04 November 2013

Motivasi Qur'ani-1: Pendahuluan

Di antara kewajiban Anda terhadap Al-Qur'anul Karim ialah kita membaca dan menjadikannya sebagai bacaan harian. Namun tak sekedar membaca, melainkan Anda membacanya dengan bacaan yang benar menurut kaidah ilmu tajwid.
Omong-omong soal kewajiban “berakhlak” terhadap Al-Qur’an, kita saksikan Kaum Muslimin terbagi menjadi beberapa golongan.
Pertama, orang-orang yang sama sekali jauh dari Al-Qur’an. Jangankan untuk membaca dan mempelajarinya, menyentuhnya saja mungkin bisa dihitung dengan jari dalam seumur hidup mereka. Kita berdoa semoga Allah melimpahkan hidayah kepada kita dan mereka.
Kedua, mereka yang menjadikan Al-Qur’an sebagai ritual belaka. Di antara mereka ada yang amat berfokus mempelajari ilmu tilawah, melagukan serta melombakannya. Namun kebanyakan mereka terhenti pada aktivitas itu dan tidak memenuhi kewajibannya lebih lanjut. Ada kalangan yang begitu mengagungkan dan menyucikan fisik Al-Qur’an (mushhaf dan tulisannya), namun perilaku mereka tidak sejalan dengan nilai Al-Qur’an. Kita berlindung kepada Allah semoga tidak termasuk yang demikian. Sebab, boleh jadi kalangan semacam ini seperti yang disifati oleh Rasulullah SAW, “Suara mereka tidak dapat melewati tenggorokan mereka (tidak meresap dalam hati). Hati mereka dan orang-orang yang simpati kepada mereka telah terfitnah (keluar dari jalan yang lurus).” (Shahih Bukhari 4670; Musnad Ahmad 11150; Muwatha Imam Malik 428)
Ketiga, ada pula orang-orang yang menyikapi Al-Qur’an hanya dengan memahami dan mengamalkannya (menurut perkiraan mereka). Mereka tidak banyak membaca Al-Qur’an dan kurang memperhatikan kualitas bacaannya. Di antara mereka ada yang berkata, “Membaca Al-Qur’an itu tidak terlalu penting, yang penting adalah aplikasinya.”
Ketiga  kelompok tersebut semuanya merupakan kalangan yang tidak utuh dalam interaksinya dengan Al-Qur’an. Penyebab utamanya adalah dua hal: (1) Tidak diterimanya ilmu yang cukup tentang Al-Qur’an serta tuntutan iman terhadapnya; (2) Dominasi kerja akal yang hanya menikmati buah pikiran manusia. Yang pertama kita sebut penyakit syubhat, biasanya menimpa orang-orang awam yang kurang mendapatkan akses informasi dan pendidikan keislaman yang utuh sehingga mereka hanya mengikuti tradisi agama di lingkungannya. Dan yang kedua penyakit syahwat, biasanya menimpa orang-orang berpendidikan modern, termasuk di antaranya sebagian intelektual dan para aktivis muslim.
Motivasi Qur’ani merupakan sarana yang tepat dalam rangka mengobati kedua penyakit tersebut serta sangat sesuai diterapkan pada dua kalangan tersebut, yakni masyarakat umum dan kaum intelektual. Semoga hadirnya tulisan ini turut membantu menumbuhkembangkan dan meningkatkan keber-Al-Qur’an-an umat sehingga mereka termasuk dalam kelompok keempat, yakni orang-orang yang berusaha memenuhi kewajiban interaksinya terhadap Al-Qur’an secara sempurna. Amin. []
Share:

0 comments:

Posting Komentar

Kenapa Kita Mudah Kecewa?

"Kenapa kita mudah kecewa kepada orang lain?" Mungkin pertanyaan di atas sesuai dengan keadaan diri kita. Atau boleh j...