembunyikan pada ilmu yang ghaib di sisi-Mu, hendaklah Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai musim semi (taman bunga) di hatiku, cahaya di
dadaku, penghapus kesedihan serta pelipur laraku], kecuali Allah
SWT pasti menghilangkan duka laranya, serta mengganti kesedihannya dengan
kegembiraan”.
(HR. Ahmad, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani).
Teks Arab (hadits) disalin dari: http://www.twitlonger.com/show/jl1get oleh Syaikh Misyari Al-'Afasy
11 Oktober 2012
Kisah "Keimanan" Kaisar Romawi (Bag.2)
Surat Rasulullah SAW untuk Heraclius
Setelah Heraclius berdialog dengan Abu Sufyan bin Harb, dengan penutup dialog yang cukup mengejutkan (di mana Heraclius menyatakan bahwa ia ingin menemui Rasulullah untuk membasuh kedua kaki beliau), maka Heraclius kemudian meminta surat Rasulullah SAW yang dibawa oleh Dihyah untuk para penguasa negeri Bashrah, lalu diberikan surat itu kepada Heraclius dan dibacanya.
Isi surat tersebut adalah:
Bismillahirrahmanirrahim. Dari Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya, untuk Heraclius, penguasa Romawi. Keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk. Kemudian daripada itu, aku mengajakmu dengan seruan Islam. Masuk Islamlah kamu, maka kamu akan selamat, Allah akan memberi pahala kepadamu dua kali. Namun jika kamu berpaling, maka kamu menanggung dosa rakyatmu, dan: "Wahai Ahli Kitab, mari berpegang kepada suatu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian, bahwa kita tidak beribadah kecuali kepada Allah dan janganlah kita mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun, dan tidak pula kita sebagian kita menjadikan sebagian lainnya sebagai tuhan selain Allah." Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri kepada Allah."
Abu Sufyan menuturkan: Setelah Heraclius menyampaikan apa yang dikatakannya dan selesai membaca surat tersebut, terjadilah hiruk-pikuk dan suara-suara ribut, hingga mereka mengusir kami. Aku berkata kepada teman-temanku setelah kami diusir keluar: "Sungguh ia telah diajak kepada urusan anak Abu Kabsyah (Nabi Muhammad SAW), Heraclius takut kepadanya (mengkhawatirkan kerajaan Romawi)." Pada masa itupun aku juga khawatir kalau-kalau Muhammad akan berjaya, sampai akhirnya (kekhawatiran itu hilang setelah) Allah memasukkan aku ke dalam Islam.
Kisah Unik tentang Sikap Heraclius Perihal Kenabian Muhammad SAW
Selanjutnya kata Ibnu An-Nazhur, "Heraclius adalah seorang ahli nujum (astrolog) yang selalu memperhatikan peredaran bintang-bintang. Dia pernah menjawab pertanyaan para pendeta yang bertanya kepadanya; "Pada suatu malam ketika aku mengamati perjalanan bintang-bintang, aku melihat raja Khitan telah lahir, siapakah di antara umat ini yang di-khitan?" Jawab para pendeta: "Yang berkhitan hanyalah orang-orang Yahudi, janganlah anda risau tentang orang-orang Yahudi itu. Perintahkan saja ke seluruh negeri di dalam kerajaan anda agar orang-orang Yahudi di negeri-negeri tersebut dibunuh."
Ketika itu dihadapkan kepada Heraclius seorang utusan raja Bani Ghassan untuk menceritakan perihal Rasulullah SAW. Setelah orang itu selesai bercerita, lalu Heraclius memerintahkan agar dia diperiksa, apakah dia berkhitan atau tidak. Seusai diperiksa, ternyata memang dia berkhitan, lalu diberitahukan kepada Heraclius. Heraclius bertanya kepada orang tersebut apakah orang-orang Arab yang lainnya dikhitan atau tidak. Dia menjawab, "Orang Arab itu dikhitan semuanya." Heraclius berkata, "Inilah raja umat, sesungguhnya dia telah lahir."
Kemudian Heraklius berkirim surat kepada seorang sahabatnya di Roma yang ilmunya setaraf dengannya (untuk menceritakan perihal kelahiran Nabi Muhammad SAW). Sementara itu, ia meneruskan perjalanannya ke negeri Himsha, tetapi sebelum tiba di Himsha, balasan surat dari sahabatnya itu sudah sampai lebih dulu. Sahabatnya menyetujui pendapat Heraclius bahwa Muhammad telah lahir dan bahwa beliau memang seorang nabi. Heraklius kemudian mengundang para pembesar Romawi untuk datang ke tempatnya di Himsha. Setelah semuanya hadir di majelisnya, Heraclius memerintahkan agar semua pintu dikunci. Kemudian dia berkata, "Wahai bangsa Romawi, maukah kalian semua meraih kemenangan dan kemajuan yang gemilang sementara kerajaan tetap utuh di tangan kita? Kalau kalian mau, akuilah Muhammad sebagai Nabi!". Mendengar ucapan itu, mereka lari bagaikan keledai liar, padahal semua pintu telah terkunci.
Melihat keadaan yang demikian, Heraclius menjadi hilang harapan bahwa mereka akan beriman (percaya akan kenabian Muhammad SAW). Lalu diperintahkannya semua untuk kembali ke tempatnya masing-masing seraya berkata, "Sesungguhnya aku mengatakan perkataan tadi sekedar untuk menguji keteguhan hati kalian semua. Kini aku telah melihat keteguhan itu." Lalu mereka sujud di hadapan Heraclius dan mereka senang kepadanya. Demikianlah akhir kisah "keimanan" Heraclius kepada Muhammad SAW dan risalahnya.
(Telah diriwayatkan oleh Shalih bin Kaisan dan Yunus dan Ma'mar dari Az-Zuhri)
02 Oktober 2012
Kisah "Keimanan" Kaisar Romawi (Bag.1)
Imam Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman Al Hakam bin Nafi', dia berkata: telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhri: telah mengabarkan kepadaku Ubaidullah bin Abdullah bin 'Utbah bin Mas'ud, bahwa Abdullah bin Abbas telah mengabarkan kepadanya bahwa Abu Sufyan bin Harb telah mengabarkan kepadanya, bahwa Heraclius (Kaisar Romawi) menerima rombongan dagang Quraisy yang sedang mengadakan ekspedisi dagang ke Negeri Syam pada saat berlakunya perjanjian antara Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan Abu Sufyan (sebelum masuk Islam) dan orang-orang kafir Quraisy.
Saat singgah di Iliya' (Yerussalem atau Al-Quds), mereka menemui Heraclius atas undangannya untuk diajak berdialog di majelisnya, yang saat itu Heraklius bersama dengan para pembesar Negeri Romawi. Heraklius berbicara dengan mereka (rombongan Abu Sufyan) melalui penerjemah. Heraclius berkata, "Siapa di antara kalian yang paling dekat hubungan nasabnya dengan orang yang mengaku nabi itu?" Abu Sufyan berkata: Maka aku menjawab, "Akulah yang paling dekat hubungan kekeluargaannya dengan dia (Muhammad)." Heraclius berkata, "Dekatkanlah dia (Abu Sufyan) denganku dan juga sahabat-sahabatnya."
Maka mereka (orang-orang Romawi) menempatkan orang-orang Quraisy berada di belakang Abu Sufyan. Lalu Heraclius berkata melalui penerjemahnya, "Katakan kepadanya bahwa aku bertanya tentang lelaki yang mengaku sebagai nabi itu. Jika dia (Abu Sufyan) berdusta kepadaku, maka kalian (rombongan Quraisy) harus mendustakannya." Abu Sufyan berkata, "Demi Allah, kalau bukan rasa malu akibat tudingan pendusta yang akan mereka lontarkan kepadaku, niscaya aku berdusta kepadanya."
Dialog Heraclius dan Abu Sufyan
Heraclius (HC) : Bagaimana kedudukan nasabnya di tengah-tengah kalian?Abu Sufyan (AS) : Dia dari keturunan terhormat.
HC : "Apakah ada orang lain yang pernah mengatakan hal ini sebelum dia?"
AS : "Tidak ada"
HC : "Apakah ada di antara nenek moyangnya yang seorang raja?"
AS : "Bukan."
HC : "Apakah yang mengikutinya orang-orang terpandang ataukah orang-orang rendahan?"
AS : "Bahkan kebanyakan orang-orang rendahan yang mengikutinya."
HC : "Apakah pengikutnya bertambah ataukah berkurang?"
AS : "Bertambah."
HC : "Adakah yang keluar dari agamanya disebabkan marah terhadap agamanya?"
AS : "Tidak ada."
HC : "Apakah kalian pernah mendapatinya berdusta sebelum dia menyampaikan apa yang dia katakan itu?"
AS : "Tidak pernah."
HC : "Apakah dia pernah berbuat curang?"
AS : "Tidak pernah. Selama kami bergaul dengannya, dia tak pernah melakukan itu."
Abu Sufyan berkata, "Aku tidak mungkin mengatakan selain ucapan seperti ini."
HC : "Apakah kalian berperang melawannya?"
AS : "Ya."
HC : "Bagaimana kesudahan perang tersebut?"
AS : "Perang di antara kami dan dia sangat banyak. Terkadang dia mengalahkan kami dan terkadang kami yang mengalahkannya."
HC : "Apa yang dia perintahkan kepada kalian?"
AS : "Dia menyuruh kami: Sembahlah Allah dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan tinggalkanlah ajaran nenek moyang kalian. Dia juga memerintahkan kami untuk mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, berkata jujur, saling memaafkan dan menyambung silaturrahim."
Pengakuan Heraclius atas Kenabian Muhammad SAW
Heraclius berkata kepada Abu Sufyan melalui penerjemahnya: "Katakan kepadanya (Abu Sufyan) bahwa aku telah bertanya kepadamu tentang nasab orang itu dan kamu katakan bahwa dia dari keturunan terhormat di antara kaumnya, demikianlah para rasul diutus dari keturunan terhormat di tengah kaumnya. Dan aku tanya kepadamu apakah pernah ada orang yang sebelumnya mengatakan seperti yang dia katakan, kamu jawab tidak. Seandainya kau jawab ada, tentu kuanggap orang ini hanya meniru perkataan orang yang sebelumnya. Aku tanyakan juga kepadamu apakah ada di antara orang tuanya yang keturunan raja, maka kamu jawab tidak. Seandainya bapaknya dari keturunan raja, maka orang ini sedang menuntut kerajaan nenek moyangnya.Dan aku tanyakan juga kepadamu pernahkah kalian dapati dia berdusta sebelum dia menyampaikan perkataannya, kamu menjawabnya tidak. Sungguh aku memahami, kalau kepada manusia saja dia tak berani berdusta, apalagi kepada Allah. Dan aku juga bertanya kepadamu apakah pengikutnya orang-orang kuat ataukah orang-orang lemah, kamu jawab kebanyakan orang-orang lemah yang mengikutinya. Memang mereka itulah yang menjadi pengikut para rasul. Aku pun bertanya kepadamu apakah pengikutnya bertambah ataukah berkurang dan kamu menjawabnya bertambah. Memang begitulah perkara iman hingga menjadi sempurna. Aku juga bertanya kepadamu apakah ada yang murtad karena marah terhadap agamanya, kamu menjawab tidak ada. Memang demikianlah iman bila telah masuk tumbuh bersemi di hati. Aku juga telah bertanya kepadamu apakah pernah dia berbuat curang, kamu bilang tidak pernah. Dan memang begitulah para rasul tidak mungkin berlaku curang.
Lalu aku bertanya kepadamu apa yang dia perintahkan kepada kalian, kamu jawab dia memerintahkan kalian untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, melarang kalian menyembah berhala, juga memerintahkan kalian mendirikan shalat dan menunaikan zakat, berkata jujur, saling memaafkan dan menyambung silaturrahim.
Seandainya semua yang kamu katakan ini benar, niscaya dia akan menguasai kerajaan yang ada di bawah kakiku ini. Sungguh aku telah menduga bahwa dia tidak ada di antara kalian saat ini. Seandainya aku tahu jalan untuk bisa menemuinya, tentu aku akan berusaha keras menemuinya hingga jika sudah berada di sisinya pasti akan aku basuh kedua kakinya."
(bersambung)













