• KEAGUNGAN AL QURAN

    Al-Quran adalah cahaya yang menerangi kebutaan, penawar hati yang menyembuhkan penyakit dan kehampaannya, suguhan lezat bagi jiwa, taman indah sanubari, penuntun nurani menuju negeri yang damai.

  • BUAH TARBIYAH

    Kita bukanlah orang yang sudah benar-benar baik apalagi terbaik, melainkan hanya orang yang keburukannya tertutupi.

  • DOSA-DOSA YANG DIREMEHKAN

    Tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari 3 hari. Siapa yang mendiamkan saudaranya lebih dari 3 hari kemudian ia mati, maka ia masuk neraka.

  • CIRI PENGHUNI SURGA

    Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh. Inilah yang dijanjikan kepadamu.

  • SEREMONI

    Sejak pagi keluarga mempelai perempuan bersiap diri menyambut tamu yang telah lama dinanti-nanti. Akhirnya datang juga. Mempelai laki-laki dikawal rombongan sekeluarga.

06 Maret 2019

Teruntuk Para Guruku

Salam rindu kualamatkan padamu. Salam hormat demi menjaga amanat. Semoga keberkahan ilmu terlimpah selalu, bagi para ‘alim pegiat yang selalu dambakan rahmat. Semoga tak tersinggung engkau kusebut sebagai “Guru”. Walau mungkin ada di antaramu yang tak mengenalku. Tapi bolehlah aku berguru karena segenap keterbatasanku. Setidaknya aku ingin mengikutimu sebagai orang yang telah sukses mengarungi samudera kehidupan ini, untuk menemukan makna dan menjadi bermakna bagi orang lain. Bagi bangsa ini, bagi umat, engkau adalah guru yang mencerahkan. Sudah selayaknyalah begitu.

Di sini, di tengah kehidupan yang penuh dinamika dan segenap tantangan, kami merindukan hadirnya guru yang pemimpin dan pemimpin yang guru. Seperti karakter dan peran pemimpin muslim yang pernah dilontarkan Imam Al-Banna, “Sebagai ayah dalam hubungan hati, syaikh dalam pembinaan ruhani, ustadz dalam hal keilmuan, dan sebagai komandan di medan da’wah.” Semestinyalah kami pun menuju ke sana. Tapi tidaklah itu mudah dan murah harganya.

Di antaramu ada yang terus menasehati kami tanpa bosan walau banyak di antara kami yang membandel dengan segala tingkah kekanakan. Ada di antaramu yang memberi kami peluang, tantangan, sindiran dan teguran, instruksi dan komando, hingga pelajaran dan hukuman.

Patutlah kami mengingat nasehat Imam Syafi’i seputar ilmu dan taqwa: “Bersabarlah atas pahitnya hukuman dari seorang guru, sebab di dalam kemarahan guru mengendaplah ilmu. Siapa tidak pernah sedikit pun merasakan susahnya belajar, ia harus menenggak rendahnya kebodohan seusia terhampar. Dan bagi siapa yang di waktu mudanya enggan mengaji, bertakbirlah untuknya empat kali, sungguh ia telah mati. Nilai seorang pemuda, demi Allah, adalah pada ilmu dan taqwa. Ketika keduanya tidak ada, tidaklah dianggap keberadaannya.”

Dan ada banyak di antara kami yang ingin pintar dalam waktu hanya sebentar. Banyak yang ingin pandai padahal hanya berandai-andai. Banyak yang ingin mudah tanpa tahu arti susah. Dan kembali Imam Syafi’i menasehati: “Saudaraku, kau tak akan mendapatkan ilmu kecuali melalui enam pintu. Dengan rinci akan kusampaikan padamu: ­kecerdasan, kesungguhan, ketekunan, kecukupan, persahabatan dengan guru, dan panjangnya waktu.” []
Share:

Dialah Guruku

Dia yang mengajariku banyak hal, tentang bagaimana menata kehidupan.

Dia yang sorot matanya selalu tajam, seolah menatap impian yang pasti akan diraihnya.
Dia yang langkah kakinya selalu cepat tanpa tergesa, namun bergegas merebut masa depan.
Dia yang gerak badannya selalu luwes, sigap menghadapi berbagai tantangan dan peluang.

Dia yang tatapannya mendamaikan, diiring senyum tulus yang menyejukkan jiwa.
Dia yang tutur katanya selalu ramah dan “renyah”, terus memotivasi setiap jiwa.
Dia yang tak pernah memandang muridnya dengan pandangan negatif, sebaliknya dia temukan kelebihan pada setiap muridnya.
Dia yang setiap waktu menemukan hal baru, dan seketika itu dia bagikan pada yang lainnya.

Dia yang pernah berkata, “Ini tanganku, selalu terbuka untuk membantumu. Ini ilmuku, ambil darinya apa yang kau mau. Ini hartaku, manfaatkanlah selagi bisa membantumu meraih kebermaknaan. Aku tiada mengharapkan balasan apa-apa, bahkan bayaran setinggi apapun yang bisa diberikan oleh manusia terkaya, karena gaji pengajaran dan bimbinganku hanya dapat dibayarkan oleh Sang Pemilik Ilmu Yang Mahatahu.”

Dialah guruku, yang mengajarkanku bahwa hidup ini harus dilalui dengan penuh kesabaran, kesungguhan, keyakinan dan pantang menyerah.
Dialah guruku, yang pernah mengatakan, “Belajarlah dari siapa saja, bergurulah kepada siapapun yang pantas dijadikan guru, sedangkan aku bukanlah satu-satunya.”

Dialah guruku, kepadanya aku rindu.
Share:

Asap Rokok dan Permen Karet



Saya teringat pernah membaca sebuah tulisan di buku pelajaran waktu SMP dulu, tentang sindiran yang "jleb" bagi para perokok.

Kisahnya, ada seorang gadis yang menumpang bis dan di sampingnya duduklah seorang perokok yang asik mengebul-ngebulkan asap rokoknya ke mana-mana. Mau tak mau, si gadis harus menghirup juga asap rokok yang tak menyenangkan itu. (Anda yang bukan perokok pasti tahu kan bagaimana suasana emosi si gadis itu..?)

Tiba-tiba gadis itu punya ide brilliant. Dia mengeluarkan permen karet dari sakunya lalu dikunyah-kunyah sepuasnya. Kemudian ia berkata kepada si perokok, "Maaf Pak, Bapak mau nggak mengunyah permen karet ini?" Si gadis menunjuk permen karet yang sedang dikunyahnya.

Si perokok setengah tersinggung dan berpikir sejenak, lalu menjawab, "Ya jelas nggak mau, jijik lah! Itu kan bekas dari mulut kamu, ada-ada aja!"

"Kalau Bapak jijik mengunyah permen karet bekas mulut saya, saya juga nggak sudi menghirup asap rokok bekas dari mulut Bapak!" Sergah si gadis, menang. []
Share:

Buah Tarbiyah



Buah dari tarbiyah atau ngaji yang "benar" adalah hati yang merendah, akhlak dan lisan yang santun, serta tak pernah sedikitpun merasa diri dan kelompoknya paling benar dan lebih mulia dibanding yang lain.

Tengoklah ke belakang siapa yang berkata "ana khairun minhu" ketika ia menolak perintah dan siapa yang mengaku "Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa" ketika ia sadar tergelincir dalam kesalahan.

Kita bukanlah orang yang sudah benar-benar baik apalagi terbaik, melainkan hanya orang yang keburukannya tertutupi, tapi terus ingin menjadi baik dan lebih baik lagi.
Share:

Kita dan Masalah

Siapakah kita di hadapan masalah, baik itu masalah pribadi, orang lain atau masalah bersama?

• Problem Solver
• Problem Speaker
• Problem Trader
• Problem Maker

Problem solver berfokus pada selesai dan terpecahkannya masalah, tanpa perlu banyak bicara dan tanpa harus mengumumkannya kepada banyak orang.

Problem speaker berfokus pada kepuasan batinnya untuk menyebarluaskan masalah sehingga semua orang harus tahu apa yang dirisaukannya.

Problem trader cukup cerdik dengan mencari-cari keuntungan dari masalah yang ditemuinya, terutama masalah orang lain atau masalah bersama.

Problem maker tak ingin menyelesaikan masalah, ia bahkan menghadirkan masalah baru dan membesarkan masalah yang sudah ada. Dan sebenarnya, problem speaker dan problem trader sangat berpotensi menjadi problem maker.

Namun seringkali orang yang menjadi problem maker ini sulit dinasehati dan tak pernah merasa dirinya salah. Seperti orang-orang yang dikatakan kepada mereka, "Laa tufsidu fil ardhi!" Dan mereka menjawab, "Innamaa nahnu mushlihuun." []
Share:

28 Maret 2018

Ciri-ciri Penghuni Neraka

Dalam kiriman sebelumnya, kami menyampaikan "Ciri-ciri Penghuni Surga" kajian Surat Qaaf ayat 31-35 dari Kitab Al-Fawaaid Ibnul Qayyim. Maka sekarang kami sampaikan "Ciri-ciri Penghuni Neraka Jahannam" dari kitab yang sama, mengkaji Surat Qaaf ayat 24-27. Semoga pengetahuan ini memotivasi kita untuk memiliki ciri-ciri yang Allah sebutkan dalam ayat 31-35 dan sebaliknya menjauhi ciri-ciri dalam ayat 24-27.

Allah berfirman, “Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala, yang sangat menghalangi kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu, yang menyembah sembahan yang lain beserta Allah, maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat.” Yang menyertai dia berkata (pula), “Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh.” (Qaaf: 24-27)

1.  kaffaarin (ingkar: terhadap nikmat dan hak-hak Allah; terhadap Allah, kepada tauhid, asma dan sifat-sifat-Nya; terhadap para rasul, para malaikat, kitab-kitab-Nya, dan pertemuan dengan-Nya)
2.  ‘aniidin (menentang kebenaran, keras kepala)
3.  mannaa’il lil khair (menolak kebajikan, baik berupa ketaatan dan ibadah kepada Allah maupun berupa ihsan kepada sesama manusia)
4.  mu’tadin (melanggar batas: berbuat zhalim, tirani, sewenang-wenang terhadap orang lain, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan)
5.  muriibin (ragu-ragu)
6.  ja’ala ma’allaahi ilaahan aakhar (musyrik: menyembah, mencintai, dan loyal kepada selain Allah)


Ketika ia disidang di mahkamah Allah, ia menjawab bahwa setan telah menyesatkannya, namun setan cuci tangan seraya berkata seperti yang dikatakan Iblis kepada penghuni neraka, “...Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadap kamu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku....” (Ibrahim: 22)

Renungkanlah ini, wahai saudara! []
Share:

Ciri-ciri Calon Penghuni Surga



Dikutip dari kitab Al-Fawaaid karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, menjelaskan kandungan Surat Qaaf ayat 31-33. Ciri-ciri penghuni surga sebagai berikut:


1. Awwaab

Artinya: “Orang yang kembali taat kepada Allah setelah maksiat, pulang kepada dzikrullah setelah ghaflah.” (Ibnul Qayyim Al-Jauziyah), “Orang yang mengingat dosa-dosanya lalu beristighfar dan bertaubat.” (Ubaid bin Umair), “Orang yang apabila mengenang kesalahannya saat sendirian, ia memohon maghfirah kepada Allah.” (Imam Mujahid), “Orang yang berbuat dosa, lalu bertaubat, kemudian berbuat dosa lagi, dan bertaubat lagi...!” (Said bin Musayyab).



2. Hafiizh

Artinya: “Memelihara apa-apa yang diamanatkan Allah kepadanya dan apa-apa yang difardukan atasnya.” (Ibnu Abbas), “Memelihara semua hak dan nikmat Allah padanya.” (Qatadah), “Menahan dirinya dari kemaksiatan dan larangan Allah.” (Ibnul Qayyim).

Dijelaskan oleh Ibnul Qayyim: “Nafsu adalah kekuatan menuntut dan kekuatan menahan. Awwaab artinya menuntut dirinya kembali kepada Allah (pro-surga), dan hafiizh artinya daya tahan (resistensi) terhadap kemaksiatan (anti-neraka).”



3. Khasyiyar Rahmaana bil ghaiib

“Takut kepada Allah Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan, mencakup ikrar atas wujud, rububiyyah, qudrah, dan ilmu-Nya, adanya pengawasan Allah terhadap semua gerak-gerik hamba-Nya, ikrar terhadap kitab-kitab-Nya, para rasul, perintah dan larangan-Nya, juga terhadap janji dan ancaman-Nya. Tanpa semua ini, khasyiyah kepada Allahur Rahman tidak sah.”



4. Jaa-a bi qalbin muniib

“Datang dengan hati yang kembali kepada Allah dari kemaksiatan, karena hakikat inabah adalah menghadapnya qalbu kepada ketaatan kepada Allah, kepada mencintai dan memperhatikan Allah.”



Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami dan masukkan kami ke dalam golongan itu, sehingga kelak berlaku atas kami firman-Mu:

“Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya), (yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat. Masukilah surga itu dengan aman sejahtera, itulah hari kekekalan. Bagi mereka apa yang mereka kehendaki di dalamnya, dan pada sisi Kami ada tambahannya.” (Qaaf: 31-35)
Share:

Kenapa Kita Mudah Kecewa?

"Kenapa kita mudah kecewa kepada orang lain?" Mungkin pertanyaan di atas sesuai dengan keadaan diri kita. Atau boleh j...