Belajar, Berbagi, Melayani

  • KEAGUNGAN AL QURAN

    Al-Quran adalah cahaya yang menerangi kebutaan, penawar hati yang menyembuhkan penyakit dan kehampaannya, suguhan lezat bagi jiwa, taman indah sanubari, penuntun nurani menuju negeri yang damai.

  • BUAH TARBIYAH

    Kita bukanlah orang yang sudah benar-benar baik apalagi terbaik, melainkan hanya orang yang keburukannya tertutupi.

  • DOSA-DOSA YANG DIREMEHKAN

    Tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari 3 hari. Siapa yang mendiamkan saudaranya lebih dari 3 hari kemudian ia mati, maka ia masuk neraka.

  • CIRI PENGHUNI SURGA

    Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh. Inilah yang dijanjikan kepadamu.

  • SEREMONI

    Sejak pagi keluarga mempelai perempuan bersiap diri menyambut tamu yang telah lama dinanti-nanti. Akhirnya datang juga. Mempelai laki-laki dikawal rombongan sekeluarga.

06 Oktober 2013

Menyelaraskan Keinginan Diri dengan Kehendak Ilahi




ارادتك التجريد مع اقامة الله اياك في الاسباب من الشهوة الخفية، وارادتك الاسباب مع اقامة الله اياك في التجريد انحطاط عن الهمة العلية.

Keinginanmu untuk lepas dari urusan duniawi padahal Allah membekalimu dengan sarana penghidupan, adalah syahwat yang samar. Sedangkan keinginanmu untuk mendapatkan sarana penghidupan padahal Allah telah melepaskanmu dari urusan duniawi, adalah suatu kemunduran dari cita-cita yang tinggi.
[Ibnu Athoillah, Al Hikam 002]


Luar biasa kalimat di atas, bisa dimengerti tapi sulit dijelaskan. Pada intinya, kita semestinya bersyukur dan ridho dengan kondisi dan kedudukan di mana Allah menempatkan kita, termasuk bersyukur dengan kondisi sarana penghidupan kita saat ini.

Jika Allah memposisikan kita sebagai pengusaha atau pekerja yang tugasnya mencari penghidupan dan dengan itu kita menjadi bermanfaat, maka tidak selayaknya kita meninggalkan kehidupan itu untuk menjadi ahli ibadah saja.

Sebaliknya, jika Allah telah menempatkan kita sebagai seorang ahli ibadah, pencari ilmu dan orang yang senantiasa disibukkan dengan urusan dakwah dan perjuangan, yang dengan itu sarana penghidupan kita menjadi tidak pasti namun tetap terjamin seiring keyakinan kepada Allah, maka meninggalkan kehidupan itu demi mencari sarana penghidupan yang pasti adalah suatu kemunduran dan penurunan cita-cita yang luhur.

Singkatnya, setiap orang terlahir ke dunia ini membawa tugasnya masing-masing yang berbeda satu sama lain. Dan kita harus merenungkan lagi dan lagi tentang misi hidup kita serta peran yang Allah inginkan untuk kita. Misi hidup tak perlu lagi dirumuskan karena Allah sudah menetapkannya untuk kita: ibadah. Namun peran kita untuk memaksimalkan ibadah itulah yang perlu kita temukan dalam perenungan panjang: "Sebenarnya Allah menginginkan saya untuk menjadi apa?".

Ukurannya adalah kenyamanan kita dengan peran yang sedang dijalani. Namun maksud kenyamanan di sini bukanlah kenyamanan dalam arti bermalas-malasan atau memanjakan hawa nafsu. Dan bukan juga kenyamanan dalam arti melakukan peran tanpa mau mengambil resiko. Kenyamanan di sini lebih diartikan dengan kesesuaian "panggilan jiwa", sesuatu yang benar-benar menggambarkan apa yang ingin kita lakukan dan tak ada beban atau tekanan perasaan dalam menjalaninya. Sekali lagi, semua ini memerlukan pemikiran dan perenungan yang mendalam. Wallahu a'lam. []
Share:

05 Oktober 2013

Pahala Jariyah yang Tak Kita Sadari



Oleh: Ust. Zulfi Akmal

Rasulullah bersabda: "Orang terbaik itu adalah orang yang bila kamu melihatnya kamu akan teringat kepada Allah".

Dalam pelajaran malam kemarin saya mendapatkan pelajaran baru dari Syekh. Beliau menceritakan pengalamannya:

Dulu pada tahun 70-an ketika aku masih duduk di bangku kuliah, setiap hari aku satu mobil dengan seseorang yang sampai hari ini tidak aku kenal dan dia tidak mengenalku. Orang itu selalu di atas mobil memegang tasbih sambil berzikir.

Karena setiap hari melihat pemandangan seperti itu, apa yang ia lakukan itu berbekas di dalam hatiku. Hingga akhirnya aku menirunya berzikir, sekalipun tidak pakai tasbih. Sampai hari ini kebiasaan itu sudah lengket pada diriku dan orang itu masih jadi inspirasi bagiku sekalipun sudah berlalu 40 tahun.

Insyaallah, orang itu akan mendapatkan kiriman pahala terus tanpa dia mengatakan dan mengajariku sesuatu selain perbuatannya yang sangat berbekas di hatiku.

Ada pelajaran yang dapat saya ambil dari kisah beliau ini:
  1. Amalan yang ikhlas akan memberikan pengaruh positif kepada orang lain, sekalipun sang pelaku tidak menyadari.
  2. Nasehat melalui perbuatan dan contoh jauh lebih baik dari pada bicara.
  3. Mungkin saja orang yang tidak "dianggap" bisa menginspirasi orang lain, bahkan merubah alur hidup orang lain.
  4. Tidak ada salahnya kita memperlihatkan amalan kepada orang lain, karena ikhlas itu ada di hati. Sekalipun disembunyikan belum tentu juga selamat dari riya', bahkan bisa jadi jatuh kepada dosa yang lebih parah dari itu, yaitu 'ujub.
  5. Orang yang riya tidak akan mungkin mampu konsisten dalam suatu amal kebaikan. Oleh karena itu hancurkanlah bisikan untuk riya' dengan amal yang berkesinambungan tanpa putus.

Share:

Kenapa Kita Mudah Kecewa?

"Kenapa kita mudah kecewa kepada orang lain?" Mungkin pertanyaan di atas sesuai dengan keadaan diri kita. Atau boleh j...