Ada kegawatan serius, kesedihan mendalam, dan kegelisahan yang menghimpit hati, ketika saling umpat, cela, curiga dan saling menjatuhkan mewabah di dalam masyarakat (komunitas) yang terbentuk di atas rasa senasib sepenanggungan. Itulah nasib peruntungan akhirat yang diawali oleh suatu hari yang besar, saat mana tiada keselamatan kecuali dengan izin-Nya.
Malang jiwa mereka yang menyesalkan perilaku saudaranya yang tidak bisa mengikuti selera perfeksionisnya. Ia terus memprotes orang-orang yang dianggap bertindak semaunya, padahal ia sendiri tidak proaktif mengkomunikasikan kemauan bersama. Dan protesnya itu terlontar dalam gerutuan yang tersebarluas, tanpa pernah mau bicara dari hati ke hati dengan saudaranya itu. Ia berlega hati saat ada saudaranya yang lain berlaku sesuai aturan – yang sejatinya sarana ikhtiyari (alternatif) untuk meraih prestasi yang sama-sama ditempuh dalam koridor kebaikan. Semua itu telah tercatat rapi dalam Kitab Induk yang nyata.
Ia ibarat seorang Kyai, tak terima ada santri yang tidak memakai sarung, baju koko dan kopiah, tapi malah memakai jubah gaya Timur Tengah. Padahal cara berpakaian tidaklah termasuk dalam aturan, kecuali ketentuan umum harus sopan dan menutup aurat. Ia memberi apresiasi lebih pada santri yang bersarung dan berbaju koko – sejatinya itu tradisi tapi telah dianggap sebagai kelaziman. Namun saat ia melihat ada ketidaksempurnaan dalam teknisnya (santrinya itu ternyata memakai baju koko berwarna hitam padahal seharusnya putih), maka ia pun protes lagi, lalu protesnya itu menjadi buah bibir yang tersebar luas. Saat ada yang begini, ia protes. Dan saat ada yang begitu, ia protes pula. Siapa sebenarnya yang ia gerutui?
Derita nasib mereka yang tak pernah puas dan berlapang hati atas kepemimpinan para pemimpin yang dulu mereka dukung dan banggakan karena prospek yang menjanjikan. Saat kenyataan terjadi tak sesuai harapan, mereka pun menggerutu dan menyebarkan desas-desus, berprasangka buruk, mencari-cari kesalahan, dan bergunjing di antara mereka sendiri. Bahasa apakah yang mereka gunakan untuk menuturkan kesedihannya?
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka adalah dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah bergunjing satu sama lain. Adakah seseorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12). Semoga bahasa taubat?
Mengapa terus bergelimang dalam kubangan prasangka yang tak lain adalah akibat ketidakmampuan memimpin atau berperan sebagai yang terpimpin? Ia yang kecewa kepada pemimpin, maka apakah ia telah bersungguh-sungguh menjalankan perannya? Atau ia yang kecewa kepada pengikut, maka sudahkah ia pimpin mereka dengan baik?
Yang dibutuhkan dalam suasana krisis (krisis kebersamaan, krisis tujuan, dan krisis apapun) adalah keteladanan dari siapa saja – baik pemimpin maupun yang dipimpin – agar setiap orang ingin berada pada posisi memberi dan bukannya selalu menuntut. Yang banyak menuntut, selayaknyalah memiliki sumbang saran yang membangun. Dan yang merasa selalu dituntut, janganlah menuntut para penuntut agar mereka meredam tuntutannya. Jangan mudah kecewa sekalipun keadaannya menuntut hatimu kecewa. Dan jangan gampang mengecewakan karena mereka menaruh harapan yang tinggi atas prestasimu.
Semoga pesan ini bukan pembenaran bagi para pemimpin yang tak mau memperbaiki kepemimpinannya, dan bukan juga apologi bagi para terpimpin yang berharap mendapat tugas ringan atau dibebaskan dari tugas dengan alasan keterbatasan dirinya.
Kecewa terhadap keadaan atau tingkah laku orang lain menunjukkan tidak sejalannya keinginan dengan kenyataan. Jika kita mudah kecewa dengan duka hati yang berkepanjangan, maka mentalitas yang kita miliki adalah mentalitas ingin dilayani. Sebaliknya, jika kita mudah membuat orang lain kecewa, maka itu menunjukkan bahwa kita telah gagal menjadi pelayan (pemimpin) mereka. Seringkali sempitnya hati dan pikiran (kurangnya kedewasaan) menjadi sebab yang membatalkan keikhlasan kita sebagai pemimpin atau yang dipimpin.
Beberapa orang rela menjadi “PNS” (Pencari Nafkah Serabutan) demi visi besar yang diyakininya. Bukannya tak ingin punya pekerjaan yang mapan, tapi begitulah kecenderungan dan tuntutan keadaan. Pada saatnya nanti, mereka niat beralih menjadi PNS sungguhan karena bosan dengan minimnya dukungan, kecuali yang sanggup bertahan. Sering kita lihat mereka bekerja dengan serius di tengah ‘kelaparan’ (bukan karena puasa). Sementara banyak di antara kita yang karena ‘kekenyangan’ malah jadi malas beramal.
Lantaran kejahilan, kita mengira mereka adalah orang kaya, terlihat dari penampilan dan sikap ‘iffah mereka (QS. 2: 273). Seorang “guru honorer” baru saja pulang dari tempat tugasnya yang jauh. Ban sepeda motornya bocor dan ia pun harus mampir ke tukang tambal ban di pinggir jalan. Ia kisahkan hal itu kepada beberapa teman sesampainya ia di kota. Tanpa beban ia berkata, “Untung di dompet saya masih ada uang sepuluh ribu!”. Sebagian temannya hanya tersenyum, tapi sebagian yang lain bahkan tak ingin mendengarkan.
Karikatur kebersamaan yang mati rasa umpama seorang kaya dikunjungi sahabat lama yang tak seberuntung dirinya. Ia menjamu sahabatnya itu hanya dengan segelas air padahal sahabatnya itu sedang lapar dan sengaja datang tepat jam makan siang. Sementara di dekatnya seekor kucing peliharaan menyantap makanan bermerk yang mahal harganya. Ketika sahabat lama ini mulai membuka pembicaraan, si tuan rumah malah sibuk dengan hobi permainannya. Ia mengangguk-angguk saat sahabatnya bicara padahal ia tak benar-benar memperhatikannya. Ia sedang menikmati dunianya sendiri. Sungguh malang nasib sahabat lama, datangnya tak diundang, pamit pulangnya sangat diharapkan.
Dan setelah semua ini, belum tumbuhkah sensitivitas kita dalam kebersamaan? Jika belum, boleh jadi itu karena kebodohan kita. “Dan itulah ibarat-ibarat yang Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang berilmu.” (Al-‘Ankabut: 43) []
(2 April 2010)





0 comments:
Posting Komentar