• KEAGUNGAN AL QURAN

    Al-Quran adalah cahaya yang menerangi kebutaan, penawar hati yang menyembuhkan penyakit dan kehampaannya, suguhan lezat bagi jiwa, taman indah sanubari, penuntun nurani menuju negeri yang damai.

  • BUAH TARBIYAH

    Kita bukanlah orang yang sudah benar-benar baik apalagi terbaik, melainkan hanya orang yang keburukannya tertutupi.

  • DOSA-DOSA YANG DIREMEHKAN

    Tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari 3 hari. Siapa yang mendiamkan saudaranya lebih dari 3 hari kemudian ia mati, maka ia masuk neraka.

  • CIRI PENGHUNI SURGA

    Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh. Inilah yang dijanjikan kepadamu.

  • SEREMONI

    Sejak pagi keluarga mempelai perempuan bersiap diri menyambut tamu yang telah lama dinanti-nanti. Akhirnya datang juga. Mempelai laki-laki dikawal rombongan sekeluarga.

24 November 2021

40 Butir Renungan

1. B
anyak orang menyaksikan kematian tapi mereka lupa bahwa diri mereka sendiri akan mati. Bahkan jika pun mereka berkata, “Kita akan menyusul”, tetap saja mereka lupa. Hati telah terisi penuh dengan dunia. Dan manusia hanya akan kehilangan dirinya sendiri.

2. Bagaimana mungkin seorang aktor pemeran orang kaya bangga dengan kekayaan tokoh yang diperankannya? Dan bagaimana mungkin seorang aktor pemeran orang miskin bisa merasa hina dan berputus asa dengan kemiskinan tokoh yang diperankannya? Tapi banyak aktor yang lupa bahwa mereka hanya sedang bermain peran. Dan banyak penonton yang ikut tertipu dengan permainan peran itu.

3. Mayoritas manusia memang aneh. Setiap hari mereka mengejar sesuatu yang kelak hanya akan disesalinya. Dan bagi mereka yang telah tahu akan bahaya penyesalan itu, mereka pun malas berjuang untuk bisa terbebas darinya (dari rasa sesal abadi itu).

4. Begitu banyak orang berkelahi hingga saling bunuh untuk memperebutkan kesenangan dunia. Tapi tak ada ceritanya orang sampai berkelahi untuk memperebutkan kesenangan akhirat. Sebab, dunia itu sempit sehingga para pemburunya mudah saling bersinggungan. Sedangkan akhirat itu luas sehingga para pemburunya yakin bahwa mereka akan meraih bagiannya masing-masing seluas langit dan bumi, serta yang lebih dari itu.

5. Jika hati anda gelisah, maka anda akan mencurahkannya kepada orang terdekat yang anda percayai. Tapi bagaimana jika orang itu juga dalam keadaan gelisah?

6. Terlalu banyak melihat masa depan membuat seseorang ketakutan atau sering berangan-angan. Terlalu banyak menengok masa lalu membuat seseorang bersedih atau bernostalgia belaka. Tapi tanpa melihat masa depan dan menengok masa lalu bisa membuat seseorang tak ada nilainya di masa kini. Dan dia pun akan hilang di telan waktu.

7. Di dalam hati seseorang ada sesuatu yang selalu dilihatnya dengan mata, ada sesuatu yang selalu didengarnya dengan telinga dan ada sesuatu yang selalu diucapkannya dengan lisan. Tapi hati itu sendiri tak boleh diisi dengan nama dunia. Ia hanya boleh diisi dengan nama Tuhannya Yang Esa. Maka haruskah seseorang dibutakan, ditulikan, dan dibisukan saja, agar yang bekerja hanyalah hatinya?

8. Jika kita salah tingkah dengan kehadiran orang-orang yang lebih berkedudukan daripada kita atau orang-orang yang memiliki tempat di salah satu ruang di dalam hati kita, maka mungkin kita belum benar-benar mengenal Allah.

9. Alangkah susahnya menjadi pemalu. Ia akan sulit bergaul dengan masyarakatnya. Tapi alangkah meruginya orang yang terlalu banyak bergaul. Ia lupa akan hakikat pergaulan itu dan ia pun bisa kehilangan rasa malunya.

10. Jangan sampai anda jatuh cinta. Sebab, “jatuh cinta” atau fall in love itu gambaran diri manusia lemah. Lihatlah seseorang yang jatuh cinta. Ia ‘kan mengukir hari-harinya dalam kesedihan dan kerinduan mendalam. Ia tenggelam dalam lamunan, tertawa, tersenyum dan menangis begitu saja; ia menjadi gila karena cinta. Karenanya, raihlah sensasi rise in love (naik, bangkit, dan meninggi dalam cinta). Sebab, cinta itu hakikat nan agung dan mulia. Ia adalah impresi sekaligus ekspresi seorang hamba yang terikat kuat dengan Dzat yang menakdirkannya punya rasa cinta. Dengan cinta, hidup ‘kan meninggi menuju kemuliaan sejati. Segenap insan dalam kehidupan kita akan merasakan berkah mulia dari cinta itu. Maka mohonlah cinta kepada-Nya. “Allahumma innaa nas-aluka hubbaka, wa hubba man yuhibbuka, wa hubba ‘amalin yuqarribunaa ilaa hubbika (Ya Allah, kami mohon cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu, dan cinta amal-amal yang mendekatkan kami kepada cinta-Mu), Ya Dzal Jalaali wal Ikraam.”

11. Ketika seorang hamba merenung dalam kesendirian, dan ia teringat kepada-Nya, maka saat itu ia akan merasakan sensasi luar biasa. Kulitnya bergetar; tubuhnya bergoncang; lisannnya terus mengucap tasbih, tahmid, takbir, istighfar dan doa; mengalir deras air mata kecintaan; dan hatinya pun bertaubat, ia kembali pada Tuhannya. Di saat-saat itulah ia merasakan sensasi keimanan. Dan di saat-saat itulah apa yang dipikirkannya bisa sangat bersesuaian dengan kenyataan. Maka, “Berhati-hatilah dengan firasat mu’min!”.

12. Jadikanlah rangkaian hidup anda menuju ke arah tujuan abadi dan jangan bercabang-cabang dalam mencari simpati. Niscaya usia yang singkat akan menjadi panjang. Ia akan sepanjang sejarah kehidupan manusia, bukan sesingkat bilangan usia itu sendiri. Dan pekerjaan kecil akan menjadi besar, serta kesuksesan atau kegagalan sama-sama menjadi keberuntungan dan kebahagiaan yang nyata.

13. Kecewa terhadap keadaan atau tingkah laku seseorang menunjukkan tidak sejalannya harapan kita dengan kenyataan. Jika kita mudah kecewa dengan kekecewaan mendalam yang tersalurkan dalam duka hati berkepanjangan, maka mental yang kita miliki adalah mental ingin dilayani. Sebaliknya, jika kita sering membuat orang lain kecewa, maka itu menunjukkan bahwa kita gagal menjadi pelayan bagi mereka. Seringkali sempitnya hati menjadi faktor yang mengaburkan keikhlasan kita sebagai pemimpin atau yang dipimpin.

14. Jika kita terhalang untuk menerima nasihat orang lain hanya karena ia berbeda dengan kita atau karena kita menganggap dirinya tidak lebih baik daripada kita, maka akuilah bahwa hawa nafsu telah berkuasa atas hati dan pikiran kita. Dan waspadalah! Apabila kita terus menerus demikian, maka kita sedang memelihara kebodohan.

15. Jika adanya kita sama dengan tiadanya kita, maka kita adalah orang yang tiada bermakna. Dan jika tiadanya kita lebih baik daripada adanya kita, pasti kita adalah problem maker. Bila kita mengambil untung dari masalah, mungkin kita hanyalah problem speaker atau problem trader yang menyedihkan. Karenanya, jadilah kita problem solver, seorang yang bermakna bagi kehidupan. Jika kita ada, menghadirkan kebahagiaan. Dan jika kita tiada, kehadirannya dirindukan. Namun yang terpenting bagi kita, kita tak ingin memasukkan “kebahagiaan” dan “kerinduan” itu dalam kalkulasi pengorbanan kita.

16. Saat kita berbuat baik, seringkali kita m­engharap balasan atas perbuatan baik itu. Jika kita renungkan dengan kesadaran yang menembus batas-batas dunia, maka bukankah kebaikan yang kita perbuat itu merupakan karunia yang Allah limpahkan untuk kita?

17. Semata-mata menangkap peluang untung seraya meninggalkan kebersamaan yang di dalamnya kita terhitung adalah sesuatu yang buntung. Tapi tenggelam dalam kebersamaan seraya lupa untuk terus menggali potensi diri yang dalam adalah juga sesuatu yang kelam. Untung kita bersama, bersama kita untung.

18. Jika anda menerima kiriman sebuah foto yang di dalamnya ada gambar anda dan teman-teman anda, maka gambar siapakah yang pertama kali menjadi pusat perhatian anda? Ya, pasti gambar anda yang pertama kali anda cari dan perhatikan. Begitulah seharusnya jika anda mendapati sebuah pemandangan global dalam kehidupan ini. Begitulah semestinya jika ada ketidakberesan di dekat anda. Begitulah selayaknya jika anda ingin melontarkan kritik atau hendak menyalahkan orang lain dan mencela keadaan. Maka berpikirlah dua kali jika anda ingin menyalahkan orang dan mencela keadaan. Bercerminlah pada kondisi yang ada sebagai gambaran diri anda sendiri. Apa yang sudah anda lakukan? Maka tepat sekali ungkapan Imam Syafi’i dengan bahasa hikmahnya, “Kita mencela zaman padahal kehinaan ada pada kita. Sungguh, di zaman kita, tak ada kehinaan selain kita. Tetapi, kita telah menghina zaman yang tak berdosa.”

19. Tutuplah mata anda dari melihat kekurangan yang ada pada pribadi guru-guru anda. Sebab, jika anda selalu membuka mata atas kekurangan dan kesalahan mereka, anda tak akan bisa mengambil pelajaran dari mereka. Yang terpenting bagi seorang murid adalah mampu menjaga etika dan berlaku sopan, memuliakan para gurunya sebagaimana para ‘alim berhak menerimanya. Bukan berarti anda mengkultuskan mereka, melainkan karena posisi mereka yang memang lebih tinggi dan lebih utama dibanding anda.

20. Ada orang kerja keras “banting tulang” tapi hasilnya hanya sedikit. Ada orang kerja santai sambil berleha-leha tapi hartanya berlimpah. Keadilan Tuhan jangan diukur dengan selera keadilan kita. Kesuksesan dan kegagalan hanyalah bayang-bayang. Yang terpenting ialah bagaimana kita bisa memaknainya sebagai sarana menuju kebahagiaan sejati.

21. Betapa menderita seseorang yang selalu mendengar apa kata orang tentang dirinya, hingga ia berhenti dari amal kebaikan yang sedang ditekuninya. Lebih menderita lagi orang yang tak pernah mau tahu apa kata Allah tentang dirinya, hingga ia tak mau berhenti dari amal keburukan yang tengah digandrunginya.

22. Jadilah anda di atas jalan kebenaran sebagai seorang yang berilmu dan beramal. Kalau tidak bisa, maka jadilah seorang pencari ilmu (pembelajar). Kalau tidak bisa, maka jadilah pendengar yang setia. Kalau tidak bisa, maka jadilah seorang simpatisan (kepada pejuang kebenaran). Kalau tidak bisa juga, maka setidaknya janganlah menjadi penentang apalagi musuh bagi para pejuang kebenaran. Dan kalau masih juga tidak bisa, maka sebenarnya anda ini mau jadi apa?

23. Jika ada seseorang yang berbuat baik kepada anda dengan begitu tulus, maka benih-benih cinta kepadanya akan tumbuh di hati anda. Tapi anda lupa bahwa Allah telah memberi anda kebaikan yang paling besar sempurna dari ujung rambut sampai ujung kaki, serta melimpahkan kebaikan-kebaikan yang tersedia di alam semesta, semua telah ditundukkan-Nya bagi anda, sedangkan Dia tak pernah butuh balasan. Maka tidakkah sepatutnya cinta yang terbesar hanya anda tujukan kepada-Nya?

24. Selalu mencari-cari kesalahan dan kekurangan orang untuk menjatuhkan mereka di depan umum bukanlah sikap terpuji. Tapi membiarkan kesalahan dan kekurangan orang yang ada di depan mata padahal memiliki kemampuan untuk meluruskannya adalah di antara bentuk keterbelengguan hati.

25. Ketika seorang pemimpin atau guru banyak mengeluhkan ketidakdewasaan pengikut atau muridnya, kemudian mendesak-desak mereka agar mau bersikap dewasa kepadanya, maka sebenarnya dia itu belum dewasa. Ini perkara yang mirip dengan seorang pejabat yang meminta kepada rakyatnya dengan memelas, “Tolonglah rakyat jangan terlalu banyak menuntut, mengertilah sedikit akan beban yang saya rasakan, pekerjaan saya sudah terlalu banyak, tolong jangan buat saya tambah pusing!”.

26. Seorang yang senyuman di hatinya mendahului senyuman di wajahnya adalah ia yang membahagiakan untuk disahabati, meskipun ia berada di tempat yang jauh dan belum lagi tersenyum padamu. Adapun seorang yang kebencian di hatinya mendahului kebencian di wajahnya adalah ia yang menderitakan untuk diakrabi, sekalipun ia selalu tersenyum dan menampakkan kebaikannya saat berada di dekatmu.

27. Tidak ada hinanya jadi orang kampung, yang hina adalah jika orang kampung pergi ke kota dan kehilangan harga dirinya di sana, lebih tragis lagi jika harga diri itu sudah hilang sebelum ia pergi ke kota. Dan tidak ada mulianya menjadi orang kota, yang mulia adalah jika orang kota tidak merasa lebih utama daripada orang kampung, lebih mulia lagi jika perasaan itu sudah ada sebelum ia menginjakkan kakinya di suatu kampung.

28. Tidak ada hinanya jadi orang miskin, yang hina adalah jika orang miskin bertemu orang kaya lalu ia pun kehilangan harga dirinya. Lebih tragis lagi jika harga diri itu sudah hilang sebelum ia bertemu orang kaya. Dan tidak ada mulianya jadi orang kaya, yang mulia adalah jika orang kaya tidak merasa lebih utama daripada orang miskin. Lebih mulia lagi jika perasaan itu sudah ada sebelum ia bertemu dengan orang miskin. Di mata orang yang tercerahkan tak lagi ada masalah mengenai perkara semacam itu.

29. Keberhasilan yang membahagiakan adalah keberhasilan yang anda rasakan sebagai buah kesabaran menempuh kesulitan-kesulitan dalam pengerjaan proyek kebaikan yang telah anda niatkan sebagai pendekatan diri kepada-Nya.

30. Sungguh aneh manusia itu. Seringkali ia bersedih dan menangisi sesuatu yang sebenarnya bukan miliknya ketika sesuatu itu menghilang darinya. Sebaliknya ia seringkali abai dan menyia-nyiakan sesuatu yang menjadi miliknya ketika sesuatu itu masih berada di sisinya. Kelak ia akan mengabaikan sesuatu yang bukan miliknya itu dan menangisi sesuatu yang merupakan miliknya, saat mana tiada lagi kematian.

31. Kebahagiaan sejati tak pernah mau mengambil kekayaan, kedudukan, popularitas dan segala pernik-perniknya sebagai variabel yang selalu identik melekat padanya. Sementara, kemiskinan dan kepahitan cobaan hidup bukanlah sesuatu yang selalu menderitakan.

32. Persangkaan buruk seorang murid terhadap gurunya atau seorang pengikut terhadap pemimpinnya hanya akan merugikan dirinya sendiri. Namun persangkaan buruk seorang guru kepada muridnya atau seorang pemimpin kepada pengikutnya berpotensi membawa kerugian bagi dirinya sendiri dan terhadap murid atau pengikut yang dia prasangkai itu.

33. Jangan kecewa jika usaha yang maksimal belum juga membuahkan hasil yang diharapkan. Seringkali kekecewaan terhadap apa yang ada menjadi pangkal ketidaksyukuran. Namun jangan terlalu berpuas diri jika usaha yang biasa-biasa saja membuahkan hasil yang luar biasa. Seringkali kepuasan diri yang berlebihan menyebabkan keberhentian amal, terlena dalam kesenangan. Selalulah curigai diri sendiri bahwa apa-apa yang diusahakan belum mencapai batas maksimal potensi yang ada, dan hal itu juga merupakan ketidaksyukuran.

34. Senyum yang berbingkai ketulusan hati kepada sesama adalah senyum yang tak berhenti mengembang ketika berpisah setelah sekilas wajah bersitatap. Sedangkan senyum yang berbungkus keterpaksaan adalah senyum yang segera menghilang setelah sekilas senyum itu disunggingkan kepada sesama sekalipun wajah masih bersitatap.

35. Persepsi negatif, prasangka, atau pandangan buruk orang lain tentang diri kita kerapkali merupakan kendaraan yang diberikan Allah kepada kita untuk menuju keindahan rasa ikhlas dan ridha kepada-Nya.

36. Seiring bergeraknya usia, bertumbuhnya peran, beralihnya episode dan lembar kehidupan, maka bertambahlah peluang mencintai dan dicintai. Tapi sebaliknya juga bertambah pula peluang membenci dan dibenci. Semua itu adalah ujian dan tabiat kehidupan. Menjadi aneh jika seseorang tidak semakin dewasa dalam menempuhnya.

37. Janganlah anda terkejut dengan perubahan pada dunia ini dan orang-orang di sekitar anda. Sebab, semua itu memang menjadi kepantasan dalam kehidupan. Kebahagiaan anda harus tidak bergantung pada dunia dan orang-orang tersebut, bahkan tidak juga pada diri anda sendiri.

38. Kepandaian membaca teks tanpa kepandaian membaca konteks akan memunculkan kejumudan, kaku dan mudah menghakimi.

39. Perjuangan hidup akan menemukan maknanya jika kita berada di tempat dan suasana yang kita rasa kurang nyaman. Di sanalah pengorbanan dirasakan, bukan pada tempat dan suasana yang menyamankan selera kita.

40. Jika anda ditempatkan di lingkungan yang lebih baik daripada keadaan anda, itu artinya anda sedang diperbaiki. Tapi jika anda ditempatkan di lingkungan yang tidak lebih baik menurut ukuran anda dan anda pun tak bisa mengelak darinya, maka itu artinya anda dituntut melakukan perbaikan. Selalulah menjadi orang baik yang melakukan perbaikan.

 

Share:

22 November 2021

Good vs Bad People dalam Organisasi

Orang yang baik akan membuat organisasi tempatnya berkiprah menjadi baik juga. Jika tak bisa, maka ia harus memilih untuk bersabar dalam kebaikannya, atau ikut-ikutan menjadi buruk, atau pergi mencari tempat lain yang mau menerima dan menumbuh-suburkan kebaikannya.

Orang yang buruk bisa membuat organisasi tempatnya berada menjadi buruk juga. Namun jika ternyata kebaikan di lingkungan organisasinya terlalu kuat, maka ia harus memilih untuk bertahan dalam keburukannya, atau ikut manjadi baik, atau pergi mencari tempat yang mau menerima dan mendukung keburukannya.

Manajemen organisasi yang baik bisa membuat orang buruk menjadi baik atau lambat laun orang buruk itu akan tersingkir dengan sendirinya. Dan manajemen yang buruk bisa membuat orang baik menjadi buruk atau lambat laun orang baik itu akan menarik diri dengan sendirinya.
Share:

Kenapa Kita Mudah Kecewa?

"Kenapa kita mudah kecewa kepada orang lain?" Mungkin pertanyaan di atas sesuai dengan keadaan diri kita. Atau boleh j...