Seri Kepemimpinan Rasulullah - 1
Sekilas Perjalanan
Allah
telah menganugerahkan kemulian akhlaq dan kecerdasan akal kepada
Muhammad sejak kecil. Setiap orang yang melihatnya pasti akan segera
mengetahui keistimewaan anak ini dibanding dengan anak-anak yang lain.
Tidak heran jika sang kakek, Abdul Muthalib memberinya tempat paling
istimewa di hatinya. Pernah pada suatu hari, Muhammad kecil hendak
duduk di atas hamparan khusus milik kakeknya yang biasa digelar di
pelataran Ka’bah. Melihat itu, paman-pamannya segera menarik dan
menjauhkannya dari situ. Sebab, mereka sendiri sebagai putranya segan
duduk di atas alas khusus milik Abdul Muthalib itu. Akan tetapi, sang
kakek melarang cucunya dipindahkan, “biarkan saja, karena kelak dia akan memiliki sya’n (kedudukan penting).” Begitu kata kakeknya.
Sejak
kecil kepribadian Muhammad sudah terjaga. Tidak pernah terlibat dalam
kemerosotan moral dan prilaku tercela. Bahkan sekedar untuk ikut
bersenang-senang dalam sebuah hiburan pun Muhammad tidak terbiasa.
Pernah terbesit dalam benaknya keinginan untuk menonton sebuah pentas
nyanyian yang diselenggarakan oleh penduduk Mekah. Akan tetapi – atas
kehendak Allah – matanya digelayuti oleh rasa kantuk yang teramat
berat, sehingga Muhammad tertidur pulas dan baru terbangun pada
keesokan harinya ketika tubuhnya tersengat sinar matahari yang telah
beranjak naik. Meski pun tumbuh di lingkungan jahiliyah, di mana
praktek perjudian, makanan dan minuman haram adalah perkara lumrah.
Begitu juga persembahan kepada berhala bahkan menjadi kemestian. Namun
Muhammad tidak pernah terlibat dalam perbuatan kotor dan kepercayaan
bodoh tersebut.
Sebaliknya, di usianya yang masih sangat muda, Muhammad sudah mengukir prestasi gemilang dan mendapat julukan al-amin, orang yang sangat bisa dipercaya. Bermula dari pemugaran Ka’bah yang rusak akibat diamuk banjir. Ketika hendak meletakkan hajar aswad
di posisinya semula, terjadilah perselisihan bahkan nyaris menimbulkan
peperangan di antara kabilah-kabilah Quraisy. Masing-masing merasa
berhak untuk mendapatkan kehormatan meletakkan kembali hajar aswad.
Akhirnya disepakati, orang yang pertama kali masuk ke Baitullah dari
pintu Bani Syaibah adalah orang yang akan dijadikan hakim (penengah).
Ternyata orang itu adalah Muhammad. Begitu mereka melihat bahwa yang
masuk adalah pemuda yang terkenal baik dan terpercaya itu, mereka
berkata, “dialah al-amin (orang yang terpecaya), kami rela menjadikannya
sebagai penengah.” Muhammad kemudian membuat kebutusan yang sangat
bijak dan melegakan semua pihak. Beliau membentangkan kain selendangnya
dan meletakkan hajar aswad di atasnya, lalu kepada setiap
kabilah dimintanya untuk memegangi setiap ujungnya dan mengangkatnya
secara bersama-sama. Begitu batu hitam itu terangkat, maka Muhammad
segera mengambilnya dan meletakkannya di tempatnya semula. Sebuah
kecerdasan yang luar biasa. Dalam situasi genting, Muhammad hadir dengan
ide yang cemerlang sehingga berhasil mencegah pertumpahan darah.
Sejumput Pelajaran
Segala
keistimewaan yang dimiliki oleh Muhammad sejak kecil adalah merupakan
anugrah Allah sebagai pendahuluan bagi tugas kenabian dan
kerasulannya kelak. Semua itu adalah bagian dari irhaashat, yaitu
keistimewaan dan keluarbiasaan yang diberikan oleh Allah kepada
seorang anak manusia yang kelak akan dipilih-Nya sebagai nabi dan
pemimpin umat. Irhashot itu berbeda dengan keistimewaan atau keluarbiasaan yang dimiliki oleh anak indigo. Sebab, jika ditelusuri, keluarbiasaan anak-anak indigo
selalu mengarah kepada fitnah ummat. Keluarbiasaan mereka sering
dilatarbelakangi amalan-amalan menyimpang dari orang tuanya atau
mbah-buyutnya terdahulu. Atau bahkan ditunggangi oleh unsur sihir
(fitnah jin / setan) yang hendak menyesatkan manusia. Akibatnya, tidak
jarang anak yang dianggap indigo, meski pun berprilaku nyeleneh, dipercayai bisa melakukan tindakan supranatural (di luar kemampuan nalar dan tabiat manusia).
Keluarbiasaan
Muhammad sewaktu kecil murni anugerah Allah sehingga tumbuh dengan
perilaku yang jauh dari penyimpangan, baik dari segi akhlaq mau pun
akidahnya. Sebagai calon nabi, Muhammad telah dijaga oleh Allah bahkan
sejak dari asal-usul keturunan dan keluarganya. Dipilih dari kabilah
terbaik, keluarga terbaik dan orang tua terbaik. Allah telah
menjaganya dari segala keburukan yang bisa menodai kesempurnaan sosok
manusia teladan. Maka dia harus dihadirkan sebagai anak manusia yang
bersih keturunannya, bersih hatinya, bersih prilakunya. Dan, itu telah
mendapatkan pengakuan dari seluruh kaumnya sejak usianya yang masih
dini. Betapa tidak, dia akan dikirim sebagai sosok pelurus akidah,
penyempurna budi pekerti dan pemimpin ummat. Manalah mungkin dia bisa
memainkan peran mahapenting itu dan memberi sesuatu kepada orang lain,
apalagi kepada umat yang besar ini jika dirinya sendiri tidak memiliki
kesempurnaan itu.
Maka
demikian itulah sunatullah dalam memilih kepemimpinan. Calon-calon
pemimpin itu harus terjaga sejak dini dari prilaku tercela. Manakala
sang Nabi dijaga langsung oleh Allah, maka calon-calon pemimpin dari
ummatnya diamanatkan penjagaannya kepada orang tua, guru dan
lingkungan yang membesarkan dan mendidiknya. Sebab, setelah umat ini
ditinggal oleh pemimpin agungnya, Muhammad saw. kepemimpinan
selanjutnya bukan atas ketetapan wahyu dan penunjukan ilahiyah,
melainkan berdasarkan atas syura dan plihan ummat. Maka baik dan
buruknya kepemimpinan ummat amat bergantung kepada kualitas umat yang
melahirkan pemimpin-pemimpin itu. Sebagaimana pepatah Arab mengatakan,
“kaifamaa takuunu yuwalla ‘alaikum” [bagaimana kualitas kamu,
maka seperti itulah kepemimpinan terhadap kamu.” Sama makna dengan
pepatah bahasa Inggris, “Presiden is what the people are.” Jika
rakyatnya rendah kualitas, maka pemimpin yang dipilih dan diangkat
adalah orang yang rendah kualitasnya. Jika rakyatnya senang
sogok-menyogok, maka pilihannya akan jatuh kepada orang yang bisa
memberi sogokan dan bayaran ketika mau menjadi pemimpin.
Umat
Islam merindukan sosok pemimpin yang dibesarkan dari keluarga dan
lingkungan yang bersih dan mulia. Kemulian keluarga tidak diukur dengan
banyaknya harta dan tingginya pangkat. Sejarah umat Islam telah
membuktikan bahwa pemimpin ummat tidak selamanya harus datang dari
keluarga ningrat. Bahkan Nabi Muhammad saw. sendiri bukan keturunan
raja-raja yang datang untuk mengklaim kerajaan nenek moyangnya yang
hilang. Melainkan anak manusia biasa. Selagi umat Islam belum
mendapatkan kepemimpinan yang sholih dan beriman, jujur dan adil,
berilmu dan bijaksana, maka menjadi fardu ‘ain bagi setiap
rumah tangga muslim untuk mendidik dan melahirkan kepemimpinan seperti
itu. Sebab, pemimpin umat yang ideal itu bukanlah sosok misteri satrio paningit
yang turun dari langit, tidak muncul dari segara kidul, atau menyembul
dari kawah gunung merapi. Meski pun tidak mustahil jika sosok
pemimpin harapan umat yang dapat menjaga kebaikan agama dan dunianya
itu akan lahir dari sebuah rumah sederhana yang bersih dan mulia di
tengah umat yang sakit ini. Allaahumma aamiin! []




0 comments:
Posting Komentar