Apa saja yang digolongkan sebagai sikap meninggalkan
Al-Qur’an hingga seseorang menjadi temannya syaithan?
Ada sebentuk curahan hati Rasulullah SAW yang diabadikan dalam firman Allah pada Surat Al-Furqan ayat 30:
Dan berkatalah Rasul: “Ya
Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang tidak
diacuhkan.” (QS. Al-Furqan [25]: 30)
Yang dimaksud dengan ‘kaumku’ dalam ayat tersebut adalah orang-orang kafir di masa Rasulullah saw. yang tidak mau mendengarkan da’wah beliau yang disampaikan dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Tapi sepatutnya kita pun mau mengambil pelajaran bahwa siapapun bisa disebut meninggalkan (acuh tak acuh terhadap) Al-Qur’an jika telah memenuhi kriterianya.
Klasifikasi para ulama (mufassir) tentang sikap meninggalkan Al-Qur’an rasanya cukup sebagai alat deteksi apakah kita termasuk orang yang meninggalkannya atau tidak. Sikap meninggalkan Al-Qur’an itu meliputi:
1. Meninggalkan Bacaannya
Tidak
mau mendengarkan dengan seksama dan mengimaninya. Tidak mau diam, malah
berbincang atau membuat kegaduhan ketika Al-Qur’an dibacakan dalam suatu
majelis. Termasuk klasifikasi ini adalah tidak mau membaca Al-Qur’an.
2. Meninggalkan Pelajarannya
Tidak
mau memikirkan, mengkaji dan memahami apa yang dikehendaki oleh Allah di dalam
firman-Nya itu. Termasuk disebut meninggalkan Al-Qur’an pada aspek ini adalah
orang yang senantiasa rajin membacanya namun tidak mau memahami apa yang sedang
dibacanya itu, terlebih lagi untuk merenungi dan menghayatinya.
3. Tidak Taat
Tidak
mau mengamalkan kandungannya serta tidak peduli dengan ketentuan halal dan
haram yang diterangkannya. Selain itu tidak mau ber-tahkim dengan
Al-Qur’an, yakni tidak menjadikannya sebagai dasar hukum dalam segala sisi
kehidupan, serta tidak menjadikannya sebagai panduan hidup.
4. Tidak Menyembuhkan Penyakit dengannya
Tidak
menjadikannya sebagai obat penawar bagi beragam penyakit hati, malah berobat
dengan yang selainnya. Kita renungkan betapa banyak orang yang merasakan
kegelisahan dalam hidupnya sehingga hatinya menjadi terhimpit. Tapi mereka
mencari penyembuhan dengan meninggalkan Al-Qur’an, padahal Allah saja telah menyebut
Al-Qur’an sebagai obat penawar (Asy-Syifa) bagi berbagai macam penyakit
yang bersarang di dalam hati. Mereka lari dari Al-Qur’an dan mendatangi
paranormal, dukun, atau mencoba meditasi yang bersumber dari ajaran keyakinan selain
Islam.
5. Lebih Cenderung kepada yang Lain
Berpaling
dari peringatan (dzikir) Al-Qur’an kepada hal-hal selainnya, seperti syair,
musik dan nyanyian yang melalaikan, pembicaraan yang sia-sia, aneka permainan,
tontonan dan sebagainya. Mari kita renungkan, jika mengacu pada kriteria ini saja,
maka betapa banyak orang-orang yang disebut telah jauh meninggalkan Al-Qur’an.
Wahai saudara seiman yang memahami bahwa rukun iman yang enam itu memiliki konsekuensi dan tuntutannya masing-masing, marilah kita renungkan perkara yang teramat penting ini agar kita jauh dari kehidupan dan penghidupan yang sempit di dunia dan akhirat.
Ketahuilah bahwa orang-orang muslim yang tidak mau membaca Al-Qur’an adalah orang-orang yang meninggalkan Al-Qur’an, meski mereka beralasan, “Yang penting kami memahami dan menjalankan ajarannya.” Sebab, Rasulullah dan para sahabat adalah orang-orang yang mengamalkan Al-Qur’an, tapi mereka tak mau meninggalkan bacaan Al-Qur’an. Mereka jauh di atas kita dalam ilmu dan amal.
Kemudian, mereka yang tak mau mempelajari dan memperhatikan kandungan Al-Qur’an termasuk juga orang-orang yang meninggalkannya, sekalipun mereka membaca Al-Qur’an itu berulang-ulang namun tanpa penghayatan.
Dan juga mereka yang tidak mau mengamalkan ajaran Al-Qur’an adalah termasuk orang-orang yang meninggalkannya, meskipun mereka telah membaca dan mengkajinya dengan pemahaman yang mendalam. []





0 comments:
Posting Komentar