Belajar, Berbagi, Melayani

  • KEAGUNGAN AL QURAN

    Al-Quran adalah cahaya yang menerangi kebutaan, penawar hati yang menyembuhkan penyakit dan kehampaannya, suguhan lezat bagi jiwa, taman indah sanubari, penuntun nurani menuju negeri yang damai.

  • BUAH TARBIYAH

    Kita bukanlah orang yang sudah benar-benar baik apalagi terbaik, melainkan hanya orang yang keburukannya tertutupi.

  • DOSA-DOSA YANG DIREMEHKAN

    Tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari 3 hari. Siapa yang mendiamkan saudaranya lebih dari 3 hari kemudian ia mati, maka ia masuk neraka.

  • CIRI PENGHUNI SURGA

    Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh. Inilah yang dijanjikan kepadamu.

  • SEREMONI

    Sejak pagi keluarga mempelai perempuan bersiap diri menyambut tamu yang telah lama dinanti-nanti. Akhirnya datang juga. Mempelai laki-laki dikawal rombongan sekeluarga.

15 Juni 2012

Komitmen dalam Perjuangan (Khutbah KH. Rahmat Abdullah)


(Khutbah Jum’at oleh KH. Rahmat Abdullah)


(Khutbatul Hajah)... Amma Ba’du:


Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah...
Sebelum seorang manusia bekerja dan beramal, sebelum seorang muslim melakukan amal-amal yang banyak dalam kehidupannya; pertama-tama yang harus dimiliki adalah al-fahmu. Sebuah pemahaman yang benar tentang ad-diin, tentang agama ini. Sesudah itu, dia harus punya komitmen untuk melaksanakannya. Dia pun merawat amal itu dengan kesabaran dan memilih yang terbaik dari segala kemungkinan yang terbuka di depannya.

Ketika Allah membebaskan seseorang, dari semisal kewajiban berperang, mempertahankan dan memperjuangkan Islam – seperti Rasulullah melaksanakannya, 27 kali pertempuran beliau pimpin langsung, 35 kali dipimpin oleh para sahabat, 62 kali perang besar, dengan belasan perang-perang kecil, semua bukan dilandasi nafsu tapi semata-mata pelaksanaan perintah Allah SWT. Bahkan untuk nafsu, (perang) itu adalah hal yang tidak menyenangkan. Ada beberapa kelompok yang dibebaskan (tidak wajib) bertempur, yaitu perempuan, ibu-ibu, kakek-kakek, jompo-jompo, dan bayi-bayi. Barulah nanti menjadi fardhu ‘ain kalau musuh masuk kota, sudah masuk di celah-celah rumah; istri tidak perlu izin suami untuk bertempur, pembantu, budak, tidak perlu izin tuannya untuk bertempur, semua sudah menjadi fardhu ‘ain yang tidak bisa dihindari.

Nah, di antara orang-orang yang tidak boleh dituduh desertir, melarikan diri dari kewajiban, dan tidaklah mereka disebut berdosa lantaran tidak berperang, adalah orang-orang sakit, orang-orang lemah, dan orang-orang yang tidak punya biaya, tidak punya senjata, tidak punya kendaraan untuk berperang, karena (yang seperti) ini bukan membantu tapi malah merepotkan dalam pertempuran. Allah SWT menyebutkan dalam Surat At-Taubah ayat 91-92:

Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: "Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu." lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.

Tidak ada dosa, tidak ada halangan, tidak boleh mereka dituduh malas, tidak boleh mereka disebut desertir melarikan diri dari kewajiban membela Islam. Siapa mereka? Pertama, dhu’afa. Para ahli tafsir di antaranya Imam al-Qurthubi, Imam Ibnu Katsir, Syaikh Jamaluddin al-Qassimi, dan beberapa ahli tafsir sepakat bahwa ad-dhu’afa itu adalah an-nisaa, wal ajaaiz, wa syuyukh, wa sibyan. Perempuan-perempuan, kakek-kakek, nenek-nenek dan anak-anak; yang tidak mungkin bekerja berat, apalagi berperang, yang logikanya hanya dua: membunuh atau dibunuh.

Karena memang Quraisy, sesudah ditinggalkan Muslimin yang hijrah ke Madinah, tidak puas kota Makkah ditinggalkan begitu saja oleh kaum Muslimin. Mereka mengejar dan selalu melakukan tindakan-tindakan. Dan begitulah karakter abadi kekuatan kafir terhadap kekuatan beriman dengan cara apapun; (saat ini) dengan surat kabar, dengan majalah, dengan partai, dengan kekuatan apa saja. Karenanya, kita disunnahkan shalat khauf kalau lagi perang, shalat dua raka’at Imamnya dia berdiri raka’at pertama, makmumnya tasyahud, untuk apa? Dia pergi yang lagi piket jaga gantian. Semua disebabkan Allah SWT mengatakan yang artinya: “Orang-orang kafir sangat menginginkan kamu lalai, tidak memelihara, tidak menjaga senjata-senjata kamu dan barang-barang bawaan kamu, bahan makanan.” (QS. An-Nisaa: 102)

Kita tahu dalam perang modern ini ada dua pos yang selalu diincar musuh: tentara dan perekonomian. Amerika mengembargo senjata untuk negeri semacam Indonesia, tentaranya lemah, pesawatnya kuno, tank-tanknya gampang mogok. Ekonominya dikelola orang-orang lain yang memusuhi Islam. Dan setiap muncul kekuatan baru yang akan menguasai negeri ini dengan jalan siyasah seperti demokrasi, partai dan sebagainya, mereka akan tetap mencoba menghalangi jalan kesana.

Nah, ketika golongan-golongan ini dibebaskan, pertama dhu’afa, dan yang kedua al-mardho orang-orang sakit, yang ketiga orang-orang yang tidak punya biaya, tidak punya alat-alat untuk membela dalam pertempuran; tidak boleh mereka disebut melarikan diri dari kewajiban; dan mereka tidak berdosa. Cuma, ayat ini tidak berhenti di sini. Apakah oleh karena orang sudah bebas, tidak lagi wajib bertempur kayak kakek-kakek, nenek-nenek, anak-anak, perempuan-perempuan, lalu mereka senang-senang? Seolah mereka mengatakan: kita sudah tidak wajib berperang, enak.

Di sinilah letak perbedaan mana mental munafiqin dan mana mental orang beriman. Kalau munafiqin selalu senang, orang-orang yang selalu absen dan maunya di belakang. Betul-betul senang apabila mereka tidak tercatat di buku induk pasukan, tidak dimasukkan ke dalam pasukan yang ikut membela Islam. Begitulah fakta yang terungkap dalam perang Badr, Uhud, Hunain, Khandak dan bermacam-macam perang yang lain.

Di sinilah terlihat perbedaan munafiq dan mu’min. Mereka bisa siapa saja, di mana saja; kalau mereka benar-benar beriman, sedih hatinya kalau tidak bisa ikut membela Islam. Sedih, sungguh-sungguh kesedihannya kalau dia tidak bisa membela agamanya dengan apa yang bisa dia bela. Mungkin di Indonesia ini 99 persen umat islam bisa berkata “Saya tidak bisa haji karena miskin.” 95 persennya mengatakan, “Saya tidak bisa membayar zakat lantaran saya miskin. Saya tidak bisa keluari infaq dan sedekah, untuk diri saja sudah berat.” Semua bisa diterima secara syar’an wa ‘aqlan, secara akal menurut standar syariat agama kita bisa diterima alasan itu. Dan secara logika juga masuk akal kalau mereka tidak bayar zakat dan tidak pergi haji, karena untuk makan pun sulit umpamanya.

Tapi tidak satu persen pun, tidak dua persen pun bisa diterima alasan orang mengatakan, “Saya tidak bisa berdoa, saya tidak bisa simpati, saya tidak bisa suka kepada perjuangan Islam.” Ini sudah di ambang batas. Kelewat batas orang yang mengatakan cinta saja tidak bisa, simpati saja pada perjuangan tidak bisa, berdoa saja tidak bisa, menggerakkan hati dan bibir untuk meminta kepada Allah SWT, “Ya Allah, saya tidak bisa berjuang, saya tidak mempunyai ilmu yang cukup untuk mewakili perjuangan ini, di front-front perjuangan.” Kalau di Palestina perjuangannya langsung dengan jasad dengan nyawa, kalau di tempat lain mungkin dengan pena dia menulis di surat kabar, majalah, buku-buku, ada yang di mimbar-mimbar, ada yang di gedung parlemen, ada yang menyelamatkan uang negara kalau dia menjadi menteri yang baik. Sekali lagi tidak bisa mereka mengatakan, “Saya tidak bisa berbuat apa-apa.”

Maka Allah SWT mengatakan atas 3 hal ini dalam firman yang tadi saya sampaikan, orang lemah, orang sakit, dan tidak memiliki biaya, mereka tidak berdosa bila tidak ikut dalam pertempuran, tapi syarat: “idzaa nahsohuu lillaahi wa rasuulih.” Apabila mereka memiliki nashohu: ketulusan hati, punya azzam yang kuat, punya cinta dan kesetiaan, punya tekad. Seandainya dia bisa, dia harus melakukan perjuangan itu. Barulah orang-orang lemah, orang sakit, perempuan, yang tidak wajib perang itu lepas dari kewajiban. Karena tidak semua amal digerakkan oleh badan saja, karena ada amal lisan namanya dzikir, ucapan, amar ma’ruf nahi munkar, ada amal jasad seperti haji, umrah, sa’i, thawaf, ada amal hati seperti menjaga diri dari riya, mengikhlaskan, memaafkan saudara kita, memasang niat yang kuat untuk memperjuangkan agama Allah, maka Allah mensyaratkan itu, “idzaa nahsohuu lillaahi wa rasuulih.” Himpunan yang berjalin antara tekad, ketulusan hati, kecintaan, kemauan berbuat seandainya punya modal untuk itu.

Kalau ada orang mengatakan, “Biarin aja, ini urusan dunia, nggak ada urusannya dengan urusan akhirat.” Tetapi, ketika orang-orang yang sudah bercokol di Senayan kebanyakan orang kafirnya, dibantailah rakyat, siapa yang bertanggung jawab? Rakyat itu bertanggung jawab atas masa depan dan kondisi mereka.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah...
Nah, memang tidak ada jalan untuk menghukum orang-orang yang berbuat baik di antara muhsinin itu yang punya nashohu, orang yang memiliki ketulusan hati, kekuatan azzam, kesucian niat, kecintaan, tekad yang kuat untuk berbuat. Apa tandanya? ... tidak juga berdosa, tidak boleh disebut malas atau melarikan diri dari kewajiban. Siapa? Orang-orang yang sudah datang kepadamu, nggak punya modal, nggak punya apa-apa, tapi punya kekuatan tenaga, punya niat yang baik. Mereka berharap Rasulullah bisa memberikan kuda atau unta, membekalinya dengan tombak, pedang dan panah supaya bisa ikut berjihad.

Namun, ketika mereka datang, engkau hanya bisa mengatakan kalau sudah habis semua kuda, semua unta sudah habis, tombak panah sudah terbagikan, engkau hanya bisa menjawab, “Saya tidak menemukan apa-apa lagi, saya tidak punya apa-apa lagi, kuda, unta, tombak, panah, sudah habis. Saya tidak bisa bawa kamu ikut berperang.” Terpaksa mereka pergi dengan air mata yang berlinang. Menangis karena tidak bisa bergabung dalam sebuah perang yang mungkin akan menjadikan mereka cacat, buntung tangannya, atau mati syahid di sana. Itulah tanda kesungguhan orang-orang beriman. Mereka pun berlalu dengan duka yang teramat dalam. Semua itu lantaran mereka tidak punya sedikit pun biaya untuk membeli perlengkapan perang.

Kalau sekarang, orang berlomba-lomba cari modal jutaan hingga milyaran untuk jadi polisi, jadi camat, jadi tentara, jadi menteri. Dulu, di masa sahabat, orang mencari duit sendiri untuk setor nyawa (syahid). Itulah bedanya zaman di mana hedonisme, orang berkiblat pada kesenangan dunia sehingga lupa pada niat akhirat. Oleh karena itu, Rasulullah saw bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Tirmidzi, “Dunia itu isinya cuma 4 kelompok saja.”

Jumlah manusia milyaran, tapi kualitas manusia cuma empat. Yang pertama, seseorang yang Allah berikan ilmu dan harta. Fahuwa ya’malu bihi waya’lamu annalillaahi fiihi haqqan wayashilu bihii rahimah. Dia laksanakan kewajiban berharta kalau dia kaya, dia tahu Allah memiliki hak dalam harta itu, ada zakat, ada infaq, shadaqah. Dan dengan harta yang Allah berikan itu dia menyambung silaturahim.

Dulu semasa orang belum punya motor, cita-cita kalau sudah ke Jakarta mau silaturahim kepada kerabat minimal sebulan sekali. Ternyata setelah punya motor, setahun sekali pun tidak. Alasannya, “Nanti, setelah punya mobil.” Sudah punya mobil, silaturahim tidak jalan juga, telpon pun tidak diangkat. Orang lebih suka kumpul dengan kolega dagang, dengan teman-teman bisnis. Kalau memberi orang tua seratus ribu, terasa berat, tapi untuk traktir teman ratusan ribu tidak berat. Inilah di masa orang memuja kesenangan.

Golongan yang kedua, orang yang diberi ilmu tidak dapat harta. Miskin, tapi punya ilmu. Apa dia bilang dalam hatinya, “Kalau saja Allah memberi saya harta dan kekayaan seperti yang diberikan kepada si fulan yang shalih dan baik itu di mana dengan ilmunya dia beramal, sungguh saya juga akan beramal, saya iri, saya ingin seperti dia.” Yang satu beramal karena kaya dan berilmu, yang satu berilmu saja tidak punya harta. Dua-duanya ini sama dalam satu derajat kebaikan.

Di masa lalu ada orang shalih bernama Ali Al-Fath. Ketika orang menggiring kambing-kambing qurban, Ali Al-Fath yang memang miskin tapi berilmu, akhlaqnya bagus, dia bilang, “Ya Allah, sekarang saya mau mendekatkan diriku dengan-Mu. Tapi dengan apa? Kambing tak punya. Aku hanya bisa mendekat dengan-Mu dengan duka-duka dan kesedihanku.” Para komentator kisah ini mengatakan apa artinya mendekatkan diri kepada Allah dengan kesedihan. Artinya, adalah ikut bersedih dengan kesedihan umat, ikut prihatin dengan keprihatinan umat, ikut senang kalau umat senang, ikut berduka kalau umat berduka. Itulah kita maksud dengan selalu memikirkan keadaan dan nasib umat.

Yang ketiga ialah seseorang yang Allah berikan harta tapi tidak memiliki ilmu. Siang malam kerjaannya maksiat. Tidak mau menunaikan hak-hak Allah. Dan dia tidak menyambung silaturahim. Salah satu bentuk memutuskan silaturahim adalah zina. Kelompok yang ketiga ini Rasulullah berkata adalah kelompok yang paling buruk kedudukannya. Punya harta tapi tidak memiliki ilmu, dia gunakan harta itu sebagai sarana untuk maksiat. Melakukan maksiat apa saja yang bisa memuaskan nafsu rendahnya.

Kelompok berikutnya, yang keempat, orang yang tidak diberikani ilmu juga tidak memiliki harta. Sudah miskin, bodoh. Dia bilang, “Kalau Allah memberikan saya kekayaan seperti orang ini (orang yang kaya tapi bodoh), saya akan berbuat kayak dia. Saya akan maksiat, saya akan berzina, saya akan mabuk.” Walaupun dia tidak melakukan, kedudukannya sama dengan orang yang melakukan maksiat (yang menikmati maksiat karena dia kaya), sementara yang keempat ini miskin tapi bodoh.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah...
Imam Bukhari dalam Shahih Bukhari, Kitab paling shahih setelah Al-Qur’an, memberikan judul bab dalam hadits beliau yang shahih, bab al-‘ilmu qablal qauli wal ‘amal, bab ilmu dulu sebelum banyak bicara dan beramal. Dalilnya fa’lam annahu laa ilaaha illallah (QS. 47: 19) “Ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan selain Allah” kemudian “fastaghfiruhu” barulah amal, barulah kata, beristighfarlah atas dosa dan kesalahanmu.

Modal awal kita adalah ilmu. Karena tidak berilmu, walau belum berbuat dosa, orang yang bercita-cita maksiat tadi sudah memiliki derajat yang sama dengan para pemaksiat itu. Orang yang kelompok kedua, walaupun belum beramal karena dia miskin, namun dia berilmu, dia bisa men-set niatnya sehingga mendapat kedudukan yang sangat terhormat dan mulia.

Yang kedua ada kemauan. Seperti beberapa sahabat Nabi yang tidak ikut berperang, tapi dengan air mata berlinangan, betul-betul sungguh kesedihannya. Itu namanya punya komitmen, punya ketulusan hati, punya kecintaan. Karena itu, selalulah pasang niat untuk berbuat baik.

Orang mengatakan kalau soal pergi haji bukan soal punya duit. Mungkin ini benar. Betapa banyak orang yang uangnya milyaran tapi tidak pergi-pergi haji juga. Bahkan penduduk Saudi sendiri tidak semuanya sudah berhaji. Tidak semuanya karena uang, tapi yang terpenting adalah niat dan juga azzam. Seperti itulah yang kerap dilakukan nenek-nenek dan kakek-kakek kita supaya bisa berangkat haji. Setiap hari mereka menabung. Berapa pun, yang penting menabung supaya bisa berangkat haji. Subhanallah! Kenapa hal itu jarang dilakukan generasi sekarang? Ini semua karena orang pada zaman ini, yang makan pendidikan modern, tapi kalah dalam soal niat, kalah dalam soal komitmen. Mengapa? Karena kesenangan hari ini adalah kiblat orang modern, hedonisme.

Baarakallahu lii walakum fil Qur’aanil ‘Azhiim.... []

Suplemen Majalah Saksi Edisi 15/Thn VI/2004:
Khutbah Jum’at Ust. Rahmat Abdullah (Allahuyarham) di Masjid Baitus Salam, PLN Cabang Jaksel, April 2004
Share:

11 Juni 2012

Belajar Konsisten

Menjadi pribadi yang konsisten memang tidak mudah. Dalam bahasa agama, kita mengenal istilah “istiqomah” yang maknanya sering didekatkan dengan konsistensi. Dalam Surat Huud ayat 112, ada perintah Allah kepada Nabi Muhammad SAW agar beliau selalu istiqomah, “Fastaqim...”. Bahkan turunnya ayat itu menjadikan rambut beliau beruban. Ini menunjukkan demikian beratnya perintah untuk tetap istiqomah, konsisten di jalan yang benar.
Konsisten, mungkinkah gambarannya seperti seorang yang berjalan di atas jalan lurus dan dia memandang jauh ke depan? Dia hanya melihat ke satu titik yang menjadi tujuannya dan tak mau menengok kiri-kanan betapapun di sekitar jalan itu banyak tempat yang menarik untuk disinggahi. Banyak orang yang singgah di tempat-tempat itu. Sebagiannya dia kenal dengan baik. Bahkan mereka mengajaknya untuk singgah. Segala bujuk rayu, kadang disertai paksaan, tak henti-hentinya menghadang. Tapi dia tetap memandang jauh ke depan, melihat tujuannya dengan jelas. Orang lain mungkin tak melihat tempat yang dia tuju atau mereka melihatnya sebagai titik kecil yang lebih baik diabaikan saja. Dia melihatnya begitu terang, jelas sekali. Dan demikianlah dia tetap konsisten, tak menoleh kiri-kanan, tak peduli berapa orang yang mempedulikan dirinya. Dia tetap persisten, maju terus sehingga sampai kepada tujuannya yang sejati. Dia pun tetap resisten, bisa mencegah dan menolak bujuk rayu serta paksaan untuk singgah di tempat peristirahatan pinggir jalan.
Ya, konsistensi itu memang indah tapi juga tidak mudah. Perjuangan untuk konsisten seringkali terasa pahit namun buahnya terasa manis. Pada sebagian orang yang sudah terbiasa ‘menderita’ dalam perjuangannya, mereka bahkan bisa merasakan manisnya kepahitan dalam perjuangan. Kenapa? Karena visi yang jauh ke depan menembus batas-batas duniawi terasa begitu manis di hati mereka. Sehingga, derita perjuangan yang mereka alami tak berarti apa-apa dibandingkan indahnya tujuan mereka. Sebagai perumpamaan, mungkin begitulah yang dialami perempuan-perempuan Mesir yang mengiris-iris tangan mereka sendiri tanpa merasa sakit sebab mereka terbuai keindahan wajah Nabi Yusuf yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Sungguh, penampakan Yusuf membuat mereka tak merasakan sakit, bahkan sempat memuji-muji Allah dan mengatakan, “Ini bukan manusia, melainkan malaikat yang mulia!”.
“Perempuan-perempuan itu,” tulis KH. Rahmat Abdullah (dalam artikel yang berjudul “Energi Cinta”), “...bukan contoh yang baik untuk cinta, kecuali untuk mengambil ‘ibrah (pelajaran), bila seraut wajah yang tak kebal luka dapat membuat mereka tak merasakan sakit mengiris-iris jari, bagaimana leburnya semua rasa sakit dan pengorbanan para pecinta, ketika kekuatan bashirah (mata hati) mereka diperlihatkan kesenangan abadi di surga.” []
Share:

15 Mei 2012

Wirid al-Ma'tsurat Hasan Al-Banna Bid'ah?


Pertanyaan:
Dalam sebuah Blog oleh kelompok Islam tertentu dikatakan bahwa dzikir Al-Ma'surat itu bid'ah, karena banyak dalil yang dhaif bahkan palsu seperti doa Rabithah. Benarkah Al-Ma'surat oleh Hasan Al-Bana itu amalan ahlul Bid'ah. Dan bagaimanakah hukum berdzikir/berdo'a tanpa dalil?"

Jawaban:
Apakah setiap kali ada yang menuduh sesat dan bid'ah, lantas kita harus latah ikut-ikutan menuduh sesat, tentu tidak. Harus ada analisa dan kajian yang mendalam, serta hujjah yang tidak hanya satu sisi, ketika kita ingin mengatakan bahwa sebuah fenomena itu sebagai bid'ah.

Dalam hal ini saya tidak berposisi sebagai 'pembela' wirid Al-Ma'tsurat-nya Hasan Al-Banna. Seandainya memang di dalamnya ada hadits yang tidak shahih, tentu kita harus jujur mengatakannya. Dan tentu salah besar kalau kita bilang bahwa wirid Al-Ma'tsurat itu disusun oleh Rasulullah SAW, sehingga kalau tidak dibaca pagi dan petang, seolah-olah kita tidak melaksanakan sunnah beliau SAW.

Kalau kita bedah lebih dalam, sebenarnya di dalam wirid itu ada banyak lafadz Al-Quran dan doa serta dzikir. Lafadz Al-Quran sendiri pasti shahih, bahkan sampai kepada kita lewat jalur mutawatir. Lafadz doa-doanya, meski sebagian ada yang diklaim lemah riwayatnya, tetapi tidak bisa dinafikan bahwa banyak juga yang riwayatnya shahih.

Kalau doa rabithah yang terletak di bagian akhir, tidak ada seorang pun yang bilang bahwa lafadz doa itu berasal dari Rasulullah SAW. Doa itu 100% gubahan Hasan Al-Banna sendiri. Kalau ada yang bilang doa itu dari Rasulullah SAW, tentu orang tersebut kurang paham kedudukannya. Jadi bukan tempatnya kalau kita bilang doa rabithah itu adalah hadits palsu. Sebab dari awal pengarangnya memang tidak mengatakan bahwa lafadz doa itu sebagai doa Rasulullah SAW.

Ada pun doa dan lafadz dzikir yang riwayatnya dianggap lemah, bisa kita bicarakan dari sisi ilmu hadits dan ilmu fiqihnya.

Ilmu Hadits
Dari segi ilmu hadits, kelemahan riwayat suatu hadits memang sering dilontarkan oleh para kritikus hadits. Dan biasanya, para ahli hadits memang saling berbeda pendapat dalam masalah kuat atau lemahnya suatu riwayat. Mirip dengan para ahli fiqih yang sering berbeda pendapat, para ahli hadits pun demikian juga.

Suatu riwayat mungkin dibilang shahih oleh Imam Al-Bukhari, tetapi belum tentu dishahihkan juga oleh Imam Muslim. Sebaliknya, tidak semua hadits shahih di dalam kitab Muslim, otomatis pasti dishahihkan oleh Al-Bukhari.

Jadi secara ilmu hadits, ketika ada pihak yang mendhaifkan suatu hadits, kita jangan lantas putus asa dulu, bahwa seolah-olah hadits itu pasti dhaif. Barangkali analisa kedhaifan itu lebih merupakan opini sebagai ulama hadits, sementara barangkali banyak ulama hadits lainnnya yang mengatakan bahwa hadits itu tidak dhaif.

Untuk itu kita perlu melakukan studi lebih mendalam tentang komentar para ulama hadits secara lebih banyak lagi. Tipsnya, jangan hanya membaca satu buku rujukan saja, tetapi gunakan sekian banyak kitab rujukan, agar wawasan kita tidak sempit dan tidak terkesan kurang ilmu.

Ilmu Fiqih
Dari segi ilmu fiqih, ada perdebatan juga tentang hukum berdoa dan dzikir bila tidak menggunakan riwayat dari Rasulullah SAW. Apakah hukumnya boleh atau tidak boleh, atau makruh.

Mereka yang mengharamkan berdoa dengan lafadz yang bukan dari riwayat Rasulullah SAW berhujjah bahwa doa itu bagian dari ibadah ritual, seperti hukum shalat. Jadi berdoa disejajarkan dengan melakukan shalat, dimana lafadz-lafadz yang dibaca harus sesuai dengan aturan yang telah Rasulullah SAW tentukan.

Sehingga dalam pandangan mereka, kalau wirid Al-Ma'tsurat itu mengandung hadits yang lemah, jadinya bid'ah. Karena beribadah dengan menggunakan lafadz-lafad yang dianggap tidak qath'i bersumber dari Rasulullah SAW.

Di pihak lain, sebagian lain ulama mengatakan bahwa tidak semua doa sejajar kedudukannya dengan ritual shalat. Contoh sederhana, ketika kita minta kepada Allah SWT agar lulus ujian dengan nilai maksimal, rasanya tidak ada satu pun hadits yang mengajarkan hal itu. Lantas, apakah kita tidak boleh minta kepada Allah SWT dalam arti berdoa agar lulus ujian?

Ketika kita minta kepada Allah SWT agar diberikan istri yang shalihah, cantik, tinggi, langsing, putih, terang, pintar, dan seterusnya, tentu kita tidak akan menemukan contoh lafadz doa seperti itu di dalam hadits-hadits yang shahih. Lalu apaka kita tidak boleh berdoa meminta kepada Allah SWT agar mendapat istri yang seperti itu?

Ketika kita meminta kepada Allah SWT agar hubungan baik dengan sesama saudara seiman dan seagama dikuatkan, lalu kita tidak menemukan lafadz yang tepat dan pas dari hadits nabawi, apakah kita tidak boleh berdoa kepada Allah SWT tentang hal itu?

Kesimpulannya, di tengah para ulama ada perbedaan pendapat tentang hukum berdoa bukan dengan lafadz yang bersumber dari Rasulullah SAW. Ada yang menjadikannya sebagai syarat dan ada yang bilang kita bebas minta apa saja kepada Allah SWT sesuai dengan keinginan kita, tanpa harus meniru doa Rasulullah SAW.

Kalau melihat prakteknya, saya yakin Anda bukan termasuk yang mengharuskan berdoa selalu dengan sepeti apa yang dicontohkan Rasulllah SAW. Sebab betapa banyak kita berdoa kepada Allah SWT dengan harapan agar dikabulkan, sementara yang kita minta itu tidak ada contoh lafadznya dari Al-Quran dan As-Sunnah. Tetapi kita tetap meminta juga kepada Allah SWT, Kita tetap berdoa kepada-Nya, walau dengan lafadz yang kita gubah sendiri.

Sebab Allah SWT memang memerintahkan kita untuk meminta kepada-Nya, tanpa memberi batasan bahwa yang kita minta itu harus yang ada contoh lafadz doanya dari Rasulullah SAW.

Maka kalau di dalam wirid Al-Ma'tsurat itu ada hadits yang dhaif atau malah lafadz yang sama sekali bukan hadits, sebenarnya tidak ada yang perlu diributkan. Sebab ada pendapat yang kuat bahwa berdoa itu tidak harus dengan lafadz yang dicontohkan oleh Rasulllah SAW. Silahkan meminta kepada Allah SWT dengan lafadz yang kita karang sendiri, asalkan tidak bertentangan dengan ketentuan syar'i.


Disunting dari:
Ahmad Sarwat, Lc
http://trimudilah.blogspot.com/2010/03/wirid-al-matsurat-hasan-al-banna-bidah.html
Share:

Kematian Hati Puncak Krisis Multidimensi

Khutbah Jum'at Oleh: Ust. Hamim Thohari

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلهِ الَذِي وَعَدَ سَائِلِيهِ بِالْإِجَابَةِ، وَحَذَّرَ الْمُعْرِضِينَ عَنْ ذِكْرِهِ بِضَنْكِ الْمَعِيشَةِ
والصّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ اَلْهَادِي إلَى سَبِيلِ النَّجَاةِ وَالسَّعَادَةِ
وَآلِهِ وَأَصْحَابِهِ خَيْرِ الْبَرِيَّةِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِهِ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
أَمَّا بَعْدُ: فَإِنِّي مُوصِيكُمْ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ
وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
وَ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Sidang Jum’at Rahimakullaah, setelah Khatib mengingatkan akan pentingnya taqwa kepada Allah sebagai jalan keluar dan kunci kemuliaan, Khatib ingin mengajak jamaah sekalian untuk merenungkan sejenak tentang krisis yang mendera kehidupan umat manusia dewasa ini dalam berbagai aspek: ekonomi, politik, sosial, moral dan bermacam-macam krisis lainnya.

Banyak pakar mencoba mengurai dan menawarkan solusi. Ekonom berkata, “selesaikan dulu masalah ekonomi, yang lain akan mengikuti.” Politikus membantah, “Ekonomi itu mudah, yang penting politik dulu ditata.”  Moralis menyergah, “Moral dulu dibenahi baru yang lain.” Demikianlah, para pakar dan pengamat dadakan saling beradu kepintaran, sementara krisis demi krisis belum mampu dihentikan.

Lalu bagaimana sikap kita sebagai umat Islam, ayyuhal Ikhwah? Tentu, segala persoalan yang kita hadapi tidak boleh tidak, mestilah kita carikan petunjuk dan cara penyelesaiannya dari panduan hidup kita, way of life kita, yakni Kitabullaah  dan Sunnah Rasulullah saw. Dengan jelas Al-Qur’an mendiaknosa bahwa kesulitan dan keruwetan hidup di dunia ini berpangkal dari sikap manusia yang enggan mengikuti petunjuknya.

ومن أعرض عن ذكري فإن له معيشة ضنكا
“Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit lagi sulit.” (Thaha:  124)

Jamaah Jum’at Rahimakumullah,
Apabila manusia sudah tidak sudi mengindahkan peringatan Allah, enggan menjadikan petunjuk al-Qur’an sebagai panduan hidupnya, maka krisis kemanusian paling berbahaya akan menimpa mereka, yaitu kematian hati. Sehingga tidak jarang kita saksikan, seperti kata orang bijak:

كَمْ مِنْ مُشَاةٍ تَحْسَبُهُمْ أَحْيَاءَ، وَجَلَادَةُ أَجْسَادِهِمْ لِقُلُوبِهِمْ مَقَابِرُ
Betapa banyak orang gagah berjalan, Kau pikir mereka itu masih hidup,
Rupanya, kegagahan tubuhnya,hanyalah kuburan bagi hatinya yang mati

Sungguh kematian hati adalah puncak krisis kemanusian yang sebenarnya. Sedangkan penyebab kematian hati adalah berpaling dari peringatan dan ajaran Allah. Oleh karena itu, secara menggelitik, Allah memperingatkan kaum beriman agar menghindari penyebab krisis ini. Allah berfirman:

ألم يأن للذين آمنوا أن تخشع قلوبهم لذكر الله وما نزل من الحق ولا يكونوا كالذين أوتوا الكتاب من قبل فطال عليهم الأمد فقست قلوبهم وكثير منهم فاسقون  
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. (al-hadid: 16)

Jika hati telah mengeras dan membatu, artinya hati manusia telah mati. Saat itulah manusia akan menjelma sebagai makhluq mengerikan yang disebut sebagia orang-orang fasiq. Ciri-ciri mereka; rakus terhadap dunia, menghalalkan segala cara, tidak peduli kesengsaraan orang lain yang penting dirinya untung dan masa bodoh dengan halal-haram, tidak berfikir dosa-pahala, entar dulu masalah surga-neraka yang penting happy.

أَيُّهَا الْإخْوَةُ، هَذَا مَا أقُولُ ماَ سَمِعْتُمْ، وَأسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ
وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ::



Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ العَالَمِينَ، والصَّلَاةُ والسَّلاَمُ عَلى مُحَمَّدٍ وَبَعْدُ:

Jama’ah Juma’at Rahimakumullaah,
Kehidupan orang fasik, orang yang telah mati hatinya itu serba paradoks (saling bertolak belakang). Seperti kata Ibrahim bin Adham, ada 10 fenomena sikap bertolak belakang dari kehidupan orang yang  telah mati hatinya:

مَعْرِفَةُ اللهِ دُونَ تَأْدِيَةِ حَقِّهِ 
(1) Mengenal Allah, tanpa menunaikan hak-Nya

قِرَاءَةُ القرآنِ دُونَ الْعَمَلُ بِهِ  
(2) Membaca al-Qur’an tanpa diamalkan

الْاِدِّعَاءُ بِحُبِّ الرَّسُولِ وتَرْكُ سُنَّتِهِ   
(3) Mengaku mencintai Nabi, tapi meninggalkan sunnahnya

الْاِدِّعَاءُ بِعَدَاوَةِ الشيطان وَالطَّاعَةُ لَهُ  
(4) Mengaku bermusuhan dengan setan, tapi masih menuruti ajakannya

الْاِدِّعَاءُ بِدُخُولِ الْجَنَّةِ وَعَدَمُ الْعَمَلِ لَهَا  
(5) Mengaku bakal masuk surga, tapi tanpa usaha untuk meraihnya

الْاِدِّعَاءُ بِالنَّجَاةِ مِنَ النَّارِ وَرَمْيُ أَنْفُسِهِمْ فِيهَا  
(6) Yakin selamat dari neraka, malah nyemplung ke dalamnya

اَلْقَائِلُ بِأنَ الْمَوْتَ حَقٌّ وَعَدَمُ الْاِسْتِعْدَادِ لَهُ  
(7) Yakin dengan datangnya kematian, tapi lupa membuat persiapan

الْاِشْتِغَالُ بِعُيُوبِ النَّاسِ وَتَرْكُ عُيُوبِ أَنْفُسِهِمْ  
(8) Sibuk membicarakan aib orang lain, melupakan aibnya sendiri

دَفْنُ الْأَمْواتِ مَعَ عَدَمِ الْاِعْتِبَارِ بِهِ  
(9) Sering mengubur mayit, tidak pernah mengambil perlajarannya

أَكْلُ نِعْمَةِ اللهِ وَعَدَمُ شُكْرِهِ عَلَيْهَا  
(10) Nikmat Allah dimakan, tapi tak pernah disyukuri

Sepuluh sikap paradoksal inilah sesungguhnya yang menjadi sumber krisis kemanusian. Sebab kata, Ibrahim bin Adham, sepuluh perkara ini menyebabkan doa tidak akan dikabulkan. Lalu apa artinya jika Allah sudah tidak lagi mendengar doa hamba-Nya? Itu berarti Allah membiarkan hamba-Nya menyelesaikan persolanannya sendiri tanpa pertolongan dan rahmat-Nya. Jika sudah begitu, sejuta solusi yang ditawarkan oleh pakar paling hebat sekali pun tidak akan mampu menyelesaikan masalah manusia yang terus mendera. Na’udzu billaahi min dzaalik.

Jamaah Jumat Rahimakumullaah,
Maka satu saja kata kuncinya: “Krisis apa pun yang mendera manusia, solusinya hanya satu: Hidupkan hati dengan mengikuti petunjuk-Nya.” Sebagaimana firman-Nya: وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ “Barang siapa bertaqwa kepada Allah, akan diberikan kepadanya jalan keluar dan diberi-Nya rizqi dari arah yang tidak diduga-duga.” (at-Thalaq: 2)

نَسْأَلُ اللَّهَ الْعَافِيَةَ فِى الدِّينِ وَالدُّنْيَا والْآخِرَةِ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وصَحْبِهِ والتَّابِعِينَ أجْمَعِينَ
والْحَمْدُ للَّهِ رَبِّ الْعَالمِينَ اللهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ بِأسَماءِكَ الْحُسْنَى أنْ تَرْحَمَنَا وَتَرْحَمَ جَمِيعَ أُمَّةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ
واصْرِفْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفِتَنَ والْمِحَنَ، وَانْصُرْنَا عَلى الْأَعْدَاءِ بِرَحْمَتِكَ يَا أرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وصَلِّ اللَّهُمَّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَالْحمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمينَ
أَقِمِ الصَّلَاةَ
Share:

30 April 2012

Mengharap Pamrih Terbaik



Keikhlasan itu bukan berarti menyembunyikan kebaikan, tapi selalu membicarakan kebaikan diri adalah cara yang mudah untuk membatalkan keikhlasan.

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. (QS. Yunus [10]: 26)

Amal yang terbaik dan dekat dengan keikhlasan adalah amal yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang lain. Biar saja Allah yang tahu dan membalas amal yang sedang atau sudah diperbuat.
Namun jika kita selalu menyembunyikan kebaikan-kebaikan, padahal di sisi lain sedang merebak keburukan di masyarakat kita, maka hal ini bukanlah efek keikhlasan, melainkan kelemahan.
Orang yang beramal baik di keramaian tapi tidak melakukannya saat sendirian adalah seorang yang berlaku riya (ingin dilihat beramal). Namun orang yang beramal baik di dalam kesendirian tapi tidak bisa melakukannya dengan baik saat di keramaian adalah orang jujur yang lemah.
Ikhlas itu bukanlah tidak mengharapkan pamrih sama sekali, melainkan mengharapkan pamrih terbaik dari Sang Pemberi yang terbaik.
Orang yang merasa dirinya telah ikhlas berbuat lalu menceritakannya kepada orang banyak, maka dia telah membatalkan keikhlasannya itu menjadi debu-debu yang beterbangan. Namun jika dia membicarakan kebaikan amalnya kepada Allah dalam meminta sesuatu kepada-Nya, maka hal ini termasuk tawassul yang diperbolehkan. []
Share:

26 Maret 2012

Membangun Ambisi

Mari kita belajar dari jari telunjuk kita. Acungkanlah jari telunjuk Anda. Kapan biasanya Anda acungkan jari telunjuk seperti itu? Tentu bisa kapan saja. Tapi pasti ada saat-saat tertentu. Kalau seorang guru bertanya pada murid-muridnya, lalu ada beberapa anak mengacungkan jari telunjuknya, itu artinya mereka merasa bisa menjawab dan mereka ingin menunjukkan pada guru dan teman-temannya bahwa mereka bisa. Mereka ingin menunjukkan kemampuannya meskipun jawaban mereka belum tentu benar. Ini yang kita pahami sebagai ambisi, hasrat untuk maju, keinginan berprestasi, atau sering kita istilahkan dengan cita-cita.
Dari kata ambisi, kita mengenal juga istilah ambisius. “Si Fulan orang yang ambisius.” Kalimat itu biasanya memiliki kesan negatif. Ambisius diartikan terlalu berambisi. Tapi mari kita coba ambil makna positif dari kata ambisi. Karena yang terpenting adalah yang menjadi tujuan akhir ambisi itu. Sehingga positif atau negatifnya akan ditentukan dengan tujuan akhir itu. Seseorang yang berambisi kepada harta berbeda dengan seseorang yang berambisi kepada kebaikan yang ingin dia lakukan dengan harta yang didapatnya. Maka ambisi mencari harta bisa jadi positif atau negatif tergantung pada niatnya. Begitu pula dengan ambisi mencari ilmu dan hal lainnya, positif atau negatifnya ditentukan oleh tujuan akhirnya. Jadi sekali lagi, kita coba mengambil makna positif dari kata “ambisi”.
Tapi ternyata ambisi itu bukan sekedar keinginan. Memang telah saya katakan bahwa keinginan adalah kata kunci kesungguhan dalam berusaha. Tapi ambisi adalah bukti bahwa seseorang benar-benar jujur dengan keinginannya. Seseorang bisa saja sangat menginginkan sesuatu. Namun ambisi itulah yang akan menunjukkan apakah dia benar-benar menginginkan ataukah hanya mengangankan sesuatu itu.
Ibnul Qayyim Al-Jauziyah mengemukakan kriteria cita-cita atau harapan seseorang dengan sangat tepat. Harapan, kata beliau, akan benar-benar disebut sebagai harapan apabila ada tiga keadaan yang menyertainya. Jika salah satunya hilang, maka harapan itu hanya bisa disebut sebagai angan-angan.
Pertama, harus ada kecintaan seseorang terhadap apa yang dia cita-citakan. Tentunya kecintaan ini merupakan kekuatan besar yang membuatnya benar-benar fokus terhadap objek cita-cita itu. Seperti seseorang yang mencintai kekasihnya, maka dia akan selalu memikirkan tentang diri kekasihnya itu, selalu berhubungan dengannya, serta memelihara hubungan itu supaya jangan sampai terputus. Bahkan sebagian orang memiliki sarana-sarana khusus untuk dapat mengingat orang yang dicintainya. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa cita-cita itu harus “memenuhi” segenap relung hati seseorang.
Kalau ada yang bertanya, “Maukah Anda masuk surga?”, pasti kita menjawab, “Ya, saya mau!”. Namun kemauan yang jujur atas keinginan kita untuk masuk surga akan terbukti dengan kondisi batin yang bisa kita rasakan sendiri. Bisakah kita mencintai surga padahal kita belum pernah melihatnya? Kalau begitu, sudahkah kita cari tahu tentangnya lebih jelas lagi dengan sumber-sumber terpercaya? Dan saat mendapat keterangan yang jelas tentang surga, apakah kita semakin merindukannya? Adakah getaran di hati dan lintasan di benak pikiran kita tentang surga? Misalnya ketika kita bekerja, melakukan aktivitas yang dibilang orang aktivitas duniawi, kita berpikir sejenak tentang kaitan pekerjaan kita dengan surga yang kita cita-citakan. Kita berpikir bahwa pekerjaan itu adalah di antara sekian banyak “kendaraan” yang membawa kita menuju surga. Atau saat kita sedang shalat, berdzikir, berdoa, membaca Al-Qur’an, kita pun fokus pada aktivitas itu. Apalagi ketika kita membaca ayat-ayat bertema surga dalam aktivitas itu. Kita seharusnya merasakan “sensasi” surga dalam pikiran dan hati kita ketika menunaikan ritual-ritual itu, bukan hanya dalam lisan atau gerakan fisik semata. Ya, itu bukti bahwa keinginan kita bukan sekedar angan-angan.
Cita-cita akan dunia juga menuntut syarat kriteria ini, bahwa pemilik cita-cita tersebut harus mencintai dunia yang dia inginkan. Kalau ada orang mengatakan bahwa dia ingin kaya, sedangkan dia tidak mendefinisikan dengan jelas kekayaan seperti apa dan sebanyak apa yang dia inginkan, maka kekayaan itu hanya angan-angan. Jika ada seorang pelajar atau mahasiswa menginginkan prestasi dalam studinya tapi dia tak pernah membayangkan prestasi seperti apa yang akan diraihnya, bahkan tak tahu apa kegunaan prestasi itu untuknya, maka dia berangan-angan. Tapi yang lebih menyedihkan lagi adalah orang-orang yang tak punya keinginan untuk berprestasi dalam hal yang dia bisa. Mungkin mereka adalah orang-orang yang sudah merasa cukup dalam hidupnya. Mereka jalani hidup ini mengalir saja, tak ada tujuan-tujuan “hebat” dalam benaknya. Bagi mereka, yang terpenting kebutuhan mereka tercukupi secara reguler, ada jaminan tetap mendapatkan “jatah”. Atau yang penting hidup ini normal dan nyaman, mereka tak mengganggu orang lain dan tak terganggu oleh orang lain. Mungkin itu gambaran orang-orang individualis. Semoga saya dan Anda bukan termasuk yang demikian.
Kriteria kedua tidak terpisahkan dengan yang pertama. Jika yang pertama adalah rasa cinta terhadap apa yang kita cita-citakan sehingga gambaran tentang cita-cita itu selalu hadir di dalam benak dan hati kita, maka yang kedua ini lebih merupakan rasa cemas kalau-kalau cita-cita itu tidak terwujud. Ada ketakutan yang besar apabila cita-cita kita tidak kesampaian.
Seseorang yang jatuh cinta pada pujaan hatinya merasa khawatir kalau-kalau cintanya akan ditolak. Atau dia khawatir ada orang lain yang mencintainya dan orang itu yang diterima sebagai kekasihnya. Sementara dia sendiri terjatuh dalam lembah frustasi dan patah hati. Seseorang yang menginginkan kekayaan akan cemas kalau-kalau dia tidak berhasil meraih keuntungan dari usahanya. Sesungguhnya dia cemas pada keadaan yang merupakan lawan kata “kekayaan” yakni “kemiskinan”. Begitu juga bagi para perindu surga. Mereka cemas kalau-kalau mereka tak bisa masuk surga sebab itu artinya mereka harus masuk ke tempat lain yang bukan surga. Seseorang yang beribadah kepada Tuhannya karena kecintaan kepada-Nya juga akan khawatir kalau-kalau ibadahnya itu tidak diterima, sehingga mereka tidak mendapat cinta-Nya melainkan kemurkaan-Nya. Jadi demikianlah kriteria kedua untuk sebuah cita-cita, yakni khawatir kalau-kalau cita-cita itu tidak terwujud.
Kriteria ketiga adalah konsekuensi logis dari yang pertama dan yang kedua. Seorang pemilik cita-cita harus mengerahkan segenap potensi yang dia miliki untuk mewujudkan cita-cita atau impiannya agar menjadi kenyataan (turning dream into reality). Dengan demikian, kecintaan dan harapan akan sesuatu yang dicita-citakan, serta kekhawatiran akan hilangnya sesuatu itu, akan menjadi sia-sia jika tidak diikuti dengan langkah nyata. Semua itu hanyalah angan-angan karena hanya ada “karsa” tanpa “daya”.
Mungkin ada orang yang merasa hatinya tergetar jika mendengar nama Allah disebut. Dia bisa menangis ketika mendengar gambaran tentang surga karena kerinduannya menjadi ahli surga. Dan dia pun menangis karena rasa takut akan ancaman-Nya ketika mendengar tentang siksa neraka. Tapi saat dia diseru untuk menunaikan hak-Nya atau untuk melakukan berbagai kebaikan yang dianjurkan, dia tidak bersegera menjalankannya. Maka kita katakan bahwa dia belum ber-mujahadah atau bersungguh-sungguh dalam mewujudkan cita-citanya. Ada saja tantangan dan cobaan untuk menempuh usaha menuju cita-cita yang mulia. Maka cukuplah ini sebagai renungan bagi kita semua, bahwa sangat mungkin kita termasuk orang yang pandai dalam berangan-angan.
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS. Ali ‘Imran: 142) []
Share:

01 Desember 2011

Keutamaan Berinteraksi dengan Al-Quran


Begitu banyak keutamaan berinteraksi dengan Al-Qur'anul Karim, atau menjadi sahabat Al-Qur'an di dunia ini, dalam bentuk aktivitas membaca, menghafal, merenungi isinya, mengamalkan hingga menda'wahkannya. Berikut ini beberapa hadits yang memotivasi kita untuk senantiasa menjadikan Al-Qur'an sebagai sesuatu yang selalu mengisi hidup dan kehidupan kita.

Bertemankan Malaikat

مَثَلُ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرآنَ وَهُو حَافِظٌ لَهُ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَمَثَلُ الَّذِى يَقْرَأُ وَهُوَ يَتَعَاهَدُهُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَدِيدٌ فَلَهُ أَجْرَانِ
“Perumpamaan orang yang membaca Al-Qur’an dan ia menghafalnya, maka ia bersama para malaikat yang mulia lagi berbakti. Dan perumpamaan orang yang membaca Al-Qur’an dengan tekun sedangkan ia mengalami kesulitan atasnya, maka ia mendapatkan dua pahala.”  (Shahih Bukhari 4556; hadits lainnya: Sunan Abu Dawud 1242; Sunan At-Tirmidzi 2829; Sunan Ad-Darimi 3234; Musnad Ahmad 23080, 23493, 23644, 24197, 24413)


Pertolongan di Akhirat

اقْرَأُواْ الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ
“Bacalah Al-Qur’an, karena kelak ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai pemberi syafa’at (pertolongan) kepada ashab-nya (orang-orang yang selalu berinteraksi dengan Al-Qur’an).” (Shahih Muslim 1337; hadits lainnya: Sunan Darimi 3177; Musnad Ahmad 21126, 21136, 21169, 21186)

Perumpamaan yang Adil

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الأُتْرُجَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ لاَ رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ
وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ
“Perumpamaan seorang mu’min yang suka membaca Al-Qur’an seperti buah utrujjah (sejenis jeruk), aromanya sedap dan rasanya pun sedap. Namun seorang mu’min yang tidak membaca Al-Qur’an bagaikan buah tamrah (kurma), tidak punya aroma tetapi rasanya manis. Perumpamaan seorang munafiq yang membaca Al-Qur’an ibarat buah raihanah, aromanya sedap namun rasanya pahit. Dan seorang munafiq yang tidak membaca Al-Qur’an bagaikan buah hanzhalah, tidak punya aroma dan rasanya pun pahit.” (Shahih Bukhari 5007, 7005; hadits lainnya: Shahih Muslim 1328; Sunan Abu Daud 4191; Sunan Tirmidzi 2791; Sunan Nasa’i 4952; dan yang lainnya)


Ciri-ciri Orang yang Terbaik

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik orang di antara kamu adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya kepada orang lain.” (Shahih Bukhari 4639, 4640; Sunan Abu Daud 1440; Sunan Tirmidzi 2832, 2834; dan yang lainnya)


Kekayaan yang Patut Dicemburui

لاَ حَسَدَ إلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ : رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْقُرْآنَ فهُوَ يَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللَّيلِ وَ آنَاءَ النَّهَارِ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَهُوَ يُنفِقُهُ آنَاءَ اللَّيلِ وَ آنَاءَ النَّهَارِ
“Tiada patut beriri hati kecuali terhadap dua perkara: (terhadap) orang yang diberi (kemahiran) Al-Qur’an oleh Allah lalu dia beribadah dengan membacanya di waktu-waktu malam dan waktu-waktu siang, dan orang yang diberi (anugrah) harta lalu dibelanjakannya (di jalan Allah) di waktu-waktu malam dan waktu-waktu siang.” (Shahih Bukhari 6975; hadits lainnya: Shahih Muslim 1350-1352; Sunan Tirmidzi 1859; dan lainnya)

Jauhnya Pengaruh Syaithan

لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَفِرُّ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِى تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ
Dari Abu Hurairah RA: Bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian bagai kuburan, karena sesungguhnya syaithan akan lari dari rumah yang di dalamnya dibaca Surat Al-Baqarah.” (Shahih Muslim 1300; hadits lainnya: Sunan Tirmidzi 2802; Musnad Ahmad 7487, 8089, 8560, 8681)


Pelipatgandaan Pahala yang Tak Terhitung

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ تَعَالى فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لاَ أقُولُ آلم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفْ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ
“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah Ta’ala (Al-Qur’an), maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan tersebut dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan sepertinya. Aku tidak mengatakan alif-laam-miim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan miim satu huruf.” (Sunan Tirmidzi 2835)


Kemuliaan Bagi Orang Tua

مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَعَمِلَ بِمَا فِيهِ أَلْبَسَهُ اللهُ وَالِدَيْهِ تَاجًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ََضَوْؤُهُ أَحْسَنُ مِنْ ضَوْءِ الشَّمْسِ في بُيُوتِ الدُّنْيَا فَمَا ظَنُّكُمْ بِالَّذِي عمِلَ بِهَذَا ؟
“Barangsiapa yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkan ajarannya, maka Allah akan memakaikan mahkota kepada kedua orang tuanya pada Hari Kiamat nanti, yang mana sinarnya lebih baik dari sinar matahari di rumah-rumah dunia. Maka apa perkiraanmu terhadap orang yang mengamalkan ini?” (Sunan Abu Dawud 1241)


Rasa Aman dan Bahagia

اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ وَلاَ يَغُرَّنَّكُمْ هَذِهِ الْمَصَاحِفُ الْمُعَلَّقَةُ فَإِنَّ اللَّهَ تَعالَى لاَ يُعَذِّبُ قَلْبًا وَعَى الْقُرْآنَ
“Bacalah Al-Qur’an, dan lembaran-lembaran yang tergantung ini tidak akan menipu kalian, karena sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan menyiksa hati yang menampung Al-Qur’an.” (Sunan Darimi 3186)
إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ مَأْدُبَةُ اللهِ فَمَنْ دَخَلَ فِيهِ فَهُوَ آمِنٌ
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah hidangan Allah, barang siapa yang memasukinya maka ia akan aman.” (Sunan Darimi 3188)


Kemuliaan Dunia-Akhirat

إِنَّ اللَّه يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا ويَضَعُ بِهِ الآخَرِينَ
“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat banyak kaum dengan Kitab ini, dan dengannya pula Allah merendahkan kaum yang lain.” (Shahih Muslim 1335; Sunan Ibnu Majah 214; Musnad Ahmad 226; Sunan Darimi 3231)
يُقَالُ لِصاحِبِ الْقُرْآنِ: اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلْ في الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُهَا
“Akan diperintahkan kepada pembaca al-Qur’an: ‘Bacalah dan naiklah dan bacalah dengan tartil seperti dulu kamu membacanya di dunia karena kedudukanmu ditentukan oleh ayat terakhir yang dapat kamu baca.” (Sunan Tirmidzi 2838; Sunan Abu Daud 1252; Musnad Ahmad 6508)


Sakinah, Rahmah, Naungan Malaikat dan Kebanggaan Allah

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
“Tidaklah sekelompok orang berkumpul di satu rumah (masjid) dari rumah-rumah Allah untuk membaca Kitabullah (Al-Qur’an) dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, kasih sayang akan menyelimuti mereka, para malaikat akan mengelilingi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk yang berada di sisi-Nya.” (Shahih Muslim 4867; hadits lainnya: Sunan Abu Daud 4295; Sunan Tirmidzi 1345, 1853; Sunan Ibnu Majah 221; Musnad Ahmad 7118, 10091, 10260)


Sentuhan Keindahan

لَيْسَ مِنَّا َمَن لَّمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ  وَزَادَ غَيْرُهُ يَجْهَرُ بِهِ
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak melagukan Al-Qur’an” (sementara dalam riwayat lainnya menambahkan) dan mengeraskannya.” (Shahih Bukhari 6973; hadits lainnya: Sunan Abu Daud 1257, 1258; Musnad Ahmad 1396, 1430, 1467; Sunan Darimi 1452, 3352)


Bukti Penolong atau Penyengsara

وَ الْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ
“Dan Al-Qur’an itu adalah hujjah bagimu (bukti yang akan menolongmu) atau hujjah atasmu (bukti yang akan memberatkan bagimu).” (Shahih Muslim 328; Sunan Tirmidzi 3439; Sunan Nasa’i 2394; Sunan Ibnu Majah 276; Musnad Ahmad 21828, 21834; Sunan Darimi 651)
Share:

Kenapa Kita Mudah Kecewa?

"Kenapa kita mudah kecewa kepada orang lain?" Mungkin pertanyaan di atas sesuai dengan keadaan diri kita. Atau boleh j...