12 Agustus 2013

Melahirkan Pemimpin Harapan Ummat


Seri Kepemimpinan Rasulullah - 1


Sekilas Perjalanan

Allah telah menganugerahkan kemulian akhlaq dan kecerdasan akal kepada Muhammad sejak kecil. Setiap orang yang melihatnya pasti akan segera mengetahui keistimewaan anak ini dibanding dengan anak-anak yang lain. Tidak heran jika sang kakek, Abdul Muthalib memberinya tempat paling istimewa di hatinya. Pernah pada suatu hari, Muhammad kecil hendak duduk di atas hamparan khusus milik kakeknya yang biasa digelar di pelataran Ka’bah. Melihat itu, paman-pamannya segera menarik dan menjauhkannya dari situ. Sebab, mereka sendiri sebagai putranya segan duduk di atas alas khusus milik Abdul Muthalib itu. Akan tetapi, sang kakek melarang cucunya dipindahkan, “biarkan saja, karena kelak dia akan memiliki sya’n (kedudukan penting).”  Begitu kata kakeknya.

Sejak kecil kepribadian Muhammad sudah terjaga. Tidak pernah terlibat dalam kemerosotan moral dan prilaku tercela. Bahkan sekedar untuk ikut bersenang-senang dalam sebuah hiburan pun Muhammad tidak terbiasa. Pernah terbesit dalam benaknya keinginan untuk menonton sebuah pentas nyanyian yang diselenggarakan oleh penduduk Mekah. Akan tetapi – atas kehendak Allah – matanya digelayuti oleh rasa kantuk yang teramat berat, sehingga Muhammad tertidur pulas dan baru terbangun pada keesokan harinya ketika tubuhnya tersengat sinar matahari yang telah beranjak naik. Meski pun tumbuh di lingkungan jahiliyah, di mana praktek perjudian, makanan dan minuman haram adalah perkara lumrah. Begitu juga persembahan kepada berhala bahkan menjadi kemestian. Namun Muhammad tidak pernah terlibat dalam perbuatan kotor dan kepercayaan bodoh tersebut. 

Sebaliknya, di usianya yang masih sangat muda, Muhammad sudah mengukir prestasi gemilang dan mendapat julukan al-amin, orang yang sangat bisa dipercaya. Bermula dari pemugaran Ka’bah yang rusak akibat diamuk banjir. Ketika hendak meletakkan hajar aswad di posisinya semula, terjadilah perselisihan bahkan nyaris menimbulkan peperangan di antara kabilah-kabilah Quraisy. Masing-masing merasa berhak untuk mendapatkan kehormatan meletakkan kembali hajar aswad. Akhirnya disepakati, orang yang pertama kali masuk ke Baitullah dari pintu Bani Syaibah adalah orang yang akan dijadikan hakim (penengah). Ternyata orang itu adalah Muhammad. Begitu mereka melihat bahwa yang masuk adalah pemuda yang terkenal baik dan terpercaya itu, mereka berkata, “dialah al-amin (orang yang terpecaya), kami rela menjadikannya sebagai penengah.” Muhammad kemudian membuat kebutusan yang sangat bijak dan melegakan semua pihak. Beliau membentangkan kain selendangnya dan meletakkan hajar aswad di atasnya, lalu kepada setiap kabilah dimintanya untuk memegangi setiap ujungnya dan mengangkatnya secara bersama-sama. Begitu batu hitam itu terangkat, maka Muhammad segera mengambilnya dan meletakkannya di tempatnya semula. Sebuah kecerdasan yang luar biasa. Dalam situasi genting, Muhammad hadir dengan ide yang cemerlang sehingga berhasil mencegah pertumpahan darah.



Sejumput Pelajaran

Segala keistimewaan yang dimiliki oleh Muhammad sejak kecil adalah merupakan anugrah Allah sebagai pendahuluan bagi tugas kenabian dan kerasulannya kelak. Semua itu adalah bagian dari  irhaashat, yaitu keistimewaan dan keluarbiasaan yang diberikan oleh Allah kepada seorang anak manusia yang kelak akan dipilih-Nya sebagai nabi dan pemimpin umat. Irhashot itu berbeda dengan keistimewaan atau keluarbiasaan yang dimiliki oleh anak indigo. Sebab,  jika ditelusuri, keluarbiasaan anak-anak indigo selalu mengarah kepada fitnah ummat. Keluarbiasaan mereka sering dilatarbelakangi amalan-amalan menyimpang dari orang tuanya atau mbah-buyutnya terdahulu. Atau bahkan ditunggangi oleh unsur sihir (fitnah jin / setan) yang hendak menyesatkan manusia. Akibatnya, tidak jarang anak yang dianggap indigo, meski pun berprilaku nyeleneh, dipercayai bisa melakukan tindakan supranatural (di luar kemampuan nalar dan tabiat manusia).

Keluarbiasaan Muhammad sewaktu kecil murni anugerah Allah sehingga tumbuh dengan perilaku yang jauh dari penyimpangan, baik dari segi akhlaq mau pun akidahnya. Sebagai calon nabi, Muhammad telah dijaga oleh Allah bahkan sejak dari asal-usul keturunan dan keluarganya. Dipilih dari kabilah terbaik, keluarga terbaik dan orang tua terbaik. Allah telah menjaganya dari segala keburukan yang bisa menodai kesempurnaan sosok manusia teladan. Maka dia harus dihadirkan sebagai anak manusia yang bersih keturunannya, bersih hatinya, bersih prilakunya. Dan, itu telah mendapatkan pengakuan dari seluruh kaumnya sejak usianya yang masih dini. Betapa tidak, dia akan dikirim sebagai sosok pelurus akidah, penyempurna budi pekerti dan pemimpin ummat. Manalah mungkin dia bisa memainkan peran mahapenting itu dan memberi sesuatu kepada orang lain, apalagi kepada umat yang besar ini jika dirinya sendiri tidak memiliki kesempurnaan itu.

Maka demikian itulah sunatullah dalam memilih kepemimpinan. Calon-calon pemimpin itu harus terjaga sejak dini dari prilaku tercela. Manakala sang Nabi dijaga langsung oleh Allah, maka calon-calon pemimpin dari ummatnya diamanatkan penjagaannya kepada orang tua, guru dan lingkungan yang membesarkan dan mendidiknya. Sebab, setelah umat ini ditinggal oleh pemimpin agungnya, Muhammad saw. kepemimpinan selanjutnya bukan atas ketetapan wahyu dan penunjukan ilahiyah, melainkan berdasarkan atas syura dan plihan ummat. Maka baik dan buruknya kepemimpinan ummat amat bergantung kepada kualitas umat yang melahirkan pemimpin-pemimpin itu. Sebagaimana pepatah Arab mengatakan, “kaifamaa takuunu yuwalla ‘alaikum” [bagaimana kualitas kamu, maka seperti itulah kepemimpinan terhadap kamu.” Sama makna dengan pepatah bahasa Inggris, “Presiden is what the people are.” Jika rakyatnya rendah kualitas, maka pemimpin yang dipilih dan diangkat adalah orang yang rendah kualitasnya. Jika rakyatnya senang sogok-menyogok, maka pilihannya akan jatuh kepada orang yang bisa memberi sogokan dan bayaran ketika mau menjadi pemimpin.

Umat Islam merindukan sosok pemimpin yang dibesarkan dari keluarga dan lingkungan yang bersih dan mulia. Kemulian keluarga tidak diukur dengan banyaknya harta dan tingginya pangkat. Sejarah umat Islam telah membuktikan bahwa pemimpin ummat tidak selamanya harus datang dari keluarga ningrat. Bahkan Nabi Muhammad saw. sendiri bukan keturunan raja-raja yang datang untuk mengklaim kerajaan nenek moyangnya yang hilang. Melainkan anak manusia biasa. Selagi umat Islam belum mendapatkan kepemimpinan yang sholih dan beriman, jujur dan adil, berilmu dan bijaksana, maka menjadi fardu ‘ain bagi setiap rumah tangga muslim untuk mendidik dan melahirkan kepemimpinan seperti itu. Sebab, pemimpin umat yang ideal itu bukanlah sosok misteri satrio paningit yang turun dari langit, tidak muncul dari segara kidul, atau menyembul dari kawah gunung merapi. Meski pun tidak mustahil jika sosok pemimpin harapan umat yang dapat menjaga kebaikan agama dan dunianya itu akan lahir dari sebuah rumah sederhana yang bersih dan mulia di tengah umat yang sakit ini. Allaahumma aamiin! []
Share:

0 comments:

Posting Komentar

Kenapa Kita Mudah Kecewa?

"Kenapa kita mudah kecewa kepada orang lain?" Mungkin pertanyaan di atas sesuai dengan keadaan diri kita. Atau boleh j...