Bicara tentang self-leadership atau kepemimpinan pribadi, setidaknya ada dua perkara yang dapat kita pertajam di sini. Kita telah memiliki naluri kepemimpinan itu karena memang kita terlahir sebagai pemimpin, kullukum raa’in, setiap kalian adalah pemimpin. Akan tetapi seringkali naluri kepemimpinan itu tertutup oleh naluri amarah dan syahwat. Karenanya, mari kita asah dan pertajam naluri kepemimpinan itu dengan memperhatikan dua poin berikut.
Pertama, sense of responsibility atau rasa bertanggung jawab. Bahwa dalam self-leadership setiap orang bertanggung jawab penuh atas dirinya sendiri. Wakullukum mas-uulun ‘an ra’iyyatihi, dan setiap kalian bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Maka dalam hal memimpin diri sendiri, kita bertanggung jawab penuh atas segenap diri dan kehidupan kita. Kepada siapa? Tentu saja bukan sekedar kepada diri kita sendiri. Yang utama dan mutlak adalah tanggung jawab kepada Allah Yang Mahaadil di mahkamah-Nya kelak pada hari Kiamat. Allah SWT telah memberi kita berbagai fasilitas dalam kehidupan. Maka semua itu harus dapat kita pertanggungjawabkan.
Untuk lebih memperjelas soal pertanggungjawaban ini, kepada poin-poin apa sense of responsibility itu kita perhatikan, maka Rasulullah telah mengingatkan kepada kita semua umatnya yang beliau cintai. Beliau bersabda, “Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada Hari Kiamat, sehingga ia ditanya tentang umurnya, dalam hal apa ia habiskan. Tentang ilmunya, dalam hal apa ia amalkan. Tentang hartanya, dari mana diperoleh dan dalam hal apa dibelanjakan. Juga tentang fisiknya, dalam hal apa ia binasakan.” (HR. Imam Tirmidzi).
Rasulullah SAW telah menunjukkan bahwa beliau memiliki sense of responsibility tinggi terhadap umatnya. Betapa kecintaan beliau terhadap umatnya melebihi kecintaannya terhadap diri dan keluarganya. Menjelang wafat, beliau tak mengeluh akan nasibnya sendiri, juga tak mengkhawatiri sahabat terdekatnya, keluarganya ataupun istri-istrinya. Tetapi beliau menyebut-nyebut ummatii ummatii, bahkan demikian pula di Hari Kiamat pertanyaan beliau yang pertama di antaranya adalah “Bagaimana nasib umatku?”. Maka tidaklah layak bagi kita untuk tidak mencintai beliau lebih daripada cinta kita kepada diri sendiri.
Kita telah mendapat pelajaran tentang sense of responsibility dari Rasulullah SAW. Beliau merasa bertanggung jawab akan nasib umatnya di Hari Kiamat, maka beliau selalu mengingatkan kepada umatnya untuk bersiap menghadapi hari yang besar itu. Apa artinya? Beliau memiliki perhatian yang besar pada umatnya, beliau fokus pada keselamatan umatnya. Ini adalah salah satu makna dari sense of responsibility yang merupakan poin penting dalam kepemimpinan. Maka dalam self-leadership (kepemimpinan pribadi), setiap orang diharuskan memiliki perhatian besar dan fokus terhadap apa saja yang merupakan tanggung jawabnya.
SENSE OF RESPONSIBILITY
| |
Tanggung Jawab
|
Fokus Perhatian
|
USIA
|
Dalam hal apa dihabiskan?
|
ILMU
|
Dalam hal apa diamalkan?
|
HARTA
|
Dari mana didapat dan untuk apa dibelanjakan?
|
FISIK
|
Dalam hal apa digunakan hingga ia binasa?
|
Jika Anda ingin menajamkan naluri kepemimpinan pada diri Anda, hendaknya Anda memberikan perhatian yang serius kepada empat hal yang akan Anda pertanggungjawabkan kelak di yaumil akhir. Anda adalah pemimpin dalam kehidupan Anda sendiri. Maka berilah fokus perhatian pada apa-apa yang Anda pimpin itu. Setidaknya, supaya empat hal itu (usia, ilmu, harta, dan fisik) punya alasan untuk membela kita di hari Kiamat nanti.
Berapakah usia Anda sekarang? Saya lihat ada di antara Anda yang masih berusia di bawah 20 tahun, mungkin Anda siswa SMA atau setingkat SMA, atau mungkin Anda seorang mahasiswa semester awal. Ada juga yang berusia di atas 20 tahun, mungkin 25, 30, atau lebih dari itu. Anda sudah bekerja, membina rumah tangga, atau mungkin juga belum. Bukan itu yang akan kita persoalkan dan bukan itu poin terpenting dalam sense of responsibility.
Kesuksesan seseorang dalam hidupnya bukanlah pada pencapaian, apakah itu jumlah kekayaan, prestasi, maupun pangkat dan jabatan. Banyak orang yang prestasinya cukup tinggi tetapi hidupnya tidak tergolong sukses dan bermakna. Kenapa? Dia menghabiskan usianya hanya dalam angka-angka. Dia hanya sukses untuk dirinya sendiri namun tidak ada kontribusi bermakna yang dia sumbangkan untuk kehidupan ini, bahkan untuk kehidupannya sendiri.
Alangkah ruginya seseorang yang meninggal pada usia 80 tahun tetapi dia hanya meninggalkan tiga baris kalimat, nama Fulan bin Fulan, lahir tanggal sekian, dan wafat tanggal sekian. Namun alangkah bahagianya seseorang yang meninggal pada usia 40-an tahun namun dia mengukir sejarah yang tak mudah dilupakan orang. Bahkan sejarah hidupnya tiada habis-habisnya dibicarakan orang. Sejarah yang baik tentunya, bukan sejarah yang buruk. Dan sejarah hidup itu akan dia pertanggungjawabkan di hadapan Allah. Baginya, yang terpenting, sejarah hidup itu menjadi pengantar menuju ridha dan surga-Nya.
Permasalahannya, kita tak pernah tahu akan mati pada usia kita yang ke berapa. Dan kita pun bahkan tak tahu apa yang akan kita lakukan di esok hari. Wamaa tadrii nafsun maa dzaa taksibu ghadan wamaa tadrii nafsun bi ayyi ardhin tamuut, tidaklah setiap jiwa tahu apa yang akan diusahakannya besok, dan tidaklah setiap jiwa tahu di belahan bumi mana dia akan mati. Jika sekarang kita menginjak usia 20 atau 25 tahun, maka berapa tahun lagi kita akan hidup, kita tak akan pernah tahu. Bisa jadi sepuluh tahun lagi, lima tahun, atau satu tahun lagi. Atau bahkan bisa jadi dalam waktu dekat ini!
Pernahkah Anda menonton film atau sinetron yang mengisahkan tentang seseorang yang mengidap penyakit berbahaya kemudian dokter memprediksi usianya hanya mencapai tiga bulan lagi? Apa yang akan dirasakan oleh orang itu? Dan apakah yang akan dilakukannya dalam jangka waktu tiga bulan? Mungkin dia akan melakukan sesuatu yang bermakna dalam hidupnya. Mungkin dia akan bertaubat. Mungkin juga dia akan menghabiskan waktu bersama keluarganya. Atau mungkin dia akan menghasilkan sebuah karya terakhir dalam hidupnya. Pada intinya, dia akan mencurahkan segenap perhatian pada kualitas hidupnya.
Itu hanyalah contoh. Tapi prediksi manusia, yang paling cerdas sekalipun, tak ada yang tepat 100 %. Bisa jadi prediksinya tiga bulan, ternyata Allah SWT menetapkan satu tahun. Atau bisa jadi malah hanya satu bulan saja. Dan demikianlah keadaan kita semua. Walaupun tak pernah ada vonis prediksi sisa usia kita dari siapapun, Allah SWT telah memberikan satu peringatan bagi kita, bahwa kita tak tahu kapan dan di mana kita akan mati, dan dalam keadaan apa kita mati. Maka seharusnya kita selalu memberikan makna yang besar pada setiap langkah kehidupan kita. Kita menghitung usia setiap saat, menghitung hari setiap hari, menghitung jam setiap jam, menghitung detik setiap detik, bukan menghitungnya hanya ketika semua itu berlalu. Ya, inilah salah satu bagian terpenting dalam sense of responsibility untuk menajamkan naluri kepemimpinan kita.
Kedua, sense of direction atau perasaan memiliki arah. Tadi yang pertama sudah kita bicarakan garis besarnya, sense of responsibility. Maka yang kedua ini tidaklah terpisah dari yang pertama. Maksudnya? Jika Anda bertanggung jawab atas kehidupan Anda sendiri, maka Anda harus memiliki arah dalam hidup ini. Seseorang yang memiliki sense of responsibility membuktikan tanggung jawabnya dengan sense of direction, ada arah dalam hidupnya.
Bicara tentang direction, berarti kita bicara tentang destination atau tujuan. Jika Anda melakukan perjalanan, maka perjalanan itu hanyalah sebuah langkah, bukan tujuan. Tidak ada atau jarang sekali kita mendapati orang yang melakukan satu perjalanan tanpa ada tujuannya. Selalu ada tujuan, ada rute yang ditempuh, dan ada kendaraan, sehingga terjadilah perjalanan. Anda berada di kota A dan ingin pergi ke kota B naik kereta api, maka terjadilah perjalanan darat. Anda berada di Jakarta dan ingin pergi ke Medan naik pesawat terbang, maka terjadilah perjalanan udara. Apa artinya? Perjalanan itu adalah perbuatannya dan kota yang ingin dituju adalah alasan dilakukannya perbuatan itu. Sementara kota tempat Anda berada saat ini adalah titik tolak keberangkatan Anda. Kota itu menggambarkan keadaan diri Anda yang sekarang.
Jika Anda adalah seorang yang taraf penghasilannya pas-pasan, maaf, mungkin Anda termasuk kalangan menengah ke bawah, tapi Anda ingin berubah dari keadaan itu, berarti ada alasan bagi Anda untuk melakukan ‘perjalanan’. Dalam hal ini Anda akan melakukan sesuatu. Apabila Anda ingin meningkatkan penghasilan itu hingga Anda terangkat dari ekonomi pas-pasan menjadi kaya raya, maka kaya raya itu adalah ibarat kota tujuan Anda.
Kota tempat Anda saat ini adalah keadaan pas-pasan dan kota tujuannya adalah kaya raya. Maka Anda harus melakukan perjalanan menuju kota tujuan Anda dengan kendaraan yang tepat. Kalau Anda berada di Jakarta dan ingin pergi ke Paris naik kereta api, Anda tidak akan pernah sampai. Kalau Anda naik kapal laut, Anda mungkin akan sampai di sana tapi makan waktu yang sangat lama. Jika Anda naik pesawat terbang, Anda akan cepat sampai ke tujuan. Tapi biaya yang Anda perlukan akan lebih mahal dan resiko keselamatan juga lebih besar. Jika Anda naik kapal laut dan terjadi kecelakaan di tengah laut, masih ada sekoci yang akan menyelamatkan Anda. Tapi jika Anda naik pesawat terbang dan terjadi kecelakaan di udara, maka kemungkinan Anda selamat lebih kecil. Itulah resikonya, tapi jika perjalanan itu lancar, maka Anda akan sampai di tujuan lebih cepat dan memuaskan.
Baik, itu hanyalah satu contoh tentang pentingnya direction, tujuan dalam hidup kita. Bahwa ketika kita akan melakukan sesuatu, janganlah melakukannya tanpa alasan yang kuat. Bolehlah Anda bekerja sebagai pegawai, karyawan, wiraswasta, atau mungkin Anda adalah pengusaha. Tapi janganlah apa yang Anda lakukan itu tak punya tujuan atau arah yang benar. Bahkan, jangan sampai semua itu menggelincirkan Anda kepada kehancuran.
Arah atau tujuan yang terpenting dalam hidup kita adalah kehidupan yang abadi pasca kematian. Ini adalah persoalan besar yang sangat erat kaitannya dengan keimanan. Dan kalau bicara soal keimanan, ini berkaitan dengan keadaan hati seseorang, bukan sekedar akalnya. Jangan Anda salah menempatkan iman. Iman berada di dalam hati dan bagi pemiliknya iman itu akan menjadi suatu sensasi yang luar biasa. Iman adalah sesuatu yang menggetarkan hati seseorang apabila ia mendengar nama Allah disebut.
Dalam ayat ke-2 Surat Al-Anfaal Allah berfirman yang artinya “Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah mereka yang jika disebut nama Allah maka tergetarlah hatinya.” Anda lihat, struktur kalimatnya pasif. Apa artinya? Sensasi itu berlangsung secara otomatis. Seakan-akan seorang mu’min tak kuasa menahan gejolak di hatinya karena kerinduan kepada Tuhannya. Maka secara otomatis pula sensasi keimanan itu akan berpengaruh besar terhadap sense of direction di dalam hidupnya. Dia menyadari sepenuhnya bahwa segenap hidupnya hanyalah untuk Allah. Dia berprinsip Allahu ghaayatuna, “Allah adalah tujuan kami.”
Lalu bagaimanakah caranya menerapkan sense of direction bahwa Allah adalah tujuan hidup kita? Kita kaitkan lagi dengan masalah responsibilitas tadi, bahwa hendaknya usia kita, ilmu, harta, dan fisik kita diarahkan sepenuhnya untuk mengabdi kepada Allah. Maka kita ini adalah hamba. Kita adalah hamba Allah yang mencurahkan segala aktivitas hidup kita dengan penuh kesungguhan menuju ke hadirat-Nya. Maka renungkanlah firman Allah, “Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.” (Al-Insyiqaaq: 6).
Ayat itu adalah pengingat bagi kita, bahwa apapun aktivitas kita, apapun pekerjaan kita, maka kita akan menjumpai-Nya. Baik atau buruk yang kita lakukan adalah pilihan hidup kita. Tapi tetap saja kita akan bertemu dengan-Nya dan akan ditanyai tentang pilihan kita itu. Dalam keadaan bagaimanakah Anda ingin berjumpa dengan-Nya? Pilihan kita atas perjalanan hidup yang kita pimpin sendiri, akan menentukan keadaan kita pada saat berjumpa dengan Allah SWT, apakah Dia murka ataukah ridha kepada kita. []





0 comments:
Posting Komentar