Sekilas Perjalanan
Suku Quraiys adalah suku paling mulia di kalangan bangsa Arab, dan di antara keluarga-keluarga besar yang berafiliasi kepada suku Quraisy, maka Baniy Hasyimlah yang dipandang paling bersih dan terhormat. Mengenai hal itu, Rasulullah saw. – dalam sebuah riwayat dari Abbas – pernah bersabda: "Allah telah menciptakan makhluq-Nya dan saya dipilih sebagai yang terbaik dari mereka, terbaik di antara berbagai kelompok, bahkan terbaik dari dua kelompok. Lalu dipilih kabilah-kabilah terbaik, maka saya dipilih dari kabilah terbaik. Kemudian dipilihlah keluarga-keluarga terbaik, dan saya dipilih dari keluarga terbaik. Maka saya adalah pribadi yang terbaik dari keluarga terbaik." [Hr. Tumudzi dan shahih sanadnya] Demikian mulia dan bersihnya keluarga Muhammad, hingga tidak ada yang bisa menyerang Muhammad dari sisi keturunannya.
Muhammad, manusia pilihan itu adalah anak manusia biasa. Lahir di tengah Keluarga sederhana bahkan miskin. Begitu lahir sudah menjadi yatim. Ayahnya meninggal, saat buah cintanya itu baru dua bulan dalam kandungan ibunya. Menginjak umur 6 tahun, ibunya pun menyusul sang ayah. Lengkaplah penderitaan dan kepahitan Muhammad, sejak kecil telah kehilangan kehangatan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Tugas mengasuh berpindah kepada kakeknya, Abdul Muthalib. Namun hanya dua tahun lamanya, sang kakek keburu dipanggil menghadap sang Khaliq. Kemudian Muhammad kecil diasuh oleh pamannya yang terbilang paling miskin, Abu Thalib. Namun kemiskinan sang paman tidak membuatnya miskin cinta dan kasih sayang untuk Muhammad kecil. Sebagaimana kemiskinan keluarga ini pun tidak membuat mereka menjadi miskin kemulian dan kehormatan karena mereka tidak pernah menghinakan diri dengan meminta-minta atau menagih simpati orang lain atas nama kemiskinan.
Sejumput Pelajaran
Umat Islam, secara garis keturunan memang bukan seluruhnya bernasab kepada Muhammad saw. Namun setiap manusia yang beriman kepadanya -- tanpa memandang suku, bangsa, bahasa dan warna kulitnya – telah menerima berkah kemuliaan sebagai keluarga dan ummat Muhammad, saw. Atas hikmah Allah yang Mahabijak, umat Islam berada di bawah payung petunjuk sosok manusia paling sempurna dan paling layak untuk dijadikan teladan. Tentu tidak pantas, umat yang bergelar khairu ummah (ummat terbaik, Qs. 3: 110) ini diafiliasikan kepada sosok manusia yang tidak jelas asal usul keturunannya bahkan tercemar nasabnya.
Dahulu pepatah Arab mengatakan, ΩΨ§ΩΨ― Ψ§ΩΨ΄ΩΨ‘ ΩΨ§ ΩΨΉΨ·Ω - "yang tidak mempunyai apa-apa tidak akan bisa memberi.” Dalam pribadi Muhammad terdapat segala sisi kebaikan yang bisa diberikan kepada ummat manusia sebagai contoh dan keteladanan yang tidak ada habisnya sepanjang zaman. Muhammad tidak meninggalkan harta, lahir dalam keadaan miskin, meninggal pun dalam keadaan miskin. Namun kekayaan Muhammad adalah kemuliaan dan keteladanan. Dari Nasabnya yang bersih dan mulia, hingga prilakunya yang tanpa cela. Itulah sumber mata air kebaikan yang tidak akan pernah kering hingga hari Kiamat. Itulah kekayaan yang tidak dapat disamakan dengan kekayaan apa pun di dunia ini. Apalagi hanya sebentuk materi yang sebentar kemudian akan lenyap.
Muhammad dibesarkan oleh sosok pribadi-pribadi mulia yang kaya hati dan cinta, kaya jiwa dan sifat-sifat mulia. Dibesarkan dengan keadaan serba kekurangan dan jauh dari kemewahan, membuat sosok Muhammad sebagai pribadi mandiri. Untuk sekedar mendapat upah sekeping dua keping dirham, dia bekerja sebagai penggembala kambing milik penduduk Mekah. Bagaimana pun, kemiskinannya tidak dijadikannya sebagai alasan untuk mencuri dan menyelewengkan sekecil apa pun amanat yang diberikan kepadanya. Sebab itu banyak penduduk Mekah yang mau menitipkan barang-barangnya untuk dijagakan oleh Muhammad. Kepercayaan itulah yang membuatnya dijuluki al-amin (orang yang sangat bisa dipercaya). Karena amanah dan kejujurnnya, bahkan janda kaya seperti Khadijah pun jatuh hati kepadanya dan mau menikah dengannya, setelah mengamati sepak terjangnya ketika mengelola barang dagangannya.
Semua liku-liku kehidupan yang dijalaninya sejak kecil itu sesungguhnya merupakan design tarbiyah rabbaniyah untuk mengantarkannya sebagai pemimpin hebat yang tak tertandingi sepanjang masa. Bahkan sebagai sunnatullah abadi, “Barangsiapa yang berbuat kebajikan (amal shalih), baik laki-laki atau pun perempuan dan dia itu beriman, maka benar-benar akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri mereka balasan lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan..” (Qs. 16: 97) Kaedah ini berlaku kepada siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Bahwa untuk menjadi pemimpin yang baik dan umat yang baik haruslah dipersiapkan sejak dini segala sisi kebaikannya.
Pemimpin sejati bukan dilahirkan dengan uang. Umat yang baik bukan dibangun dengan iming-iming materi dan taburan pundi-pundi. Sebab, pemimpin yang begini hanya akan menjadi pecundang, dan rawan untuk dikutuk dan disumpahserapahi oleh rakyatnya yang kecewa. Baik pemimpin atau rakyat yang dilahirkan dari proses yang tidak wajar seperti itu, akan menjadi sekelompok manusia yang paling lemah dan bobrok. Tidak mempunyai mental juang dan semangat membangun bangsanya dengan kehormatan. Asalkan meraup keuntungan materi, meski pun harus mengemis, bahkan mencuri sekali pun tidak menjadi masalah.
Al-Qur’an dengan gamblang telah memotret bagaimana bobroknya mental masyarakat yang berorientasi kepada materi semata-mata. Sepintas mereka bersemangat untuk berjuang, membela yang benar dan kepentingan wong cilik, tetapi ketika benar-benar dihadapkan kepada realitas perjuangan, mereka pun mundur. Dan, amat sedikit yang sanggup bertahan. (Qs. 2: 246) Mereka menjadikan kekayaan sebagai syarat utama kepemimpinan, sehingga memandang rendah seorang pemimpin yang tidak mempunyai harta meski pun punya kualitas ilmu di samping kekuatan fisik. (Qs. 2: 247)
Rasulullah, saw. memimpin bukan berangkat dari kekayaan, bukan menabur janji-janji manis untuk memberi berbagai fasilitas dan kekayaan. Meskipun kebanyakan pengikut Muhammad waktu itu berasal dari kalangan rakyat jelata, wong cilik, orang miskin bahkan hamba sahaya, tetapi mereka tidak kesengsem dakwahnya karena janji-janji materi dan iming-iming uang. Sebab, mereka tahu muhammad sejak kecil bukan orang kaya, tidak mempunyai kekayaan seperti tokoh-tokoh Quraisy yang disegani. Muhammad hanya punya kejujuran, kemuliaan dan kesanggupan untuk berkorban demi apa yang diyakininya benar. Terbukti dari ucapannya di hadapan Abu Tholib, “Wahai Paman, kalau pun mereka bisa memberiku matahari hingga diletakkan di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, lalu aku harus meninggalkan dakwahku, sungguh itu tidak akan kulakukan hingga Allah menentukan akhir dari urusan ini.”
Mereka tahu Muhammad memimpin bukan untuk mencari uang, pangkat atau tujuan duniawi apa pun. Sebab jika itu yang dicari, maka dia akan akur dan menerima apa yang ditawarkan oleh kaum Qurays kepadanya, “jika mau kekayaan kami siap mengumpulkan sebanyak apa pun harta kekayaan yang Anda inginkan, jika ingin menjadi raja kami siap mengangkat Anda menjadi raja, jika ingin wanita kami siap mencarikan wanita Arab mana yang paling cantik…” Kemuliaan dan kebersihan jiwa sosok pemimpin seperti Muhammad inilah yang membuatnya terus dicintai oleh pengikutnya sepanjang zaman. Berbeda dengan pemimpin-pemimpin yang lahir dari janji-janji serba materi, Muhammad selalu disebut-sebut oleh pengikutnya dengan doa dan kebaikan setiap waktu sepanjang masa, sementara pemimpin yang tidak berkualitas dan hanya karena faktor duit, akan disumpahi oleh pengikutnya sendiri setiap kali namanya disebut.
Biarlah orang bukan sebagai keturunan keluarga ningrat dan berdarah biru, biarlah dia sebagai anak seorang petani kecil bahkan tidak punya sepetak sawah pun, tapi cukuplah baginya untuk mendapat kemulian abadi dengan membenarkan kenabian Muhammad dan mengikuti ajarannya. Siapa pun orangnya, dari keturunan jenis manusia seperti apa pun, berhak menyandang kemuliaan sebagai bagian dari khairu ummah asalkan bergabung dalam kafilah ummat Muhammad untuk “menganjurkan kebaikan, mencegah keburukan dan beriman kepada Allah.” (Qs. 3: 110) Cukuplah kemuliaan itu diperoleh dari menjadi bagian Umat Muhammad yang telah dijanjikannya surga. sabda beliau, “Semua umatku bakal masuk surga, kecuali yang membangkang.” Sahabat bertanya, “Siapakah yang membangkang itu, ya Rasulullah?” Jawab beliau, “Yang taat kepadaku bakal masuk surga, dan yang mendurhakaiku (tidak mau mengikuti ajaranku), maka dialah yang membangkang itu.” [Hr. Bukhari dari Abu Hurairah]
Suku Quraiys adalah suku paling mulia di kalangan bangsa Arab, dan di antara keluarga-keluarga besar yang berafiliasi kepada suku Quraisy, maka Baniy Hasyimlah yang dipandang paling bersih dan terhormat. Mengenai hal itu, Rasulullah saw. – dalam sebuah riwayat dari Abbas – pernah bersabda: "Allah telah menciptakan makhluq-Nya dan saya dipilih sebagai yang terbaik dari mereka, terbaik di antara berbagai kelompok, bahkan terbaik dari dua kelompok. Lalu dipilih kabilah-kabilah terbaik, maka saya dipilih dari kabilah terbaik. Kemudian dipilihlah keluarga-keluarga terbaik, dan saya dipilih dari keluarga terbaik. Maka saya adalah pribadi yang terbaik dari keluarga terbaik." [Hr. Tumudzi dan shahih sanadnya] Demikian mulia dan bersihnya keluarga Muhammad, hingga tidak ada yang bisa menyerang Muhammad dari sisi keturunannya.
Muhammad, manusia pilihan itu adalah anak manusia biasa. Lahir di tengah Keluarga sederhana bahkan miskin. Begitu lahir sudah menjadi yatim. Ayahnya meninggal, saat buah cintanya itu baru dua bulan dalam kandungan ibunya. Menginjak umur 6 tahun, ibunya pun menyusul sang ayah. Lengkaplah penderitaan dan kepahitan Muhammad, sejak kecil telah kehilangan kehangatan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Tugas mengasuh berpindah kepada kakeknya, Abdul Muthalib. Namun hanya dua tahun lamanya, sang kakek keburu dipanggil menghadap sang Khaliq. Kemudian Muhammad kecil diasuh oleh pamannya yang terbilang paling miskin, Abu Thalib. Namun kemiskinan sang paman tidak membuatnya miskin cinta dan kasih sayang untuk Muhammad kecil. Sebagaimana kemiskinan keluarga ini pun tidak membuat mereka menjadi miskin kemulian dan kehormatan karena mereka tidak pernah menghinakan diri dengan meminta-minta atau menagih simpati orang lain atas nama kemiskinan.
Sejumput Pelajaran
Umat Islam, secara garis keturunan memang bukan seluruhnya bernasab kepada Muhammad saw. Namun setiap manusia yang beriman kepadanya -- tanpa memandang suku, bangsa, bahasa dan warna kulitnya – telah menerima berkah kemuliaan sebagai keluarga dan ummat Muhammad, saw. Atas hikmah Allah yang Mahabijak, umat Islam berada di bawah payung petunjuk sosok manusia paling sempurna dan paling layak untuk dijadikan teladan. Tentu tidak pantas, umat yang bergelar khairu ummah (ummat terbaik, Qs. 3: 110) ini diafiliasikan kepada sosok manusia yang tidak jelas asal usul keturunannya bahkan tercemar nasabnya.
Dahulu pepatah Arab mengatakan, ΩΨ§ΩΨ― Ψ§ΩΨ΄ΩΨ‘ ΩΨ§ ΩΨΉΨ·Ω - "yang tidak mempunyai apa-apa tidak akan bisa memberi.” Dalam pribadi Muhammad terdapat segala sisi kebaikan yang bisa diberikan kepada ummat manusia sebagai contoh dan keteladanan yang tidak ada habisnya sepanjang zaman. Muhammad tidak meninggalkan harta, lahir dalam keadaan miskin, meninggal pun dalam keadaan miskin. Namun kekayaan Muhammad adalah kemuliaan dan keteladanan. Dari Nasabnya yang bersih dan mulia, hingga prilakunya yang tanpa cela. Itulah sumber mata air kebaikan yang tidak akan pernah kering hingga hari Kiamat. Itulah kekayaan yang tidak dapat disamakan dengan kekayaan apa pun di dunia ini. Apalagi hanya sebentuk materi yang sebentar kemudian akan lenyap.
Muhammad dibesarkan oleh sosok pribadi-pribadi mulia yang kaya hati dan cinta, kaya jiwa dan sifat-sifat mulia. Dibesarkan dengan keadaan serba kekurangan dan jauh dari kemewahan, membuat sosok Muhammad sebagai pribadi mandiri. Untuk sekedar mendapat upah sekeping dua keping dirham, dia bekerja sebagai penggembala kambing milik penduduk Mekah. Bagaimana pun, kemiskinannya tidak dijadikannya sebagai alasan untuk mencuri dan menyelewengkan sekecil apa pun amanat yang diberikan kepadanya. Sebab itu banyak penduduk Mekah yang mau menitipkan barang-barangnya untuk dijagakan oleh Muhammad. Kepercayaan itulah yang membuatnya dijuluki al-amin (orang yang sangat bisa dipercaya). Karena amanah dan kejujurnnya, bahkan janda kaya seperti Khadijah pun jatuh hati kepadanya dan mau menikah dengannya, setelah mengamati sepak terjangnya ketika mengelola barang dagangannya.
Semua liku-liku kehidupan yang dijalaninya sejak kecil itu sesungguhnya merupakan design tarbiyah rabbaniyah untuk mengantarkannya sebagai pemimpin hebat yang tak tertandingi sepanjang masa. Bahkan sebagai sunnatullah abadi, “Barangsiapa yang berbuat kebajikan (amal shalih), baik laki-laki atau pun perempuan dan dia itu beriman, maka benar-benar akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri mereka balasan lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan..” (Qs. 16: 97) Kaedah ini berlaku kepada siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Bahwa untuk menjadi pemimpin yang baik dan umat yang baik haruslah dipersiapkan sejak dini segala sisi kebaikannya.
Pemimpin sejati bukan dilahirkan dengan uang. Umat yang baik bukan dibangun dengan iming-iming materi dan taburan pundi-pundi. Sebab, pemimpin yang begini hanya akan menjadi pecundang, dan rawan untuk dikutuk dan disumpahserapahi oleh rakyatnya yang kecewa. Baik pemimpin atau rakyat yang dilahirkan dari proses yang tidak wajar seperti itu, akan menjadi sekelompok manusia yang paling lemah dan bobrok. Tidak mempunyai mental juang dan semangat membangun bangsanya dengan kehormatan. Asalkan meraup keuntungan materi, meski pun harus mengemis, bahkan mencuri sekali pun tidak menjadi masalah.
Al-Qur’an dengan gamblang telah memotret bagaimana bobroknya mental masyarakat yang berorientasi kepada materi semata-mata. Sepintas mereka bersemangat untuk berjuang, membela yang benar dan kepentingan wong cilik, tetapi ketika benar-benar dihadapkan kepada realitas perjuangan, mereka pun mundur. Dan, amat sedikit yang sanggup bertahan. (Qs. 2: 246) Mereka menjadikan kekayaan sebagai syarat utama kepemimpinan, sehingga memandang rendah seorang pemimpin yang tidak mempunyai harta meski pun punya kualitas ilmu di samping kekuatan fisik. (Qs. 2: 247)
Rasulullah, saw. memimpin bukan berangkat dari kekayaan, bukan menabur janji-janji manis untuk memberi berbagai fasilitas dan kekayaan. Meskipun kebanyakan pengikut Muhammad waktu itu berasal dari kalangan rakyat jelata, wong cilik, orang miskin bahkan hamba sahaya, tetapi mereka tidak kesengsem dakwahnya karena janji-janji materi dan iming-iming uang. Sebab, mereka tahu muhammad sejak kecil bukan orang kaya, tidak mempunyai kekayaan seperti tokoh-tokoh Quraisy yang disegani. Muhammad hanya punya kejujuran, kemuliaan dan kesanggupan untuk berkorban demi apa yang diyakininya benar. Terbukti dari ucapannya di hadapan Abu Tholib, “Wahai Paman, kalau pun mereka bisa memberiku matahari hingga diletakkan di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, lalu aku harus meninggalkan dakwahku, sungguh itu tidak akan kulakukan hingga Allah menentukan akhir dari urusan ini.”
Mereka tahu Muhammad memimpin bukan untuk mencari uang, pangkat atau tujuan duniawi apa pun. Sebab jika itu yang dicari, maka dia akan akur dan menerima apa yang ditawarkan oleh kaum Qurays kepadanya, “jika mau kekayaan kami siap mengumpulkan sebanyak apa pun harta kekayaan yang Anda inginkan, jika ingin menjadi raja kami siap mengangkat Anda menjadi raja, jika ingin wanita kami siap mencarikan wanita Arab mana yang paling cantik…” Kemuliaan dan kebersihan jiwa sosok pemimpin seperti Muhammad inilah yang membuatnya terus dicintai oleh pengikutnya sepanjang zaman. Berbeda dengan pemimpin-pemimpin yang lahir dari janji-janji serba materi, Muhammad selalu disebut-sebut oleh pengikutnya dengan doa dan kebaikan setiap waktu sepanjang masa, sementara pemimpin yang tidak berkualitas dan hanya karena faktor duit, akan disumpahi oleh pengikutnya sendiri setiap kali namanya disebut.
Biarlah orang bukan sebagai keturunan keluarga ningrat dan berdarah biru, biarlah dia sebagai anak seorang petani kecil bahkan tidak punya sepetak sawah pun, tapi cukuplah baginya untuk mendapat kemulian abadi dengan membenarkan kenabian Muhammad dan mengikuti ajarannya. Siapa pun orangnya, dari keturunan jenis manusia seperti apa pun, berhak menyandang kemuliaan sebagai bagian dari khairu ummah asalkan bergabung dalam kafilah ummat Muhammad untuk “menganjurkan kebaikan, mencegah keburukan dan beriman kepada Allah.” (Qs. 3: 110) Cukuplah kemuliaan itu diperoleh dari menjadi bagian Umat Muhammad yang telah dijanjikannya surga. sabda beliau, “Semua umatku bakal masuk surga, kecuali yang membangkang.” Sahabat bertanya, “Siapakah yang membangkang itu, ya Rasulullah?” Jawab beliau, “Yang taat kepadaku bakal masuk surga, dan yang mendurhakaiku (tidak mau mengikuti ajaranku), maka dialah yang membangkang itu.” [Hr. Bukhari dari Abu Hurairah]





0 comments:
Posting Komentar