Sekilas Perjalanan
Ketika Muhammad telah mendapat amanat kenabian, beliau terkadang mengenang kembali apa yang dahulu pernah dialaminya di masa kecil. Meskipun itu terjadi di era jahiliyah. Terutama hal yang merupakan best of the best-nya produk peradaban kaumnya di waktu itu. Beliau bercerita, “dahulu di rumah keluarga Abdullah bin Jad’an, aku pernah menyaksikan sebuah persepakatan yang lebih kusukai dari pada onta merah sekali pun. Kalau sekarang di era Islam ini aku diundang untuk (hal seperti) itu pasti akan kupenuhi (undangannya).”
Persepakatan yang dibuat di rumah keluarga Abdullah bin Jad’an at-Taimiy itu, dalam Kitab Sirah, disebut sebagai Hilful Fudhul. Saat itu usia beliau kurang lebih 15 tahun. Beberapa tokoh dari kabilah-kabilah kaum Quraisy yang terdiri dari Bani Hasyim, Bani Abdul Muthalib, Bani Asad bin Abdul Uzza, Bani Zuhrah bin Kilab dan Bani Taim bin Murrah bertemu di rumah pemuka kabilah Bani Taim tersebut. Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan bersama, “bahwa apabila terjadi tindak kezaliman di Mekah yang menimpa siapa pun di antara penduduk asli Mekah atau orang lain, maka mereka semua harus membela orang yang dizholimi dan menentang pelaku kezholiman sampai orang yang dizholimi mendapatkan haknya kembali.”
Banyak lagi kenangan kecil beliau di era masyarakat jahiliyah. Di antaranya, sebagai anak remaja, sesekali terbesit juga keinginan untuk ikut begadang sambil menonton atau mendengarkan hiburan bersama remaja-remaja lain sebayanya. Beliau berkata, “tidak lebih dari dua kali terbesit keinginanku untuk melakukan apa yang biasa dilakukan oleh ahli jahiliyah. Namun, Allah telah menghalangiku dari mewujudkan keinginan itu. Sejak itu hingga dimuliakan Allah dengan kerasulan, aku tidak lagi punya keinginan untuk hal-hal seperti itu.” Dalam dua kali keinginan itu, seakan-akan Allah membuat telinganya tuli dan matanya digelayuti rasa kantuk yang menyebabkannya tertidur pulas hingga batal mengikuti tradisi hura-hura anak-anak remaja kala itu.
Selain berprofesi sebagai pengembala kambing untuk mendapatkan upah sedirham dua dirham, Muhammad muda juga sering dipercayai oleh kaumnya untuk menjagakan barang-barang berharga mereka. Bahkan beliau pun tidak canggung-canggung berbaur dengan kaumnya dalam kerja-kerja sosial. Sungguh pun begitu, beliau tetap memilah dan memilih mana yang bisa diikuti dan mana yang tidak. Prinsip nakhtalitun waa laakin natamayyazuun [terjemah bebasnya, kami berbaur tapi tidak sampai lebur] yang menjadi slogan gerakan dakwah kontemporer, rupa-rupanya telah diterapkan oleh beliau. Ketika ada keributan untuk memperebutkan “kehormatan” meletakkan hajar aswad di tempatnya, beliau tidak ikut-ikutan. Dalam keadaan genting, justru beliau hadir sebagai penengah yang melegakan semua pihak dan menghindarkan pertumpahan darah.
Dalam pemugaran Ka’bah, beliau ikut pamannya, Abbas membantu mangangkat batu-batu. Agar kulit pundaknya tidak lecet terkena batu, pamannya menasehati, “Gunakan sarungmu untuk mengalas pundak!” (Harap maklum, kehidupan beliau dan masyarakatnya yang serba miskin menyebabkan pakaian kebanyakan orang kala itu hanya berupa sehelai kain tanpa berjahit yang dililitkan dari pinggang hingga sedikit di bawah lutut, ketika ditarik ke atas untuk menutupi pundak, maka sudah pasti auratnya akan terbuka) Ketika beliau hendak mengikuti nasehat pamannya mengalas pundak dengan kain sarung, tiba-tiba beliau jatuh tersungkur setengah tidak sadarkan diri. Setelah bangun, beliau segera membenahi sarungnya untuk menutup auratnya lagi. Kejadian tersingkap aurat itu saat beliau baru beranjak remaja dan hanya sekali itu saja terjadi sepanjang hayat beliau. Pasti Allah-lah yang menjaga manusia yang kelak menjadi Nabi dari segala aib yang memalukan dan menghinakan.
Sejumput Pelajaran
Nabi Muhammad, saw. telah mengajarkan kepada ummatnya agar pandai mengapresiasi kebaikan, sekali pun itu datangnya dari kelompok masyarakat yang tidak disukai. Pujian beliau terhadap hilful fudhul – yang merupakan produk masyarakat jahiliyah -- adalah buktinya. Jangankan kebaikan dan kebenaran dari sesama manusia, dari sosok makhluq gembong kebohongan pun Rasulullah saw. mengizinkan sahabatnya menerima apa yang diajarkan. Tersebut dalam shahih Bukhari, bahwa sahabat Abu Hurairah pernah memergoki pencuri yang menyatroni baitul mal. Sekali dan dua kali si pencuri itu dilepas karena berhasil meyakinkan si penangkapnya dengan alasan mencuri karena terpaksa.
Dua kali kejadian itu dilaporkan kepada Nabi dan beliau mengatakan bahwa dia berbohong, besuk pasti akan kembali lagi. Betul, ketiga kalinya pencuri itu datang lagi dan tertangkap basah. Kali ini Abu Hurairah bertekad untuk tidak melepaskannya, namun dia berjanji akan memberitahukan sebuah bacaan yang bisa membuat setan lari. Bacaan tersebut adalah ayat Kursi. Maka dia pun dilepaskan. Keesokan harinya, Abu Hurairah, ra. memberitahu Rasul tentang kejadian semalam. Kata beliau, “kali ini dia benar [yakni tentang kegunaan ayat Kursi untuk menngusir setan] meski pun dia adalah pembohong. Kamu tahu, siapakah yang kamu ajak bicara sejak tiga malam itu?” Abu Hurairah berkata, “Tidak tahu.” Rasulullah menjelaskan, “dia adalah setan.”
Pelajaran dari mana pun datangnya, asalkan tidak bertentangan dengan ruh dan syariat Islam telah terbukti dapat diterima dalam peradaban Islam. Sebagaimana, menurut Imam al-Mawardi dalam Ahkam Sulthaniyah-nya, Khalifah Umar ra. telah mengadobsi model manajemen Bangsa Romawi dan Persia, terutama yang terkait dengan pembukuan harta benda yang masuk kepada negara, catatan hak dan kewajiban pemerintah, gaji dan tugas pasukan, hingga kepada masalah kependudukan. Sebagian dari produk peradaban Islam adalah hasil dari Islamisasi budaya atau Islamisasi sarana. Bahkan dalam hukum Islam dikenal kaedah akomodatif berbunyi, “al-‘aadatu muhakkamatun” (adat atau kebiasaan baik yang berlaku ditengah masyarakat – selagi tidak bertentangan dengan prinsip syariat Islam – bisa diberlakukan sebagai hukum).
Demi kebaikan dan kemashlahatan bersama -- apalagi dalam perkara yang tidak bertentangan dengan ruh dan syariat Islam - seorang dai dan pemimpin umat semestinya menjadi pelopor dan penganjur utama. Bukan hadir ketika ada pamrih dan kepentingan pribadi, namun hadir untuk membawa solusi. Seorang dai dan pemimpin yang baik tidak akan jauh dari rakyat dan objek dakwahnya. Bergaul dengan semua lapisan masyarakat dengan kepribadian yang matang dan karakter yang menyenangkan. Sehingga bisa berbaur tanpa lebur dan membersamai tanpa ternodai. Rasulullah memuji pribadi Muslim yang demikian itu:
الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهِمْ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنَ الَّذِي لا يُخَالِطُ النَّاسَ ، وَلا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهِمْ
"Seorang Mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas perkara yang menyakitkan mereka adalah lebih besar pahalanya dari pada seorang (mukmin) yang tidak mau bergaul dengan manusia dan tidak bersabar atas perkara yang menyakitkan mereka." (dari Ibnu Umar diriwayatkan oleh al-Bukhari)
Rasulullah saw. tidak dibiarkan oleh Rabb-nya terkontaminasi prilaku dan budaya buruk kaumnya. Sebagai calon panutan dan manusia teladan Utusan Allah tentu tidak pantas memiliki latar belakang prilaku menyimpang. Keterjagaan (ishmah) beliau dari perbuatan tercela bukan tiba-tiba setelah diangkat sebagai Nabi, bahkan sejak dini. Seperti beliau dipalingkan dari berkeinginan kepada perbuatan sia-sia hingga terjaga dari aib (nyaris terbuka auratnya meski pun beliau masih sangat muda) yang bisa menjatuhkan harga diri.
Tentu semua itu adalah bagian dari skenario Allah untuk melindungi calon Utusannya kelak. Karena penyeru kebaikan dan kebenaran tertinggi pastinya harus datang dari pribadi yang bersih dan paripurna. Begitulah para dai penyeru kebaikan dan keluhuran akhlaq, meski pun tidak maksum (terjaga dari dosa), tetapi haruslah senantiasa berusaha untuk memperbaiki diri dan menjauhi segala perbuatan tercela walau sekecil apa pun. Sungguh indah bait-bait syair berikut ini yang mengingatkan agar seorang dai dan penyeru kebaikan itu bukanlah pribadi jarkoni (istilah orang Jawa yang berarti, bisa berujar tidak bisa ngelakoni):
ياأيها الرجلُ المعلمُ غيرهُ *** هلا لنفسك كان ذا التعليمُ
Wahai guru bagi orang lain, sudahkah kau ajari dirimu
تصفُ الدواء لذي السقام وذي الضنى *** كيما يصح به وأنت سقيمُ
Kau meracik obat untuk yang sakit, mana bisa menyembuhkan jika dirimu sendiri berpenyakit
ونراك تصلحُ بالرشاد عقولنا *** أبداً وأنتَ من الرشاد عديمُ
Kau perbaiki pikiran kami dengan bimbingan, mana bisa jika kau sendiri tidak terbimbing
لا تنهَ عن خلقٍ وتأتي مثلهُ *** عارٌ عليك إذا فعلت عظيمُ
Jangan melarang satu prilaku, sementara kau sendiri melakukannya, sungguh sangat memalukan jika itu kau lakukan
وابدأ بنفسك فانهها عن غيِّها *** فإذا انتهتْ منه فأنتَ حكيمُ
Mulailah dari dirimu terlebih dahulu, halangi dari kesesatan, jika kamu berhasil barulah kamu bijak
فهناك يقبلُ ما وعظتَ ويفتدى *** بالعلم منك وينفعُ التعليمُ
Dari situlah nasehatmu akan diterima, orang akan siap berkorban untuk mendapatkan ilmu darimu dan bergunalah pengajaranmu []





0 comments:
Posting Komentar