31 Desember 2015
Perjalanan Hidup: Pendakian Menuju Kematangan
Hidup ini adalah perjalanan. Setidaknya itulah yang kita pahami jika kita bicara masalah usia, waktu, atau proses hidup itu sendiri. Kalimat innaa lillaahi wainnaa ilaihi raaji’uun adalah isyarat bahwa hidup ini adalah perjalanan. Bahwa kita punya asal-usul yang akan menjadi tempat kembali. Kita ini milik Allah dan kita akan berpulang kepada-Nya. Adanya perbedaan antara past time (masa lalu), present time (masa kini), dan future time (masa depan) juga menunjukkan isyarat adanya perjalanan. Bahwa kita berada pada satu titik (masa kini), berasal dari masa lalu dan akan menuju ke masa depan.
Masa lalu kita di dunia adalah ketiadaan, kemudian kita ada, lalu menjadi tiada lagi. Keberadaan kita di dunia ini bermula dari titik kelahiran dan berakhir pada titik kematian. Di antara kedua titik itu terdapat fase-fase kehidupan yang secara umum bergerak dari keadaan lemah, menjadi kuat, kemudian menjadi lemah kembali. Fase-fase itu adalah masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa, dan masa tua.
Jika titik-titik itu kita hubungkan, maka tergambarlah sebuah garis yang merupakan garis perjalanan hidup (journey of life). Setiap ruas garis tersebut menggambarkan episode tertentu yang masing-masing memiliki karakter yang berbeda. Tidak semua orang mengalami seluruh episode itu karena kematian tidak harus menunggu masa tua. Ada death probabilities, kemungkinan-kemungkinan terjadinya kematian kapan saja.
Saya pernah membaca sebuah artikel yang ditulis oleh seorang seniman. Dalam artikel itu, dia bercerita tentang kisah kehidupan, bahwa hidup hanyalah untuk menunggu kematian. Setiap orang, siapapun dia dan apapun aktivitasnya, adalah camat (calon mati). Yang saya heran, dia menyajikan artikel itu sebagai guyonan alias lawakan belaka. Ini adalah hal yang aneh tapi nyata, mengherankan tapi banyak terjadi. Dewasa ini orang dengan gampang bicara soal kematian tapi tak ada kesan ‘takut’ sedikit pun. Dan kita pun telah banyak mendengar kata ‘surga’ dan ‘neraka’ tapi mungkin sedikit sekali kita terkesan akan maknanya.
Pelajaran yang dapat diambil dari kasus itu adalah fenomena kelupaan insani atau kita sebut saja fenomena kelalaian massal. Banyak orang yang lupa bahwa hidup adalah sebuah perjalanan. Ketika seseorang berada pada masa muda, dia tak mau memikirkan masa tuanya dengan baik. Bahkan sangat mungkin dia tak pernah menginginkan masa tua itu. Banyak juga orang yang usianya terus bertambah tapi kelakuannya tak mencerminkan orang yang ingat akan kematian – dan kematian datang tanpa pandang usia. Banyak orang yang kedewasaannya tidak sejalan dengan bertambahnya usia. Bilangan usianya bertambah, tapi mereka terus saja dalam keadaan lalai akan kematian sehingga tak pernah mau mempersiapkannya.
Harusnya, semakin dewasa (usia) seseorang, semakin lama hidup ini dijalaninya, dia melakukan perjalanan mendaki. Dia semakin ke atas, kualitasnya semakin baik. Dalam aspek keimanan dia semakin berkualitas. Dalam aspek mental spiritual, dia semakin matang. Boleh jadi dalam aspek finansial, dia pun semakin matang. Memang ada saja fluktuasi, terkadang naik dan terkadang turun. Tapi dengan kesadaran untuk bergerak ke atas menuju kemuliaan, dia segera naik kembali. Dia akan bertaubat dan melakukan koreksi atas kesalahannya. Dia akan bangkit lagi bila mengalami kegagalan, dan seterusnya hingga ajalnya tiba. Tiada waktu yang tersisa kecuali untuk perbaikan diri menuju Allah tercinta. []
23 November 2015
Motivasi Qurani-5: Target Ber-Al-Qur'an
Apa Target yang Akan Anda Raih dalam Berinteraksi dengan Al-Qur’an?
Target yang ingin dicapai dengan ber-Al-Qur’an adalah meraih cahaya dan hidayah Allah SWT dalam hidup kita sehingga kita selamat dunia dan akhirat. Memang hidayah itu adalah urusan Allah, namun unsur kemauan dari masing-masing kita juga berperan penting di sini. Allah tidak akan merubah kita pada kebaikan jika kita tidak punya niat dan berusaha ke arah kebaikan itu. Maka usaha-usaha yang kita lakukan adalah dalam rangka menjadikan diri kita layak mendapatkan cahaya dan hidayah dari Allah SWT.
Ilustrasi berikut ini insya Allah memahamkan akan rasa kebutuhan kita akan quranic reading habit yang harus terus meningkat kualitasnya. Kita akan tahu dan memahami apa itu ghaflah dan bahayanya bagi kita, serta langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk terlepas dari jeratnya. Inilah spiritual reading, pencerahan spiritual yang bisa kita raih dengan tilawah Al-Qur’an.
Orang-orang yang lalai (dalam keadaaan ghaflah) adalah mereka yang meninggalkan Al-Qur’an dengan tidak mau membacanya. Dan karena itulah mereka berada dalam wilayah pertemanan dengan syaitan, artinya syaitan menjadi teman dekat mereka. Bisa kita bayangkan bagaimana keadaan orang-orang yang bertemankan syaitan ini, tentu bisikan hati atau lintasan pikiran yang muncul di benaknya selalu saja berasal dari syaitan. Dan secara tak sadar, karena mereka lalai, mereka sedang digiring oleh syaitan untuk menemaninya di dalam neraka.
Dalam tataran kewajiban (baca: kebutuhan) manusia terhadap Al-Qur’an, maka kelalaian itu ditunjukkan dengan keengganan untuk membacanya. Bahkan, orang-orang yang dikatakan meninggalkan Al-Qur’an termasuk juga orang-orang yang tidak mau memahami dan mengamalkannya walaupun mereka sudah membacanya. Boleh jadi termasuk juga orang-orang yang membaca namun tidak merasakan getaran keimanan dari pembacaan itu. Sebab, ciri-ciri orang beriman menurut Surat Al-Anfaal ayat ke-2 adalah “Apabila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah keimanan mereka, dan kepada Tuhan merekalah mereka berserah diri.”
Karenanya membaca Al-Qur’an tidak bisa dilakukan sekedarnya, kita tidak boleh berpuas diri dengan kualitas bacaan yang begitu-begitu saja. Tangga-tangga pada gambar di atas adalah panduan bagi kita untuk terus meningkat dalam kualitas membaca dan bahkan dapat membantu kita berinteraksi dengan Al-Qur’an seutuhnya.[]
07 April 2015
Menjadi Insan Terbaik
Setiap orang mendambakan menjadi yang terbaik. Sebagai seorang muslim, orientasi hidup untuk menjadi yang terbaik bukanlah dinilai dari ukuran manusia semata, tetapi karena ridha Allah Ta’ala. Inilah cara mudah menjadi orang terbaik dalam konsep Islam.
1. Komitmen Melunasi Hutang
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عن رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أنه فَقَالَ « خَيْرُكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً » متفق عليه
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutang.” Muttafaqun ‘alaih
2. Belajar dan Mengajarkan Al-Qur'an
عَنْ عُثْمَانَ – رضى الله عنه- عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ» رواه البخاري
Dari 'Ustman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur'an dan mengajarkannya.” Hadits riwayat Bukhari.
3. Dirindukan Kebaikannya dan Jauh dari Keburukannya
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَقَفَ عَلَى أُنَاسٍ جُلُوسٍ فَقَالَ « أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِكُمْ مِنْ شَرِّكُمْ ». قَالَ فَسَكَتُوا فَقَالَ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ فَقَالَ رَجُلٌ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنَا بِخَيْرِنَا مِنْ شَرِّنَا. قَالَ « خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ …» رواه الترمذى
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di hadapan beberapa orang, lalu bersabda: “Maukah kalian aku beritahukan sebaik-baik dan seburuk-buruk orang dari kalian?” Mereka terdiam, dan Nabi bertanya seperti itu tiga kali, lalu ada seorang yang berkata: “Iya, kami mau wahai Rasulullah, beritahukanlah kepada kami sebaik-baik dan buruk-buruk kami,” beliau bersabda: “Sebaik-sebaik kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya, sedangkan keburukannya terjaga…” Hadits riwayat Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ (no. 2603)
4. Suami yang Paling Baik
عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى. رواه الترمذى
ari 'Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Rasulullah shallallau ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah (suami) yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” Hadits riwayat Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Ash Shahihah (no. 285).
5. Yang paling baik akhlaqnya dan menuntut ilmu
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «خَيْرُكُمْ إِسْلاَماً أَحَاسِنُكُمْ أَخْلاَقاً إِذَا فَقِهُوا» رواه أحمد
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian islamnya adalah yang paling baik akhlaq jika mereka menuntut ilmu.” Hadits riwayat Ahmad dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ (no. 3312)
6. Yang memberikan makanan
عَنْ حَمْزَةَ بْنِ صُهَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ رضي الله عنه قَالَ: فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «خَيْرُكُمْ مَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ» رواه أحمد
Artinya: “Hamzah bin Shuhaib meriwayatkan dari bapaknya radhiyallahu ‘anhu yang berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang memberikan makanan.” Hadits riwayat Ahmad dan dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ (no. 3318)
7. Yang panjang umur dan baik perbuatannya
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ رضي الله عنه أَنَّ أَعْرَابِيًّا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ خَيْرُ النَّاسِ قَالَ «مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ» رواه الترمذى
Artinya: “Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa ada seorang Arab Badui berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rasulullah, siapakah sebaik-baik manusia?” beliau menjawab: “Siapa yang paling panjang umurnya dan baik amalannya.” Hadits riwayat Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahihut Targhib wat Tarhib (no. 3363).
8. Yang paling bermanfaat bagi manusia
عَنِ جابر، رَضِيَ الله عَنْهُمَا، قَالَ : قال رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم: خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Artinya: “Jabir radhiyallau ‘anhuma bercerita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” Hadits dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ (no. 3289).
(sumber: muslim.or.id)
Agama Adalah Nasihat
عن أبي تميم بن أوس الـداري رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال " الدين النصيحة قلنا لمن ؟ قال : لله ولرسوله وللأئمة المسلمين و عامتهم
Dari Abu Ruqayyah Tamiim bin Aus Ad Daari radhiallahu 'anh, “Sesungguhnya Rasulullah telah bersabda : Agama itu adalah Nasehat , Kami bertanya : Untuk Siapa ?, Beliau bersabda : Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin umat Islam, dan bagi seluruh kaum muslim”
[HR. Muslim no. 55]
[HR. Muslim no. 55]
Tamim Ad Daari hanya meriwayatkan hadits ini, kata nasihat merupakan sebuah kata singkat penuh isi, maksudnya ialah segala hal yang baik. Dalam bahasa arab tidak ada kata lain yang pengertiannya setara dengan kata nasihat, sebagaimana disebutkan oleh para ulama bahasa arab tentang kata Al Fallaah yang tidak memiliki padanan setara, yang mencakup makna kebaikan dunia dan akhirat.
Kalimat, “Agama adalah Nasihat” maksudnya adalah sebagai tiang dan penopang agama, sebagaimana sabda Rasulullah, “Haji adalah arafah”, maksudnya wukuf di arafah adalah tiang dan bagian terpenting haji.
Tentang penafsiran kata nasihat dan berbagai cabangnya, Khathabi dan ulama-ulama lain mengatakan :
1. Nasihat untuk Allah SWT maksudnya beriman semata-mata kepada-Nya, menjauhkan diri dari syirik dan sikap ingkar terhadap sifat-sifat-Nya, memberikan kepada Allah sifat-sifat sempurna dan segala keagungan, mensucikan-Nya dari segala sifat kekurangan, menaati-Nya, menjauhkan diri dari perbuatan dosa, mencintai dan membenci sesuatu semata karena-Nya, berjihad menghadapi orang-orang kafir, mengakui dan bersyukur atas segala nikmat-Nya, berlaku ikhlas dalam segala urusan, mengajak melakukan segala kebaikan, menganjurkan orang berbuat kebaikan, bersikap lemah lembut kepada sesama manusia. Khathabi berkata : “Secara prinsip, sifat-sifat baik tersebut, kebaikannya kembali kepada pelakunya sendiri, karena Allah tidak memerlukan kebaikan dari siapapun”
2. Nasihat untuk kitab-Nya maksudnya beriman kepada firman-firman Allah dan diturunkan-Nya firman-firman itu kepada Rasul-Nya, mengakui bahwa itu semua tidak sama dengan perkataan manusia dan tidak pula dapat dibandingkan dengan perkataan siapapun, kemudian menghormati firman Allah, membacanya dengan sungguh-sungguh, melafazhkan dengan baik dengan sikap rendah hati dalam membacanya, menjaganya dari takwilan orang-orang yang menyimpang, membenarkan segala isinya, mengikuti hokum-hukumnya, memahami berbagai macam ilmunya dan kalimat-kalimat perumpamaannya, mengambilnya sebagai pelajaran, merenungkan segala keajaibannya, mengamalkan dan menerima apa adanya tentang ayat-ayat mutasyabih, mengkaji ayat-ayat yang bersifat umum, dan mengajak manusia pada hal-hal sebagaimana tersebut diatas dan menimani Kitabullah
3. Nasihat untuk Rasul-Nya maksudnya membenarkan ajaran-ajarannya, mengimani semua yang dibawanya, menaati perintah dan larangannya, membelanya semasa hidup maupun setelah wafat, melawan para musuhnya, membela para pengikutnya, menghormati hak-haknya, memuliakannya, menghidupkan sunnahnya, mengikuti seruannya, menyebarluaskan tuntunannya, tidak menuduhnya melakukan hal yang tidak baik, menyebarluaskan ilmunya dan memahami segala arti dari ilmu-ilmunya dan mengajak manusia pada ajarannya, berlaku santun dalam mengajarkannya, mengagungkannya dan berlaku baik ketika membaca sunnah-sunnahnya, tidak membicarakan sesuatu yang tidak diketahui sunnahnya, memuliakan para pengikut sunnahnya, meniru akhlak dan kesopanannya, mencintai keluarganya, para sahabatnya, meninggalkan orang yang melakukan perkara bid’ah dan orang yang tidak mengakui salah satu sahabatnya dan lain sebagainya.
4. Nasihat untuk para pemimpin umat islam maksudnya menolong mereka dalam kebenaran, menaati perintah mereka dan memperingatkan kesalahan mereka dengan lemah lembut, memberitahu mereka jika mereka lupa, memberitahu mereka apa yang menjadi hak kaum muslim, tidak melawan mereka dengan senjata, mempersatukan hati umat untuk taat kepada mereka (tidak untuk maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya), dan makmum shalat dibelakang mereka, berjihad bersama mereka dan mendo’akan mereka agar mereka mendapatkan kebaikan.
5. Nasihat untuk seluruh kaum muslim maksudnya memberikan bimbingan kepada mereka apa yang dapat memberikan kebaikan bagi merela dalam urusan dunia dan akhirat, memberikan bantuan kepada mereka, menutup aib dan cacat mereka, menghindarkan diri dari hal-hal yang membahayakan dan mengusahakan kebaikan bagi mereka, menyuruh mereka berbuat ma’ruf dan mencegah mereka berbuat kemungkaran dengan sikap santun, ikhlas dan kasih sayang kepada mereka, memuliakan yang tua dan menyayangi yang muda, memberikan nasihat yang baik kepada mereka, menjauhi kebencian dan kedengkian, mencintai sesuatu yang menjadi hak mereka seperti mencintai sesuatu yang menjadi hak miliknya sendiri, tidak menyukai sesuatu yang tidak mereka sukai sebagaimana dia sendiri tidak menyukainya, melindungi harta dan kehormatan mereka dan sebagainya baik dengan ucapan maupun perbuatan serta menganjurkan kepada mereka menerapkan perilaku-perilaku tersebut diatas. Wallahu a’lam
Memberi nasihat merupakan fardu kifayah, jika telah ada yang melaksanakannya, maka yang lain terlepas dari kewajiban ini. Hal ini merupakan keharusan yang dikerjakan sesuai kemampuan. Nasihat dalam bahasa arab artinya membersihkan atau memurnikan seperti pada kalimat nashahtul ‘asala artinya saya membersihkan madu hingga tersisa yang murni, namun ada juga yang mengatakan kata nasihat memiliki makna lain. Wallahu a’lam.
(Sumber: Syarah Hadits Arbain)
7 Golongan Yang Selamat
Berikut ini terjemah hadits tentang 7 Golongan yang mendapatkan naungan Allah pada Hari Kiamat, semoga kita termasuk salah satu di antaranya.
Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w. beliau bersabda: "Ada tujuh macam orang yang akan diberi naungan oleh Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu:
1) Imam (pemimpin, kepala negara) yang adil;
2) Pemuda yang tumbuh sejak kecil dalam aktivitas ibadah kepada Allah 'Azza wajalla;
3) Seorang yang hatinya terpaut dengan masjid;
4) Dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya bertemu karena Allah dan berpisah pun karena-Nya;
5) Seorang lelaki yang digoda oleh wanita berkedudukan tinggi dan berwajah cantik, lalu ia berkata: "Sesungguhnya aku takut kepada Allah,"
6) Seseorang yang bersedekah dengan sesuatu lalu menyembunyikan amalannya (tidak menampak-nampakkannya) sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh tangan kanannya;
7) Seseorang yang mengingat Allah dalam kesendirian lalu mengalirlah air matanya."
(Muttafaqun 'alaih) ~ Riyadhus Shalihin, hadits no. 659











