06 Maret 2019

Teruntuk Para Guruku

Salam rindu kualamatkan padamu. Salam hormat demi menjaga amanat. Semoga keberkahan ilmu terlimpah selalu, bagi para ‘alim pegiat yang selalu dambakan rahmat. Semoga tak tersinggung engkau kusebut sebagai “Guru”. Walau mungkin ada di antaramu yang tak mengenalku. Tapi bolehlah aku berguru karena segenap keterbatasanku. Setidaknya aku ingin mengikutimu sebagai orang yang telah sukses mengarungi samudera kehidupan ini, untuk menemukan makna dan menjadi bermakna bagi orang lain. Bagi bangsa ini, bagi umat, engkau adalah guru yang mencerahkan. Sudah selayaknyalah begitu.

Di sini, di tengah kehidupan yang penuh dinamika dan segenap tantangan, kami merindukan hadirnya guru yang pemimpin dan pemimpin yang guru. Seperti karakter dan peran pemimpin muslim yang pernah dilontarkan Imam Al-Banna, “Sebagai ayah dalam hubungan hati, syaikh dalam pembinaan ruhani, ustadz dalam hal keilmuan, dan sebagai komandan di medan da’wah.” Semestinyalah kami pun menuju ke sana. Tapi tidaklah itu mudah dan murah harganya.

Di antaramu ada yang terus menasehati kami tanpa bosan walau banyak di antara kami yang membandel dengan segala tingkah kekanakan. Ada di antaramu yang memberi kami peluang, tantangan, sindiran dan teguran, instruksi dan komando, hingga pelajaran dan hukuman.

Patutlah kami mengingat nasehat Imam Syafi’i seputar ilmu dan taqwa: “Bersabarlah atas pahitnya hukuman dari seorang guru, sebab di dalam kemarahan guru mengendaplah ilmu. Siapa tidak pernah sedikit pun merasakan susahnya belajar, ia harus menenggak rendahnya kebodohan seusia terhampar. Dan bagi siapa yang di waktu mudanya enggan mengaji, bertakbirlah untuknya empat kali, sungguh ia telah mati. Nilai seorang pemuda, demi Allah, adalah pada ilmu dan taqwa. Ketika keduanya tidak ada, tidaklah dianggap keberadaannya.”

Dan ada banyak di antara kami yang ingin pintar dalam waktu hanya sebentar. Banyak yang ingin pandai padahal hanya berandai-andai. Banyak yang ingin mudah tanpa tahu arti susah. Dan kembali Imam Syafi’i menasehati: “Saudaraku, kau tak akan mendapatkan ilmu kecuali melalui enam pintu. Dengan rinci akan kusampaikan padamu: ­kecerdasan, kesungguhan, ketekunan, kecukupan, persahabatan dengan guru, dan panjangnya waktu.” []
Share:

0 comments:

Posting Komentar

Kenapa Kita Mudah Kecewa?

"Kenapa kita mudah kecewa kepada orang lain?" Mungkin pertanyaan di atas sesuai dengan keadaan diri kita. Atau boleh j...