Belajar, Berbagi, Melayani

06 Oktober 2013

Menyelaraskan Keinginan Diri dengan Kehendak Ilahi




ارادتك التجريد مع اقامة الله اياك في الاسباب من الشهوة الخفية، وارادتك الاسباب مع اقامة الله اياك في التجريد انحطاط عن الهمة العلية.

Keinginanmu untuk lepas dari urusan duniawi padahal Allah membekalimu dengan sarana penghidupan, adalah syahwat yang samar. Sedangkan keinginanmu untuk mendapatkan sarana penghidupan padahal Allah telah melepaskanmu dari urusan duniawi, adalah suatu kemunduran dari cita-cita yang tinggi.
[Ibnu Athoillah, Al Hikam 002]


Luar biasa kalimat di atas, bisa dimengerti tapi sulit dijelaskan. Pada intinya, kita semestinya bersyukur dan ridho dengan kondisi dan kedudukan di mana Allah menempatkan kita, termasuk bersyukur dengan kondisi sarana penghidupan kita saat ini.

Jika Allah memposisikan kita sebagai pengusaha atau pekerja yang tugasnya mencari penghidupan dan dengan itu kita menjadi bermanfaat, maka tidak selayaknya kita meninggalkan kehidupan itu untuk menjadi ahli ibadah saja.

Sebaliknya, jika Allah telah menempatkan kita sebagai seorang ahli ibadah, pencari ilmu dan orang yang senantiasa disibukkan dengan urusan dakwah dan perjuangan, yang dengan itu sarana penghidupan kita menjadi tidak pasti namun tetap terjamin seiring keyakinan kepada Allah, maka meninggalkan kehidupan itu demi mencari sarana penghidupan yang pasti adalah suatu kemunduran dan penurunan cita-cita yang luhur.

Singkatnya, setiap orang terlahir ke dunia ini membawa tugasnya masing-masing yang berbeda satu sama lain. Dan kita harus merenungkan lagi dan lagi tentang misi hidup kita serta peran yang Allah inginkan untuk kita. Misi hidup tak perlu lagi dirumuskan karena Allah sudah menetapkannya untuk kita: ibadah. Namun peran kita untuk memaksimalkan ibadah itulah yang perlu kita temukan dalam perenungan panjang: "Sebenarnya Allah menginginkan saya untuk menjadi apa?".

Ukurannya adalah kenyamanan kita dengan peran yang sedang dijalani. Namun maksud kenyamanan di sini bukanlah kenyamanan dalam arti bermalas-malasan atau memanjakan hawa nafsu. Dan bukan juga kenyamanan dalam arti melakukan peran tanpa mau mengambil resiko. Kenyamanan di sini lebih diartikan dengan kesesuaian "panggilan jiwa", sesuatu yang benar-benar menggambarkan apa yang ingin kita lakukan dan tak ada beban atau tekanan perasaan dalam menjalaninya. Sekali lagi, semua ini memerlukan pemikiran dan perenungan yang mendalam. Wallahu a'lam. []
Share:

0 comments:

Posting Komentar

Kenapa Kita Mudah Kecewa?

"Kenapa kita mudah kecewa kepada orang lain?" Mungkin pertanyaan di atas sesuai dengan keadaan diri kita. Atau boleh j...