17 Agustus 2013

Sang Pemadam Api Permusuhan

Seri Kepemimpinan Nabi - 3
Oleh: Ust. Hamim Thohari

Penyulut Perang
Tidak bisa dipercaya jika sang penyulut perang itu adalah kaum yang paling mengerti agama, paling tahu baik dan buruk. Tapi itulah kenyataannya, kecamuk perang saudara yang diwariskan secara turun temurun di bumi Yatsrib ternyata disulut oleh tangan-tangan kaum yang mengaku sebagai bangsa pilihan tuhan. Maka perang antara dua suku besar, Khazraj dan Aus seakan tidak ada habisnya. Meski sesungguhnya, mereka telah lelah berperang. Jiwa mereka telah meronta dan mencari-cari jalan keluar. Namun pangkal jalan keluar itu belum juga mereka temukan.

Nasib bangsa Arab Yatsrib bagaikan itik yang berenang di sungai namun mati kehausan. Hidup bertentangga dengan kaum yang dianggap paling mengerti nilai-nilai kebaikan, tidak menjamin mereka mendapat pencerahan dan keluar dari krisis permusuhan. Alih-alih menjadi pereda permusuhan, kaum Yahudi Yatsrib malah menjadi penyulut permusuhan dan dalang di setiap kecamuk peperangan di antara suku Khazraj dan Aus. Rupanya, mereka meraup keuntungan dari perang saudara itu dengan berdagang senjata atau memberi hutangan kepada pemuka-pemuka suku yang hartanya habis terkuras untuk biaya perang atau untuk sekedar berfoya-foya. Tidak sedikit tanah dan kebun milik kepala suku berpindah tangan kepada kaum Yahudi akibat terjerat hutang yang berbunga sangat mencekik. Praktek riba oleh kaum Yahudi Yatsrib sudah sangat menggurita dan mencengkeram kedua suku besar bangsa Arab Yatsrib. Tidak heran jika kemudian urusan perang dan damai di tanah Yatsrib ada di tangan mereka.

Keadaan inilah yang mendorong sekelompok pemuda suku Khazraj untuk mencari pemimpin yang ideal. Meskipun hampir saja mereka mengangkat Abdullah bin Ubay bin Salul sebagai raja yang disepakati oleh kedua suku besar, namun mereka belum sepenuhnya percaya bahwa orang ini akan mampu membawa Yatsrib keluar dari krisis berkepanjangan. Buktinya, mereka masih mencari pemimpin lain yang lebih dipercaya. Apalagi mereka sering mendengar dari kaum Yahudi bahwa tidak lama lagi akan datang seorang nabi yang akan memimpin mereka untuk memerangi dan membinasakan bangsa lain selain Yahudi. Maka di musim haji tahun 11 setelah kenabian, enam pemuda Yatsrib dari suku Khazraj telah menerima dakwah Muhammad. Salah seorang dari mereka berkata, “Wahai kaumku, inilah nabi yang selalu disebut-sebut oleh kaum Yahudi untuk menakut-nakuti kalian. Jangan biarkan mereka mendahului kita. Segeralah mengikuti dakwahnya dan berislam!”

Mereka adalah pemuda-pemuda cerdas Yatsrib yang lelah dengan perang saudara yang tidak berkesudahan. Muak dengan kaum beragama sekutu dan tentangga mereka namun tidak pernah membawa solusi malah menjadi duri. Dengan mengikuti Muhammad, mereka berharap perdamaian dapat dihadirkan. Maka oleh-oleh haji mereka pada tahun itu adalah cahaya Islam. Nama Muhammad kemudian menjadi buah bibir di setiap rumah penduduk Yatsrib. Pada dua kali musim haji sesudah itu, utusan dari Yatsrib terdiri dari perwakilan suku Khazraj dan Aus datang untuk memberikan janji setia dan pembelaan kepada Muhammad dalam peristiwa yang dikenal dengan Baiat Aqabah pertama dan Baiat Aqabah kedua. Di antara butir perjanjian itu adalah “bahwa kalian mesti menolongku jika aku (Muhammad) datang kepada kalian, melindungiku seperti kalian melindungi jiwa-jiwa kalian, istri-istri dan anak-anak kalian. Sedangkan balasan buat kalian adalah surga.”

Sang Pemadam itu Datang
Sosok pemimpin yang diharapkan akan menjadi pemadam api permusuhan dan penebar rahmat itu pun datang. Penduduk Yatsrib menyembutnya dengan penuh suka cita sambil menyanyikan bait-bait syair penyambutan (dikenal dengan syair thala’al badru):
Purnama raya telah menyinari kami / Yang terbit dari arah Tsaniya al-Wada’/ Segala yang diserukannya karena Allah/ Sudah semestinya kami syukuri/ Wahai Utusan yang diutus untuk kami/ Kau datang untuk kami taati

Muhammad datang tidak sendirian. Sebelum dan sesudahnya ada pengikut-pengikutnya dari Mekah. Mereka yang berhijrah dari Mekah dikenal sebagai kaum Muhajirin dan saudara-saudara penolongnya  di Yatsrib dikenal sebagai kaum Anshor. Kedatangan mereka dalam jumlah besar di negeri dan lingkungan baru, tentu saja bukan tanpa persoalan. Paling mendesak adalah kebutuhan makan dan papan buat mereka. Di sinilah kepemimpinan Muhammad mulai teruji. Sebagai mana yang sering berlaku, kaum pengungsi sering menimbulkan permasalahan bagi penduduk lokal. Tapi dalam kasus hijrahnya Muhammad dan Sahabat-sahabatnya ini, sejarah telah menyaksikan nilai-nilai kemanusiaan universal disemai hingga tumbuh dan berkembang menjadi tuntunan abadi.

Muhammad telah berhasil mempersaudarakan satu persatu pengikutnya di antara kaum Muhajirin dan Anshor. Diikat dengan tali iman, diayomi di bawah keteduhan masjid dan dipelihara dengan keteladanan sang pemimpin. Belum pernah tercatat dalam sejarah mana pun ada persaudaraan seindah apa yang dibangun oleh Muhammad. Hingga seorang sahabat Anshor, Saad bin Rabi’ berkata kepada sahabatnya yang dipersaudarakan dari kaum Muhajirin, Abdur Rahman bin Auf, “saya orang Anshor yang paling berharta, separuh harta saya untuk kamu. Dan, istri saya dua, lihat mana yang paling menarik buatmu, saya akan ceraikan dan sesudah habis masa iddahnya silahkan kamu nikahi.” Mendapat tawaran begitu, sahabat ini tidak serta merta menerima, bahkan dengan santun menolaknya, “Semoga Allah memberkati harta dan keluarga Anda, saya hanya ingin tahu di mana pasar?” Sejarah kemudian mencatat Abdur Rahman bin Auf menjadi saudagar kaya raya hasil dari jerih payahnya sendiri.

Yatsrib benar-benar telah berubah. Api permusuhan telah dipadamkan. Luka akibat perang saudara selama bergenerasi telah disembuhkan. Dua suku besar yang bermusuhan ditambah dengan saudara-saudara pendatang baru mereka telah menjadi satu tubuh. Mereka mulai belajar dan merasakan indahnya hidup rukun berdampingan dan saling menguatkan dalam membela kebenaran dan melawan kezaliman. Yatsrib pun diganti namanya menjadi Madinah, sebagai simbol perubahan dari kehidupan tanpa aturan kepada kehidupan berberadapan dan beraturan. Dari kehidupan tanpa arah yang jelas kepada kehidupan yang terarah dan tertib dibawah hukum dan syariat Islam.

Semua yang mendiami bumi Yatsrib, baik yang beriman mau pun yang masih ragu-ragu, Yahudinya atau pun kaum musyriknya sekalian, diajak untuk hidup rukun berdampingan di bawah kepimpinan Muhammad saw. Para ahli sejarah mengakui bahwa butir-butir perjanjian yang dibuat oleh Muhammad bersama seluruh elemen masyarakat Madinah -- kemudian dikenal dengan sebutan Piagam Madinah -- bersifat universal dan ultra modern. Di antara bunyi perjanjian itu adalah: “Kaum Yahudi Dari Bani Auf adalah satu umat dengan mukminin. Bagi kaum Yahudi agama mereka, dan bagi kaum mukminin agama mereka. Juga (kebebasan ini berlaku) bagi sekutu-sekutu dan diri mereka sendiri, kecuali bagi yang dzalim dan jahat. Hal demikian akan merusak diri dan keluarganya.” Kemudian diikuti butir selanjutnya, “Kaum Yahudi Bani Najjar, Yahudi Bani Al Haris, Yahudi Bani Sa’idah, Yahudi Bani Jusyam … diperlakukan sama seperti Yahudi Bani Auf.”Dari sebagian butir-butir perjanjian ini berarti bahwa Muhammad tidak hanya memberi hak kebebasan dan perlindungan kepada suku besar Kaum Yahudi saja bahkan keluarga-keluarga kecil mereka yang terpencar-pencar di seantero tanah Yatsrib pun mendapatkan hak yang sama.

Ajaran Muhammad mempertautkan yang menganga dan mengobati yang terluka. “Janganlah kebencianmu kepada suatu kaum, mendorongmu untuk tidak bersikap adil. Bersikaplah adil karena itu lebih dekat kepada taqwa.” (Qs. 2: 237) Juga mengajarkan toleransi yang benar dan terhormat. “Bagimu agama-mu dan bagiku agamaku.” (Qs.109: 06) Bukan asimilasi agama, pencampuradukan praktek ibadah dan pembauran keyakinan, karena toleransi seperti itu sejatinya adalah penghinaan bukan pengakuan terhadap keyakinan orang lain. Toleransi ala Muhammad justru memberi ruang untuk saling memegangi kebenarannya masing-masing setelah saling beradu hujjah yang tegas dan nyata. Agar disebut toleran tidak perlu mengundang kaum Yahudi untuk beribadah di Masjid dan memaksakan orang Islam beribadah di Sinagog.

Sejumput Pelajaran
Umat Islam sejak dilahirkan telah dididik untuk hidup rukun berdampingan dan berkongsi ketentraman dengan orang lain. Dalam perbendaraan kosakata Islam sangat mudah dijumpai ajaran-ajaran universal yang sangat dibutuhkan oleh manusia sejagat: keadilan, kerukunan, kesatuan, kehormatan, keamanan dan kebahagiaan. Dalam peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad saw. ke Madinah telah dibuktikan komitmen beliau kepada nilai-nilai universal itu. Bagaimana beliau mampu memadamkan api permusuhan dan mempertautkan dua budaya berbeda kaum Anshor dan Muhajirin, bahkan tetap memberi perlindungan dan kebebasan kepada unsur-unsur yang berpotensi membuat keretakan. Maka soal hidup rukun dengan orang lain sambil berpegang kepada agama masing-masing bukan perkara baru bagi ummat Islam. Tidak selayaknya umat Islam menjadi tertuduh sebagai kelompok yang tidak bisa hidup rukun dan toleran. Maka umat Islam tidak perlu diajari tentang perkara itu, karena telah mempraktekkanya di saat semua peradaban bangsa-bangsa di dunia meninggalkanya. Sebaliknya, orang lainlah yang harus belajar dari umat Islam tentang hal itu. []
Share:

0 comments:

Posting Komentar

Kenapa Kita Mudah Kecewa?

"Kenapa kita mudah kecewa kepada orang lain?" Mungkin pertanyaan di atas sesuai dengan keadaan diri kita. Atau boleh j...