Belajar, Berbagi, Melayani

  • KEAGUNGAN AL QURAN

    Al-Quran adalah cahaya yang menerangi kebutaan, penawar hati yang menyembuhkan penyakit dan kehampaannya, suguhan lezat bagi jiwa, taman indah sanubari, penuntun nurani menuju negeri yang damai.

  • BUAH TARBIYAH

    Kita bukanlah orang yang sudah benar-benar baik apalagi terbaik, melainkan hanya orang yang keburukannya tertutupi.

  • DOSA-DOSA YANG DIREMEHKAN

    Tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari 3 hari. Siapa yang mendiamkan saudaranya lebih dari 3 hari kemudian ia mati, maka ia masuk neraka.

  • CIRI PENGHUNI SURGA

    Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh. Inilah yang dijanjikan kepadamu.

  • SEREMONI

    Sejak pagi keluarga mempelai perempuan bersiap diri menyambut tamu yang telah lama dinanti-nanti. Akhirnya datang juga. Mempelai laki-laki dikawal rombongan sekeluarga.

07 September 2012

Mengelola Aset 5T Menuju Sukses Dunia-Akhirat


Tak banyak orang menyadari (sadar lebih tinggi dari sekedar mengetahui) bahwa untuk sukses di dunia sekaligus di akhirat diperlukan modal/aset yang cukup. Kita hidup di dunia ini antara lain memiliki misi mengumpulkan serta mengembangkan aset tersebut dalam rangka meraih kebaikan yang besar di sisi Allah SWT.
Surga itu mahal harganya. Untuk bisa menebusnya, seorang insan harus bersungguh-sungguh mengarahkan segala aktivitas hidupnya dalam rangka menghambakan diri kepada Allah, semua ia niatkan hanya untuk keridhaan-Nya. Maka untuk meraih surga yang mahal itu diperlukanlah usaha dan pengorbanan yang mahal, yang mana hal itu seringkali bertentangan dengan hawa nafsu insani.
Berapakah harga surga itu? Jelas tak ternilai dan tak bisa dibanding dengan dunia dan isinya. Maukah nyawa Anda ditukar dengan emas batangan yang bernilai milyaran bahkan trilyunan? Terserah Anda mau mengukurnya dengan rupiah, dolar, dinar atau yang lainnya. Tentu Anda mengatakan bahwa nyawa Anda lebih mahal dari itu semua. Maka bisakah surga (kebahagiaan sejati) diperoleh dengan tiket seharga 5T? Lima Trilyun itu walaupun sedikit, jarang yang memilikinya. Jika tiket masuk surga seharga 5T (trilyun), maka hanya segelintir orang saja yang bisa membelinya. Tapi 5T di sini bukan lima trilyun, melainkan 5 pola interaksi yang utuh seorang muslim terhadap Al-Qur’anul Karim, lebih besar dari sekedar lima trilyun.
Apa sajakah 5T itu?
  1. TILAWAH              membacanya
  2. TAHFIZH               menghafalnya
  3. TADABBUR           merenungi dan menghayatinya
  4. TATHBIQ               mengaplikasikan (mengamalkannya)
  5. TABLIGH               menyampaikan (menyebarluaskan, mengajarkannya)
Jika seseorang berhasil mengumpulkan kelima aset tersebut, maka ia disebut sebagai pribadi yang Qur’ani. Jika sekelompok orang atau masyarakat berhasil mengumpulkan modal tersebut secara berjamaah, maka mereka disebut sebagai generasi Qur’ani atau masyarakat Qur’ani. Inilah bentuk masyarakat yang kita cita-citakan yang dengannya Allah SWT membukakan barakah dari segala penjuru.
Mewujudkan generasi Qur’ani adalah kunci sukses di dunia dan kunci kemenangan akhirat. Suatu masyarakat (di perkotaan maupun perkampungan) yang membangun generasinya sebagai generasi Qur’ani adalah masyarakat yang diliputi kesejahteraan, keberkahan dan kebahagiaan dalam hidupnya. Namun semua itu hanyalah pengantar menuju kemenangan yang sesungguhnya di sisi Allah SWT.
Mari kita kaji satu persatu Aset 5T itu secara singkat, semoga ini memotivasi kita meraih satu demi satu 5T untuk hidup dan kehidupan yang lebih baik.

T-1 : TILAWAH
Tilawah atau membaca Al-Qur’an adalah konsekuensi pertama setelah seseorang memenuhi rukun iman yang ketiga (iman kepada Kitab-kitab Allah), sedangkan Al-Qur’an adalah Kitab Allah yang terakhir dan satu-satunya yang masih terpelihara keasliannya hingga akhir zaman.

“Orang-orang yang telah Kami berikan Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Baqarah: 121)
Membaca bahkan merupakan perintah yang pertama kali diwahyukan (Iqra’!). Meskipun iqra’ juga berlaku untuk aktivitas membaca secara luas, tapi pemilihan nama Al-Qur’an yang berarti bacaan menunjukkan penting dan utamanya aktivitas membaca Al-Qur’an tersebut.
Rasulullah SAW sendiri telah menegaskan tentang pentingnya membaca Al-Qur’an sebagai sebab keselamatan seseorang di akhirat kelak.
اِقْرَأُوا الْقُرآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ
"Bacalah Al-Qur'an, karena sesungguhnya ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai penolong kepada ashhab-nya (orang yang selalu membacanya)." (HR. Muslim)
Orang yang banyak membaca Al-Qur’an adalah dia yang banyak mendapatkan kebaikan (pahala).
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا.
لاَ أَقُولُ آلم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Barang siapa membaca satu huruf dari Kitab Allah Ta’ala, maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan digandakan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif-laam-miim itu satu huruf, tapi alif satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf.” (HR. Tirmidziy)
Selain itu, ada juga keutamaan yang didapat oleh orang-orang yang bermajelis dalam majelis Al-Qur’an yang tidak bisa didapatkannya pada majelis-majelis yang lain.
مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
“Tidaklah sekelompok orang berkumpul di suatu rumah (masjid) dari rumah-rumah Allah untuk membaca Kitabullah (Al-Qur’an) dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketenangan akan turun kepada mereka, kasih sayang akan menyelimuti mereka, para malaikat akan mengelilingi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan makhluk yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim dan Abu Dawud).


“Sesungguhnya orang-orang yang senantiasa membaca Kitabullah, mendirikan shalat, menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, secara diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Faathir: 29-30).


T-2 : TAHFIZH
Ketika seseorang menghafal Al-Qur’an atau sebagian dari ayat-ayat yang telah dibacanya, maka dia akan mendapatkan kebaikan lebih banyak lagi. Sebab, untuk menghafalkan Al-Qur’an diperlukan pengulangan baik dalam membaca maupun mendengar. Artinya, dia mendapatkan pahala yang besar karena semakin banyak membaca dan mendengarkan Al-Qur’an.
Dewasa ini boleh dikatakan tidak mudah untuk membudayakan tradisi Hifzhul Qur’an di masyarakat. Terlebih tantangan budaya entertainment semakin merebak sementara tradisi membaca Al-Qur’an saja semakin ditinggalkan. Untuk kalangan pesantren maupun aktivis Islam, program Hifzhul Qur’an tentunya sudah tidak asing lagi. Bahkan sebagian mereka sudah sampai pada tahap menghafal keseluruhan Al-Qur’an sekaligus memahaminya.
Untuk masyarakat umum, program Hifzhul Qur’an perlu dimulai dengan sesuatu yang dalam benak kebanyakan orang dipandang sebagai hal yang “mungkin”. Maksudnya, mengapa tidak kita gulirkan semacam Program Menghafal Juz 'Amma bagi masyarakat kebanyakan. Kami beranggapan, memulai hafalan Al-Qur’an dari Juz ‘Amma adalah pilihan yang tepat bagi masyarakat luas. Sebab, selain suratnya pendek-pendek dan sering dibaca dalam shalat berjamaah, kandungan maknanya pun sesuai untuk untuk menjadi renungan yang membangkitkan kesadaran imani menjelang akhir zaman. Dan jika program tahfizh dan tadabbur Juz ‘Amma ini sukses di masyarakat luas, maka akan sangat mudah melanjutkannya dengan surat-surat dan juz yang lain.


T-3 : TADABBUR
Membaca Al-Qur’an tidaklah sama dengan membaca bacaan lainnya, bahkan dengan membaca Hadits Nabawi atau Hadits Qudsi sekalipun. Sebab, Al-Qur’an benar-benar kalam Allah Ta’ala sehingga untuk membacanya bukan hanya diperlukan keseriusan dan pemahaman, namun juga kekhusyu’an seperti khusyu’-nya seseorang yang sedang shalat, dzikir atau berdoa.
Ada satu kondisi yang cukup ironis sekaligus memprihatinkan. Seorang pemuda mengatakan bahwa ia bisa sampai “lupa diri” saat memainkan lagu dengan alat musiknya. Dengan nada curhat, ia mengeluh karena tidak bisa merasakan getaran serupa saat shalat ataupun membaca Al-Qur’an.
Ada sebagian saudara kita yang sangat tersentuh dan menangis ketika mendengarkan lagu-lagu dan musik syahdu, apalagi jika mereka sedang bersedih, patah hati atau mengalami cobaan yang berat. Mereka mungkin menganggap bahwa itu adalah pengalaman spiritual yang berharga. Namun mereka tidak memahami bahwa hal itu tidak bernilai ibadah, bahkan boleh jadi sia-sia. Kenapa? Karena pengalaman itu tidak didapatnya dengan sarana ibadah yang benar.
Allah SWT menegaskan dengan suatu pertanyaan yang mengisyaratkan adanya hubungan antara tadabbur Al-Qur’an dengan kualitas hati para pembacanya:
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24)
Untuk dapat melakukan tadabbur terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, seseorang perlu menghadirkan hatinya saat membaca Al-Qur’an. Ia harus terlebih dulu membuka gembok-gembok yang mengunci hatinya itu dengan kunci yang terdapat di dalam Al-Qur’an itu sendiri.
Karenanya, jika seseorang telah membaca Al-Qur’an namun belum bisa menikmatinya, belum bisa menghadirkan hati dalam membacanya, maka yang perlu dilakukan adalah terus membacanya dengan kualitas yang semakin ditingkatkan. Ada beberapa kiat agar bacaan Al-Qur’an itu meresap di dalam hati sehingga bisa menjadi pencerahan spiritual yang dahsyat.
Memahami keagungan Al-Qur'an
Dengan menyadari keagungan Al-Qur’an, bahwa ia adalah kalam Ilahi, maka seseorang akan menjaga kesucian zhahir batin saat berinteraksi dengannya. Ia akan sungguh-sungguh memenuhi adab tilawah, menghadirkan hati dan pikirannya fokus kepada Allah. Sebab, membaca Al-Qur’an adalah berkomunikasi dengan Allah. Maka, siapakah yang tidak menginginkan kemuliaan ini?
Berusaha memahami makna bacaan
Hendaknya seorang pembaca Al-Qur’an berusaha memahami apa yang dibacanya. Bagi kita yang belum menguasai bahasa Arab, maka setidaknya bacalah terjemah Al-Qur’an dengan tekun. Kita perdalam pemahaman tersebut, dan akan lebih baik jika kita membaca tafsirnya juga. Kelak ketika kita membaca kembali ayat-ayat itu, kita akan membacanya dengan bacaan yang lebih berkesan.
Pengkhususan
Hendaknya pembaca Al-Qur’an menganggap bahwa ayat yang sedang dibacanya diturunkan secara khusus untuk dirinya. Utamanya, ini yang berkaitan dengan ayat-ayat ‘adzab, ayat-ayat yang berisi ancaman, atau ayat-ayat yang menceritakan tentang orang-orang yang dimurkai. Maka yang dimaksud dengan takhshish adalah seorang pembaca Al-Qur’an merasa bahwa ayat-ayat itu langsung tertuju kepada dirinya. Umpamanya, ayat yang dibacanya tentang gambaran yang terjadi di neraka, maka si pembaca merasakan betul kengerian dan kedahsyatan di dalamnya. Hal ini bukanlah sebagai pikiran negatif, melainkan untuk memupuk rasa khauf kepada Allah.
Melepaskan diri dari egoisme
Adapun ketika membaca ayat tentang surga, tentang karakter orang-orang mu’min yang dijanjikan kemenangan, janganlah kita merasa sudah memenuhi kriteria itu. Lepaskanlah keangkuhan diri, bacalah Al-Qur’an hingga meresap di dalam hati, seraya terus berdoa dan yakin kepada-Nya.
Tentang takhshish dan tabarriy, kita akan teringat sebuah syair yang merupakan ungkapan hati seorang ‘alim: “Wahai Tuhanku, tidaklah aku layak menjadi ahli surga. Tapi aku juga tidak akan sanggup jika harus ke neraka.”(Imam Syafi’i pernah berkata semacam itu menjelang wafatnya). Sebagian orang tidak menyukai munajat itu karena dianggap permohonan yang plin-plan. Menurut mereka, seharusnya berdoa saja memohon surga dan berlindung dari ‘adzab neraka. Alasan itu bisa diterima, dan memang kita harus berdoa penuh keyakinan. Namun kita perlu memahami bahwa munajat itu adalah buah tadabbur serta keseimbangan antara rasa khauf dan raja’.
Membacanya secara tartil (murattal)
Membaca Al-Qur’an disunnahkan secara tartil, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat, tapi dengan irama yang mengalir lembut sehingga ayat-ayat itu mengalir masuk ke dalam hati. Bahkan jika perlu, kita melatih diri mengiramakan Al-Qur’an dengan baik hingga irama itu mempengaruhi suasana emosi/perasaan kita saat membaca Al-Qur’an. Namun perlu diingat, hendaknya kita tidak mengiramakan Al-Qur’an secara berlebihan dan terlalu memaksakan diri dengan irama yang menyulitkan, seperti yang dilakukan sebagian orang sehingga membuat orang lain terpesona dengan suaranya yang merdu, bukan terhadap kandungan makna Al-Qur’an itu sendiri. Semoga Allah senantiasa membimbing kita menuju keridhaan-Nya.

T4 : TATHBIQ
Seorang pembaca Al-Qur’an dituntut untuk berperilaku sebagaimana yang Allah kehendaki dalam Al-Qur’an. Keseharian dalam hidupnya adalah pencerminan dari ayat-ayat yang dibacanya.
Memang benar bahwa ash-habul Qur’an (orang-orang yang berinteraksi dengan Al-Qur’an, selalu membacanya) akan mendapat pertolongan di hari kiamat dengan Al-Qur’an itu. Namun jika seseorang membaca Al-Qur’an sementara apa yang ia perbuat tidak sesuai dengan apa yang dibacanya atau ia tidak bersungguh-sungguh berusaha mengamalkan apa yang dibacanya, maka dikhawatirkan ia telah memperolok-olok firman Allah SWT – dengan kata lain ia telah berolok-olok kepada Allah – wana’uudzubillahi min dzalik. Rasulullah SAW telah mengingatkan:
وَ الْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ
“Dan Al-Qur’an itu adalah hujjah bagimu (bukti yang akan menolongmu) atau hujjah atasmu (bukti yang akan memberatkanmu).” (HR. Ibnu Majah, An-Nasa’i, Ahmad)
Ketika seseorang membaca Iyyaaka na’budu wa-iyyaaka nasta’iin, tapi setelah itu masih juga mengagungkan sesembahan selain Allah, meminta tolong kepada dukun, jin atau berdoa kepada ahli kubur, maka ayat dalam surat Al-Fatihah yang selalu dibacanya itu adalah ayat yang akan menjadi bukti pemberat baginya di akhirat kelak.
Jika seseorang membaca surat Al-Hujurat bahkan menghafalnya, tapi setelah itu lidahnya selalu berkata tidak baik dan berprasangka buruk kepada saudaranya, membicarakan kekurangan orang lain di belakang mereka, suka mencela dan mencari-cari aib orang lain, mengadu domba, tidak mendukung usaha ke arah ishlah (perbaikan), juga tidak bersikap sopan dalam membicarakan Rasulullah, dan sebagainya, maka surat Al-Hujurat yang dibacanya itu justru akan memberatkannya di akhirat.
Dan terlalu banyak contoh lainnya untuk disebutkan di sini. Intinya, hendaklah kita meneladani para sahabat dan salafush shalih dalam interaksi mereka terhadap Al-Qur’an. Para sahabat, seperti dituturkan Ibnu Mas’ud RA, ketika menerima pelajaran dari Rasulullah SAW sepuluh ayat Al-Qur’an, maka mereka tidak beralih kepada ayat-ayat yang lainnya hingga sepuluh ayat itu diamalkan.

T5 : TABLIGH
“Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat.” Demikian arahan Rasulullah SAW. Ini adalah keutamaan yang besar bagi seorang pembaca Al-Qur’an. Seseorang yang menyampaikan Al-Qur’an kepada orang lain berarti ia berda’wah, mengajak manusia untuk kembali ke jalan Allah. Dengan demikian, ia melakukan pekerjaan para nabi dan rasul (menjadi pewarisnya).
Adapun da’wah yang diemban para nabi dan rasul, menurut Said Hawwa meliputi tiga aktivitas utama, yakni tadzkir, tazkiyah dan ta’lim. Tadzkir adalah memberi peringatan kepada manusia bahwa mereka kelak akan mempertanggungjawabkan kehidupannya kepada Allah pada Hari Kiamat untuk kemudian menerima balasan sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah.
Kemudian Tazkiyah, menyucikan jiwa. Seorang da’i perlu memiliki kemampuan memotivasi umat untuk membersihkan jiwa dari penyakit-penyakit hati yang jauh lebih berbahaya daripada penyakit fisik. Membaca Al-Qur’an dengan penuh tadabbur serta usaha untuk mengamalkannya adalah bagian dari usaha tazkiyah yang bisa dilakukan secara mandiri.
Berikutnya Ta’lim adalah aktivitas mengajarkan, yakni mengajarkan manusia tentang jalan yang semestinya mereka tempuh, apa yang harus dilakukan dan apa yang harus ditinggalkan, mengajarkan kepada manusia tentang bagaimana beribadah kepada Allah, bagaimana berinteraksi antarmanusia dan bagaimana memperbaiki kehidupan. Mengajarkan Al-Qur’an dapat mencakup semua hal itu.

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik orang di antara kamu adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya kepada orang lain.” (HR. Bukhori)
Dan, seseorang yang menyampaikan Al-Qur’an kepada umat manusia adalah dia yang oleh Allah An-Naafi’ dijadikan bermanfaat dengan Al-Qur’an yang telah diajarkan Allah kepadanya.

اللَّهُمَّ انْفَعْنَا وَارْفَعْنَا بِالْقُرْآنِ الْعَظِيمِ
“Ya Allah, jadikanlah kami bermanfaat dan tinggikanlah derajat kami dengan Al-Qur’anul ‘Azhim.”
*****
Itulah Aset 5T yang patut diusahakan setiap insan muslim dalam kehidupannya. Boleh jadi ada orang yang telah mengumpulkan modal tersebut seluruhnya, ada yang baru 4T, 3T atau ada yang 1T saja belum. Yang terpenting adalah niat dan tekad untuk selalu berusaha, karena Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala bagi orang-orang yang berbuat kebaikan, sekalipun usaha itu belum berhasil. Wallaahul Musta'aan, Wallaahu A'lam. []
Share:

19 Juli 2012

Ramadhan Cahaya Hati

Di antara ketiga elemen pembentuk jatidiri manusia, unsur jiwa paling sering diabaikan. Unsur jasadiyah (badan) dan fikriyah (intelektual) telah menempati prioritas yang tinggi pada tangga keberhajatan insan. Orang lapar segera menyadari kelaparannya manakala tubuh lemas dan gemetar. Saat kepala terasa sakit, badan demam, flu menyerang, dan sebagainya, yang segera terpikir adalah istirahat, obat atau dokter. Betapa sabar para pasien menunggu antrean untuk berobat. Betapa besar harta dan tenaga dikeluarkan untuk mengobati penyakit yang mulai menggawat. Biaya obat, rawat inap, administrasi kesehatan, dan sebagainya begitu mudah dibayarkan demi kesembuhan yang segera. Muncullah ungkapan “Sehat itu mahal”.
Masa depan juga mahal. Begitu mahalnya, setiap orang tua tak ragu mengeluarkan ongkos pendidikan berjuta bahkan berpuluh juta untuk membekali anak-anaknya dengan pendidikan formal. Semua itu demi masa depan mereka kelak. Di era belakangan, beberapa gelintir peserta didik rela merogoh koceknya untuk membeli bocoran soal ujian nasional. Dan ketidakjujuran itu pun menjadi sesuatu yang tak tabu untuk dilakukan secara “berjamaah”.
Di zaman saat mana teknologi informasi dan peranan media berkembang pesat, semua orang berlomba-lomba mengakses perkembangan terbaru fasilitas dunia yang digandrunginya. Tidak mengikuti berita sehari saja akan terlihat seperti orang desa yang tersesat di tengah kota besar. Orang-orang yang tidak menggunakan fasilitas-fasilitas terkini akan dianggap sebagai orang kuno, gagap teknologi, atau kurang pergaulan. Saling kritik hingga saling menjatuhkan mulai menjadi gaya hidup sebagian masyarakat bukan hanya gaya berpolitik.
Namun di tengah keramaian itu, ada satu sisi pada diri manusia yang menjerit kesepian. Itulah ruh, jiwa spiritualnya. Itulah hati yang sering diacuhkannya. Apalah artinya tubuh yang bugar, makanan lezat yang terhidang, kekayaan materi yang berlimpah, keluarga yang dibanggakan, jika semua itu tidak dijiwai dengan hati yang sehat. Yakni hati yang selamat, hati yang selalu cenderung untuk kembali kepada Tuhannya.
“Pada hari ketika harta dan anak-anak tiada lagi berguna, kecuali bagi orang-orang yang datang kepada Allah dengan qalbun salim.” (Asy-Syu’ara: 88-89)
Dari tiga klasifikasi hati yang dikemukakan Ibnul Qayyim Al-Jauziyah – meliputi hati yang sehat (qalbun salim), hati yang mati (qalbun mayyit), hati yang sakit (qalbun maridh) – nyatalah banyak di antara manusia yang tergolong sakit hati dan sebagian lainnya telah mati. Sementara sedikit saja yang memiliki hati yang sehat.
Hati yang sehat selalu bersegera menyambut dan menjawab panggilan Allah, melalui corong speaker di masjid atau mushalla, melalui undangan majelis ilmu, atau melalui tangan-tangan faqir yang meminta, atau melalui sorot mata mereka yang faqir namun tak mau meminta-minta karena menjaga kehormatan dirinya, atau melalui jeritan dan rintihan tak terdengar dari kaum tertindas. Hati yang sehat tampak pada wajah yang berseri-seri dan senyum yang teduh. Itulah senyum cinta yang tulus pada saudara seiman dan sesama manusia, bukan senyum politis, senyum basa-basi atau senyum kepura-puraan.
Hati yang mati sebaliknya. Ia tak akan mau menyambut apalagi menjawab panggilan Allah Ta’ala untuk kebahagian dunia dan akhirat. Ia telah diseru untuk menuju kehidupan tapi ia malah lebih menyukai kematian. Tak ada nama Allah di dalamnya. Dan ia tak kenal apa itu pahala dan dosa, ketaatan dan maksiat, serta tak peduli akan yang halal dan yang haram.
Sedangkan hati yang berpenyakit, kadang-kadang ia seperti hati yang sehat – kalau sedang sadar – dan kadang-kadang ia seperti hati yang mati – kalau sedang lalai atau lupa. Maka periksalah hati kita masing-masing. Sehatkah, mati, atau berpenyakitkah ia? Kita hanya bisa menjawabnya dengan kejujuran kita pada diri sendiri, bukan kepada orang lain.
Hati yang sakit penaka tubuh penuh luka dan telah menjadi borok. Rupanya tak elok dipandang, baunya tak sedap, dan semua orang tak ingin mendekat. Bagaimanakah buruk rupa hati para koruptor yang korupsi diam-diam karena takut ketahuan atau terang-terangan karena korupsinya beramai-ramai? Entah bagaimana buruknya hati pemecah belah umat dan bangsa, provokator yang menyulut terorisme dan meledakkan bom, kemudian mengajak anak bangsa untuk berhati-hati kepada orang yang taat beragama dan mewaspadai anak-anak remaja jika mereka tidak menjadi hedonis. Demikian juga mereka yang salah jalan ingin menebar rahmat dengan kekerasan. Semoga hati itu belum mati alias masih bisa diobati.
Ramadhan datang membawa satu bentuk nikmat: kesempatan. Itulah kesempatan untuk kita memperbaiki diri, mengobati penyakit hati yang melekat pada tiap-tiap kita, sehingga sucilah hati itu dari kotoran-kotorannya. Tak perlu lagi ada kecurigaan pada sesama, rasa dengki dan iri yang tak beralasan, saling telikung dan mengkhianati. Biarlah Ramadhan kali ini datang sebagai pengobat rindu kita akan kedamaian surgawi yang ingin kita ciptakan di dunia ini, tanpa prasangka dan kebencian yang terpendam. Kita mendekatkan diri kepada Allah dengan shalat kita, puasa, dan ibadah lainnya. Maka selayaknyalah kita yang sama-sama beribadah kepada-Nya merasakan nikmatnya cinta dalam satu keimanan.
Mari sambut Ramadhan ini dengan kebersihan hati, dan kemauan untuk terus menyucikannya. Sebab, seruan ibadah Ramadhan adalah untuk meraih predikat taqwa – seperti tertera dalam Surat Al-Baqarah ayat 183. Sedangkan, “Taqwa itu ada di sini!” sabda Rasulullah SAW seraya menunjuk ke dadanya, dan itu artinya qalbu (hati). “Ingatlah bahwa di dalam jasad ada sekerat daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasadnya, dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Marhaban ya Ramadhan. Semoga bulan suci ini turut menyucikan hati kita semua. []

Prio Sudiyatmoko
Share:

15 Juni 2012

Komitmen dalam Perjuangan (Khutbah KH. Rahmat Abdullah)


(Khutbah Jum’at oleh KH. Rahmat Abdullah)


(Khutbatul Hajah)... Amma Ba’du:


Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah...
Sebelum seorang manusia bekerja dan beramal, sebelum seorang muslim melakukan amal-amal yang banyak dalam kehidupannya; pertama-tama yang harus dimiliki adalah al-fahmu. Sebuah pemahaman yang benar tentang ad-diin, tentang agama ini. Sesudah itu, dia harus punya komitmen untuk melaksanakannya. Dia pun merawat amal itu dengan kesabaran dan memilih yang terbaik dari segala kemungkinan yang terbuka di depannya.

Ketika Allah membebaskan seseorang, dari semisal kewajiban berperang, mempertahankan dan memperjuangkan Islam – seperti Rasulullah melaksanakannya, 27 kali pertempuran beliau pimpin langsung, 35 kali dipimpin oleh para sahabat, 62 kali perang besar, dengan belasan perang-perang kecil, semua bukan dilandasi nafsu tapi semata-mata pelaksanaan perintah Allah SWT. Bahkan untuk nafsu, (perang) itu adalah hal yang tidak menyenangkan. Ada beberapa kelompok yang dibebaskan (tidak wajib) bertempur, yaitu perempuan, ibu-ibu, kakek-kakek, jompo-jompo, dan bayi-bayi. Barulah nanti menjadi fardhu ‘ain kalau musuh masuk kota, sudah masuk di celah-celah rumah; istri tidak perlu izin suami untuk bertempur, pembantu, budak, tidak perlu izin tuannya untuk bertempur, semua sudah menjadi fardhu ‘ain yang tidak bisa dihindari.

Nah, di antara orang-orang yang tidak boleh dituduh desertir, melarikan diri dari kewajiban, dan tidaklah mereka disebut berdosa lantaran tidak berperang, adalah orang-orang sakit, orang-orang lemah, dan orang-orang yang tidak punya biaya, tidak punya senjata, tidak punya kendaraan untuk berperang, karena (yang seperti) ini bukan membantu tapi malah merepotkan dalam pertempuran. Allah SWT menyebutkan dalam Surat At-Taubah ayat 91-92:

Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: "Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu." lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.

Tidak ada dosa, tidak ada halangan, tidak boleh mereka dituduh malas, tidak boleh mereka disebut desertir melarikan diri dari kewajiban membela Islam. Siapa mereka? Pertama, dhu’afa. Para ahli tafsir di antaranya Imam al-Qurthubi, Imam Ibnu Katsir, Syaikh Jamaluddin al-Qassimi, dan beberapa ahli tafsir sepakat bahwa ad-dhu’afa itu adalah an-nisaa, wal ajaaiz, wa syuyukh, wa sibyan. Perempuan-perempuan, kakek-kakek, nenek-nenek dan anak-anak; yang tidak mungkin bekerja berat, apalagi berperang, yang logikanya hanya dua: membunuh atau dibunuh.

Karena memang Quraisy, sesudah ditinggalkan Muslimin yang hijrah ke Madinah, tidak puas kota Makkah ditinggalkan begitu saja oleh kaum Muslimin. Mereka mengejar dan selalu melakukan tindakan-tindakan. Dan begitulah karakter abadi kekuatan kafir terhadap kekuatan beriman dengan cara apapun; (saat ini) dengan surat kabar, dengan majalah, dengan partai, dengan kekuatan apa saja. Karenanya, kita disunnahkan shalat khauf kalau lagi perang, shalat dua raka’at Imamnya dia berdiri raka’at pertama, makmumnya tasyahud, untuk apa? Dia pergi yang lagi piket jaga gantian. Semua disebabkan Allah SWT mengatakan yang artinya: “Orang-orang kafir sangat menginginkan kamu lalai, tidak memelihara, tidak menjaga senjata-senjata kamu dan barang-barang bawaan kamu, bahan makanan.” (QS. An-Nisaa: 102)

Kita tahu dalam perang modern ini ada dua pos yang selalu diincar musuh: tentara dan perekonomian. Amerika mengembargo senjata untuk negeri semacam Indonesia, tentaranya lemah, pesawatnya kuno, tank-tanknya gampang mogok. Ekonominya dikelola orang-orang lain yang memusuhi Islam. Dan setiap muncul kekuatan baru yang akan menguasai negeri ini dengan jalan siyasah seperti demokrasi, partai dan sebagainya, mereka akan tetap mencoba menghalangi jalan kesana.

Nah, ketika golongan-golongan ini dibebaskan, pertama dhu’afa, dan yang kedua al-mardho orang-orang sakit, yang ketiga orang-orang yang tidak punya biaya, tidak punya alat-alat untuk membela dalam pertempuran; tidak boleh mereka disebut melarikan diri dari kewajiban; dan mereka tidak berdosa. Cuma, ayat ini tidak berhenti di sini. Apakah oleh karena orang sudah bebas, tidak lagi wajib bertempur kayak kakek-kakek, nenek-nenek, anak-anak, perempuan-perempuan, lalu mereka senang-senang? Seolah mereka mengatakan: kita sudah tidak wajib berperang, enak.

Di sinilah letak perbedaan mana mental munafiqin dan mana mental orang beriman. Kalau munafiqin selalu senang, orang-orang yang selalu absen dan maunya di belakang. Betul-betul senang apabila mereka tidak tercatat di buku induk pasukan, tidak dimasukkan ke dalam pasukan yang ikut membela Islam. Begitulah fakta yang terungkap dalam perang Badr, Uhud, Hunain, Khandak dan bermacam-macam perang yang lain.

Di sinilah terlihat perbedaan munafiq dan mu’min. Mereka bisa siapa saja, di mana saja; kalau mereka benar-benar beriman, sedih hatinya kalau tidak bisa ikut membela Islam. Sedih, sungguh-sungguh kesedihannya kalau dia tidak bisa membela agamanya dengan apa yang bisa dia bela. Mungkin di Indonesia ini 99 persen umat islam bisa berkata “Saya tidak bisa haji karena miskin.” 95 persennya mengatakan, “Saya tidak bisa membayar zakat lantaran saya miskin. Saya tidak bisa keluari infaq dan sedekah, untuk diri saja sudah berat.” Semua bisa diterima secara syar’an wa ‘aqlan, secara akal menurut standar syariat agama kita bisa diterima alasan itu. Dan secara logika juga masuk akal kalau mereka tidak bayar zakat dan tidak pergi haji, karena untuk makan pun sulit umpamanya.

Tapi tidak satu persen pun, tidak dua persen pun bisa diterima alasan orang mengatakan, “Saya tidak bisa berdoa, saya tidak bisa simpati, saya tidak bisa suka kepada perjuangan Islam.” Ini sudah di ambang batas. Kelewat batas orang yang mengatakan cinta saja tidak bisa, simpati saja pada perjuangan tidak bisa, berdoa saja tidak bisa, menggerakkan hati dan bibir untuk meminta kepada Allah SWT, “Ya Allah, saya tidak bisa berjuang, saya tidak mempunyai ilmu yang cukup untuk mewakili perjuangan ini, di front-front perjuangan.” Kalau di Palestina perjuangannya langsung dengan jasad dengan nyawa, kalau di tempat lain mungkin dengan pena dia menulis di surat kabar, majalah, buku-buku, ada yang di mimbar-mimbar, ada yang di gedung parlemen, ada yang menyelamatkan uang negara kalau dia menjadi menteri yang baik. Sekali lagi tidak bisa mereka mengatakan, “Saya tidak bisa berbuat apa-apa.”

Maka Allah SWT mengatakan atas 3 hal ini dalam firman yang tadi saya sampaikan, orang lemah, orang sakit, dan tidak memiliki biaya, mereka tidak berdosa bila tidak ikut dalam pertempuran, tapi syarat: “idzaa nahsohuu lillaahi wa rasuulih.” Apabila mereka memiliki nashohu: ketulusan hati, punya azzam yang kuat, punya cinta dan kesetiaan, punya tekad. Seandainya dia bisa, dia harus melakukan perjuangan itu. Barulah orang-orang lemah, orang sakit, perempuan, yang tidak wajib perang itu lepas dari kewajiban. Karena tidak semua amal digerakkan oleh badan saja, karena ada amal lisan namanya dzikir, ucapan, amar ma’ruf nahi munkar, ada amal jasad seperti haji, umrah, sa’i, thawaf, ada amal hati seperti menjaga diri dari riya, mengikhlaskan, memaafkan saudara kita, memasang niat yang kuat untuk memperjuangkan agama Allah, maka Allah mensyaratkan itu, “idzaa nahsohuu lillaahi wa rasuulih.” Himpunan yang berjalin antara tekad, ketulusan hati, kecintaan, kemauan berbuat seandainya punya modal untuk itu.

Kalau ada orang mengatakan, “Biarin aja, ini urusan dunia, nggak ada urusannya dengan urusan akhirat.” Tetapi, ketika orang-orang yang sudah bercokol di Senayan kebanyakan orang kafirnya, dibantailah rakyat, siapa yang bertanggung jawab? Rakyat itu bertanggung jawab atas masa depan dan kondisi mereka.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah...
Nah, memang tidak ada jalan untuk menghukum orang-orang yang berbuat baik di antara muhsinin itu yang punya nashohu, orang yang memiliki ketulusan hati, kekuatan azzam, kesucian niat, kecintaan, tekad yang kuat untuk berbuat. Apa tandanya? ... tidak juga berdosa, tidak boleh disebut malas atau melarikan diri dari kewajiban. Siapa? Orang-orang yang sudah datang kepadamu, nggak punya modal, nggak punya apa-apa, tapi punya kekuatan tenaga, punya niat yang baik. Mereka berharap Rasulullah bisa memberikan kuda atau unta, membekalinya dengan tombak, pedang dan panah supaya bisa ikut berjihad.

Namun, ketika mereka datang, engkau hanya bisa mengatakan kalau sudah habis semua kuda, semua unta sudah habis, tombak panah sudah terbagikan, engkau hanya bisa menjawab, “Saya tidak menemukan apa-apa lagi, saya tidak punya apa-apa lagi, kuda, unta, tombak, panah, sudah habis. Saya tidak bisa bawa kamu ikut berperang.” Terpaksa mereka pergi dengan air mata yang berlinang. Menangis karena tidak bisa bergabung dalam sebuah perang yang mungkin akan menjadikan mereka cacat, buntung tangannya, atau mati syahid di sana. Itulah tanda kesungguhan orang-orang beriman. Mereka pun berlalu dengan duka yang teramat dalam. Semua itu lantaran mereka tidak punya sedikit pun biaya untuk membeli perlengkapan perang.

Kalau sekarang, orang berlomba-lomba cari modal jutaan hingga milyaran untuk jadi polisi, jadi camat, jadi tentara, jadi menteri. Dulu, di masa sahabat, orang mencari duit sendiri untuk setor nyawa (syahid). Itulah bedanya zaman di mana hedonisme, orang berkiblat pada kesenangan dunia sehingga lupa pada niat akhirat. Oleh karena itu, Rasulullah saw bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Tirmidzi, “Dunia itu isinya cuma 4 kelompok saja.”

Jumlah manusia milyaran, tapi kualitas manusia cuma empat. Yang pertama, seseorang yang Allah berikan ilmu dan harta. Fahuwa ya’malu bihi waya’lamu annalillaahi fiihi haqqan wayashilu bihii rahimah. Dia laksanakan kewajiban berharta kalau dia kaya, dia tahu Allah memiliki hak dalam harta itu, ada zakat, ada infaq, shadaqah. Dan dengan harta yang Allah berikan itu dia menyambung silaturahim.

Dulu semasa orang belum punya motor, cita-cita kalau sudah ke Jakarta mau silaturahim kepada kerabat minimal sebulan sekali. Ternyata setelah punya motor, setahun sekali pun tidak. Alasannya, “Nanti, setelah punya mobil.” Sudah punya mobil, silaturahim tidak jalan juga, telpon pun tidak diangkat. Orang lebih suka kumpul dengan kolega dagang, dengan teman-teman bisnis. Kalau memberi orang tua seratus ribu, terasa berat, tapi untuk traktir teman ratusan ribu tidak berat. Inilah di masa orang memuja kesenangan.

Golongan yang kedua, orang yang diberi ilmu tidak dapat harta. Miskin, tapi punya ilmu. Apa dia bilang dalam hatinya, “Kalau saja Allah memberi saya harta dan kekayaan seperti yang diberikan kepada si fulan yang shalih dan baik itu di mana dengan ilmunya dia beramal, sungguh saya juga akan beramal, saya iri, saya ingin seperti dia.” Yang satu beramal karena kaya dan berilmu, yang satu berilmu saja tidak punya harta. Dua-duanya ini sama dalam satu derajat kebaikan.

Di masa lalu ada orang shalih bernama Ali Al-Fath. Ketika orang menggiring kambing-kambing qurban, Ali Al-Fath yang memang miskin tapi berilmu, akhlaqnya bagus, dia bilang, “Ya Allah, sekarang saya mau mendekatkan diriku dengan-Mu. Tapi dengan apa? Kambing tak punya. Aku hanya bisa mendekat dengan-Mu dengan duka-duka dan kesedihanku.” Para komentator kisah ini mengatakan apa artinya mendekatkan diri kepada Allah dengan kesedihan. Artinya, adalah ikut bersedih dengan kesedihan umat, ikut prihatin dengan keprihatinan umat, ikut senang kalau umat senang, ikut berduka kalau umat berduka. Itulah kita maksud dengan selalu memikirkan keadaan dan nasib umat.

Yang ketiga ialah seseorang yang Allah berikan harta tapi tidak memiliki ilmu. Siang malam kerjaannya maksiat. Tidak mau menunaikan hak-hak Allah. Dan dia tidak menyambung silaturahim. Salah satu bentuk memutuskan silaturahim adalah zina. Kelompok yang ketiga ini Rasulullah berkata adalah kelompok yang paling buruk kedudukannya. Punya harta tapi tidak memiliki ilmu, dia gunakan harta itu sebagai sarana untuk maksiat. Melakukan maksiat apa saja yang bisa memuaskan nafsu rendahnya.

Kelompok berikutnya, yang keempat, orang yang tidak diberikani ilmu juga tidak memiliki harta. Sudah miskin, bodoh. Dia bilang, “Kalau Allah memberikan saya kekayaan seperti orang ini (orang yang kaya tapi bodoh), saya akan berbuat kayak dia. Saya akan maksiat, saya akan berzina, saya akan mabuk.” Walaupun dia tidak melakukan, kedudukannya sama dengan orang yang melakukan maksiat (yang menikmati maksiat karena dia kaya), sementara yang keempat ini miskin tapi bodoh.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah...
Imam Bukhari dalam Shahih Bukhari, Kitab paling shahih setelah Al-Qur’an, memberikan judul bab dalam hadits beliau yang shahih, bab al-‘ilmu qablal qauli wal ‘amal, bab ilmu dulu sebelum banyak bicara dan beramal. Dalilnya fa’lam annahu laa ilaaha illallah (QS. 47: 19) “Ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan selain Allah” kemudian “fastaghfiruhu” barulah amal, barulah kata, beristighfarlah atas dosa dan kesalahanmu.

Modal awal kita adalah ilmu. Karena tidak berilmu, walau belum berbuat dosa, orang yang bercita-cita maksiat tadi sudah memiliki derajat yang sama dengan para pemaksiat itu. Orang yang kelompok kedua, walaupun belum beramal karena dia miskin, namun dia berilmu, dia bisa men-set niatnya sehingga mendapat kedudukan yang sangat terhormat dan mulia.

Yang kedua ada kemauan. Seperti beberapa sahabat Nabi yang tidak ikut berperang, tapi dengan air mata berlinangan, betul-betul sungguh kesedihannya. Itu namanya punya komitmen, punya ketulusan hati, punya kecintaan. Karena itu, selalulah pasang niat untuk berbuat baik.

Orang mengatakan kalau soal pergi haji bukan soal punya duit. Mungkin ini benar. Betapa banyak orang yang uangnya milyaran tapi tidak pergi-pergi haji juga. Bahkan penduduk Saudi sendiri tidak semuanya sudah berhaji. Tidak semuanya karena uang, tapi yang terpenting adalah niat dan juga azzam. Seperti itulah yang kerap dilakukan nenek-nenek dan kakek-kakek kita supaya bisa berangkat haji. Setiap hari mereka menabung. Berapa pun, yang penting menabung supaya bisa berangkat haji. Subhanallah! Kenapa hal itu jarang dilakukan generasi sekarang? Ini semua karena orang pada zaman ini, yang makan pendidikan modern, tapi kalah dalam soal niat, kalah dalam soal komitmen. Mengapa? Karena kesenangan hari ini adalah kiblat orang modern, hedonisme.

Baarakallahu lii walakum fil Qur’aanil ‘Azhiim.... []

Suplemen Majalah Saksi Edisi 15/Thn VI/2004:
Khutbah Jum’at Ust. Rahmat Abdullah (Allahuyarham) di Masjid Baitus Salam, PLN Cabang Jaksel, April 2004
Share:

11 Juni 2012

Belajar Konsisten

Menjadi pribadi yang konsisten memang tidak mudah. Dalam bahasa agama, kita mengenal istilah “istiqomah” yang maknanya sering didekatkan dengan konsistensi. Dalam Surat Huud ayat 112, ada perintah Allah kepada Nabi Muhammad SAW agar beliau selalu istiqomah, “Fastaqim...”. Bahkan turunnya ayat itu menjadikan rambut beliau beruban. Ini menunjukkan demikian beratnya perintah untuk tetap istiqomah, konsisten di jalan yang benar.
Konsisten, mungkinkah gambarannya seperti seorang yang berjalan di atas jalan lurus dan dia memandang jauh ke depan? Dia hanya melihat ke satu titik yang menjadi tujuannya dan tak mau menengok kiri-kanan betapapun di sekitar jalan itu banyak tempat yang menarik untuk disinggahi. Banyak orang yang singgah di tempat-tempat itu. Sebagiannya dia kenal dengan baik. Bahkan mereka mengajaknya untuk singgah. Segala bujuk rayu, kadang disertai paksaan, tak henti-hentinya menghadang. Tapi dia tetap memandang jauh ke depan, melihat tujuannya dengan jelas. Orang lain mungkin tak melihat tempat yang dia tuju atau mereka melihatnya sebagai titik kecil yang lebih baik diabaikan saja. Dia melihatnya begitu terang, jelas sekali. Dan demikianlah dia tetap konsisten, tak menoleh kiri-kanan, tak peduli berapa orang yang mempedulikan dirinya. Dia tetap persisten, maju terus sehingga sampai kepada tujuannya yang sejati. Dia pun tetap resisten, bisa mencegah dan menolak bujuk rayu serta paksaan untuk singgah di tempat peristirahatan pinggir jalan.
Ya, konsistensi itu memang indah tapi juga tidak mudah. Perjuangan untuk konsisten seringkali terasa pahit namun buahnya terasa manis. Pada sebagian orang yang sudah terbiasa ‘menderita’ dalam perjuangannya, mereka bahkan bisa merasakan manisnya kepahitan dalam perjuangan. Kenapa? Karena visi yang jauh ke depan menembus batas-batas duniawi terasa begitu manis di hati mereka. Sehingga, derita perjuangan yang mereka alami tak berarti apa-apa dibandingkan indahnya tujuan mereka. Sebagai perumpamaan, mungkin begitulah yang dialami perempuan-perempuan Mesir yang mengiris-iris tangan mereka sendiri tanpa merasa sakit sebab mereka terbuai keindahan wajah Nabi Yusuf yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Sungguh, penampakan Yusuf membuat mereka tak merasakan sakit, bahkan sempat memuji-muji Allah dan mengatakan, “Ini bukan manusia, melainkan malaikat yang mulia!”.
“Perempuan-perempuan itu,” tulis KH. Rahmat Abdullah (dalam artikel yang berjudul “Energi Cinta”), “...bukan contoh yang baik untuk cinta, kecuali untuk mengambil ‘ibrah (pelajaran), bila seraut wajah yang tak kebal luka dapat membuat mereka tak merasakan sakit mengiris-iris jari, bagaimana leburnya semua rasa sakit dan pengorbanan para pecinta, ketika kekuatan bashirah (mata hati) mereka diperlihatkan kesenangan abadi di surga.” []
Share:

15 Mei 2012

Wirid al-Ma'tsurat Hasan Al-Banna Bid'ah?


Pertanyaan:
Dalam sebuah Blog oleh kelompok Islam tertentu dikatakan bahwa dzikir Al-Ma'surat itu bid'ah, karena banyak dalil yang dhaif bahkan palsu seperti doa Rabithah. Benarkah Al-Ma'surat oleh Hasan Al-Bana itu amalan ahlul Bid'ah. Dan bagaimanakah hukum berdzikir/berdo'a tanpa dalil?"

Jawaban:
Apakah setiap kali ada yang menuduh sesat dan bid'ah, lantas kita harus latah ikut-ikutan menuduh sesat, tentu tidak. Harus ada analisa dan kajian yang mendalam, serta hujjah yang tidak hanya satu sisi, ketika kita ingin mengatakan bahwa sebuah fenomena itu sebagai bid'ah.

Dalam hal ini saya tidak berposisi sebagai 'pembela' wirid Al-Ma'tsurat-nya Hasan Al-Banna. Seandainya memang di dalamnya ada hadits yang tidak shahih, tentu kita harus jujur mengatakannya. Dan tentu salah besar kalau kita bilang bahwa wirid Al-Ma'tsurat itu disusun oleh Rasulullah SAW, sehingga kalau tidak dibaca pagi dan petang, seolah-olah kita tidak melaksanakan sunnah beliau SAW.

Kalau kita bedah lebih dalam, sebenarnya di dalam wirid itu ada banyak lafadz Al-Quran dan doa serta dzikir. Lafadz Al-Quran sendiri pasti shahih, bahkan sampai kepada kita lewat jalur mutawatir. Lafadz doa-doanya, meski sebagian ada yang diklaim lemah riwayatnya, tetapi tidak bisa dinafikan bahwa banyak juga yang riwayatnya shahih.

Kalau doa rabithah yang terletak di bagian akhir, tidak ada seorang pun yang bilang bahwa lafadz doa itu berasal dari Rasulullah SAW. Doa itu 100% gubahan Hasan Al-Banna sendiri. Kalau ada yang bilang doa itu dari Rasulullah SAW, tentu orang tersebut kurang paham kedudukannya. Jadi bukan tempatnya kalau kita bilang doa rabithah itu adalah hadits palsu. Sebab dari awal pengarangnya memang tidak mengatakan bahwa lafadz doa itu sebagai doa Rasulullah SAW.

Ada pun doa dan lafadz dzikir yang riwayatnya dianggap lemah, bisa kita bicarakan dari sisi ilmu hadits dan ilmu fiqihnya.

Ilmu Hadits
Dari segi ilmu hadits, kelemahan riwayat suatu hadits memang sering dilontarkan oleh para kritikus hadits. Dan biasanya, para ahli hadits memang saling berbeda pendapat dalam masalah kuat atau lemahnya suatu riwayat. Mirip dengan para ahli fiqih yang sering berbeda pendapat, para ahli hadits pun demikian juga.

Suatu riwayat mungkin dibilang shahih oleh Imam Al-Bukhari, tetapi belum tentu dishahihkan juga oleh Imam Muslim. Sebaliknya, tidak semua hadits shahih di dalam kitab Muslim, otomatis pasti dishahihkan oleh Al-Bukhari.

Jadi secara ilmu hadits, ketika ada pihak yang mendhaifkan suatu hadits, kita jangan lantas putus asa dulu, bahwa seolah-olah hadits itu pasti dhaif. Barangkali analisa kedhaifan itu lebih merupakan opini sebagai ulama hadits, sementara barangkali banyak ulama hadits lainnnya yang mengatakan bahwa hadits itu tidak dhaif.

Untuk itu kita perlu melakukan studi lebih mendalam tentang komentar para ulama hadits secara lebih banyak lagi. Tipsnya, jangan hanya membaca satu buku rujukan saja, tetapi gunakan sekian banyak kitab rujukan, agar wawasan kita tidak sempit dan tidak terkesan kurang ilmu.

Ilmu Fiqih
Dari segi ilmu fiqih, ada perdebatan juga tentang hukum berdoa dan dzikir bila tidak menggunakan riwayat dari Rasulullah SAW. Apakah hukumnya boleh atau tidak boleh, atau makruh.

Mereka yang mengharamkan berdoa dengan lafadz yang bukan dari riwayat Rasulullah SAW berhujjah bahwa doa itu bagian dari ibadah ritual, seperti hukum shalat. Jadi berdoa disejajarkan dengan melakukan shalat, dimana lafadz-lafadz yang dibaca harus sesuai dengan aturan yang telah Rasulullah SAW tentukan.

Sehingga dalam pandangan mereka, kalau wirid Al-Ma'tsurat itu mengandung hadits yang lemah, jadinya bid'ah. Karena beribadah dengan menggunakan lafadz-lafad yang dianggap tidak qath'i bersumber dari Rasulullah SAW.

Di pihak lain, sebagian lain ulama mengatakan bahwa tidak semua doa sejajar kedudukannya dengan ritual shalat. Contoh sederhana, ketika kita minta kepada Allah SWT agar lulus ujian dengan nilai maksimal, rasanya tidak ada satu pun hadits yang mengajarkan hal itu. Lantas, apakah kita tidak boleh minta kepada Allah SWT dalam arti berdoa agar lulus ujian?

Ketika kita minta kepada Allah SWT agar diberikan istri yang shalihah, cantik, tinggi, langsing, putih, terang, pintar, dan seterusnya, tentu kita tidak akan menemukan contoh lafadz doa seperti itu di dalam hadits-hadits yang shahih. Lalu apaka kita tidak boleh berdoa meminta kepada Allah SWT agar mendapat istri yang seperti itu?

Ketika kita meminta kepada Allah SWT agar hubungan baik dengan sesama saudara seiman dan seagama dikuatkan, lalu kita tidak menemukan lafadz yang tepat dan pas dari hadits nabawi, apakah kita tidak boleh berdoa kepada Allah SWT tentang hal itu?

Kesimpulannya, di tengah para ulama ada perbedaan pendapat tentang hukum berdoa bukan dengan lafadz yang bersumber dari Rasulullah SAW. Ada yang menjadikannya sebagai syarat dan ada yang bilang kita bebas minta apa saja kepada Allah SWT sesuai dengan keinginan kita, tanpa harus meniru doa Rasulullah SAW.

Kalau melihat prakteknya, saya yakin Anda bukan termasuk yang mengharuskan berdoa selalu dengan sepeti apa yang dicontohkan Rasulllah SAW. Sebab betapa banyak kita berdoa kepada Allah SWT dengan harapan agar dikabulkan, sementara yang kita minta itu tidak ada contoh lafadznya dari Al-Quran dan As-Sunnah. Tetapi kita tetap meminta juga kepada Allah SWT, Kita tetap berdoa kepada-Nya, walau dengan lafadz yang kita gubah sendiri.

Sebab Allah SWT memang memerintahkan kita untuk meminta kepada-Nya, tanpa memberi batasan bahwa yang kita minta itu harus yang ada contoh lafadz doanya dari Rasulullah SAW.

Maka kalau di dalam wirid Al-Ma'tsurat itu ada hadits yang dhaif atau malah lafadz yang sama sekali bukan hadits, sebenarnya tidak ada yang perlu diributkan. Sebab ada pendapat yang kuat bahwa berdoa itu tidak harus dengan lafadz yang dicontohkan oleh Rasulllah SAW. Silahkan meminta kepada Allah SWT dengan lafadz yang kita karang sendiri, asalkan tidak bertentangan dengan ketentuan syar'i.


Disunting dari:
Ahmad Sarwat, Lc
http://trimudilah.blogspot.com/2010/03/wirid-al-matsurat-hasan-al-banna-bidah.html
Share:

Kematian Hati Puncak Krisis Multidimensi

Khutbah Jum'at Oleh: Ust. Hamim Thohari

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلهِ الَذِي وَعَدَ سَائِلِيهِ بِالْإِجَابَةِ، وَحَذَّرَ الْمُعْرِضِينَ عَنْ ذِكْرِهِ بِضَنْكِ الْمَعِيشَةِ
والصّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ اَلْهَادِي إلَى سَبِيلِ النَّجَاةِ وَالسَّعَادَةِ
وَآلِهِ وَأَصْحَابِهِ خَيْرِ الْبَرِيَّةِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِهِ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
أَمَّا بَعْدُ: فَإِنِّي مُوصِيكُمْ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ
وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
وَ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Sidang Jum’at Rahimakullaah, setelah Khatib mengingatkan akan pentingnya taqwa kepada Allah sebagai jalan keluar dan kunci kemuliaan, Khatib ingin mengajak jamaah sekalian untuk merenungkan sejenak tentang krisis yang mendera kehidupan umat manusia dewasa ini dalam berbagai aspek: ekonomi, politik, sosial, moral dan bermacam-macam krisis lainnya.

Banyak pakar mencoba mengurai dan menawarkan solusi. Ekonom berkata, “selesaikan dulu masalah ekonomi, yang lain akan mengikuti.” Politikus membantah, “Ekonomi itu mudah, yang penting politik dulu ditata.”  Moralis menyergah, “Moral dulu dibenahi baru yang lain.” Demikianlah, para pakar dan pengamat dadakan saling beradu kepintaran, sementara krisis demi krisis belum mampu dihentikan.

Lalu bagaimana sikap kita sebagai umat Islam, ayyuhal Ikhwah? Tentu, segala persoalan yang kita hadapi tidak boleh tidak, mestilah kita carikan petunjuk dan cara penyelesaiannya dari panduan hidup kita, way of life kita, yakni Kitabullaah  dan Sunnah Rasulullah saw. Dengan jelas Al-Qur’an mendiaknosa bahwa kesulitan dan keruwetan hidup di dunia ini berpangkal dari sikap manusia yang enggan mengikuti petunjuknya.

ومن أعرض عن ذكري فإن له معيشة ضنكا
“Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit lagi sulit.” (Thaha:  124)

Jamaah Jum’at Rahimakumullah,
Apabila manusia sudah tidak sudi mengindahkan peringatan Allah, enggan menjadikan petunjuk al-Qur’an sebagai panduan hidupnya, maka krisis kemanusian paling berbahaya akan menimpa mereka, yaitu kematian hati. Sehingga tidak jarang kita saksikan, seperti kata orang bijak:

كَمْ مِنْ مُشَاةٍ تَحْسَبُهُمْ أَحْيَاءَ، وَجَلَادَةُ أَجْسَادِهِمْ لِقُلُوبِهِمْ مَقَابِرُ
Betapa banyak orang gagah berjalan, Kau pikir mereka itu masih hidup,
Rupanya, kegagahan tubuhnya,hanyalah kuburan bagi hatinya yang mati

Sungguh kematian hati adalah puncak krisis kemanusian yang sebenarnya. Sedangkan penyebab kematian hati adalah berpaling dari peringatan dan ajaran Allah. Oleh karena itu, secara menggelitik, Allah memperingatkan kaum beriman agar menghindari penyebab krisis ini. Allah berfirman:

ألم يأن للذين آمنوا أن تخشع قلوبهم لذكر الله وما نزل من الحق ولا يكونوا كالذين أوتوا الكتاب من قبل فطال عليهم الأمد فقست قلوبهم وكثير منهم فاسقون  
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. (al-hadid: 16)

Jika hati telah mengeras dan membatu, artinya hati manusia telah mati. Saat itulah manusia akan menjelma sebagai makhluq mengerikan yang disebut sebagia orang-orang fasiq. Ciri-ciri mereka; rakus terhadap dunia, menghalalkan segala cara, tidak peduli kesengsaraan orang lain yang penting dirinya untung dan masa bodoh dengan halal-haram, tidak berfikir dosa-pahala, entar dulu masalah surga-neraka yang penting happy.

أَيُّهَا الْإخْوَةُ، هَذَا مَا أقُولُ ماَ سَمِعْتُمْ، وَأسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ
وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ::



Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ العَالَمِينَ، والصَّلَاةُ والسَّلاَمُ عَلى مُحَمَّدٍ وَبَعْدُ:

Jama’ah Juma’at Rahimakumullaah,
Kehidupan orang fasik, orang yang telah mati hatinya itu serba paradoks (saling bertolak belakang). Seperti kata Ibrahim bin Adham, ada 10 fenomena sikap bertolak belakang dari kehidupan orang yang  telah mati hatinya:

مَعْرِفَةُ اللهِ دُونَ تَأْدِيَةِ حَقِّهِ 
(1) Mengenal Allah, tanpa menunaikan hak-Nya

قِرَاءَةُ القرآنِ دُونَ الْعَمَلُ بِهِ  
(2) Membaca al-Qur’an tanpa diamalkan

الْاِدِّعَاءُ بِحُبِّ الرَّسُولِ وتَرْكُ سُنَّتِهِ   
(3) Mengaku mencintai Nabi, tapi meninggalkan sunnahnya

الْاِدِّعَاءُ بِعَدَاوَةِ الشيطان وَالطَّاعَةُ لَهُ  
(4) Mengaku bermusuhan dengan setan, tapi masih menuruti ajakannya

الْاِدِّعَاءُ بِدُخُولِ الْجَنَّةِ وَعَدَمُ الْعَمَلِ لَهَا  
(5) Mengaku bakal masuk surga, tapi tanpa usaha untuk meraihnya

الْاِدِّعَاءُ بِالنَّجَاةِ مِنَ النَّارِ وَرَمْيُ أَنْفُسِهِمْ فِيهَا  
(6) Yakin selamat dari neraka, malah nyemplung ke dalamnya

اَلْقَائِلُ بِأنَ الْمَوْتَ حَقٌّ وَعَدَمُ الْاِسْتِعْدَادِ لَهُ  
(7) Yakin dengan datangnya kematian, tapi lupa membuat persiapan

الْاِشْتِغَالُ بِعُيُوبِ النَّاسِ وَتَرْكُ عُيُوبِ أَنْفُسِهِمْ  
(8) Sibuk membicarakan aib orang lain, melupakan aibnya sendiri

دَفْنُ الْأَمْواتِ مَعَ عَدَمِ الْاِعْتِبَارِ بِهِ  
(9) Sering mengubur mayit, tidak pernah mengambil perlajarannya

أَكْلُ نِعْمَةِ اللهِ وَعَدَمُ شُكْرِهِ عَلَيْهَا  
(10) Nikmat Allah dimakan, tapi tak pernah disyukuri

Sepuluh sikap paradoksal inilah sesungguhnya yang menjadi sumber krisis kemanusian. Sebab kata, Ibrahim bin Adham, sepuluh perkara ini menyebabkan doa tidak akan dikabulkan. Lalu apa artinya jika Allah sudah tidak lagi mendengar doa hamba-Nya? Itu berarti Allah membiarkan hamba-Nya menyelesaikan persolanannya sendiri tanpa pertolongan dan rahmat-Nya. Jika sudah begitu, sejuta solusi yang ditawarkan oleh pakar paling hebat sekali pun tidak akan mampu menyelesaikan masalah manusia yang terus mendera. Na’udzu billaahi min dzaalik.

Jamaah Jumat Rahimakumullaah,
Maka satu saja kata kuncinya: “Krisis apa pun yang mendera manusia, solusinya hanya satu: Hidupkan hati dengan mengikuti petunjuk-Nya.” Sebagaimana firman-Nya: وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ “Barang siapa bertaqwa kepada Allah, akan diberikan kepadanya jalan keluar dan diberi-Nya rizqi dari arah yang tidak diduga-duga.” (at-Thalaq: 2)

نَسْأَلُ اللَّهَ الْعَافِيَةَ فِى الدِّينِ وَالدُّنْيَا والْآخِرَةِ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وصَحْبِهِ والتَّابِعِينَ أجْمَعِينَ
والْحَمْدُ للَّهِ رَبِّ الْعَالمِينَ اللهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ بِأسَماءِكَ الْحُسْنَى أنْ تَرْحَمَنَا وَتَرْحَمَ جَمِيعَ أُمَّةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ
واصْرِفْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفِتَنَ والْمِحَنَ، وَانْصُرْنَا عَلى الْأَعْدَاءِ بِرَحْمَتِكَ يَا أرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وصَلِّ اللَّهُمَّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَالْحمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمينَ
أَقِمِ الصَّلَاةَ
Share:

Kenapa Kita Mudah Kecewa?

"Kenapa kita mudah kecewa kepada orang lain?" Mungkin pertanyaan di atas sesuai dengan keadaan diri kita. Atau boleh j...