دعـوتنــــا
17 November 2012
Risalah Da'watuna (bagian ke-2)
دعـوتنــــا
Risalah Da’watuna (Dakwah Kami)
Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna
Part #2
لله الفضل و المنة
و لسنا نمتن
بشيء ولا نرى لأنفسنا في ذلك فضلا ، و إنما نعتقد قول الله تعالى : ( بَلِ اللهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلإِيمَانِ إِنْ
كُنْتُمْ صَادِقِينَ) (الحجرات:17) .
KEUTAMAAN HANYALAH MILIK ALLAH SWT
Kami
tidaklah merasa berjasa dengan suatu apa pun dan tidak pula menganggap diri
kami memiliki keutamaan. Hanyalah kami meyakini firman Allah SWT, “Bahkan sebenarnya Allah, Dia-lah yang melimpahkan nikmat-Nya
kepadamu dengan menunjukimu kepada keimanan, jika kamu adalah orang-orang yang
benar.” (QS. Al-Hujuraat: 17)
وكم نتمنى – لو تنفع المنى – أن تتفتح هذه القلوب على مرأى و مسمع من أمتنا
، فينظر إخواننا هل يرون فيها إلا حب الخير لهم و الإشفاق عليهم و التفاني في
صالحهم ؟
Kami
sering berangan-angan – andaikan angan-angan itu bermanfaat – bahwa hati kami
terbuka di hadapan penglihatan dan pendengaran umat ini, sehingga
saudara-saudara kami bisa melihat sendiri, adakah mereka melihat sesuatu di
dalam hati kami selain menginginkan kebaikan untuk mereka, rasa kasih terhadap
mereka, serta rela mati untuk kemaslahatan mereka?
وهل يجدون
إلا ألما مضنيا من هذا الحال التي وصلنا إليها ؟
Apakah
mereka menemukan dalam hati kami selain kepedihan mendalam atas apa yang sedang
kita alami?
و لكن حسبنا
أن الله يعلم ذلك كله ، و هو وحده الكفيل بالتأييد الموفق للتسديد، بيده أزمة
القلوب و مفاتيحها ، من يهد الله فلا مضل له و من يضلل الله فلا هادي له و هو
حسبنا و نعم الوكيل . أليس الله بكاف عبده؟
Namun,
cukuplah bagi kami bahwa Allah SWT mengetahui itu semua. Hanya Dia-lah yang
menjamin dukungan yang tepat, agar kami selalu benar. Di tangan-Nya-lah berada
semua kendali dan kunci hati. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tiada
yang dapat menyesatkannya. Dan siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tiada
yang dapat menunjukinya. Cukuplah Dia bagi kami, Dia-lah sebaik-baik tempat
bergantung. Bukankah Allah yang mencukupi hamba-Nya?
Risalah Da'watuna (bagian ke-1)
دعـوتنــــا
Risalah Da’watuna (Dakwah Kami)
Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna
Part #1
نحب أن نصارح
الناس بغايتنا ، وأن نجلي أمامهم منهجنا ، وأن نوجه إليهم دعوتنا ، في غير لبس ولا
غموض ، أضوأ من الشمس وأوضح من فلق الصبح وأبين من غرة النهار.
KETERUSTERANGAN
Kami
ingin (dengan keinginan yang amat sangat) berterus terang kepada manusia
tentang tujuan kami, mengungkapkan manhaj kami di hadapan mereka, dan
menyampaikan seruan kami kepada mereka tanpa ada kerancuan dan kesamaran; lebih
terang dari sinar mentari, lebih cerah dari cahaya fajar, dan lebih jelas dari
kecemerlangan siang.
بـــراءة
ونحب مع هذا
أن يعلم قومنا – و كل المسلمين قومنا – أن دعوة الإخوان المسلمين دعوة بريئة نزيهة
، قد تسامت في نزاهتها حتى جاوزت المطامع الشخصية ، واحتقرت المنافع المادية ،
وخلفت وراءها الأهواء والأغراض ، ومضت قدما في الطريق التي رسمها الحق تبارك
وتعالى للداعين إليه :
(قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ
أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ)
(يوسف:108) .
فلسنا نسأل
الناس شيئا ، و لا نقتضيهم مالا ولا نطالبهم بأجر ، ولا نستزيد بهم وجاهة ، ولا
نريد منهم جزاء ولا شكورا ، إن أجرنا في ذلك إلا على الذي فطرنا.
KESUCIAN
Dan
kami juga ingin agar kaum kami – dan seluruh kaum muslimin adalah kaum kami –
mengetahui bahwa da’wah Ikhwanul Muslimin itu bersih dan suci. Kebersihannya
benar-benar mulia, hingga melampaui ambisi pribadi, menganggap kecil keuntungan
materi, meninggalkan hawa nafsu dan kesenangan sementara. Ia terus melaju di
jalan yang telah digariskan Allah SWT untuk para da’i:
“Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang
mengikutiku mengajakmu kepada Allah dengan hujjah yang nyata.’ Mahasuci Allah,
dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS.
Yusuf: 108)
Maka
kami tidak meminta sesuatu pun dari manusia, tidak mengharap harta, tidak
menuntut balasan, tidak menginginkan popularitas, dan tidak menghendaki imbalan
serta ucapan terima kasih. Sungguh, pahala amal kami hanyalah dari Dzat yang
telah menciptakan kami.
عـاطــفة
و نحب أن يعلم
قومنا أنهم احب إلينا من أنفسنا ، و أنه حبيب إلى هذه النفوس أن تذهب فداء لعزتهم
إن كان فيها الفداء ، و أن تزهق ثمنا لمجدهم و كرامتهم و دينهم و آمالهم إن كان
فيها الغناء،
KASIH SAYANG
Kami
ingin agar kaum kami mengetahui bahwa mereka lebih kami cintai daripada diri
kami sendiri. Sungguh, jiwa-jiwa kami ini menyukai gugur sebagai penebus bagi
kehormatan mereka, jika memang tebusan itu diperlukan, atau melayang untuk
membayar kejayaan, kemuliaan, agama dan cita-cita mereka, jika memang itu
mencukupi.
وما أوقفنا
هذا الموقف منهم إلا هذه العاطفة التي استبدت بقلوبنا و ملكت علينا مشاعرنا ،
فأقضت مضاجعنا ، و أسالت مدامعنا ، و إنه لعزيز علينا جد عزيز أن نرى ما يحيط
بقومنا ثم نستسلم للذل أو نرضى بالهوان أو نستكين لليأس ،
Dan
tiada yang membawa kami kepada sikap seperti ini terhadap mereka, kecuali
karena rasa kasih sayang yang telah mencengkeram hati kami, menguasai perasaan
kami, menghilangkan rasa kantuk kami, dan mengalirkan air mata kami. Sungguh,
kami benar-benar sedih melihat apa yang menimpa umat ini, sementara kita hanya
bisa menyerah pada kehinaan, ridha pada kerendahan dan pasrah pada
keputusasaan.
فنحن نعمل
للناس في سبيل الله أكثر مما نعمل لأنفسنا، فنحن لكم لا لغيركم أيها الأحباب ، و
لن نكون عليكم في يوم من الأيام.
Maka
kami bekerja di jalan Allah untuk kemaslahatan seluruh manusia, lebih banyak
daripada apa yang kami lakukan untuk kepentingan diri kami sendiri. Kami adalah
milik kalian wahai saudara-saudara tercinta, bukan untuk orang lain. Sesaat pun
kami tak akan pernah menjadi musuh kalian.
16 November 2012
Menghadapi Fluktuasi Ambisi
Kegagalan seringkali menghancurkan harapan-harapan yang kita miliki.
Impian atau cita-cita, ambisi yang begitu kuat pada mulanya, seketika memudar
begitu cepat. Posisikan diri Anda sebagai seorang caleg yang kalah dalam
pemilu. Telah Anda kerahkan segalanya, pikiran, tenaga, dan dana yang begitu
besar. Anda giring masyarakat agar mau memilih Anda saat pemilu. Dan ketika
melihat antusiasme masyarakat dalam kampanye, Anda yakin betul akan menang, Anda
akan terpilih sebagai anggota dewan. Dalam khayal, Anda bayangkan kursi legislatif
yang akan Anda duduki. Dan tersemat pada diri Anda sebutan wakil rakyat.
Tapi apa yang terjadi? Anda gagal. Anda pun
kecewa kepada masyarakat yang telah menikmati jasa Anda tapi tak mau memilih
Anda. Anda yang semula bercita-cita mulia, ingin membangun dan memajukan
masyarakat, kini balik berburuk sangka dan kecewa berat pada masyarakat itu.
Cita-cita yang telah Anda canangkan sebelumnya, sirna seketika.
Ambisi itu memang tidak stabil. Kadang naik,
kadang turun. Seperti juga yang Anda rasakan sebagai mood atau suasana
hati. Kalau Anda sedang mood dalam suatu aktivitas, pasti Anda akan
mengerjakannya dengan senang hati, ada bayarannya atau tidak. Anda tidak
terlalu perhitungan dengan untung-ruginya. Pekerjaan itu Anda lakukan dengan
ringan, tanpa beban, tanpa merasa terpaksa. Seandainya pun Anda bisa bekerja 24
jam non-stop, Anda tetap akan melakukannya. Bahkan pun kalau sehari itu sama
dengan 40 jam, mungkin Anda tetap akan melakukannya. Sebaliknya, jika mood
Anda sedang jelek, jangankan 10 jam bekerja, 1 jam saja sudah terasa
membosankan. Anda akan bekerja dalam kondisi perasaan yang tersiksa. Kenapa?
Karena Anda terpaksa, tidak ada ketulusan dalam melakukannya.
Itulah keadaan ambisi. Ia memang bisa mengambil
bentuk sebagai obsession (obsesi) tapi seringkali ia juga menjelma menjadi
obtuseness (kebodohan). Dan tampak jelas di antara keduanya ada obstacle
(hambatan atau rintangan).
Awalnya adalah pengetahuan seseorang akan sesuatu
yang bermanfaat. Pengetahuan itu kemudian menumbuhkan rasa suka. Kemudian muncullah
keinginan untuk memilikinya. Munculnya keinginan itu diiringi pula dengan
penambahan pengetahuan tentang sesuatu itu. Dia akan berpikir dan mencari tahu
bagaimana cara mendapatkannya. Itu jika dia benar-benar menginginkannya. Jika
dalam proses mencari tahu serta usaha mendapatkannya dia selalu terbayang
dengan sesuatu itu dan tidak bisa tidur dibuatnya, maka itu artinya ambisi
telah menjadi obsesi. Hal ini mirip dengan seseorang yang jatuh cinta. Dia
selalu membayangkan kekasihnya dan sulit menikmati kehidupan normalnya
sehari-hari.
Saat dia telah mengetahui jalan untuk mendapatkan
sesuatu (yang dia inginkan) itu, maka dia pun mulai berpikir lagi. Dan dia akan
bertanya dalam hati, “Apakah saya bisa? Mampukah saya? Apa resiko yang harus
saya hadapi?” dan seterusnya.
Jika kemudian dia merasa tak akan bisa
mendapatkannya, sementara obsesinya terus terfokus pada keinginan itu namun
tanpa melakukan apa-apa, maka itu artinya ambisi telah menjelma menjadi
kebodohan. Dan itulah yang disebut dengan angan-angan. Angan-angan itu
membuatnya tak bisa tidur. Tapi anehnya dia tak melakukan apa-apa, hanya
mengkhayal.
Ada kalanya ambisi seseorang hilang. Seringkali dia
terpengaruh oleh komentar dan opini negatif orang lain terhadap apa yang dicita-citakan.
Mereka mengatakan bahwa dia tak akan bisa melakukannya, terlalu berat, terlalu
memaksakan diri, dan berbagai komentar lain. Kebanyakan, yang sering membuatnya
turun semangat adalah ketika mereka menceritakan kemungkinan pahit dari
cita-citanya itu berdasarkan pengalaman mereka atau dari kisah lama yang mereka
tahu. Inilah “teror” secara halus terhadap orang yang ingin sukses.
Karena kemudian dia pun menjadi takut gagal, maka
dia mengurungkan ambisinya itu. Kemudian ambisi-ambisi yang lain akan
bermunculan seiring dengan bertambahnya informasi tentang dunia luar, tentang
segala hal yang belum dia ketahui selama ini. Tapi ada kalanya setelah itu dia
tak memiliki ambisi apa-apa lagi. Banyak orang-orang sepertinya yang lebih memilih
untuk hidup apa adanya, mengalir begitu saja tanpa ada cita-cita besar hingga
ajal menjemput mereka. Maka wajar saja jika tak ada prestasi besar dalam hidup mereka.
Tapi uniknya manusia selalu berubah-ubah. Kondisi
hati memang tidak stabil, seperti namanya qalbu yang artinya sesuatu
yang tidak tetap, tempat terjadinya perubahan gagasan. Maka boleh jadi setelah
lama ambisi itu hilang, tiba-tiba ia muncul lagi. Dan bisa jadi pula seseorang
kemudian melakukan apa yang dulu tidak berani dia lakukan. Kenapa? Karena ada
motivasi, ada sesuatu yang mendorong atau menariknya untuk melakukan itu.
Apa yang mendorong dan apa yang menarik sehingga dia
kembali berambisi? Yang mendorong adalah realitas dan yang menarik adalah idealitas.
Biasanya realitas itu berbentuk ketidaknyamanan, kekurangan, kebutuhan, atau keadaan
bahaya. Maka umumnya seseorang akan bergerak jika dia tidak nyaman, atau jika dia
membutuhkan sesuatu, atau merasa ada hal yang membahayakan dirinya. Tapi itu terjadi
jika dia merasakan adanya ketidaknyamanan, kebutuhan atau keadaan bahaya itu.
Jika dia tak menyadari adanya hal-hal tersebut, meskipun kenyataannya memang
demikian, maka dia pun tidak akan bergerak.
Sedangkan idealitas itu berbentuk cita-cita,
bayangan tentang sesuatu yang indah dan menyenangkan, keberlimpahan materi,
keamanan dan kenyamanan, dan sebagainya. Karena semua itu belum terwujud, jauh
di depan sana, maka idealitas itu memiliki sifat menarik. Hati kita akan
tertarik sehingga kita ingin ke sana, ingin segera sampai ke tempat tujuan.
Tentu ini juga sangat bergantung pada variabel pengetahuan kita tentang
idealitas itu. Kalau kita tidak punya idealitas, tak punya cita-cita yang
besar, atau tak punya selera yang tinggi, maka kita pun tak akan tertarik dan
kita tak akan bergerak.
Kemudian, umpamanya ambisi kita sedang
menyala-nyala setelah sebelumnya redup. Kita bersemangat dalam menyelesaikan
suatu pekerjaan yang mendukung terwujudnya ambisi kita itu. Ambisi itu tidak
sekedar menjadi obsession yang membuat kita selalu gelisah jika ia belum
tercapai. Tapi ambisi itu membuat kita selalu on mission dalam semua
aktivitas yang kita lakukan. Kita bekerja dan terus bekerja karena ambisi itu
belum juga terwujud.
Apa yang terjadi kemudian? Umpamakan bahwa lagi-lagi
kita menemui kesulitan dan gagal. Lagi-lagi ambisi kita memudar. Memang begitulah
adanya. Ambisi selalu fluktuatif sebagaimana hati yang terus berubah-ubah.
Karena itu, kita tak bisa menafikan peran penting hati kita. Stabilitas hati
mendukung stabilnya ambisi. Sementara stabilitas hati kita tergantung pada
kesehatannya. Jadi sekiranya kita mengalami kegagalan, kemudian ambisi kita
menurun, maka terapi atas penyakit hati adalah solusi yang tepat.
“Ingatlah bahwa di dalam jasad ada sekerat
daging. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh jasadnya, dan apabila ia rusak,
maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah, sekerat daging itu adalah hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Seringkali kita turun semangat dalam melakukan
sesuatu karena kita dibutakan oleh sesuatu yang kita kerjakan. Tapi lebih
tepatnya kita dibutakan oleh pikiran kita sendiri. Wujud dari turunnya semangat
atau ambisi itu adalah berhentinya kita bekerja, mengambil waktu jeda, melupakan
semua itu sesaat, atau kita meninggalkannya sama sekali. Jika keinginan untuk
meraih sukses ternyata masih ada, maka keinginan dan semua cita-cita itu pun menjadi
kabur dan samar. Tinggallah kita menjadi orang yang berangan-angan, punya
cita-cita besar tapi berjiwa kerdil. Dan bentuk yang paling sering kita ambil
adalah penundaan. Kalau kita teliti dengan cermat, penundaan ini adalah bentuk
ketertipuan kita akan hakikat kehidupan.
Orang yang berangan-angan memang tak pernah
berpikir tentang kematian yang bisa datang kapan saja, bahkan bisa jadi besok.
Orang yang berangan-angan bahwa suatu ketika dia akan sukses dalam
pekerjaannya, tapi selalu menunda-nunda apa yang sedang dikerjakan, berarti dia
memprediksikan bahwa dia masih akan hidup lebih lama lagi. Mungkin dia selalu
berpikir, “Ah, besok saja saya melakukannya, besok saja saya beramal shalih,
nanti saja serius beribadah, sekarang kerjakan yang lain dulu atau sekarang
santai saja dulu. Toh, masih ada nanti atau besok.” Tapi ternyata nanti atau
besoknya dia berpikir seperti itu lagi. Dengan kata lain, orang ini tidak kuat
kemauannya, tidak punya kesungguhan. Dan semoga itu bukan kita.
Memang kalau kita mau jujur, persoalan kesegeraan
dan sebaliknya penundaan kita dalam mengerjakan “proyek-proyek ibadah” kita
adalah bagian dari ukuran kualitas keimanan kita. Maka kita akan semangat
bekerja jika kondisi keimanan kita sedang fit dan semangat itu akan turun jika
kondisi keimanan kita menurun. Cara kita melaksanakan proyek ibadah kita akan
menunjukkan semua itu dengan jelas.
Cara terbaik untuk memperbarui ambisi amal shalih
adalah banyak mengingat mati. Inilah tema yang sering dihindari di zaman yang
serba hedonistik ini. Budaya yang marak di sekitar kita adalah budaya hiburan, having
fun, lupa diri dan lupa daratan, yang semua itu cenderung membuat para
penikmatnya lupa akan hakikat kehidupan. Akhirnya kita pun lalai dalam nyanyian
dan musik yang menghanyutkan pikiran, tontonan yang membuat kita makin mengkhayal,
obrolan yang tak ada nilainya, dan berbagai sarana yang menjadi kesenangan belaka.
Maka menjadi wajar jika masyarakat seperti itu sulit diajak untuk maju.
Kita tak bermaksud negative thinking
terhadap masyarakat dan menyalahkan keadaan sebab kita adalah bagian dari
masyarakat itu sendiri. Tapi inilah tantangannya. Kita ditantang untuk melawan
arus. Maksudnya, bagaimana kita menjadi baik walaupun lingkungan kurang kondusif.
Kita perlu mempopulerkan tradisi dzikrul maut, sedang di saat yang sama banyak
orang terlalu mencintai kehidupan dan takut akan kematian. Inilah tema yang
mencerdaskan, seperti telah disabdakan Rasulullah SAW: “Orang yang paling
cerdas adalah orang yang dapat mengendalikan nafsunya dan beramal untuk bekal
pasca-kematian.” (HR. Tirmidzi)
Kita sepakat dengan itu. Dan selayaknya kita tak
perlu berselisih lagi tentangnya. Tapi masalahnya, bisakah kita menjalankannya?
Dan bagaimana mungkin kecerdasan bisa didapat dengan cara mengingat kematian?
Lalu bisakah dzikrul maut itu memperbarui ambisi kita? Maksudnya, apa
mungkin kita bisa bertambah semangat dengan memikirkan kematian?
Seorang teman bercerita kepada saya bahwa suatu
ketika dia sering membaca buku-buku tentang kematian dan Hari Kiamat. Katanya,
di masa-masa itu dia menjadi lesu, tidak semangat dalam bekerja. Mungkin banyak
juga orang yang mengalami hal semacam itu. Saya menduga hal itu disebabkan
kurang sempurnanya kesadaran kita bahwa keseluruhan hidup ini adalah ibadah,
bukan hanya pada saat-saat ibadah yang bersifat ritual.
Sebenarnya kita hanya perlu mengalokasikan ruang
di hati kita untuk porsi dzikrul maut yang cukup besar. Dan perlu ada
pengaturan dalam hati, ada kalanya kita menangis saat dzikrul maut
karena mengingat dosa-dosa sehingga kita segera memohon ampunan Allah. Dan ada
kalanya kita bertambah semangat saat dzikrul maut karena tak ingin
menyia-nyiakan waktu yang tersisa sehingga kita beramal sesegera mungkin.
Bisa jadi kita mengalami kondisi jiwa yang
berlawanan. Pada awalnya kita menangis seakan hampir putus asa, tapi segera
setelah itu kita bersemangat seperti ingin menaklukkan dunia. Kondisi itu
tidaklah aneh. Sebab, saat kita menangis dan merintih, kita melakukannya dengan
penuh harap kepada Allah akan rahmat dan ampunan-Nya. Dan saat kita
bersemangat, kita ingin membuktikan bahwa kita sungguh-sungguh berusaha meraih
ridha-Nya.
Orang yang selamanya bersedih dan turun semangat,
biasanya tak memiliki arah yang jelas di dunia ini. Dia tak punya rencana
kerja-kerja besar yang bisa dia perankan. Sementara orang yang selamanya berpacu
dengan dunianya dan memiliki kerja-kerja besar yang sedang dijalaninya, maka
dia akan mengalami kegersangan jiwa. Dia pandai memanfaatkan fasilitas dunia
ini, tapi sayangnya dunia inilah yang dia jadikan tujuan akhirnya.
Karenanya yang kita perlukan adalah irama hidup
yang seimbang. Kita memang harus punya ambisi untuk menjadi sesuatu dalam
kehidupan ini. Tapi kita pun harus sadar bahwa kehidupan ini bukanlah tujuan
kita. Ia hanya sarana yang akan mengantarkan kita pada tujuan sebenarnya. Maka dzikrul
maut menjadi penting untuk dilakukan. Jika kita sering mengingat mati, maka
kita akan sibuk mempersiapkan diri dengan amal kebaikan. Dan semua pekerjaan
yang disebut pekerjaan duniawi pun termasuk bagian dari bekal menghadapi kematian.
Kita juga harus pandai dan bijak menyikapi dan
memperlakukan semua dimensi waktu dalam hidup ini. Memang, kita punya masa lalu
yang terkadang kita sesali. Atau masa lalu itu tersimpan dalam memori kita
sebagai kekayaan motivasi. Kita juga punya masa depan yang sering berwujud
menjadi angan-angan atau keraguan besar. Tapi hidup kita hanyalah hari ini.
Jika hari ini hanya diisi dengan mengenang masa lalu dan mengangankan masa
depan, maka kita tak akan bergerak. Masa lalu itu harus menjadi pendorong
sedangkan masa depan adalah sesuatu yang menarik. Tapi hidup kita tinggal hanya
hari ini saja. Dan kita harus melakukan sesuatu. Soal hasil, itu bukan urusan
kita, yang penting kita benar-benar beramal. []
16 Oktober 2012
Kisah Hasan Al-Bashri dan Seorang Gadis Kecil
Sore itu Hasan al-Bashri sedang duduk-duduk di teras
rumahnya. Rupanya ia sedang bersantai makan angin. Tak lama setelah ia duduk
bersantai, lewat jenazah dengan iring-iringan pelayat di belakangnya. Di bawah
keranda jenazah yang sedang diusung berjalan gadis kecil sambil terisak-isak.
Rambutnya tampak kusut dan terurai, tak beraturan.
Al-Bashri tertarik penampilan gadis
kecil tadi. Ia turun dari rumahnya dan turut dalam iring-iringan. Ia berjalan
di belakang gadis kecil itu. Di antara tangisan gadis itu terdengar kata-kata
yang menggambarkan kesedihan hatinya. "Ayah, baru kali ini aku mengalami
peristiwa seperti ini." Hasan al-Bashri menyahut ucapan sang gadis kecil,
"Ayahmu juga sebelumnyatak mengalami peristiwa seperti ini."
Keesokan harinya, usai salat subuh,
ketika matahari menampakkan dirinya di ufuk timur, sebagaimana biasanya Al-Bashri
duduk di teras rumahnya. Sejurus kemudian, gadis kecil kemarin melintas ke arah
makan ayahnya. "Gadis kecil yang bijak," gumam Al-Bashri. "Aku
akan ikuti gadis kecil itu."
Gadis kecil itu tiba di makam
ayahnya. Al-Bashri bersembunyi di balik pohon, mengamati gerak-geriknya secara
diam-diam. Gadis kecil itu berjongkok di pinggir gundukan tanah makam. Ia
menempelkan pipinya ke atas gundukan tanah itu. Sejurus kemudian, ia meratap
dengan kata-kata yang terdengar sekali oleh Al-Bashri. "Ayah, bagaimana keadaanmu
tinggal sendirian dalam kubur yang gelap gulita tanpa pelita dan tanpa pelipur?
Ayah, kemarin malam kunyalakan lampu untukmu, semalam siapa yang menyalakannya
untukmu? Kemarin masih kubentangkan tikar, kini siapa yang melakukannya, Ayah?
Kemarin malam aku masih memijat kaki dan tanganmu, siapa yang memijatmu
semalam, Ayah? Kemarin aku yang memberimu minum, siapa yang memberimu minum
tadi malam?
Kemarin malam aku membalikkan badanmu
dari sisi yang satu ke sisi yang lain agar engkau merasa nyaman, siapa yang
melakukannya untukmu semalam, Ayah?" "Kemarin malam aku yang
menyelimuti engkau, siapakah yang menyelimuti engkau semalam, ayah? Ayah,
kemarin malam kuperhatikan wajahmu, siapakah yang memperhatikan tadi malam
Ayah? Kemarin malam kau memanggilku dan aku menyahut penggilanmu, lantas siapa
yang menjawab panggilanmu tadi malam Ayah? Kemarin aku suapi engkau saat kau
ingin makan, siapakah yang menyuapimu semalam, Ayah? kemarin malam aku
memasakkan aneka macam makanan untukmu Ayah, tadi malam siapa yang memasakkanmu?"
Mendengar rintihan gadis kecil itu,
Hasan al-Bashri tak tahan menahan tangisnya. Keluarlah ia dari tempat
persembunyiannya, lalu menyambut kata-kata gadis kecil itu. "Hai, gadis
kecil! jangan berkata seperti itu. Tetapi, ucapkanlah, "Ayah, kuhadapkan
engkau ke arah kiblat, apakah kau masih seperti itu atau telah berubah, Ayah?
Kami kafani engkau dengan kafan yang
terbaik, masih utuhkan kain kafan itu, atau telah tercabik-cabik, Ayah?
Kuletakkan engkau di dalam kubur dengan badan yang utuh, apakah masih demikian,
atau cacing tanah telah menyantapmu, Ayah?"
"Ulama mengatakan bahwa hamba
yang mati ditanyakan imannya. Ada yang menjawab dan ada juga yang tidak
menjawab. Bagaimana dengan engkau, Ayah? Apakah engkau bisa
mempertanggungjawabkan imanmu, Ayah? Ataukah, engkau tidak berdaya?"
"Ulama mengatakan bahwa mereka
yang mati akan diganti kain kafannya dengan kain kafan dari sorga atau dari
neraka. Engkau mendapat kain kafan dari mana, Ayah?"
"Ulama mengatakan bahwa kubur
sebagai taman sorga atau jurang menuju neraka. Kubur kadang membelai orang mati
seperti kasih ibu, atau terkadang menghimpitnya sebagai tulang-belulang
berserakan. Apakah engkau dibelai atau dimarahi, Ayah?"
"Ayah, kata ulama, orang yang
dikebumikan menyesal mengapa tidak memperbanyak amal baik. Orang yang ingkar
menyesal dengan tumpukan maksiatnya. Apakah engkau menyesal karena kejelekanmu
ataukah karena amal baikmu yang sedikit, Ayah?"
"Jika kupanggil, engkau selalu
menyahut. Kini aku memanggilmu di atas gundukan kuburmu, lalu mengapa aku tak
bisa mendengar sahutanmu, Ayah?" "Ayah, engkau sudah tiada. Aku sudah
tidak bisa menemuimu lagi hingga hari kiamat nanti. Wahai Allah, janganlah Kau
rintangi pertemuanku dengan ayahku di akhirat nanti."
Gadis kecil itu menengok kepada Hasan
al-Bashri seraya berkata, "Betapa indah ratapanmu kepada ayahku. Betapa
baik bimbingan yang telah kuterima. Engkau ingatkan aku dari lelap lalai."
Kemudian, Hasan al-Bashri dan gadis
kecil itu meninggalkan makam. Mereka pulang sembari berderai tangis.
Maraji': Mutiara Hikmah dalam 1001
Kisah (Al-Islam)
14 Oktober 2012
Solusi Gundah Gulana (Galau) dan Kesedihan Menurut Sunnah
علاج الهم والحزن في السنة .. بالقرآن !!
قال النبي ﷺ "ما أصاب عبدا هم ولا حزن فقال: اللهم إني عبدك ابن عبدك ابن أمتك ناصيتي بيدك، ماض في حكمك، عدل في قضاؤك أسألك بكل اسم هو لك سميت به نفسك أو أنزلته في كتابك، أو علمته أحدا من خلقك أو استأثرت به في علم الغيب عندك أن تجعل القرآن ربيع قلبي، ونور صدري وجلاء حزني وذهاب همي، إلا أذهب الله حزنه وهمه وأبدله مكانه فرحا".
رواه أحمد وصححه الألباني
Nabi
shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang hamba ditimpa gundah gulana dan kesedihan lalu
mengucapkan: [Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba lelaki-Mu, dan anak dari hamba
perempuan-Mu. Ubun-ubunku berada di tangan-Mu, berlaku pada diriku segala
keputusan-Mu, dan sangat adil segala ketetapan-Mu terhadapku. Aku memohon dengan seluruh nama yang Engkau sebutkan untuk diri-Mu, atau yang
Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan pada salah seorang hamba-Mu, atau yang Engkau
sembunyikan pada ilmu yang ghaib di sisi-Mu, hendaklah Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai musim semi (taman bunga) di hatiku, cahaya di
dadaku, penghapus kesedihan serta pelipur laraku], kecuali Allah
SWT pasti menghilangkan duka laranya, serta mengganti kesedihannya dengan
kegembiraan”.
(HR. Ahmad, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani).
Teks Arab (hadits) disalin dari: http://www.twitlonger.com/show/jl1get oleh Syaikh Misyari Al-'Afasy
11 Oktober 2012
Kisah "Keimanan" Kaisar Romawi (Bag.2)
Surat Rasulullah SAW untuk Heraclius
Setelah Heraclius berdialog dengan Abu Sufyan bin Harb, dengan penutup dialog yang cukup mengejutkan (di mana Heraclius menyatakan bahwa ia ingin menemui Rasulullah untuk membasuh kedua kaki beliau), maka Heraclius kemudian meminta surat Rasulullah SAW yang dibawa oleh Dihyah untuk para penguasa negeri Bashrah, lalu diberikan surat itu kepada Heraclius dan dibacanya.
Isi surat tersebut adalah:
Bismillahirrahmanirrahim. Dari Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya, untuk Heraclius, penguasa Romawi. Keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk. Kemudian daripada itu, aku mengajakmu dengan seruan Islam. Masuk Islamlah kamu, maka kamu akan selamat, Allah akan memberi pahala kepadamu dua kali. Namun jika kamu berpaling, maka kamu menanggung dosa rakyatmu, dan: "Wahai Ahli Kitab, mari berpegang kepada suatu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian, bahwa kita tidak beribadah kecuali kepada Allah dan janganlah kita mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun, dan tidak pula kita sebagian kita menjadikan sebagian lainnya sebagai tuhan selain Allah." Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri kepada Allah."
Abu Sufyan menuturkan: Setelah Heraclius menyampaikan apa yang dikatakannya dan selesai membaca surat tersebut, terjadilah hiruk-pikuk dan suara-suara ribut, hingga mereka mengusir kami. Aku berkata kepada teman-temanku setelah kami diusir keluar: "Sungguh ia telah diajak kepada urusan anak Abu Kabsyah (Nabi Muhammad SAW), Heraclius takut kepadanya (mengkhawatirkan kerajaan Romawi)." Pada masa itupun aku juga khawatir kalau-kalau Muhammad akan berjaya, sampai akhirnya (kekhawatiran itu hilang setelah) Allah memasukkan aku ke dalam Islam.
Kisah Unik tentang Sikap Heraclius Perihal Kenabian Muhammad SAW
Selanjutnya kata Ibnu An-Nazhur, "Heraclius adalah seorang ahli nujum (astrolog) yang selalu memperhatikan peredaran bintang-bintang. Dia pernah menjawab pertanyaan para pendeta yang bertanya kepadanya; "Pada suatu malam ketika aku mengamati perjalanan bintang-bintang, aku melihat raja Khitan telah lahir, siapakah di antara umat ini yang di-khitan?" Jawab para pendeta: "Yang berkhitan hanyalah orang-orang Yahudi, janganlah anda risau tentang orang-orang Yahudi itu. Perintahkan saja ke seluruh negeri di dalam kerajaan anda agar orang-orang Yahudi di negeri-negeri tersebut dibunuh."
Ketika itu dihadapkan kepada Heraclius seorang utusan raja Bani Ghassan untuk menceritakan perihal Rasulullah SAW. Setelah orang itu selesai bercerita, lalu Heraclius memerintahkan agar dia diperiksa, apakah dia berkhitan atau tidak. Seusai diperiksa, ternyata memang dia berkhitan, lalu diberitahukan kepada Heraclius. Heraclius bertanya kepada orang tersebut apakah orang-orang Arab yang lainnya dikhitan atau tidak. Dia menjawab, "Orang Arab itu dikhitan semuanya." Heraclius berkata, "Inilah raja umat, sesungguhnya dia telah lahir."
Kemudian Heraklius berkirim surat kepada seorang sahabatnya di Roma yang ilmunya setaraf dengannya (untuk menceritakan perihal kelahiran Nabi Muhammad SAW). Sementara itu, ia meneruskan perjalanannya ke negeri Himsha, tetapi sebelum tiba di Himsha, balasan surat dari sahabatnya itu sudah sampai lebih dulu. Sahabatnya menyetujui pendapat Heraclius bahwa Muhammad telah lahir dan bahwa beliau memang seorang nabi. Heraklius kemudian mengundang para pembesar Romawi untuk datang ke tempatnya di Himsha. Setelah semuanya hadir di majelisnya, Heraclius memerintahkan agar semua pintu dikunci. Kemudian dia berkata, "Wahai bangsa Romawi, maukah kalian semua meraih kemenangan dan kemajuan yang gemilang sementara kerajaan tetap utuh di tangan kita? Kalau kalian mau, akuilah Muhammad sebagai Nabi!". Mendengar ucapan itu, mereka lari bagaikan keledai liar, padahal semua pintu telah terkunci.
Melihat keadaan yang demikian, Heraclius menjadi hilang harapan bahwa mereka akan beriman (percaya akan kenabian Muhammad SAW). Lalu diperintahkannya semua untuk kembali ke tempatnya masing-masing seraya berkata, "Sesungguhnya aku mengatakan perkataan tadi sekedar untuk menguji keteguhan hati kalian semua. Kini aku telah melihat keteguhan itu." Lalu mereka sujud di hadapan Heraclius dan mereka senang kepadanya. Demikianlah akhir kisah "keimanan" Heraclius kepada Muhammad SAW dan risalahnya.
(Telah diriwayatkan oleh Shalih bin Kaisan dan Yunus dan Ma'mar dari Az-Zuhri)
02 Oktober 2012
Kisah "Keimanan" Kaisar Romawi (Bag.1)
Imam Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman Al Hakam bin Nafi', dia berkata: telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhri: telah mengabarkan kepadaku Ubaidullah bin Abdullah bin 'Utbah bin Mas'ud, bahwa Abdullah bin Abbas telah mengabarkan kepadanya bahwa Abu Sufyan bin Harb telah mengabarkan kepadanya, bahwa Heraclius (Kaisar Romawi) menerima rombongan dagang Quraisy yang sedang mengadakan ekspedisi dagang ke Negeri Syam pada saat berlakunya perjanjian antara Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan Abu Sufyan (sebelum masuk Islam) dan orang-orang kafir Quraisy.
Saat singgah di Iliya' (Yerussalem atau Al-Quds), mereka menemui Heraclius atas undangannya untuk diajak berdialog di majelisnya, yang saat itu Heraklius bersama dengan para pembesar Negeri Romawi. Heraklius berbicara dengan mereka (rombongan Abu Sufyan) melalui penerjemah. Heraclius berkata, "Siapa di antara kalian yang paling dekat hubungan nasabnya dengan orang yang mengaku nabi itu?" Abu Sufyan berkata: Maka aku menjawab, "Akulah yang paling dekat hubungan kekeluargaannya dengan dia (Muhammad)." Heraclius berkata, "Dekatkanlah dia (Abu Sufyan) denganku dan juga sahabat-sahabatnya."
Maka mereka (orang-orang Romawi) menempatkan orang-orang Quraisy berada di belakang Abu Sufyan. Lalu Heraclius berkata melalui penerjemahnya, "Katakan kepadanya bahwa aku bertanya tentang lelaki yang mengaku sebagai nabi itu. Jika dia (Abu Sufyan) berdusta kepadaku, maka kalian (rombongan Quraisy) harus mendustakannya." Abu Sufyan berkata, "Demi Allah, kalau bukan rasa malu akibat tudingan pendusta yang akan mereka lontarkan kepadaku, niscaya aku berdusta kepadanya."
Dialog Heraclius dan Abu Sufyan
Heraclius (HC) : Bagaimana kedudukan nasabnya di tengah-tengah kalian?Abu Sufyan (AS) : Dia dari keturunan terhormat.
HC : "Apakah ada orang lain yang pernah mengatakan hal ini sebelum dia?"
AS : "Tidak ada"
HC : "Apakah ada di antara nenek moyangnya yang seorang raja?"
AS : "Bukan."
HC : "Apakah yang mengikutinya orang-orang terpandang ataukah orang-orang rendahan?"
AS : "Bahkan kebanyakan orang-orang rendahan yang mengikutinya."
HC : "Apakah pengikutnya bertambah ataukah berkurang?"
AS : "Bertambah."
HC : "Adakah yang keluar dari agamanya disebabkan marah terhadap agamanya?"
AS : "Tidak ada."
HC : "Apakah kalian pernah mendapatinya berdusta sebelum dia menyampaikan apa yang dia katakan itu?"
AS : "Tidak pernah."
HC : "Apakah dia pernah berbuat curang?"
AS : "Tidak pernah. Selama kami bergaul dengannya, dia tak pernah melakukan itu."
Abu Sufyan berkata, "Aku tidak mungkin mengatakan selain ucapan seperti ini."
HC : "Apakah kalian berperang melawannya?"
AS : "Ya."
HC : "Bagaimana kesudahan perang tersebut?"
AS : "Perang di antara kami dan dia sangat banyak. Terkadang dia mengalahkan kami dan terkadang kami yang mengalahkannya."
HC : "Apa yang dia perintahkan kepada kalian?"
AS : "Dia menyuruh kami: Sembahlah Allah dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan tinggalkanlah ajaran nenek moyang kalian. Dia juga memerintahkan kami untuk mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, berkata jujur, saling memaafkan dan menyambung silaturrahim."
Pengakuan Heraclius atas Kenabian Muhammad SAW
Heraclius berkata kepada Abu Sufyan melalui penerjemahnya: "Katakan kepadanya (Abu Sufyan) bahwa aku telah bertanya kepadamu tentang nasab orang itu dan kamu katakan bahwa dia dari keturunan terhormat di antara kaumnya, demikianlah para rasul diutus dari keturunan terhormat di tengah kaumnya. Dan aku tanya kepadamu apakah pernah ada orang yang sebelumnya mengatakan seperti yang dia katakan, kamu jawab tidak. Seandainya kau jawab ada, tentu kuanggap orang ini hanya meniru perkataan orang yang sebelumnya. Aku tanyakan juga kepadamu apakah ada di antara orang tuanya yang keturunan raja, maka kamu jawab tidak. Seandainya bapaknya dari keturunan raja, maka orang ini sedang menuntut kerajaan nenek moyangnya.Dan aku tanyakan juga kepadamu pernahkah kalian dapati dia berdusta sebelum dia menyampaikan perkataannya, kamu menjawabnya tidak. Sungguh aku memahami, kalau kepada manusia saja dia tak berani berdusta, apalagi kepada Allah. Dan aku juga bertanya kepadamu apakah pengikutnya orang-orang kuat ataukah orang-orang lemah, kamu jawab kebanyakan orang-orang lemah yang mengikutinya. Memang mereka itulah yang menjadi pengikut para rasul. Aku pun bertanya kepadamu apakah pengikutnya bertambah ataukah berkurang dan kamu menjawabnya bertambah. Memang begitulah perkara iman hingga menjadi sempurna. Aku juga bertanya kepadamu apakah ada yang murtad karena marah terhadap agamanya, kamu menjawab tidak ada. Memang demikianlah iman bila telah masuk tumbuh bersemi di hati. Aku juga telah bertanya kepadamu apakah pernah dia berbuat curang, kamu bilang tidak pernah. Dan memang begitulah para rasul tidak mungkin berlaku curang.
Lalu aku bertanya kepadamu apa yang dia perintahkan kepada kalian, kamu jawab dia memerintahkan kalian untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, melarang kalian menyembah berhala, juga memerintahkan kalian mendirikan shalat dan menunaikan zakat, berkata jujur, saling memaafkan dan menyambung silaturrahim.
Seandainya semua yang kamu katakan ini benar, niscaya dia akan menguasai kerajaan yang ada di bawah kakiku ini. Sungguh aku telah menduga bahwa dia tidak ada di antara kalian saat ini. Seandainya aku tahu jalan untuk bisa menemuinya, tentu aku akan berusaha keras menemuinya hingga jika sudah berada di sisinya pasti akan aku basuh kedua kakinya."
(bersambung)
28 September 2012
Doa Permohonan Terbaik
Jika Anda memiliki mushaf Al-Qur'an terbitan Timur Tengah (Mushaf 'Utsmany) dan yang mengikutinya, maka di bagian akhir biasanya terdapat Doa Khatmil Qur'an. Teks doa dalam gambar di atas adalah salah satu kalimat doanya yang saya ketik ulang dan kata ganti tunggal diganti dengan jamak. Alangkah baiknya jika kita menghafal dan mengamalkan doa ini, bukan hanya dalam kesempatan Khatmil Qur'an (khataman Al-Qur'an), namun juga dalam setiap kesempatan, dikarenakan isi doa ini begitu indah dan bermakna jika kita coba renungi maknanya. Betapa banyak di antara kita berdoa kepada Allah SWT saat kita membutuhkan sesuatu terkait dengan perkara keduniaan yang bersifat sementara. Maka tidakkah kita juga bersungguh-sungguh memohon kepada-Nya agar diberikan keteguhan (Ats-Tsabat) dalam perkara-perkara yang paling utama? Karena itulah, post ini saya beri judul "Doa Permohonan Terbaik" atau "The Best Request" sesuai dengan sebagian redaksi dari doa tersebut.
Berikut adalah terjemah dari teks doa di atas:
"Ya Allah, sesungguhnya kami meminta kepada-Mu permohonan yang terbaik, doa yang terbaik, kesuksesan yang terbaik, ilmu dan amal yang terbaik, ganjaran pahala yang terbaik, kehidupan dan kematian yang terbaik, dan teguhkanlah kami, perberatlah timbangan amal kebaikan kami, dan benarkanlah iman kami, tinggikanlah derajat kami, terimalah shalat kami, ampunilah kesalahan-kesalahan kami, dan kami memohon kepada-Mu derajat yang tinggi dari surga." []
11 September 2012
Kisah Pengorbanan Sejati
Betapa cerdas seorang pemuda yang hidup terasing dari kebiasaan kaumnya. Sebab, ia berpikir lebih maju daripada mereka. Dalam kesendiriannya, ia temukan kesadaran tentang hakikat dirinya, serta betapa sesat kondisi kaumnya. Ia pun mengkritik, “Pantaskah kalian jadikan berhala-berhala sebagai tuhan? Sesungguhnya aku melihat kalian dalam kesesatan sejati.” Demikianlah ia termasuk seseorang yang diberi ‘penglihatan’ akan keagungan Tuhannya. Dan demikianlah ia menjadi seorang yang penuh keyakinan (QS. 6: 74-75).
Juga ketika ia ‘mencari’ Tuhannya, segera saja ditolaknya segala benda langit yang terbenam, apakah itu bintang, bulan, atau matahari. Maka ia pun berkata, “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb Pencipta langit dan bumi, cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukan termasuk orang yang mempersekutukan-Nya.” (QS. 6: 76-79).
Adakah di zaman kini sosok sepertinya, atau setidaknya yang belajar darinya – salah seorang dari dua Khalilullah di antara manusia? Ketika ada seorang penguasa yang seenaknya saja ‘membunuhi’ rakyatnya – secara jelas atau terselubung – adakah penguasa itu berlagak menjadi tuhan, layaknya Namrudz sang raja Babilon yang ditantang oleh Ibrahim untuk bisa menghidupkan dan mematikan, lalu dipanggilnya dua orang tawanan, ia bunuh yang satu dan ia biarkan yang lainnya tetap hidup? Namun ketika ditantang menerbitkan matahari dari arah terbenamnya, ia terdiam seribu bahasa (QS. 2: 258).
Pengorbanan Ibrahim AS
Ibrahim AS bukanlah seperti kebanyakan pengamat yang suka melontar kritik tapi kemudian lari tak mau menerima resiko akibat kritiknya itu – melontarkan kritik memang lebih mudah daripada dikritik. Tapi Ibrahim, ia tetap tegar mengkritisi orang-orang zhalim dan perilaku menyimpang kaumnya. Walaupun setelah itu ia dilempar ke dalam api yang menyala-nyala, tak sedikit pun ia gentar. Dan kemudian ia pun harus hijrah dari negerinya. Maka perginya ke barat (ke Palestina hingga menginjakkan kaki di negeri Fir’aun) – adalah tetap dalam rangka pengorbanan kepada Tuhannya (QS. 35: 95-99).
Pengorbanan macam apa dari seorang istri yang merekomendasi istri untuk suaminya? Dan ketika dikaruniai Isma’il AS sebagai bukti bahwa Allah mendengar doanya – dan Allah Maha Mendengar – maka pengorbanan setelah itu lebih besar lagi. Pengorbanan macam apa dari seorang suami dan ayah, yang mencintai keluarganya, dengan meninggalkan mereka di lembah tandus yang tiada bertanam-tanaman – di sisi rumah Allah (Ka’bah) yang dihormati? Untuk apakah semua itu? Supaya mereka mendirikan shalat, supaya dijadikan hati sebagian manusia cenderung kepada mereka, dan supaya Tuhan memberi mereka rezeki di padang gersang itu dengan buah-buahan supaya mereka bersyukur (QS. 14: 37).
Siapakah yang lebih didengarnya, ketika Tuhan mewahyukan kepadanya lewat mimpi agar ia menyembelih anaknya, Tuhan ataukah syaitan penggoda yang diikutinya? Nyatanya, ia tetap bersungguh hati mengorbankan sang anak di pangkuannya sendiri. Itu pun dilakukan tanpa memaksa sang anak yang mulai beranjak dewasa, sebab anak itu juga sama memiliki kesungguhan dan kesabaran hati. Belakangan, kisah pengorbanan keluarga itu menjadi salah satu ritual ummat pengikut millah (ajaran)nya – rangkaian ibadah haji hingga idul qurban.
Itulah sosok kekasih Allah. Ia telah menjadikan dirinya seorang yang cerdas. Ketika melihat diri dan alam semesta, memperhatikan kelakuan kaumnya, ia tidak melihat itu sebagai sesuatu yang wujud semata. Ia melihat hakikat di balik semua itu, bahwa ia harus taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah.
Maka segala pengorbanan itu bukanlah untuk diri, istri, anak, keturunan, atau untuk kaumnya. Pengorbanan itu hanyalah untuk Allah. Pantaslah jika ia dijuluki Khalilullah – di samping Muhammad SAW – sebab hatinya telah terisi penuh hanya dengan nama Tuhannya. Namun pengorbanan yang dilakukan untuk Tuhannya itulah yang membawa kebaikan bagi dirinya, keluarganya, dan juga pengikutnya. Dan perhatikanlah bagaimana namanya terus kita sebut di dalam shalat setelah kita bershalawat atas Nabi akhir zaman.
Pengorbanan Muhammad SAW dan Ummatnya
Muhammad SAW adalah juga seorang yang cerdas. Adalah ia seorang yang suka menyendiri berpikir tentang keadaan kaumnya, ber-tahannuts di ketinggian Gua Hira melihat fenomena kerusakan masyarakatnya di bawah sana. Dan seperti Ibrahim AS yang ‘mencari’ Tuhan, pada saat yang ditentukan turunlah wahyu kepadanya “Iqra’ bismi Rabbikalladzii khalaq...”, bukan hanya ke dalam pikirannya melainkan jauh ke dalam hatinya. Setelah itu adalah tanda tanya besar yang membentang, membuatnya ‘gelisah’ beberapa waktu lamanya. Namun Tuhannya tak membiarkan keadaan itu berlarut-larut.
Ketika turun ayat-ayat berikutnya, hadirlah ketenangan pada jiwanya, namun ia tak lantas bertenang-tenang diri seolah tak ada apa-apa. “Hai orang yang berselimut, bangkit dan berilah peringatan!” (Al-Muddatstsir: 1-2). “Hai orang yang berselimut, bangunlah di malam hari untuk shalat, kecuali sedikit daripadanya!” (Al-Muzzammil: 1-2). Maka seolah-olah perkataan itu – seperti disebutkan dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an – adalah seperti ini:
“Ini adalah seruan dari langit, suara Tuhan Yang Mahaagung lagi Mahatinggi ... Bangunlah ... Bangunlah untuk menyongsong urusan besar yang sedang menantimu dan tugas berat yang akan dibebankan kepadamu. Bangunlah untuk berjuang dan berusaha, berkiprah dan bersusah payah. Bangunlah, waktu tidur dan istirahat telah berlalu ... Bangunlah dan bersiapsiagalah menyongsong urusan ini ...”
Kini ayat-ayat Al-Qur’an itu seutuhnya berada dekat di samping kita. Dan semua itu pada hakikatnya juga diturunkan bagi kita, sebagai pedoman kehidupan. Ketika setiap kita mulai berpikir tentang diri, mencari hakikat atau rahasia tertinggi yang menjadi pencarian umat manusia selama ini, maka Allah Sang Pencipta menurunkan sesuatu untuk dibaca, agar kita kembali pada-Nya. Maka sudahkah kita membacanya dengan bacaan yang benar sebagai bukti keimanan kita? (QS. 2: 121). Ataukah kita sudah membacanya namun belum juga stercerahkan dan tiada merasakan kelezatan darinya? Betapa banyak orang-orang membacanya tanpa kelezatan iman dan pengorbanan yang terlahir dari proses pembacaan itu.
Adakah kita menangis saat membaca atau mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an. Bukan menangis karena iramanya yang syahdu, tapi karena kita menghayati kandungan maknanya? Ataukah kita hanya bisa menangis saat menyimak lagu-lagu sedih, atau menonton film dan kisah yang mengharukan? Sungguh, alangkah jauh kita dari Al-Qur’an, alangkah kurangnya kecerdasan dan pengorbanan di dalam jiwa kita.
Jika kita memahami dan menyadari betul, bahwa hidup ini hanya sekali, nyawa kita hanya satu dan tak ada umur cadangan, maka apakah akan kita sia-siakan hidup yang singkat ini dan mempersingkatnya lagi dengan tujuan yang singkat dan kerdil?
Orang-orang yang cerdas selalu merindukan dan mencari enlightenment moment (saat-saat pencerahan) dalam hidup mereka. Saat pencerahan itu hadir di dalam hati mereka, jadilah mereka manusia berhati cahaya. Mereka tak lagi hidup untuk dirinya sendiri. Mereka tak lagi hidup hanya untuk keluarganya, masyarakatnya, atau untuk nilai-nilai duniawi yang selalu membelenggu setiap manusia yang lemah.
Mereka hidup untuk memperjuangkan nilai-nilai abadi yang jauh berbeda dengan kenyataan yang mereka temui. Maka jadilah mereka seperti orang-orang yang memegang bara api yang tak boleh dilepas, tapi itu harus mereka lakukan. Itulah perumpamaan orang-orang yang berpegang teguh pada agamanya. Mereka berkorban untuk menegakkan nilai-nilai abadi itu walaupun seringkali cobaan yang berat menimpa mereka. Atau dengan kata lain, seringkali dunia tidak berpihak kepada mereka. Tapi apakah yang bisa diperbuat oleh dunia ini terhadap mereka? Tidak ada. Sebab, telah mereka tambatkan semua harapannya kepada sumber segala harapan: Allah. []


















