Belajar, Berbagi, Melayani

  • KEAGUNGAN AL QURAN

    Al-Quran adalah cahaya yang menerangi kebutaan, penawar hati yang menyembuhkan penyakit dan kehampaannya, suguhan lezat bagi jiwa, taman indah sanubari, penuntun nurani menuju negeri yang damai.

  • BUAH TARBIYAH

    Kita bukanlah orang yang sudah benar-benar baik apalagi terbaik, melainkan hanya orang yang keburukannya tertutupi.

  • DOSA-DOSA YANG DIREMEHKAN

    Tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari 3 hari. Siapa yang mendiamkan saudaranya lebih dari 3 hari kemudian ia mati, maka ia masuk neraka.

  • CIRI PENGHUNI SURGA

    Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh. Inilah yang dijanjikan kepadamu.

  • SEREMONI

    Sejak pagi keluarga mempelai perempuan bersiap diri menyambut tamu yang telah lama dinanti-nanti. Akhirnya datang juga. Mempelai laki-laki dikawal rombongan sekeluarga.

12 Agustus 2013

Pemimpin Sejati Tak Lahir dari Gemerlap Harta

Seri Kepemimpinan Nabi - 2



Sekilas Perjalanan
Suku Quraiys adalah suku paling mulia di kalangan bangsa Arab, dan di antara keluarga-keluarga besar yang berafiliasi kepada suku Quraisy, maka Baniy Hasyimlah yang dipandang paling bersih dan terhormat. Mengenai hal itu, Rasulullah saw. – dalam sebuah riwayat dari Abbas – pernah bersabda: "Allah telah menciptakan makhluq-Nya dan saya dipilih sebagai yang terbaik dari mereka, terbaik di antara berbagai kelompok, bahkan terbaik dari dua kelompok. Lalu dipilih  kabilah-kabilah terbaik, maka saya dipilih dari kabilah terbaik. Kemudian dipilihlah keluarga-keluarga terbaik, dan saya dipilih dari keluarga terbaik. Maka saya adalah pribadi yang terbaik dari keluarga terbaik."  [Hr. Tumudzi dan shahih sanadnya] Demikian mulia dan bersihnya keluarga Muhammad, hingga tidak ada yang bisa menyerang Muhammad dari sisi keturunannya.

Muhammad, manusia pilihan itu adalah anak manusia biasa. Lahir di tengah Keluarga sederhana bahkan miskin. Begitu lahir sudah menjadi yatim. Ayahnya meninggal, saat buah cintanya itu baru dua bulan dalam kandungan ibunya. Menginjak umur 6 tahun, ibunya pun menyusul sang ayah. Lengkaplah penderitaan dan kepahitan Muhammad, sejak kecil telah kehilangan kehangatan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Tugas mengasuh berpindah kepada kakeknya, Abdul Muthalib. Namun hanya dua tahun lamanya, sang kakek keburu dipanggil menghadap sang Khaliq. Kemudian Muhammad kecil diasuh oleh pamannya yang terbilang paling miskin, Abu Thalib. Namun kemiskinan sang paman tidak membuatnya miskin cinta dan kasih sayang untuk Muhammad kecil. Sebagaimana kemiskinan keluarga ini pun tidak membuat mereka menjadi miskin kemulian dan kehormatan karena mereka tidak pernah menghinakan diri dengan meminta-minta atau menagih simpati orang lain atas nama kemiskinan.


Sejumput Pelajaran
Umat Islam, secara garis keturunan memang bukan seluruhnya bernasab kepada Muhammad saw. Namun setiap manusia yang beriman kepadanya  --  tanpa memandang suku, bangsa, bahasa dan warna kulitnya – telah menerima berkah kemuliaan sebagai keluarga dan ummat Muhammad, saw.  Atas hikmah Allah yang Mahabijak, umat Islam berada di bawah payung petunjuk sosok manusia paling sempurna dan paling layak untuk dijadikan teladan. Tentu tidak pantas, umat yang bergelar khairu ummah (ummat terbaik, Qs. 3: 110) ini diafiliasikan kepada sosok manusia yang tidak jelas asal usul keturunannya bahkan tercemar nasabnya.  

Dahulu pepatah Arab mengatakan, فاقد الشيء لا يعطي - "yang tidak mempunyai apa-apa tidak akan bisa memberi.” Dalam pribadi Muhammad terdapat segala sisi kebaikan yang bisa diberikan kepada ummat manusia sebagai contoh dan keteladanan yang tidak ada habisnya sepanjang zaman. Muhammad tidak meninggalkan harta, lahir dalam keadaan miskin, meninggal pun dalam keadaan miskin. Namun kekayaan Muhammad adalah kemuliaan dan keteladanan. Dari Nasabnya yang bersih dan mulia, hingga prilakunya yang tanpa cela. Itulah sumber mata air kebaikan yang tidak akan pernah kering hingga hari Kiamat. Itulah kekayaan yang tidak dapat disamakan dengan kekayaan apa pun di dunia ini. Apalagi hanya sebentuk materi yang sebentar kemudian akan lenyap.

Muhammad dibesarkan oleh sosok pribadi-pribadi mulia yang kaya hati dan cinta, kaya jiwa dan sifat-sifat mulia. Dibesarkan dengan keadaan serba kekurangan dan jauh dari kemewahan, membuat sosok Muhammad sebagai pribadi mandiri. Untuk sekedar mendapat upah sekeping dua keping dirham, dia bekerja sebagai penggembala kambing milik penduduk Mekah. Bagaimana pun, kemiskinannya tidak dijadikannya sebagai alasan untuk mencuri dan menyelewengkan sekecil apa pun amanat yang diberikan kepadanya. Sebab itu banyak penduduk Mekah yang mau menitipkan barang-barangnya untuk dijagakan oleh Muhammad. Kepercayaan itulah yang membuatnya dijuluki al-amin (orang yang sangat bisa dipercaya). Karena amanah dan kejujurnnya, bahkan janda kaya seperti Khadijah pun jatuh hati kepadanya dan mau menikah dengannya, setelah mengamati sepak terjangnya ketika mengelola barang dagangannya.

Semua liku-liku kehidupan yang dijalaninya sejak kecil itu sesungguhnya merupakan design tarbiyah rabbaniyah untuk mengantarkannya sebagai  pemimpin hebat yang tak tertandingi sepanjang masa. Bahkan sebagai sunnatullah abadi, “Barangsiapa yang berbuat kebajikan (amal shalih), baik laki-laki atau pun perempuan dan dia itu beriman, maka benar-benar akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri mereka balasan lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan..” (Qs. 16: 97) Kaedah ini berlaku kepada siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Bahwa untuk menjadi pemimpin yang baik dan umat yang baik haruslah dipersiapkan sejak dini segala sisi kebaikannya.

Pemimpin sejati bukan dilahirkan dengan uang. Umat yang baik bukan dibangun dengan iming-iming materi dan taburan pundi-pundi. Sebab, pemimpin yang begini hanya akan menjadi pecundang, dan rawan untuk dikutuk dan disumpahserapahi oleh rakyatnya yang kecewa. Baik pemimpin atau rakyat yang dilahirkan dari proses yang tidak wajar seperti itu, akan menjadi sekelompok manusia yang paling lemah dan bobrok. Tidak mempunyai mental juang dan semangat membangun bangsanya dengan kehormatan. Asalkan meraup keuntungan materi, meski pun harus mengemis, bahkan mencuri sekali pun tidak menjadi masalah.

Al-Qur’an dengan gamblang telah memotret bagaimana bobroknya mental masyarakat yang berorientasi kepada materi semata-mata. Sepintas mereka bersemangat untuk berjuang, membela yang benar dan kepentingan wong cilik, tetapi ketika benar-benar dihadapkan kepada realitas perjuangan, mereka pun mundur. Dan, amat sedikit yang sanggup bertahan. (Qs. 2: 246) Mereka menjadikan kekayaan sebagai syarat utama kepemimpinan, sehingga memandang rendah seorang pemimpin yang tidak mempunyai harta meski pun punya kualitas ilmu di samping kekuatan fisik. (Qs. 2: 247)

Rasulullah, saw. memimpin bukan berangkat dari kekayaan, bukan menabur janji-janji manis untuk memberi berbagai fasilitas dan kekayaan. Meskipun kebanyakan pengikut Muhammad waktu itu berasal dari kalangan rakyat jelata, wong cilik, orang miskin bahkan hamba sahaya, tetapi mereka tidak kesengsem dakwahnya karena janji-janji materi dan iming-iming uang. Sebab, mereka tahu muhammad sejak kecil bukan orang kaya, tidak mempunyai kekayaan seperti tokoh-tokoh Quraisy yang disegani. Muhammad hanya punya kejujuran, kemuliaan dan kesanggupan untuk berkorban demi apa yang diyakininya benar. Terbukti dari ucapannya di hadapan Abu Tholib, “Wahai Paman, kalau pun mereka bisa memberiku matahari hingga diletakkan di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, lalu aku harus meninggalkan dakwahku, sungguh itu tidak akan kulakukan hingga Allah menentukan akhir dari urusan ini.”

Mereka tahu Muhammad memimpin bukan untuk mencari uang, pangkat atau tujuan duniawi apa pun. Sebab jika itu yang dicari, maka dia akan akur dan menerima apa yang ditawarkan oleh kaum Qurays kepadanya, “jika mau kekayaan kami siap mengumpulkan sebanyak apa pun harta kekayaan yang Anda inginkan, jika ingin menjadi raja kami siap mengangkat Anda menjadi raja, jika ingin wanita kami siap mencarikan wanita Arab mana yang paling cantik…” Kemuliaan dan kebersihan jiwa sosok pemimpin seperti Muhammad inilah yang membuatnya terus dicintai oleh pengikutnya sepanjang zaman. Berbeda dengan pemimpin-pemimpin yang lahir dari janji-janji serba materi, Muhammad selalu disebut-sebut oleh pengikutnya dengan doa dan kebaikan setiap waktu sepanjang masa, sementara pemimpin yang tidak berkualitas dan hanya karena faktor duit, akan disumpahi oleh pengikutnya sendiri setiap kali namanya disebut.

Biarlah orang bukan sebagai keturunan keluarga ningrat dan berdarah biru, biarlah dia sebagai anak seorang petani kecil bahkan tidak punya sepetak sawah pun, tapi cukuplah baginya untuk mendapat kemulian abadi dengan membenarkan kenabian Muhammad dan mengikuti ajarannya. Siapa pun orangnya, dari keturunan jenis manusia seperti apa pun, berhak menyandang kemuliaan sebagai bagian dari khairu ummah asalkan bergabung dalam kafilah ummat Muhammad untuk “menganjurkan kebaikan, mencegah keburukan dan beriman kepada Allah.” (Qs. 3: 110) Cukuplah kemuliaan itu diperoleh dari menjadi bagian Umat Muhammad yang telah dijanjikannya surga. sabda beliau, “Semua umatku bakal masuk surga, kecuali yang membangkang.” Sahabat bertanya, “Siapakah yang membangkang itu, ya Rasulullah?” Jawab beliau, “Yang taat kepadaku bakal masuk surga, dan yang mendurhakaiku (tidak mau mengikuti ajaranku), maka dialah yang membangkang itu.” [Hr. Bukhari dari Abu Hurairah]
Share:

Melahirkan Pemimpin Harapan Ummat


Seri Kepemimpinan Rasulullah - 1


Sekilas Perjalanan

Allah telah menganugerahkan kemulian akhlaq dan kecerdasan akal kepada Muhammad sejak kecil. Setiap orang yang melihatnya pasti akan segera mengetahui keistimewaan anak ini dibanding dengan anak-anak yang lain. Tidak heran jika sang kakek, Abdul Muthalib memberinya tempat paling istimewa di hatinya. Pernah pada suatu hari, Muhammad kecil hendak duduk di atas hamparan khusus milik kakeknya yang biasa digelar di pelataran Ka’bah. Melihat itu, paman-pamannya segera menarik dan menjauhkannya dari situ. Sebab, mereka sendiri sebagai putranya segan duduk di atas alas khusus milik Abdul Muthalib itu. Akan tetapi, sang kakek melarang cucunya dipindahkan, “biarkan saja, karena kelak dia akan memiliki sya’n (kedudukan penting).”  Begitu kata kakeknya.

Sejak kecil kepribadian Muhammad sudah terjaga. Tidak pernah terlibat dalam kemerosotan moral dan prilaku tercela. Bahkan sekedar untuk ikut bersenang-senang dalam sebuah hiburan pun Muhammad tidak terbiasa. Pernah terbesit dalam benaknya keinginan untuk menonton sebuah pentas nyanyian yang diselenggarakan oleh penduduk Mekah. Akan tetapi – atas kehendak Allah – matanya digelayuti oleh rasa kantuk yang teramat berat, sehingga Muhammad tertidur pulas dan baru terbangun pada keesokan harinya ketika tubuhnya tersengat sinar matahari yang telah beranjak naik. Meski pun tumbuh di lingkungan jahiliyah, di mana praktek perjudian, makanan dan minuman haram adalah perkara lumrah. Begitu juga persembahan kepada berhala bahkan menjadi kemestian. Namun Muhammad tidak pernah terlibat dalam perbuatan kotor dan kepercayaan bodoh tersebut. 

Sebaliknya, di usianya yang masih sangat muda, Muhammad sudah mengukir prestasi gemilang dan mendapat julukan al-amin, orang yang sangat bisa dipercaya. Bermula dari pemugaran Ka’bah yang rusak akibat diamuk banjir. Ketika hendak meletakkan hajar aswad di posisinya semula, terjadilah perselisihan bahkan nyaris menimbulkan peperangan di antara kabilah-kabilah Quraisy. Masing-masing merasa berhak untuk mendapatkan kehormatan meletakkan kembali hajar aswad. Akhirnya disepakati, orang yang pertama kali masuk ke Baitullah dari pintu Bani Syaibah adalah orang yang akan dijadikan hakim (penengah). Ternyata orang itu adalah Muhammad. Begitu mereka melihat bahwa yang masuk adalah pemuda yang terkenal baik dan terpercaya itu, mereka berkata, “dialah al-amin (orang yang terpecaya), kami rela menjadikannya sebagai penengah.” Muhammad kemudian membuat kebutusan yang sangat bijak dan melegakan semua pihak. Beliau membentangkan kain selendangnya dan meletakkan hajar aswad di atasnya, lalu kepada setiap kabilah dimintanya untuk memegangi setiap ujungnya dan mengangkatnya secara bersama-sama. Begitu batu hitam itu terangkat, maka Muhammad segera mengambilnya dan meletakkannya di tempatnya semula. Sebuah kecerdasan yang luar biasa. Dalam situasi genting, Muhammad hadir dengan ide yang cemerlang sehingga berhasil mencegah pertumpahan darah.



Sejumput Pelajaran

Segala keistimewaan yang dimiliki oleh Muhammad sejak kecil adalah merupakan anugrah Allah sebagai pendahuluan bagi tugas kenabian dan kerasulannya kelak. Semua itu adalah bagian dari  irhaashat, yaitu keistimewaan dan keluarbiasaan yang diberikan oleh Allah kepada seorang anak manusia yang kelak akan dipilih-Nya sebagai nabi dan pemimpin umat. Irhashot itu berbeda dengan keistimewaan atau keluarbiasaan yang dimiliki oleh anak indigo. Sebab,  jika ditelusuri, keluarbiasaan anak-anak indigo selalu mengarah kepada fitnah ummat. Keluarbiasaan mereka sering dilatarbelakangi amalan-amalan menyimpang dari orang tuanya atau mbah-buyutnya terdahulu. Atau bahkan ditunggangi oleh unsur sihir (fitnah jin / setan) yang hendak menyesatkan manusia. Akibatnya, tidak jarang anak yang dianggap indigo, meski pun berprilaku nyeleneh, dipercayai bisa melakukan tindakan supranatural (di luar kemampuan nalar dan tabiat manusia).

Keluarbiasaan Muhammad sewaktu kecil murni anugerah Allah sehingga tumbuh dengan perilaku yang jauh dari penyimpangan, baik dari segi akhlaq mau pun akidahnya. Sebagai calon nabi, Muhammad telah dijaga oleh Allah bahkan sejak dari asal-usul keturunan dan keluarganya. Dipilih dari kabilah terbaik, keluarga terbaik dan orang tua terbaik. Allah telah menjaganya dari segala keburukan yang bisa menodai kesempurnaan sosok manusia teladan. Maka dia harus dihadirkan sebagai anak manusia yang bersih keturunannya, bersih hatinya, bersih prilakunya. Dan, itu telah mendapatkan pengakuan dari seluruh kaumnya sejak usianya yang masih dini. Betapa tidak, dia akan dikirim sebagai sosok pelurus akidah, penyempurna budi pekerti dan pemimpin ummat. Manalah mungkin dia bisa memainkan peran mahapenting itu dan memberi sesuatu kepada orang lain, apalagi kepada umat yang besar ini jika dirinya sendiri tidak memiliki kesempurnaan itu.

Maka demikian itulah sunatullah dalam memilih kepemimpinan. Calon-calon pemimpin itu harus terjaga sejak dini dari prilaku tercela. Manakala sang Nabi dijaga langsung oleh Allah, maka calon-calon pemimpin dari ummatnya diamanatkan penjagaannya kepada orang tua, guru dan lingkungan yang membesarkan dan mendidiknya. Sebab, setelah umat ini ditinggal oleh pemimpin agungnya, Muhammad saw. kepemimpinan selanjutnya bukan atas ketetapan wahyu dan penunjukan ilahiyah, melainkan berdasarkan atas syura dan plihan ummat. Maka baik dan buruknya kepemimpinan ummat amat bergantung kepada kualitas umat yang melahirkan pemimpin-pemimpin itu. Sebagaimana pepatah Arab mengatakan, “kaifamaa takuunu yuwalla ‘alaikum” [bagaimana kualitas kamu, maka seperti itulah kepemimpinan terhadap kamu.” Sama makna dengan pepatah bahasa Inggris, “Presiden is what the people are.” Jika rakyatnya rendah kualitas, maka pemimpin yang dipilih dan diangkat adalah orang yang rendah kualitasnya. Jika rakyatnya senang sogok-menyogok, maka pilihannya akan jatuh kepada orang yang bisa memberi sogokan dan bayaran ketika mau menjadi pemimpin.

Umat Islam merindukan sosok pemimpin yang dibesarkan dari keluarga dan lingkungan yang bersih dan mulia. Kemulian keluarga tidak diukur dengan banyaknya harta dan tingginya pangkat. Sejarah umat Islam telah membuktikan bahwa pemimpin ummat tidak selamanya harus datang dari keluarga ningrat. Bahkan Nabi Muhammad saw. sendiri bukan keturunan raja-raja yang datang untuk mengklaim kerajaan nenek moyangnya yang hilang. Melainkan anak manusia biasa. Selagi umat Islam belum mendapatkan kepemimpinan yang sholih dan beriman, jujur dan adil, berilmu dan bijaksana, maka menjadi fardu ‘ain bagi setiap rumah tangga muslim untuk mendidik dan melahirkan kepemimpinan seperti itu. Sebab, pemimpin umat yang ideal itu bukanlah sosok misteri satrio paningit yang turun dari langit, tidak muncul dari segara kidul, atau menyembul dari kawah gunung merapi. Meski pun tidak mustahil jika sosok pemimpin harapan umat yang dapat menjaga kebaikan agama dan dunianya itu akan lahir dari sebuah rumah sederhana yang bersih dan mulia di tengah umat yang sakit ini. Allaahumma aamiin! []
Share:

02 April 2013

Memohon Rasa Takut, Ketaatan dan Keyakinan kepada Allah serta Pertolongan-Nya



Doa yang perlu dihafal, mari kita renungkan dan amalkan...


اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُوْلُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ 
وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ 
وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا 
وَمَتِّعْنِا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا 
وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا 
وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِيْ دِيْنِنَا 
وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا 
وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَخَافُكَ وَلاَ يَرْحَمُنَا
  

Ya Allah, berikan kepada kami dari rasa takut kami kepada-Mu sesuatu yang akan membentengi kami dari maksiat kepada-Mu, 
anugerahkan kami dari ketaatan kami kepada-Mu sesuatu yang akan mengantarkan kami ke surga-Mu, 
dan berikan untuk kami dari keyakinan kami kepada-Mu sesuatu yang akan meringankan kami dalam menghadapi musibah dunia. 
Berikan kenikmatan pada pendengaran, penglihatan dan semua kekuatan dan potensi kami selama Engkau hidupkan kami, jadikan semua itu sebagai peninggalan kami. 
Jadikan pembalasan kami hanya kepada orang yang telah menzhalimi kami, 
tolonglah kami atas orang-orang yang memusuhi kami, 
jangan Engkau jadikan musibah menimpa kami dalam agama dan iman kami, 
jangan Engkau jadikan dunia ini sebagai puncak cita-cita dan ilmu kami, 
dan jangan Engkau kuasakan kami kepada orang-orang yang tidak takut kepada-Mu dan tidak menyayangi kami.
Share:

17 November 2012

Risalah Da'watuna (bagian ke-2)



دعـوتنــــا
Risalah Da’watuna (Dakwah Kami)
Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna
Part #2


لله الفضل و المنة
و لسنا نمتن بشيء ولا نرى لأنفسنا في ذلك فضلا ، و إنما نعتقد قول الله تعالى : ( بَلِ اللهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلإِيمَانِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ) (الحجرات:17) .
KEUTAMAAN HANYALAH MILIK ALLAH SWT
Kami tidaklah merasa berjasa dengan suatu apa pun dan tidak pula menganggap diri kami memiliki keutamaan. Hanyalah kami meyakini firman Allah SWT, “Bahkan sebenarnya Allah, Dia-lah yang melimpahkan nikmat-Nya kepadamu dengan menunjukimu kepada keimanan, jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujuraat: 17)
 وكم نتمنى – لو تنفع المنى – أن تتفتح هذه القلوب على مرأى و مسمع من أمتنا ، فينظر إخواننا هل يرون فيها إلا حب الخير لهم و الإشفاق عليهم و التفاني في صالحهم ؟
Kami sering berangan-angan – andaikan angan-angan itu bermanfaat – bahwa hati kami terbuka di hadapan penglihatan dan pendengaran umat ini, sehingga saudara-saudara kami bisa melihat sendiri, adakah mereka melihat sesuatu di dalam hati kami selain menginginkan kebaikan untuk mereka, rasa kasih terhadap mereka, serta rela mati untuk kemaslahatan mereka?
وهل يجدون إلا ألما مضنيا من هذا الحال التي وصلنا إليها ؟
Apakah mereka menemukan dalam hati kami selain kepedihan mendalam atas apa yang sedang kita alami?
و لكن حسبنا أن الله يعلم ذلك كله ، و هو وحده الكفيل بالتأييد الموفق للتسديد، بيده أزمة القلوب و مفاتيحها ، من يهد الله فلا مضل له و من يضلل الله فلا هادي له و هو حسبنا و نعم الوكيل . أليس الله بكاف عبده؟
Namun, cukuplah bagi kami bahwa Allah SWT mengetahui itu semua. Hanya Dia-lah yang menjamin dukungan yang tepat, agar kami selalu benar. Di tangan-Nya-lah berada semua kendali dan kunci hati. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tiada yang dapat menyesatkannya. Dan siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tiada yang dapat menunjukinya. Cukuplah Dia bagi kami, Dia-lah sebaik-baik tempat bergantung. Bukankah Allah yang mencukupi hamba-Nya?
Share:

Risalah Da'watuna (bagian ke-1)


دعـوتنــــا
Risalah Da’watuna (Dakwah Kami)
Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna
Part #1

مصـارحة
نحب أن نصارح الناس بغايتنا ، وأن نجلي أمامهم منهجنا ، وأن نوجه إليهم دعوتنا ، في غير لبس ولا غموض ، أضوأ من الشمس وأوضح من فلق الصبح وأبين من غرة النهار.
KETERUSTERANGAN
Kami ingin (dengan keinginan yang amat sangat) berterus terang kepada manusia tentang tujuan kami, mengungkapkan manhaj kami di hadapan mereka, dan menyampaikan seruan kami kepada mereka tanpa ada kerancuan dan kesamaran; lebih terang dari sinar mentari, lebih cerah dari cahaya fajar, dan lebih jelas dari kecemerlangan siang.

بـــراءة
ونحب مع هذا أن يعلم قومنا – و كل المسلمين قومنا – أن دعوة الإخوان المسلمين دعوة بريئة نزيهة ، قد تسامت في نزاهتها حتى جاوزت المطامع الشخصية ، واحتقرت المنافع المادية ، وخلفت وراءها الأهواء والأغراض ، ومضت قدما في الطريق التي رسمها الحق تبارك وتعالى للداعين إليه :
(قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ) (يوسف:108) .
فلسنا نسأل الناس شيئا ، و لا نقتضيهم مالا ولا نطالبهم بأجر ، ولا نستزيد بهم وجاهة ، ولا نريد منهم جزاء ولا شكورا ، إن أجرنا في ذلك إلا على الذي فطرنا.
KESUCIAN
Dan kami juga ingin agar kaum kami – dan seluruh kaum muslimin adalah kaum kami – mengetahui bahwa da’wah Ikhwanul Muslimin itu bersih dan suci. Kebersihannya benar-benar mulia, hingga melampaui ambisi pribadi, menganggap kecil keuntungan materi, meninggalkan hawa nafsu dan kesenangan sementara. Ia terus melaju di jalan yang telah digariskan Allah SWT untuk para da’i:
“Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajakmu kepada Allah dengan hujjah yang nyata.’ Mahasuci Allah, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)
Maka kami tidak meminta sesuatu pun dari manusia, tidak mengharap harta, tidak menuntut balasan, tidak menginginkan popularitas, dan tidak menghendaki imbalan serta ucapan terima kasih. Sungguh, pahala amal kami hanyalah dari Dzat yang telah menciptakan kami.

عـاطــفة
و نحب أن يعلم قومنا أنهم احب إلينا من أنفسنا ، و أنه حبيب إلى هذه النفوس أن تذهب فداء لعزتهم إن كان فيها الفداء ، و أن تزهق ثمنا لمجدهم و كرامتهم و دينهم و آمالهم إن كان فيها الغناء،
KASIH SAYANG
Kami ingin agar kaum kami mengetahui bahwa mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri. Sungguh, jiwa-jiwa kami ini menyukai gugur sebagai penebus bagi kehormatan mereka, jika memang tebusan itu diperlukan, atau melayang untuk membayar kejayaan, kemuliaan, agama dan cita-cita mereka, jika memang itu mencukupi.
وما أوقفنا هذا الموقف منهم إلا هذه العاطفة التي استبدت بقلوبنا و ملكت علينا مشاعرنا ، فأقضت مضاجعنا ، و أسالت مدامعنا ، و إنه لعزيز علينا جد عزيز أن نرى ما يحيط بقومنا ثم نستسلم للذل أو نرضى بالهوان أو نستكين لليأس ،
Dan tiada yang membawa kami kepada sikap seperti ini terhadap mereka, kecuali karena rasa kasih sayang yang telah mencengkeram hati kami, menguasai perasaan kami, menghilangkan rasa kantuk kami, dan mengalirkan air mata kami. Sungguh, kami benar-benar sedih melihat apa yang menimpa umat ini, sementara kita hanya bisa menyerah pada kehinaan, ridha pada kerendahan dan pasrah pada keputusasaan.
فنحن نعمل للناس في سبيل الله أكثر مما نعمل لأنفسنا، فنحن لكم لا لغيركم أيها الأحباب ، و لن نكون عليكم في يوم من الأيام.
Maka kami bekerja di jalan Allah untuk kemaslahatan seluruh manusia, lebih banyak daripada apa yang kami lakukan untuk kepentingan diri kami sendiri. Kami adalah milik kalian wahai saudara-saudara tercinta, bukan untuk orang lain. Sesaat pun kami tak akan pernah menjadi musuh kalian.
Share:

16 November 2012

Menghadapi Fluktuasi Ambisi


Kegagalan seringkali menghancurkan harapan-harapan yang kita miliki. Impian atau cita-cita, ambisi yang begitu kuat pada mulanya, seketika memudar begitu cepat. Posisikan diri Anda sebagai seorang caleg yang kalah dalam pemilu. Telah Anda kerahkan segalanya, pikiran, tenaga, dan dana yang begitu besar. Anda giring masyarakat agar mau memilih Anda saat pemilu. Dan ketika melihat antusiasme masyarakat dalam kampanye, Anda yakin betul akan menang, Anda akan terpilih sebagai anggota dewan. Dalam khayal, Anda bayangkan kursi legislatif yang akan Anda duduki. Dan tersemat pada diri Anda sebutan wakil rakyat.
Tapi apa yang terjadi? Anda gagal. Anda pun kecewa kepada masyarakat yang telah menikmati jasa Anda tapi tak mau memilih Anda. Anda yang semula bercita-cita mulia, ingin membangun dan memajukan masyarakat, kini balik berburuk sangka dan kecewa berat pada masyarakat itu. Cita-cita yang telah Anda canangkan sebelumnya, sirna seketika.
Ambisi itu memang tidak stabil. Kadang naik, kadang turun. Seperti juga yang Anda rasakan sebagai mood atau suasana hati. Kalau Anda sedang mood dalam suatu aktivitas, pasti Anda akan mengerjakannya dengan senang hati, ada bayarannya atau tidak. Anda tidak terlalu perhitungan dengan untung-ruginya. Pekerjaan itu Anda lakukan dengan ringan, tanpa beban, tanpa merasa terpaksa. Seandainya pun Anda bisa bekerja 24 jam non-stop, Anda tetap akan melakukannya. Bahkan pun kalau sehari itu sama dengan 40 jam, mungkin Anda tetap akan melakukannya. Sebaliknya, jika mood Anda sedang jelek, jangankan 10 jam bekerja, 1 jam saja sudah terasa membosankan. Anda akan bekerja dalam kondisi perasaan yang tersiksa. Kenapa? Karena Anda terpaksa, tidak ada ketulusan dalam melakukannya.
Itulah keadaan ambisi. Ia memang bisa mengambil bentuk sebagai obsession (obsesi) tapi seringkali ia juga menjelma menjadi obtuseness (kebodohan). Dan tampak jelas di antara keduanya ada obstacle (hambatan atau rintangan).
Awalnya adalah pengetahuan seseorang akan sesuatu yang bermanfaat. Pengetahuan itu kemudian menumbuhkan rasa suka. Kemudian muncullah keinginan untuk memilikinya. Munculnya keinginan itu diiringi pula dengan penambahan pengetahuan tentang sesuatu itu. Dia akan berpikir dan mencari tahu bagaimana cara mendapatkannya. Itu jika dia benar-benar menginginkannya. Jika dalam proses mencari tahu serta usaha mendapatkannya dia selalu terbayang dengan sesuatu itu dan tidak bisa tidur dibuatnya, maka itu artinya ambisi telah menjadi obsesi. Hal ini mirip dengan seseorang yang jatuh cinta. Dia selalu membayangkan kekasihnya dan sulit menikmati kehidupan normalnya sehari-hari.
Saat dia telah mengetahui jalan untuk mendapatkan sesuatu (yang dia inginkan) itu, maka dia pun mulai berpikir lagi. Dan dia akan bertanya dalam hati, “Apakah saya bisa? Mampukah saya? Apa resiko yang harus saya hadapi?” dan seterusnya.
Jika kemudian dia merasa tak akan bisa mendapatkannya, sementara obsesinya terus terfokus pada keinginan itu namun tanpa melakukan apa-apa, maka itu artinya ambisi telah menjelma menjadi kebodohan. Dan itulah yang disebut dengan angan-angan. Angan-angan itu membuatnya tak bisa tidur. Tapi anehnya dia tak melakukan apa-apa, hanya mengkhayal.
Ada kalanya ambisi seseorang hilang. Seringkali dia terpengaruh oleh komentar dan opini negatif orang lain terhadap apa yang dicita-citakan. Mereka mengatakan bahwa dia tak akan bisa melakukannya, terlalu berat, terlalu memaksakan diri, dan berbagai komentar lain. Kebanyakan, yang sering membuatnya turun semangat adalah ketika mereka menceritakan kemungkinan pahit dari cita-citanya itu berdasarkan pengalaman mereka atau dari kisah lama yang mereka tahu. Inilah “teror” secara halus terhadap orang yang ingin sukses.
Karena kemudian dia pun menjadi takut gagal, maka dia mengurungkan ambisinya itu. Kemudian ambisi-ambisi yang lain akan bermunculan seiring dengan bertambahnya informasi tentang dunia luar, tentang segala hal yang belum dia ketahui selama ini. Tapi ada kalanya setelah itu dia tak memiliki ambisi apa-apa lagi. Banyak orang-orang sepertinya yang lebih memilih untuk hidup apa adanya, mengalir begitu saja tanpa ada cita-cita besar hingga ajal menjemput mereka. Maka wajar saja jika tak ada prestasi besar dalam hidup mereka.
Tapi uniknya manusia selalu berubah-ubah. Kondisi hati memang tidak stabil, seperti namanya qalbu yang artinya sesuatu yang tidak tetap, tempat terjadinya perubahan gagasan. Maka boleh jadi setelah lama ambisi itu hilang, tiba-tiba ia muncul lagi. Dan bisa jadi pula seseorang kemudian melakukan apa yang dulu tidak berani dia lakukan. Kenapa? Karena ada motivasi, ada sesuatu yang mendorong atau menariknya untuk melakukan itu.
Apa yang mendorong dan apa yang menarik sehingga dia kembali berambisi? Yang mendorong adalah realitas dan yang menarik adalah idealitas. Biasanya realitas itu berbentuk ketidaknyamanan, kekurangan, kebutuhan, atau keadaan bahaya. Maka umumnya seseorang akan bergerak jika dia tidak nyaman, atau jika dia membutuhkan sesuatu, atau merasa ada hal yang membahayakan dirinya. Tapi itu terjadi jika dia merasakan adanya ketidaknyamanan, kebutuhan atau keadaan bahaya itu. Jika dia tak menyadari adanya hal-hal tersebut, meskipun kenyataannya memang demikian, maka dia pun tidak akan bergerak.
Sedangkan idealitas itu berbentuk cita-cita, bayangan tentang sesuatu yang indah dan menyenangkan, keberlimpahan materi, keamanan dan kenyamanan, dan sebagainya. Karena semua itu belum terwujud, jauh di depan sana, maka idealitas itu memiliki sifat menarik. Hati kita akan tertarik sehingga kita ingin ke sana, ingin segera sampai ke tempat tujuan. Tentu ini juga sangat bergantung pada variabel pengetahuan kita tentang idealitas itu. Kalau kita tidak punya idealitas, tak punya cita-cita yang besar, atau tak punya selera yang tinggi, maka kita pun tak akan tertarik dan kita tak akan bergerak.
Kemudian, umpamanya ambisi kita sedang menyala-nyala setelah sebelumnya redup. Kita bersemangat dalam menyelesaikan suatu pekerjaan yang mendukung terwujudnya ambisi kita itu. Ambisi itu tidak sekedar menjadi obsession yang membuat kita selalu gelisah jika ia belum tercapai. Tapi ambisi itu membuat kita selalu on mission dalam semua aktivitas yang kita lakukan. Kita bekerja dan terus bekerja karena ambisi itu belum juga terwujud.
Apa yang terjadi kemudian? Umpamakan bahwa lagi-lagi kita menemui kesulitan dan gagal. Lagi-lagi ambisi kita memudar. Memang begitulah adanya. Ambisi selalu fluktuatif sebagaimana hati yang terus berubah-ubah. Karena itu, kita tak bisa menafikan peran penting hati kita. Stabilitas hati mendukung stabilnya ambisi. Sementara stabilitas hati kita tergantung pada kesehatannya. Jadi sekiranya kita mengalami kegagalan, kemudian ambisi kita menurun, maka terapi atas penyakit hati adalah solusi yang tepat.
“Ingatlah bahwa di dalam jasad ada sekerat daging. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh jasadnya, dan apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah, sekerat daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Seringkali kita turun semangat dalam melakukan sesuatu karena kita dibutakan oleh sesuatu yang kita kerjakan. Tapi lebih tepatnya kita dibutakan oleh pikiran kita sendiri. Wujud dari turunnya semangat atau ambisi itu adalah berhentinya kita bekerja, mengambil waktu jeda, melupakan semua itu sesaat, atau kita meninggalkannya sama sekali. Jika keinginan untuk meraih sukses ternyata masih ada, maka keinginan dan semua cita-cita itu pun menjadi kabur dan samar. Tinggallah kita menjadi orang yang berangan-angan, punya cita-cita besar tapi berjiwa kerdil. Dan bentuk yang paling sering kita ambil adalah penundaan. Kalau kita teliti dengan cermat, penundaan ini adalah bentuk ketertipuan kita akan hakikat kehidupan.
Orang yang berangan-angan memang tak pernah berpikir tentang kematian yang bisa datang kapan saja, bahkan bisa jadi besok. Orang yang berangan-angan bahwa suatu ketika dia akan sukses dalam pekerjaannya, tapi selalu menunda-nunda apa yang sedang dikerjakan, berarti dia memprediksikan bahwa dia masih akan hidup lebih lama lagi. Mungkin dia selalu berpikir, “Ah, besok saja saya melakukannya, besok saja saya beramal shalih, nanti saja serius beribadah, sekarang kerjakan yang lain dulu atau sekarang santai saja dulu. Toh, masih ada nanti atau besok.” Tapi ternyata nanti atau besoknya dia berpikir seperti itu lagi. Dengan kata lain, orang ini tidak kuat kemauannya, tidak punya kesungguhan. Dan semoga itu bukan kita.
Memang kalau kita mau jujur, persoalan kesegeraan dan sebaliknya penundaan kita dalam mengerjakan “proyek-proyek ibadah” kita adalah bagian dari ukuran kualitas keimanan kita. Maka kita akan semangat bekerja jika kondisi keimanan kita sedang fit dan semangat itu akan turun jika kondisi keimanan kita menurun. Cara kita melaksanakan proyek ibadah kita akan menunjukkan semua itu dengan jelas.
Cara terbaik untuk memperbarui ambisi amal shalih adalah banyak mengingat mati. Inilah tema yang sering dihindari di zaman yang serba hedonistik ini. Budaya yang marak di sekitar kita adalah budaya hiburan, having fun, lupa diri dan lupa daratan, yang semua itu cenderung membuat para penikmatnya lupa akan hakikat kehidupan. Akhirnya kita pun lalai dalam nyanyian dan musik yang menghanyutkan pikiran, tontonan yang membuat kita makin mengkhayal, obrolan yang tak ada nilainya, dan berbagai sarana yang menjadi kesenangan belaka. Maka menjadi wajar jika masyarakat seperti itu sulit diajak untuk maju.
Kita tak bermaksud negative thinking terhadap masyarakat dan menyalahkan keadaan sebab kita adalah bagian dari masyarakat itu sendiri. Tapi inilah tantangannya. Kita ditantang untuk melawan arus. Maksudnya, bagaimana kita menjadi baik walaupun lingkungan kurang kondusif. Kita perlu mempopulerkan tradisi dzikrul maut, sedang di saat yang sama banyak orang terlalu mencintai kehidupan dan takut akan kematian. Inilah tema yang mencerdaskan, seperti telah disabdakan Rasulullah SAW: “Orang yang paling cerdas adalah orang yang dapat mengendalikan nafsunya dan beramal untuk bekal pasca-kematian.” (HR. Tirmidzi)
Kita sepakat dengan itu. Dan selayaknya kita tak perlu berselisih lagi tentangnya. Tapi masalahnya, bisakah kita menjalankannya? Dan bagaimana mungkin kecerdasan bisa didapat dengan cara mengingat kematian? Lalu bisakah dzikrul maut itu memperbarui ambisi kita? Maksudnya, apa mungkin kita bisa bertambah semangat dengan memikirkan kematian?
Seorang teman bercerita kepada saya bahwa suatu ketika dia sering membaca buku-buku tentang kematian dan Hari Kiamat. Katanya, di masa-masa itu dia menjadi lesu, tidak semangat dalam bekerja. Mungkin banyak juga orang yang mengalami hal semacam itu. Saya menduga hal itu disebabkan kurang sempurnanya kesadaran kita bahwa keseluruhan hidup ini adalah ibadah, bukan hanya pada saat-saat ibadah yang bersifat ritual.
Sebenarnya kita hanya perlu mengalokasikan ruang di hati kita untuk porsi dzikrul maut yang cukup besar. Dan perlu ada pengaturan dalam hati, ada kalanya kita menangis saat dzikrul maut karena mengingat dosa-dosa sehingga kita segera memohon ampunan Allah. Dan ada kalanya kita bertambah semangat saat dzikrul maut karena tak ingin menyia-nyiakan waktu yang tersisa sehingga kita beramal sesegera mungkin.
Bisa jadi kita mengalami kondisi jiwa yang berlawanan. Pada awalnya kita menangis seakan hampir putus asa, tapi segera setelah itu kita bersemangat seperti ingin menaklukkan dunia. Kondisi itu tidaklah aneh. Sebab, saat kita menangis dan merintih, kita melakukannya dengan penuh harap kepada Allah akan rahmat dan ampunan-Nya. Dan saat kita bersemangat, kita ingin membuktikan bahwa kita sungguh-sungguh berusaha meraih ridha-Nya.
Orang yang selamanya bersedih dan turun semangat, biasanya tak memiliki arah yang jelas di dunia ini. Dia tak punya rencana kerja-kerja besar yang bisa dia perankan. Sementara orang yang selamanya berpacu dengan dunianya dan memiliki kerja-kerja besar yang sedang dijalaninya, maka dia akan mengalami kegersangan jiwa. Dia pandai memanfaatkan fasilitas dunia ini, tapi sayangnya dunia inilah yang dia jadikan tujuan akhirnya.
Karenanya yang kita perlukan adalah irama hidup yang seimbang. Kita memang harus punya ambisi untuk menjadi sesuatu dalam kehidupan ini. Tapi kita pun harus sadar bahwa kehidupan ini bukanlah tujuan kita. Ia hanya sarana yang akan mengantarkan kita pada tujuan sebenarnya. Maka dzikrul maut menjadi penting untuk dilakukan. Jika kita sering mengingat mati, maka kita akan sibuk mempersiapkan diri dengan amal kebaikan. Dan semua pekerjaan yang disebut pekerjaan duniawi pun termasuk bagian dari bekal menghadapi kematian.
Kita juga harus pandai dan bijak menyikapi dan memperlakukan semua dimensi waktu dalam hidup ini. Memang, kita punya masa lalu yang terkadang kita sesali. Atau masa lalu itu tersimpan dalam memori kita sebagai kekayaan motivasi. Kita juga punya masa depan yang sering berwujud menjadi angan-angan atau keraguan besar. Tapi hidup kita hanyalah hari ini. Jika hari ini hanya diisi dengan mengenang masa lalu dan mengangankan masa depan, maka kita tak akan bergerak. Masa lalu itu harus menjadi pendorong sedangkan masa depan adalah sesuatu yang menarik. Tapi hidup kita tinggal hanya hari ini saja. Dan kita harus melakukan sesuatu. Soal hasil, itu bukan urusan kita, yang penting kita benar-benar beramal. []
Share:

16 Oktober 2012

Kisah Hasan Al-Bashri dan Seorang Gadis Kecil


Sore itu Hasan al-Bashri sedang duduk-duduk di teras rumahnya. Rupanya ia sedang bersantai makan angin. Tak lama setelah ia duduk bersantai, lewat jenazah dengan iring-iringan pelayat di belakangnya. Di bawah keranda jenazah yang sedang diusung berjalan gadis kecil sambil terisak-isak. Rambutnya tampak kusut dan terurai, tak beraturan.
Al-Bashri tertarik penampilan gadis kecil tadi. Ia turun dari rumahnya dan turut dalam iring-iringan. Ia berjalan di belakang gadis kecil itu. Di antara tangisan gadis itu terdengar kata-kata yang menggambarkan kesedihan hatinya. "Ayah, baru kali ini aku mengalami peristiwa seperti ini." Hasan al-Bashri menyahut ucapan sang gadis kecil, "Ayahmu juga sebelumnyatak mengalami peristiwa seperti ini."
Keesokan harinya, usai salat subuh, ketika matahari menampakkan dirinya di ufuk timur, sebagaimana biasanya Al-Bashri duduk di teras rumahnya. Sejurus kemudian, gadis kecil kemarin melintas ke arah makan ayahnya. "Gadis kecil yang bijak," gumam Al-Bashri. "Aku akan ikuti gadis kecil itu."
Gadis kecil itu tiba di makam ayahnya. Al-Bashri bersembunyi di balik pohon, mengamati gerak-geriknya secara diam-diam. Gadis kecil itu berjongkok di pinggir gundukan tanah makam. Ia menempelkan pipinya ke atas gundukan tanah itu. Sejurus kemudian, ia meratap dengan kata-kata yang terdengar sekali oleh Al-Bashri. "Ayah, bagaimana keadaanmu tinggal sendirian dalam kubur yang gelap gulita tanpa pelita dan tanpa pelipur? Ayah, kemarin malam kunyalakan lampu untukmu, semalam siapa yang menyalakannya untukmu? Kemarin masih kubentangkan tikar, kini siapa yang melakukannya, Ayah? Kemarin malam aku masih memijat kaki dan tanganmu, siapa yang memijatmu semalam, Ayah? Kemarin aku yang memberimu minum, siapa yang memberimu minum tadi malam?
Kemarin malam aku membalikkan badanmu dari sisi yang satu ke sisi yang lain agar engkau merasa nyaman, siapa yang melakukannya untukmu semalam, Ayah?" "Kemarin malam aku yang menyelimuti engkau, siapakah yang menyelimuti engkau semalam, ayah? Ayah, kemarin malam kuperhatikan wajahmu, siapakah yang memperhatikan tadi malam Ayah? Kemarin malam kau memanggilku dan aku menyahut penggilanmu, lantas siapa yang menjawab panggilanmu tadi malam Ayah? Kemarin aku suapi engkau saat kau ingin makan, siapakah yang menyuapimu semalam, Ayah? kemarin malam aku memasakkan aneka macam makanan untukmu Ayah, tadi malam siapa yang memasakkanmu?"
Mendengar rintihan gadis kecil itu, Hasan al-Bashri tak tahan menahan tangisnya. Keluarlah ia dari tempat persembunyiannya, lalu menyambut kata-kata gadis kecil itu. "Hai, gadis kecil! jangan berkata seperti itu. Tetapi, ucapkanlah, "Ayah, kuhadapkan engkau ke arah kiblat, apakah kau masih seperti itu atau telah berubah, Ayah?
Kami kafani engkau dengan kafan yang terbaik, masih utuhkan kain kafan itu, atau telah tercabik-cabik, Ayah? Kuletakkan engkau di dalam kubur dengan badan yang utuh, apakah masih demikian, atau cacing tanah telah menyantapmu, Ayah?"
"Ulama mengatakan bahwa hamba yang mati ditanyakan imannya. Ada yang menjawab dan ada juga yang tidak menjawab. Bagaimana dengan engkau, Ayah? Apakah engkau bisa mempertanggungjawabkan imanmu, Ayah? Ataukah, engkau tidak berdaya?"
"Ulama mengatakan bahwa mereka yang mati akan diganti kain kafannya dengan kain kafan dari sorga atau dari neraka. Engkau mendapat kain kafan dari mana, Ayah?"
"Ulama mengatakan bahwa kubur sebagai taman sorga atau jurang menuju neraka. Kubur kadang membelai orang mati seperti kasih ibu, atau terkadang menghimpitnya sebagai tulang-belulang berserakan. Apakah engkau dibelai atau dimarahi, Ayah?"
"Ayah, kata ulama, orang yang dikebumikan menyesal mengapa tidak memperbanyak amal baik. Orang yang ingkar menyesal dengan tumpukan maksiatnya. Apakah engkau menyesal karena kejelekanmu ataukah karena amal baikmu yang sedikit, Ayah?"
"Jika kupanggil, engkau selalu menyahut. Kini aku memanggilmu di atas gundukan kuburmu, lalu mengapa aku tak bisa mendengar sahutanmu, Ayah?" "Ayah, engkau sudah tiada. Aku sudah tidak bisa menemuimu lagi hingga hari kiamat nanti. Wahai Allah, janganlah Kau rintangi pertemuanku dengan ayahku di akhirat nanti."
Gadis kecil itu menengok kepada Hasan al-Bashri seraya berkata, "Betapa indah ratapanmu kepada ayahku. Betapa baik bimbingan yang telah kuterima. Engkau ingatkan aku dari lelap lalai."
Kemudian, Hasan al-Bashri dan gadis kecil itu meninggalkan makam. Mereka pulang sembari berderai tangis.

Maraji': Mutiara Hikmah dalam 1001 Kisah (Al-Islam)
Share:

Kenapa Kita Mudah Kecewa?

"Kenapa kita mudah kecewa kepada orang lain?" Mungkin pertanyaan di atas sesuai dengan keadaan diri kita. Atau boleh j...