Belajar, Berbagi, Melayani

  • KEAGUNGAN AL QURAN

    Al-Quran adalah cahaya yang menerangi kebutaan, penawar hati yang menyembuhkan penyakit dan kehampaannya, suguhan lezat bagi jiwa, taman indah sanubari, penuntun nurani menuju negeri yang damai.

  • BUAH TARBIYAH

    Kita bukanlah orang yang sudah benar-benar baik apalagi terbaik, melainkan hanya orang yang keburukannya tertutupi.

  • DOSA-DOSA YANG DIREMEHKAN

    Tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari 3 hari. Siapa yang mendiamkan saudaranya lebih dari 3 hari kemudian ia mati, maka ia masuk neraka.

  • CIRI PENGHUNI SURGA

    Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh. Inilah yang dijanjikan kepadamu.

  • SEREMONI

    Sejak pagi keluarga mempelai perempuan bersiap diri menyambut tamu yang telah lama dinanti-nanti. Akhirnya datang juga. Mempelai laki-laki dikawal rombongan sekeluarga.

09 Desember 2014

Pelajaran dari Rumus Plus Minus

Perhatikan 4 aturan baku dalam matematika berikut ini.

1. (+) × (+) = (+)
2. (+) × (-) = (-)
3. (-) × (+) = (-)
4. (-) × (-) = (+)

Kita sudah memahami benar rumus-rumus tersebut, namun pelajaran apa yang sudah kita dapat? Ternyata ada pemaknaan lain daripada sekedar mengetahui bahwa "positif/plus dikali negatif/minus sama dengan minus" dan seterusnya. Hal ini berkaitan dengan sikap kita terhadap kebenaran (+) & kesalahan (-).

Rumus 1: (+) × (+) = (+)
Artinya: menganggap atau mengatakan BENAR terhadap KEBENARAN adalah sikap yang BENAR.

Rumus 2: (+) × (-) = (-)
Artinya: menganggap atau mengatakan BENAR terhadap KESALAHAN adalah sikap yang SALAH.

Rumus 3: (-) × (+) = (-)
Artinya: menganggap atau mengatakan SALAH terhadap KEBENARAN adalah sikap yang SALAH.

Rumus 4: (-) × (-) = (+)
Artinya: menganggap atau mengatakan SALAH terhadap KESALAHAN adalah sikap yang BENAR.

Semoga kita menjadi termasuk orang-orang yang selalu menetapi kebenaran, selalu bersikap benar, yakni orang yang membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah. Jangan sampai kita menganggap yang benar itu salah dan yang salah itu benar sehingga kita termasuk orang-orang yang tersesat.

"Ya Allah, tunjukilah kami bahwa yang benar itu benar, dan berilah kami kemampuan untuk mengikutinya. Dan tunjukilah kami bahwa yang salah itu adalah salah, dan berilah kami kemampuan untuk menjauhinya."
Share:

29 September 2014

Lawan dengan Logika


Cerita seorang teman dalam perkuliahannya di sebuah Perguruan Tinggi Islam,

Di antara dosen mereka ada yang berpikiran liberal dan sering memberikan kuliah yang kontroversial. Suatu hari dosen keblinger ini bicara tentang pernikahan sejenis dengan mengomentari sebuah ayat Qur'an "wakhalaqnaakum azwaaja, dan Kami ciptakan kamu semua berpasang-pasangan" (QS. An-Naba). Celakanya, dia bilang "berpasang-pasangan" tidak harus berlainan jenis. Yang penting ada dua unsur yang dipasangkan. Malah dia pakai argumen kaidah bahasa segala. Tentunya hal ini membuat semua mahasiswa yang miskin dalil terpana dan hanya bisa mencibir 'ngedumel' sepuasnya.

Seorang mahasiswa yang cerdas mengajukan tantangan saat si dosen membuka dialog. Katanya, "Pak, kalau bapak pakai sepatu dua-duanya kanan semua atau kiri semua apa itu bisa disebut pasangan? Kalaupun bapak jawab ya berarti bapak siap memakainya setiap hari. Paling rasanya gak enak dan orang-orang akan anggap bapak orang yang aneh atau gila."

Dosen ngawur itu terdiam, pelajaran ditutup.


*****
 

Cerita lain datang dari kampus yang berbeda, kampus yang rata-rata mahasiswanya guru agama sekolah swasta yang belum sarjana. Di sini juga ada dosen yang suka melontarkan pemikiran kontroversial.

Kali ini dalam perkuliahannya, dosen itu meng-kritisi sikap segelintir orang-orang Islam yang dianggapnya terlalu berlebihan merespon penghinaan terhadap Islam. 

Contoh kasusnya adalah ketika tentara Amerika menginvasi negeri-negeri muslim yang bermasalah, mereka menghancurkan masjid, menginjak-injak mushaf Al-Qur'an. Dia berkata, "Nggak perlulah kita lebay sok-sok membela kalau Al-Qur'an diinjak-injak, diludahi apalagi dikencingi. Itukan cuma kertas biasa saja. Al-Qur'an yang sebenarnya kan ada di Lauhul Mahfuzh!"

Seorang mahasiswa yang cukup berani langsung maju dan mengambil diktat yang ada di meja dosennya. Lalu dia merobek-robek, menginjak-injak dan meludahi karya ilmiah dosennya itu. Spontan sang dosen naik pitam, tersinggung.

"Berani-beraninya kamu melecehkan hasil karya saya!!!" Bentaknya.

"Maaf pak, setahu saya ini cuma kertas pak. Ilmu bapak yang sebenarnya kan ada di kepala bapak!" Balas sang mahasiswa tenang.

Dosen tersebut masih jengkel tapi tak bisa berkata apa-apa. Dia hanya 'ngedumel' sendiri lalu walk out dari ruang kuliah. Ruangan ramai dengan tepuk tangan. Dosen keblinger itu kalah. []
Share:

23 Mei 2014

Sense of Leadership


Bicara tentang self-leadership atau kepemimpinan pribadi, setidaknya ada dua perkara yang dapat kita pertajam di sini. Kita telah memiliki naluri kepemimpinan itu karena memang kita terlahir sebagai pemimpin, kullukum raa’in, setiap kalian adalah pemimpin. Akan tetapi seringkali naluri kepemimpinan itu tertutup oleh naluri amarah dan syahwat. Karenanya, mari kita asah dan pertajam naluri kepemimpinan itu dengan memperhatikan dua poin berikut.
Pertamasense of responsibility atau rasa bertanggung jawab. Bahwa dalam self-leadership setiap orang bertanggung jawab penuh atas dirinya sendiri. Wakullukum mas-uulun ‘an ra’iyyatihi, dan setiap kalian bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Maka dalam hal memimpin diri sendiri, kita bertanggung jawab penuh atas segenap diri dan kehidupan kita. Kepada siapa? Tentu saja bukan sekedar kepada diri kita sendiri. Yang utama dan mutlak adalah tanggung jawab kepada Allah Yang Mahaadil di mahkamah-Nya kelak pada hari Kiamat. Allah SWT telah memberi kita berbagai fasilitas dalam kehidupan. Maka semua itu harus dapat kita pertanggungjawabkan.
Untuk lebih memperjelas soal pertanggungjawaban ini, kepada poin-poin apa sense of responsibility itu kita perhatikan, maka Rasulullah telah mengingatkan kepada kita semua umatnya yang beliau cintai. Beliau bersabda, “Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada Hari Kiamat, sehingga ia ditanya tentang umurnya, dalam hal apa ia habiskan. Tentang ilmunya, dalam hal apa ia amalkan. Tentang hartanya, dari mana diperoleh dan dalam hal apa dibelanjakan. Juga tentang fisiknya, dalam hal apa ia binasakan.” (HR. Imam Tirmidzi).
Rasulullah SAW telah menunjukkan bahwa beliau memiliki sense of responsibility tinggi terhadap umatnya. Betapa kecintaan beliau terhadap umatnya melebihi kecintaannya terhadap diri dan keluarganya. Menjelang wafat, beliau tak mengeluh akan nasibnya sendiri, juga tak mengkhawatiri sahabat terdekatnya, keluarganya ataupun istri-istrinya. Tetapi beliau menyebut-nyebut ummatii ummatii, bahkan demikian pula di Hari Kiamat pertanyaan beliau yang pertama di antaranya adalah “Bagaimana nasib umatku?”. Maka tidaklah layak bagi kita untuk tidak mencintai beliau lebih daripada cinta kita kepada diri sendiri.
Kita telah mendapat pelajaran tentang sense of responsibility dari Rasulullah SAW. Beliau merasa bertanggung jawab akan nasib umatnya di Hari Kiamat, maka beliau selalu mengingatkan kepada umatnya untuk bersiap menghadapi hari yang besar itu. Apa artinya? Beliau memiliki perhatian yang besar pada umatnya, beliau fokus pada keselamatan umatnya. Ini adalah salah satu makna dari sense of responsibility yang merupakan poin penting dalam kepemimpinan. Maka dalam self-leadership (kepemimpinan pribadi), setiap orang diharuskan memiliki perhatian besar dan fokus terhadap apa saja yang merupakan tanggung jawabnya.

SENSE OF RESPONSIBILITY
Tanggung Jawab
Fokus Perhatian
USIA
Dalam hal apa dihabiskan?
ILMU
Dalam hal apa diamalkan?
HARTA
Dari mana didapat dan untuk apa dibelanjakan?
FISIK
Dalam hal apa digunakan hingga ia binasa?

Jika Anda ingin menajamkan naluri kepemimpinan pada diri Anda, hendaknya Anda memberikan perhatian yang serius kepada empat hal yang akan Anda pertanggungjawabkan kelak di yaumil akhir. Anda adalah pemimpin dalam kehidupan Anda sendiri. Maka berilah fokus perhatian pada apa-apa yang Anda pimpin itu. Setidaknya, supaya empat hal itu (usia, ilmu, harta, dan fisik) punya alasan untuk membela kita di hari Kiamat nanti.
Berapakah usia Anda sekarang? Saya lihat ada di antara Anda yang masih berusia di bawah 20 tahun, mungkin Anda siswa SMA atau setingkat SMA, atau mungkin Anda seorang mahasiswa semester awal. Ada juga yang berusia di atas 20 tahun, mungkin 25, 30, atau lebih dari itu. Anda sudah bekerja, membina rumah tangga, atau mungkin juga belum. Bukan itu yang akan kita persoalkan dan bukan itu poin terpenting dalam sense of responsibility.
Kesuksesan seseorang dalam hidupnya bukanlah pada pencapaian, apakah itu jumlah kekayaan, prestasi, maupun pangkat dan jabatan. Banyak orang yang prestasinya cukup tinggi tetapi hidupnya tidak tergolong sukses dan bermakna. Kenapa? Dia menghabiskan usianya hanya dalam angka-angka. Dia hanya sukses untuk dirinya sendiri namun tidak ada kontribusi bermakna yang dia sumbangkan untuk kehidupan ini, bahkan untuk kehidupannya sendiri.
Alangkah ruginya seseorang yang meninggal pada usia 80 tahun tetapi dia hanya meninggalkan tiga baris kalimat, nama Fulan bin Fulan, lahir tanggal sekian, dan wafat tanggal sekian. Namun alangkah bahagianya seseorang yang meninggal pada usia 40-an tahun namun dia mengukir sejarah yang tak mudah dilupakan orang. Bahkan sejarah hidupnya tiada habis-habisnya dibicarakan orang. Sejarah yang baik tentunya, bukan sejarah yang buruk. Dan sejarah hidup itu akan dia pertanggungjawabkan di hadapan Allah. Baginya, yang terpenting, sejarah hidup itu menjadi pengantar menuju ridha dan surga-Nya.
Permasalahannya, kita tak pernah tahu akan mati pada usia kita yang ke berapa. Dan kita pun bahkan tak tahu apa yang akan kita lakukan di esok hari. Wamaa tadrii nafsun maa dzaa taksibu ghadan wamaa tadrii nafsun bi ayyi ardhin tamuut, tidaklah setiap jiwa tahu apa yang akan diusahakannya besok, dan tidaklah setiap jiwa tahu di belahan bumi mana dia akan mati. Jika sekarang kita menginjak usia 20 atau 25 tahun, maka berapa tahun lagi kita akan hidup, kita tak akan pernah tahu. Bisa jadi sepuluh tahun lagi, lima tahun, atau satu tahun lagi. Atau bahkan bisa jadi dalam waktu dekat ini!
Pernahkah Anda menonton film atau sinetron yang mengisahkan tentang seseorang yang mengidap penyakit berbahaya kemudian dokter memprediksi usianya hanya mencapai tiga bulan lagi? Apa yang akan dirasakan oleh orang itu? Dan apakah yang akan dilakukannya dalam jangka waktu tiga bulan? Mungkin dia akan melakukan sesuatu yang bermakna dalam hidupnya. Mungkin dia akan bertaubat. Mungkin juga dia akan menghabiskan waktu bersama keluarganya. Atau mungkin dia akan menghasilkan sebuah karya terakhir dalam hidupnya. Pada intinya, dia akan mencurahkan segenap perhatian pada kualitas hidupnya.
Itu hanyalah contoh. Tapi prediksi manusia, yang paling cerdas sekalipun, tak ada yang tepat 100 %. Bisa jadi prediksinya tiga bulan, ternyata Allah SWT menetapkan satu tahun. Atau bisa jadi malah hanya satu bulan saja. Dan demikianlah keadaan kita semua. Walaupun tak pernah ada vonis prediksi sisa usia kita dari siapapun, Allah SWT telah memberikan satu peringatan bagi kita, bahwa kita tak tahu kapan dan di mana kita akan mati, dan dalam keadaan apa kita mati. Maka seharusnya kita selalu memberikan makna yang besar pada setiap langkah kehidupan kita. Kita menghitung usia setiap saat, menghitung hari setiap hari, menghitung jam setiap jam, menghitung detik setiap detik, bukan menghitungnya hanya ketika semua itu berlalu. Ya, inilah salah satu bagian terpenting dalam sense of responsibility untuk menajamkan naluri kepemimpinan kita.
Keduasense of direction atau perasaan memiliki arah. Tadi yang pertama sudah kita bicarakan garis besarnya, sense of responsibility. Maka yang kedua ini tidaklah terpisah dari yang pertama. Maksudnya? Jika Anda bertanggung jawab atas kehidupan Anda sendiri, maka Anda harus memiliki arah dalam hidup ini. Seseorang yang memiliki sense of responsibility membuktikan tanggung jawabnya dengan sense of direction, ada arah dalam hidupnya.
Bicara tentang direction, berarti kita bicara tentang destination atau tujuan. Jika Anda melakukan perjalanan, maka perjalanan itu hanyalah sebuah langkah, bukan tujuan. Tidak ada atau jarang sekali kita mendapati orang yang melakukan satu perjalanan tanpa ada tujuannya. Selalu ada tujuan, ada rute yang ditempuh, dan ada kendaraan, sehingga terjadilah perjalanan. Anda berada di kota A dan ingin pergi ke kota B naik kereta api, maka terjadilah perjalanan darat. Anda berada di Jakarta dan ingin pergi ke Medan naik pesawat terbang, maka terjadilah perjalanan udara. Apa artinya? Perjalanan itu adalah perbuatannya dan kota yang ingin dituju adalah alasan dilakukannya perbuatan itu. Sementara kota tempat Anda berada saat ini adalah titik tolak keberangkatan Anda. Kota itu menggambarkan keadaan diri Anda yang sekarang.
Jika Anda adalah seorang yang taraf penghasilannya pas-pasan, maaf, mungkin Anda termasuk kalangan menengah ke bawah, tapi Anda ingin berubah dari keadaan itu, berarti ada alasan bagi Anda untuk melakukan ‘perjalanan’. Dalam hal ini Anda akan melakukan sesuatu. Apabila Anda ingin meningkatkan penghasilan itu hingga Anda terangkat dari ekonomi pas-pasan menjadi kaya raya, maka kaya raya itu adalah ibarat kota tujuan Anda.
Kota tempat Anda saat ini adalah keadaan pas-pasan dan kota tujuannya adalah kaya raya. Maka Anda harus melakukan perjalanan menuju kota tujuan Anda dengan kendaraan yang tepat. Kalau Anda berada di Jakarta dan ingin pergi ke Paris naik kereta api, Anda tidak akan pernah sampai. Kalau Anda naik kapal laut, Anda mungkin akan sampai di sana tapi makan waktu yang sangat lama. Jika Anda naik pesawat terbang, Anda akan cepat sampai ke tujuan. Tapi biaya yang Anda perlukan akan lebih mahal dan resiko keselamatan juga lebih besar. Jika Anda naik kapal laut dan terjadi kecelakaan di tengah laut, masih ada sekoci yang akan menyelamatkan Anda. Tapi jika Anda naik pesawat terbang dan terjadi kecelakaan di udara, maka kemungkinan Anda selamat lebih kecil. Itulah resikonya, tapi jika perjalanan itu lancar, maka Anda akan sampai di tujuan lebih cepat dan memuaskan.
Baik, itu hanyalah satu contoh tentang pentingnya direction, tujuan dalam hidup kita. Bahwa ketika kita akan melakukan sesuatu, janganlah melakukannya tanpa alasan yang kuat. Bolehlah Anda bekerja sebagai pegawai, karyawan, wiraswasta, atau mungkin Anda adalah pengusaha. Tapi janganlah apa yang Anda lakukan itu tak punya tujuan atau arah yang benar. Bahkan, jangan sampai semua itu menggelincirkan Anda kepada kehancuran.
Arah atau tujuan yang terpenting dalam hidup kita adalah kehidupan yang abadi pasca kematian. Ini adalah persoalan besar yang sangat erat kaitannya dengan keimanan. Dan kalau bicara soal keimanan, ini berkaitan dengan keadaan hati seseorang, bukan sekedar akalnya. Jangan Anda salah menempatkan iman. Iman berada di dalam hati dan bagi pemiliknya iman itu akan menjadi suatu sensasi yang luar biasa. Iman adalah sesuatu yang menggetarkan hati seseorang apabila ia mendengar nama Allah disebut.
Dalam ayat ke-2 Surat Al-Anfaal Allah berfirman yang artinya “Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah mereka yang jika disebut nama Allah maka tergetarlah hatinya.” Anda lihat, struktur kalimatnya pasif. Apa artinya? Sensasi itu berlangsung secara otomatis. Seakan-akan seorang mu’min tak kuasa menahan gejolak di hatinya karena kerinduan kepada Tuhannya. Maka secara otomatis pula sensasi keimanan itu akan berpengaruh besar terhadap sense of direction di dalam hidupnya. Dia menyadari sepenuhnya bahwa segenap hidupnya hanyalah untuk Allah. Dia berprinsip Allahu ghaayatuna, “Allah adalah tujuan kami.”
Lalu bagaimanakah caranya menerapkan sense of direction bahwa Allah adalah tujuan hidup kita? Kita kaitkan lagi dengan masalah responsibilitas tadi, bahwa hendaknya usia kita, ilmu, harta, dan fisik kita diarahkan sepenuhnya untuk mengabdi kepada Allah. Maka kita ini adalah hamba. Kita adalah hamba Allah yang mencurahkan segala aktivitas hidup kita dengan penuh kesungguhan menuju ke hadirat-Nya. Maka renungkanlah firman Allah, “Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.” (Al-Insyiqaaq: 6).
Ayat itu adalah pengingat bagi kita, bahwa apapun aktivitas kita, apapun pekerjaan kita, maka kita akan menjumpai-Nya. Baik atau buruk yang kita lakukan adalah pilihan hidup kita. Tapi tetap saja kita akan bertemu dengan-Nya dan akan ditanyai tentang pilihan kita itu. Dalam keadaan bagaimanakah Anda ingin berjumpa dengan-Nya? Pilihan kita atas perjalanan hidup yang kita pimpin sendiri, akan menentukan keadaan kita pada saat berjumpa dengan Allah SWT, apakah Dia murka ataukah ridha kepada kita. []
Share:

17 Mei 2014

Mutiara Hadits Dosa-dosa yang Diremehkan




Berikut ini beberapa terjemah mutiara hadits tentang dosa yang sempat saya kumpulkan dari buku "Dosa-dosa yang Diremehkan" karangan Syaikh Abdullah bin Baaz, terbitan Pustaka Al-Kautsar. Semoga kita terlindung dari melakukan dosa-dosa yang membinasakan tersebut.


Barangsiapa mati dalam keadaan menyeru selain Allah sebagai sekutu, niscaya ia masuk neraka. ~HR Bukhari

Barangsiapa mendatangi peramal lalu bertanya sesuatu padanya, maka shalatnya tidak diterima selama 40 malam. ~HR Muslim

3 orang yang tidak disapa Allah pada hari kiamat, mendapat azab yang pedih: orang tua yang berzina, raja yang dusta, orang miskin yang sombong. ~HR Muslim

Tidaklah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang perempuan (yang bukan mahram) kecuali yang ketiganya adalah syetan. ~HR Tirmidzi

Kedua mata itu bisa berzina, kedua tangan bisa berzina, kedua kaki bisa berzina, dan kemaluan pun bisa berzina. ~HR Ahmad

Dan zina mata adalah melihat (apa-apa yang diharamkan). ~HR Bukhari

Siapapun wanita yang memakai parfum lalu berjalan melewati suatu kaum agar mereka mencium baunya, maka ia adalah pezina. ~HR Ahmad

3 orang yang diharamkan masuk surga: pecandu khamr (miras), pendurhaka kepada orang tua, dayyuś yang menempatkan kekejian di dalam keluarganya. ~HR Ahmad

Siapa yang mengaku-ngaku (anak) kepada yang bukan ayahnya padahal ia mengetahui, maka haram baginya surga. ~HR Bukhari

Tidak halal seorang muslim menjual kepada saudaranya dagangan yang ada cacatnya, kecuali ia berterus terang tentangnya. ~HR Ibnu Majah

Jika 2 pihak yang berbisnis jujur dan saling terbuka atas cacat dagangannya, maka bisnisnya diberkahi. Jika keduanya berdusta dan menutupi cacat barangnya, maka berkah bisnisnya akan dihilangkan. ~HR Bukhari

Barangsiapa yang mengambil sedikitpun tanah yang bukan haknya, kelak hari kiamat ia ditenggelamkan ke dalam 7 lapis tanah. ~HR Bukhari

Setiap daging yang tumbuh dari apa-apa yang haram, maka neraka lebih baik baginya. ~HR Thabrani

Barangsiapa yang mati sebagai pecandu khamr (pemabuk), maka ia akan bertemu Allah laksana penyembah berhala. ~HR Thabrani

Segala yang memabukkan itu adalah khamr, dan setiap yang memabukkan itu haram. ~HR Muslim

Siapa yang minum khamr dan mabuk, maka shalatnya tidak diterima selama 40 hari. Jika mati, ia masuk neraka, namun jika bertaubat, Allah mengampuninya. ~HR Ibnu Majah

Sesungguhnya orang yang makan atau minum dengan mangkuk perak dan emas, ia hanya menggelegakkan api jahannam di perutnya. ~HR Muslim

Tak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba. ~HR Bukhari

Barangsiapa mengintip rumah orang tanpa seizin pemiliknya, maka halal bagi mereka mencukil matanya. ~HR Muslim

Jika kalian bertiga, maka janganlah yang dua orang berbicara rahasia tanpa melibatkan yang ketiga. ~HR Bukhari

Dihalalkan sutra dan emas bagi kaum wanita umatku, dan diharamkan keduanya atas kaum pria. ~HR Ahmad

Allah melaknat wanita yang menyambung rambut dan yang meminta untuk disambungkan. ~HR Muslim

Rasulullah melaknat kaum pria yang berlaku menyerupai wanita dan kaum wanita yang menyerupai pria. ~HR Bukhari

Allah melaknat pria yang memakai pakaian seperti wanita dan wanita yang memakai pakaian seperti pria. ~HR Abu Daud

Kelak di akhir zaman ada suatu kaum yang mewarnai rambutnya dengan warna hitam seperti kumpulan burung dara, mereka tak akan mencium bau surga. ~HR Abu Daud

Ubahlah (uban) ini dengan sesuatu dan hindarilah warna hitam. ~HR Muslim

Seorang di antaramu duduk di atas bara neraka lalu pakaiannya terbakar hingga kulitnya, lebih baik daripada ia duduk di atas kuburan. ~HR Muslim

Paling banyak azab kubur itu disebabkan oleh air kencing. ~HR Ahmad

Siapa yang mendatangkan bahaya, Allah akan memberinya bahaya. Siapa yang mendatangkan kesusahan, Allah akan menyusakannya pula. ~HR Ahmad

Siapa yang melaknat seorang mu'min, maka seolah-olah ia membunuhnya. ~HR Bukhari

Tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari. Siapa yang mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari kemudian ia mati, maka ia masuk neraka. ~HR Abu Daud

Barangsiapa mendiamkan saudaranya selama setahun, maka seolah-olah ia menumpahkan darahnya. ~HR Bukhari

Barangsiapa mendatangi peramal lalu bertanya sesuatu padanya, maka shalatnya tidak diterima selama 40 malam. ~HR Muslim
Share:

Menghadirkan Hati

Tahukah anda, mengapa anda tidak menangis saat membaca al-Qur`an ?

Sampai kabar kepada Imam Ahmad bin Hambal bahwa salah seorang muridnya selalu bangun malam dan mengkhatamkan al-Qur`an secara sempurna hingga terbit fajar. Kemudian dilanjutkan dengan sholat subuh.

Imam Ahmad (A) pun ingin mengajarkannya cara mentadabburi al-Qur`an. Datanglah ia kepada muridnya itu, kemudian berkata: "Aku dengar kamu melakukan ini dan itu..?

Muridnya (M) menjawab: "Ya"

A: "Kalo gitu, coba nanti malam kamu lakukan seperti kemarin-kemarin, tapi saat membaca al-Qur`an, bayangkan kamu membacanya di hadapanku. Atau seakan-akan aku mengawasi bacaanmu.

Keesokan harinya, datanglah si murid, dan Imam Ahmad bertanya hasilnya. Si murid menjawab: "Aku hanya bisa membaca 10 juz saja"

A: "Coba nanti malam baca al-Qur`an seakan-akan kamu membacanya di hadapan Rasulullah SAW"

Keesokan harinya si murid datang lagi dan berkata: "Ya imam, aku hanya sanggup membaca juz 'amma saja"

A: "Nah sekarang, cobalah nanti malam kamu baca al-Qur`an seakan-akan di hadapan Allah 'Azza wa Jalla"

Si murid pun kaget disuruh seperti ini.

Keesokan harinya, si murid datang dengan mata bengkak akibat dari menangis. Imam Ahmad pun bertanya: "Apa yg kamu lakukan anakku?"

Si murid menjawab sambil menangis: "Ya imam, demi Allah, sepanjang malam aku tidak bisa menyempurnakan bacaan surat al-Fatihah."

[AS]
Share:

15 Mei 2014

Siapapun Dia, Hargailah Kebaikannya


Seri Kepemimpinan Nabi - 4
Oleh: Ust. Hamim Thohari

Sekilas Perjalanan
Ketika Muhammad  telah mendapat amanat kenabian, beliau terkadang mengenang kembali apa yang dahulu pernah dialaminya di masa kecil. Meskipun itu terjadi di era jahiliyah. Terutama hal yang merupakan best of the best-nya produk peradaban kaumnya di waktu itu. Beliau bercerita, “dahulu di rumah keluarga Abdullah bin Jad’an, aku pernah menyaksikan sebuah persepakatan yang lebih kusukai dari pada onta merah sekali pun. Kalau sekarang di era Islam ini aku diundang untuk (hal seperti) itu pasti akan kupenuhi (undangannya).”

Persepakatan yang dibuat di rumah keluarga Abdullah bin Jad’an at-Taimiy itu, dalam Kitab Sirah, disebut sebagai Hilful Fudhul. Saat itu usia beliau kurang lebih 15 tahun. Beberapa tokoh dari kabilah-kabilah kaum Quraisy yang terdiri dari Bani Hasyim, Bani Abdul Muthalib, Bani Asad bin Abdul Uzza, Bani Zuhrah bin Kilab dan Bani Taim bin Murrah bertemu di rumah pemuka kabilah Bani Taim tersebut. Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan bersama, “bahwa apabila terjadi tindak kezaliman di Mekah yang menimpa siapa pun di antara penduduk asli Mekah atau orang lain, maka mereka semua harus membela orang yang dizholimi dan menentang pelaku kezholiman sampai orang yang dizholimi mendapatkan haknya kembali.”

Banyak lagi kenangan kecil beliau di era masyarakat jahiliyah. Di antaranya,  sebagai anak remaja, sesekali terbesit juga keinginan untuk ikut begadang sambil menonton atau mendengarkan hiburan bersama remaja-remaja lain sebayanya. Beliau berkata, “tidak lebih dari dua kali terbesit keinginanku untuk melakukan apa yang biasa dilakukan oleh ahli jahiliyah. Namun, Allah telah menghalangiku dari mewujudkan keinginan itu. Sejak itu hingga dimuliakan Allah dengan kerasulan, aku tidak lagi punya keinginan untuk hal-hal seperti itu.” Dalam dua kali keinginan itu, seakan-akan Allah membuat telinganya tuli dan matanya digelayuti rasa kantuk yang menyebabkannya tertidur pulas hingga batal mengikuti tradisi hura-hura anak-anak remaja kala itu.

Selain berprofesi sebagai pengembala kambing untuk mendapatkan upah sedirham dua dirham, Muhammad muda juga sering dipercayai oleh kaumnya untuk menjagakan barang-barang berharga mereka. Bahkan beliau pun tidak canggung-canggung berbaur dengan kaumnya dalam kerja-kerja sosial. Sungguh pun begitu, beliau tetap memilah dan memilih mana yang bisa diikuti dan mana yang tidak. Prinsip nakhtalitun waa laakin natamayyazuun [terjemah bebasnya, kami berbaur tapi tidak sampai lebur] yang menjadi slogan gerakan dakwah kontemporer, rupa-rupanya telah diterapkan oleh beliau. Ketika ada keributan untuk memperebutkan “kehormatan” meletakkan hajar aswad di tempatnya, beliau tidak ikut-ikutan. Dalam keadaan genting, justru beliau hadir sebagai penengah yang melegakan semua pihak dan menghindarkan pertumpahan darah.

Dalam pemugaran Ka’bah, beliau ikut pamannya, Abbas membantu mangangkat batu-batu. Agar kulit pundaknya tidak lecet terkena batu, pamannya menasehati, “Gunakan sarungmu untuk mengalas pundak!” (Harap maklum, kehidupan beliau dan masyarakatnya yang serba miskin menyebabkan pakaian kebanyakan orang kala itu hanya berupa sehelai kain tanpa berjahit yang dililitkan dari pinggang hingga sedikit di bawah lutut, ketika ditarik ke atas untuk menutupi pundak, maka sudah pasti auratnya akan terbuka) Ketika beliau hendak mengikuti nasehat pamannya mengalas   pundak dengan kain sarung, tiba-tiba beliau jatuh tersungkur setengah tidak sadarkan diri. Setelah bangun, beliau segera membenahi sarungnya untuk menutup auratnya lagi. Kejadian tersingkap aurat itu saat beliau baru beranjak remaja dan hanya sekali itu saja terjadi sepanjang hayat beliau. Pasti Allah-lah yang menjaga manusia yang kelak menjadi Nabi dari segala aib yang memalukan dan menghinakan.


Sejumput Pelajaran
Nabi Muhammad, saw. telah mengajarkan kepada ummatnya agar pandai mengapresiasi kebaikan, sekali pun itu datangnya dari kelompok masyarakat yang tidak disukai. Pujian beliau terhadap hilful fudhul – yang merupakan produk masyarakat jahiliyah -- adalah buktinya. Jangankan kebaikan dan kebenaran dari sesama manusia, dari sosok makhluq gembong kebohongan pun Rasulullah saw. mengizinkan sahabatnya menerima apa yang diajarkan. Tersebut dalam shahih Bukhari, bahwa sahabat Abu Hurairah pernah memergoki pencuri yang menyatroni baitul mal. Sekali dan dua kali si pencuri itu dilepas karena berhasil meyakinkan si penangkapnya dengan alasan mencuri karena terpaksa.

Dua kali kejadian itu dilaporkan kepada Nabi  dan beliau mengatakan bahwa dia berbohong, besuk pasti akan kembali lagi. Betul, ketiga kalinya pencuri itu datang lagi dan tertangkap basah. Kali ini Abu Hurairah bertekad untuk tidak melepaskannya, namun dia berjanji akan memberitahukan sebuah bacaan yang bisa membuat setan lari. Bacaan tersebut adalah ayat Kursi. Maka dia pun dilepaskan. Keesokan harinya, Abu Hurairah, ra. memberitahu Rasul tentang kejadian semalam. Kata beliau, “kali ini dia benar [yakni tentang kegunaan ayat Kursi untuk menngusir setan] meski pun dia adalah pembohong. Kamu tahu, siapakah yang kamu ajak bicara sejak tiga malam itu?” Abu Hurairah berkata, “Tidak tahu.” Rasulullah menjelaskan, “dia adalah setan.”

Pelajaran dari mana pun datangnya, asalkan tidak bertentangan dengan ruh dan syariat Islam telah terbukti dapat diterima dalam peradaban Islam. Sebagaimana, menurut Imam al-Mawardi dalam Ahkam Sulthaniyah-nya, Khalifah Umar ra. telah mengadobsi model manajemen Bangsa Romawi dan Persia, terutama yang terkait dengan pembukuan harta benda yang masuk kepada negara, catatan hak dan kewajiban pemerintah, gaji dan tugas pasukan, hingga kepada masalah kependudukan. Sebagian dari produk peradaban Islam adalah hasil dari Islamisasi budaya atau Islamisasi sarana. Bahkan dalam hukum Islam dikenal kaedah akomodatif berbunyi, “al-‘aadatu muhakkamatun” (adat atau kebiasaan baik yang berlaku ditengah masyarakat – selagi tidak bertentangan dengan prinsip syariat Islam – bisa diberlakukan sebagai hukum).

Demi kebaikan dan kemashlahatan bersama -- apalagi dalam perkara yang tidak bertentangan dengan ruh dan syariat Islam - seorang dai dan pemimpin umat semestinya menjadi pelopor dan penganjur utama. Bukan hadir ketika ada pamrih dan kepentingan pribadi, namun hadir untuk membawa solusi. Seorang dai dan pemimpin yang baik tidak akan jauh dari rakyat dan objek dakwahnya. Bergaul dengan semua lapisan masyarakat dengan kepribadian yang matang dan karakter yang menyenangkan. Sehingga bisa berbaur tanpa lebur dan membersamai tanpa ternodai. Rasulullah memuji pribadi Muslim yang demikian itu:

الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهِمْ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنَ الَّذِي لا يُخَالِطُ النَّاسَ ، وَلا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهِمْ
"Seorang Mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas perkara yang menyakitkan mereka adalah lebih besar pahalanya dari pada seorang (mukmin) yang tidak mau bergaul dengan manusia dan tidak bersabar atas   perkara yang menyakitkan mereka." (dari Ibnu Umar diriwayatkan oleh al-Bukhari)

Rasulullah saw. tidak dibiarkan oleh Rabb-nya terkontaminasi prilaku dan budaya buruk kaumnya. Sebagai calon panutan dan manusia teladan Utusan Allah tentu tidak pantas memiliki latar belakang prilaku menyimpang. Keterjagaan (ishmah) beliau dari perbuatan tercela bukan tiba-tiba setelah diangkat sebagai Nabi, bahkan sejak dini. Seperti beliau dipalingkan dari berkeinginan kepada perbuatan sia-sia hingga terjaga dari aib (nyaris terbuka auratnya meski pun beliau masih sangat muda) yang bisa menjatuhkan harga diri.

Tentu semua itu adalah bagian dari skenario Allah untuk melindungi calon Utusannya kelak. Karena penyeru kebaikan dan kebenaran tertinggi pastinya harus datang dari pribadi yang bersih dan paripurna.  Begitulah para dai penyeru kebaikan dan keluhuran akhlaq, meski pun tidak maksum (terjaga dari dosa), tetapi haruslah senantiasa berusaha untuk memperbaiki diri dan menjauhi segala perbuatan tercela walau sekecil apa pun. Sungguh indah bait-bait syair berikut ini yang mengingatkan agar seorang dai dan penyeru kebaikan itu bukanlah pribadi jarkoni (istilah orang Jawa yang berarti, bisa berujar tidak bisa ngelakoni):

ياأيها الرجلُ المعلمُ غيرهُ *** هلا لنفسك كان ذا التعليمُ
Wahai guru bagi orang lain, sudahkah kau ajari dirimu
تصفُ الدواء لذي السقام وذي الضنى *** كيما يصح به وأنت سقيمُ
Kau meracik obat untuk yang sakit, mana bisa menyembuhkan jika dirimu sendiri berpenyakit
ونراك تصلحُ بالرشاد عقولنا *** أبداً وأنتَ من الرشاد عديمُ
Kau perbaiki pikiran kami dengan bimbingan, mana bisa jika kau sendiri tidak terbimbing
لا تنهَ عن خلقٍ وتأتي مثلهُ *** عارٌ عليك إذا فعلت عظيمُ
Jangan melarang satu prilaku, sementara kau sendiri melakukannya, sungguh sangat memalukan jika itu kau lakukan
وابدأ بنفسك فانهها عن غيِّها *** فإذا انتهتْ منه فأنتَ حكيمُ
Mulailah dari dirimu terlebih dahulu, halangi dari kesesatan, jika kamu berhasil barulah kamu bijak
فهناك يقبلُ ما وعظتَ ويفتدى *** بالعلم منك وينفعُ التعليمُ
Dari situlah nasehatmu akan diterima, orang akan siap berkorban untuk mendapatkan ilmu darimu dan bergunalah pengajaranmu []
Share:

14 Mei 2014

Motivasi Qurani-4: Jangan Tinggalkan Al-Qur'an

Apa saja yang digolongkan sebagai sikap meninggalkan Al-Qur’an hingga seseorang menjadi temannya syaithan?

Ada sebentuk curahan hati Rasulullah SAW yang diabadikan dalam firman Allah pada Surat Al-Furqan ayat 30:
Dan berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang tidak diacuhkan.” (QS. Al-Furqan [25]: 30)

Yang dimaksud dengan ‘kaumku’ dalam ayat tersebut adalah orang-orang kafir di masa Rasulullah saw. yang tidak mau mendengarkan da’wah beliau yang disampaikan dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Tapi sepatutnya kita pun mau mengambil pelajaran bahwa siapapun bisa disebut meninggalkan (acuh tak acuh terhadap) Al-Qur’an jika telah memenuhi kriterianya.

Klasifikasi para ulama (mufassir) tentang sikap meninggalkan Al-Qur’an rasanya cukup sebagai alat deteksi apakah kita termasuk orang yang meninggalkannya atau tidak. Sikap meninggalkan Al-Qur’an itu meliputi:

1.      Meninggalkan Bacaannya
Tidak mau mendengarkan dengan seksama dan mengimaninya. Tidak mau diam, malah berbincang atau membuat kegaduhan ketika Al-Qur’an dibacakan dalam suatu majelis. Termasuk klasifikasi ini adalah tidak mau membaca Al-Qur’an.

2.      Meninggalkan Pelajarannya
Tidak mau memikirkan, mengkaji dan memahami apa yang dikehendaki oleh Allah di dalam firman-Nya itu. Termasuk disebut meninggalkan Al-Qur’an pada aspek ini adalah orang yang senantiasa rajin membacanya namun tidak mau memahami apa yang sedang dibacanya itu, terlebih lagi untuk merenungi dan menghayatinya.

3.      Tidak Taat
Tidak mau mengamalkan kandungannya serta tidak peduli dengan ketentuan halal dan haram yang diterangkannya. Selain itu tidak mau ber-tahkim dengan Al-Qur’an, yakni tidak menjadikannya sebagai dasar hukum dalam segala sisi kehidupan, serta tidak menjadikannya sebagai panduan hidup.

4.      Tidak Menyembuhkan Penyakit dengannya
Tidak menjadikannya sebagai obat penawar bagi beragam penyakit hati, malah berobat dengan yang selainnya. Kita renungkan betapa banyak orang yang merasakan kegelisahan dalam hidupnya sehingga hatinya menjadi terhimpit. Tapi mereka mencari penyembuhan dengan meninggalkan Al-Qur’an, padahal Allah saja telah menyebut Al-Qur’an sebagai obat penawar (Asy-Syifa) bagi berbagai macam penyakit yang bersarang di dalam hati. Mereka lari dari Al-Qur’an dan mendatangi paranormal, dukun, atau mencoba meditasi yang bersumber dari ajaran keyakinan selain Islam.

5.      Lebih Cenderung kepada yang Lain
Berpaling dari peringatan (dzikir) Al-Qur’an kepada hal-hal selainnya, seperti syair, musik dan nyanyian yang melalaikan, pembicaraan yang sia-sia, aneka permainan, tontonan dan sebagainya. Mari kita renungkan, jika mengacu pada kriteria ini saja, maka betapa banyak orang-orang yang disebut telah jauh meninggalkan Al-Qur’an.

Wahai saudara seiman yang memahami bahwa rukun iman yang enam itu memiliki konsekuensi dan tuntutannya masing-masing, marilah kita renungkan perkara yang teramat penting ini agar kita jauh dari kehidupan dan penghidupan yang sempit di dunia dan akhirat.

Ketahuilah bahwa orang-orang muslim yang tidak mau membaca Al-Qur’an adalah orang-orang yang meninggalkan Al-Qur’an, meski mereka beralasan, “Yang penting kami memahami dan menjalankan ajarannya.” Sebab, Rasulullah dan para sahabat adalah orang-orang yang mengamalkan Al-Qur’an, tapi mereka tak mau meninggalkan bacaan Al-Qur’an. Mereka jauh di atas kita dalam ilmu dan amal.

Kemudian, mereka yang tak mau mempelajari dan memperhatikan kandungan Al-Qur’an termasuk juga orang-orang yang meninggalkannya, sekalipun mereka membaca Al-Qur’an itu berulang-ulang namun tanpa penghayatan.

Dan juga mereka yang tidak mau mengamalkan ajaran Al-Qur’an adalah termasuk orang-orang yang meninggalkannya, meskipun mereka telah membaca dan mengkajinya dengan pemahaman yang mendalam. []
Share:

09 Mei 2014

Motivasi Qurani-3: Mengapa Kita Perlu Berinteraksi dengan Al-Quran?


Apa alasan utama ber-Al-Qur’an bagi Anda?
1. Karena kelak Anda ingin bisa menjawab pertanyaan malaikat di alam barzakh (kubur) tentang tiga hal utama (ushuluts tsalatsah), yakni pertanyaan: “Siapakah Tuhanmu, apa agamamu, dan siapa orang yang diutus kepadamu?”. Perhatikanlah kutipan terjemah hadits berikut:
Lantas roh (jenazah mukmin itu) dikembalikan ke jasadnya, kemudian dua malaikat mendatanginya dan mendudukkannya dan bertanya: “Siapa Rabbmu”. Ia menjawab “Rabbku Allah”. Tanya keduanya: “Apa agamamu?”, “Agamaku Islam”. Jawabnya. Keduanya bertanya lagi: “Bagaimana komentarmu tentang laki-laki yang diutus kepada kamu ini?” Si mayit menjawab: “Oh, dia adalah Rasulullah saw.” Keduanya bertanya: ”Darimana kamu tahu?” Ia menjawab: “Aku membaca Kitabullah sehingga aku mengimani dan membenarkannya”.
Lantas ada Penyeru di langit memanggil-manggil: “HambaKu benar, hamparkanlah surga baginya dan berikanlah pakaian surga, dan bukakanlah pintu baginya menuju surga”. Maka hamba itu memperoleh bau harum dan wangi surga dan kuburannya diperluas sejauh mata memAndang. Lantas ia didatangi oleh laki-laki berwajah tampan, pakaiannya indah dan wanginya semerbak. Kemudian ia berucap: "Bergembiralah dengan kabar yang menggembirakanmu. Inilah hari yang dijanjikan untukmu.” Si mayit bertanya: “Lho, siapa kamu ini sebenarnya? Rupanya wajahmu adalah wajah yang mendatangkan kebaikan!” Si laki-laki tampan menjawab: “Aku adalah amal solehmu”. Lantas hamba tadi meminta: "Ya Rabbku, jadikanlah hari kiamat sekarang juga sehingga aku bisa kembali menemui keluargaku dan hartaku”. (Musnad Ahmad 17803)
2.   Kemudian, Anda tidak ingin hidup Anda didominasi oleh pengaruh syaithan yang jelas-jelas musuh abadi manusia hingga akhir zaman. Mereka mengajak Anda ke neraka sedangkan Al-Qur’an menuntun Anda ke surga. Dengan demikian, ber-Al-Qur’an adalah cara yang paling jitu untuk mengusir syaithan (dalam arti yang seutuhnya). “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah (Al-Qur’an), akan Kami adakan baginya syaithan (yang menyesatkan). Maka syaithan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 36)
3.  Orang-orang yang tidak mau ber-Al-Qur’an atau berpaling dari peringatan Allah adalah orang-orang yang disengsarakan di dunia dan di akhirat. Sebagaimana firman Allah: Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapakah Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dulunya adalah seorang yang dapat melihat?”. Allah berfirman: “Demikianlah telah datang padamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan.” (QS. Thaahaa [20]: 124-126)
4.  Orang-orang yang tidak mau memahami, melihat dan mendengar ayat-ayat Allah diserupakan dengan binatang ternak dan dijadikan sebagai penghuni neraka jahannam. Firman-Nya: “Dan sungguh Kami jadikan untuk (mengisi) neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka punya hati (tapi) tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka punya mata (tapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka punya telinga (tapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagaikan binatang ternak bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raaf [7]: 179)
Share:

Kenapa Kita Mudah Kecewa?

"Kenapa kita mudah kecewa kepada orang lain?" Mungkin pertanyaan di atas sesuai dengan keadaan diri kita. Atau boleh j...