Omong-omong soal kewajiban “berakhlak” terhadap
Al-Qur’an, kita saksikan Kaum Muslimin terbagi menjadi beberapa golongan.
Pertama, orang-orang yang sama sekali jauh dari Al-Qur’an. Jangankan untuk membaca
dan mempelajarinya, menyentuhnya saja mungkin bisa dihitung dengan jari dalam
seumur hidup mereka. Kita berdoa semoga Allah melimpahkan hidayah kepada kita dan
mereka.
Kedua, mereka yang menjadikan Al-Qur’an sebagai ritual belaka. Di antara
mereka ada yang amat berfokus mempelajari ilmu tilawah, melagukan serta
melombakannya. Namun kebanyakan mereka terhenti pada aktivitas itu dan tidak
memenuhi kewajibannya lebih lanjut. Ada kalangan yang begitu mengagungkan dan
menyucikan fisik Al-Qur’an (mushhaf
dan tulisannya), namun perilaku mereka tidak sejalan dengan nilai Al-Qur’an. Kita
berlindung kepada Allah semoga tidak termasuk yang demikian. Sebab, boleh jadi kalangan
semacam ini seperti yang disifati oleh Rasulullah SAW, “Suara mereka tidak dapat
melewati tenggorokan mereka (tidak meresap dalam hati). Hati mereka dan
orang-orang yang simpati kepada mereka telah terfitnah (keluar dari jalan yang
lurus).” (Shahih
Bukhari 4670; Musnad Ahmad 11150; Muwatha Imam Malik 428)
Ketiga, ada pula orang-orang yang menyikapi Al-Qur’an hanya dengan memahami
dan mengamalkannya (menurut perkiraan mereka). Mereka tidak banyak membaca
Al-Qur’an dan kurang memperhatikan kualitas bacaannya. Di antara mereka ada
yang berkata, “Membaca Al-Qur’an itu tidak terlalu penting, yang penting adalah
aplikasinya.”
Ketiga kelompok
tersebut semuanya merupakan kalangan yang tidak utuh dalam interaksinya dengan
Al-Qur’an. Penyebab utamanya adalah dua hal: (1) Tidak diterimanya ilmu yang
cukup tentang Al-Qur’an serta tuntutan iman terhadapnya; (2) Dominasi kerja
akal yang hanya menikmati buah pikiran manusia. Yang pertama kita sebut penyakit syubhat, biasanya menimpa
orang-orang awam yang kurang mendapatkan akses informasi dan pendidikan keislaman
yang utuh sehingga mereka hanya mengikuti tradisi agama di lingkungannya. Dan yang
kedua penyakit syahwat, biasanya
menimpa orang-orang berpendidikan modern, termasuk di antaranya sebagian intelektual
dan para aktivis muslim.
Motivasi Qur’ani merupakan sarana yang tepat dalam rangka mengobati
kedua penyakit tersebut serta sangat sesuai diterapkan pada dua kalangan
tersebut, yakni masyarakat umum dan kaum intelektual. Semoga hadirnya tulisan
ini turut membantu menumbuhkembangkan dan meningkatkan keber-Al-Qur’an-an umat sehingga
mereka termasuk dalam kelompok keempat, yakni orang-orang yang
berusaha memenuhi kewajiban interaksinya terhadap Al-Qur’an secara sempurna.
Amin. []





0 comments:
Posting Komentar