“Hidupkan Qur’an-mu, Qur’an-kan Hidupmu!”
Maksudnya, bacalah Al-Qur’an dengan penuh penghayatan dan kemudian jadikanlah hidup Anda bersinar dengan cahaya Al-Qur’an.
|
10 November 2013
Motivasi Qurani-2: Apa yang dimaksud dengan ber-Al-Qur’an?
Ber-Al-Qur’an adalah memenuhi kewajiban terhadap Al-Qur’an sebagai konsekuensi keimanan (Rukun Iman ketiga).
Kita telah mengikrarkan iman kita kepada kitab-kitab Allah, sedangkan
Al-Qur’an adalah Kitab yang selalu terpelihara sampai akhir zaman sesuai
firman-Nya: “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kamilah yang akan menjaganya”.
Maka
iman itu akan terbukti (kita disebut benar-benar beriman) manakala kita
juga membenarkan di dalam hati dan mewujudkan dengan perbuatan.
Ber-Al-Qur’an juga dimaknai dengan berinteraksi atau berakhlaq terhadap Al-Qur’an sebagai salah satu aspek Akhlaqul Karimah, yang mana batasan akhlak mulia menurut Mahmud Al-Mishri (di dalam bukunya Ensiklopedia Akhlak Muhammad saw.)
mencakup berakhlak mulia terhadap Allah Sang Pencipta, terhadap
Rasulullah saw., terhadap Kitab Suci, terhadap para malaikat, dan
terhadap seluruh manusia.
Akhlak mulia terhadap Al-Qur’an adalah
dengan membaca dan merenungi setiap ayat-Nya. Selain itu
mengaplikasikan ayat-ayat tersebut dalam kehidupan serta menjadikan nya
sebagai penentu segala perkara, baik yang besar maupun yang kecil.
Dengan demikian, ber-Al-Qur’an adalah hidup di bawah naungan Al-Qur’an,
yang dengan itu hidup Anda menjadi berkah dan segenap umur Anda
manfaat. Apapun yang Anda alami dalam hidup ini Anda kaitkan dengan apa
yang difirmankan Allah dalam Al-Qur’an. Dan apa yang Anda baca dari
Al-Qur’an sebisa mungkin Anda hidupkan dalam kehidupan. Ayat-ayat itu
akan terasa lebih hidup bagi Anda dan hidup Anda pun menjadi lebih
hidup.
04 November 2013
Motivasi Qur'ani-1: Pendahuluan
Omong-omong soal kewajiban “berakhlak” terhadap
Al-Qur’an, kita saksikan Kaum Muslimin terbagi menjadi beberapa golongan.
Pertama, orang-orang yang sama sekali jauh dari Al-Qur’an. Jangankan untuk membaca
dan mempelajarinya, menyentuhnya saja mungkin bisa dihitung dengan jari dalam
seumur hidup mereka. Kita berdoa semoga Allah melimpahkan hidayah kepada kita dan
mereka.
Kedua, mereka yang menjadikan Al-Qur’an sebagai ritual belaka. Di antara
mereka ada yang amat berfokus mempelajari ilmu tilawah, melagukan serta
melombakannya. Namun kebanyakan mereka terhenti pada aktivitas itu dan tidak
memenuhi kewajibannya lebih lanjut. Ada kalangan yang begitu mengagungkan dan
menyucikan fisik Al-Qur’an (mushhaf
dan tulisannya), namun perilaku mereka tidak sejalan dengan nilai Al-Qur’an. Kita
berlindung kepada Allah semoga tidak termasuk yang demikian. Sebab, boleh jadi kalangan
semacam ini seperti yang disifati oleh Rasulullah SAW, “Suara mereka tidak dapat
melewati tenggorokan mereka (tidak meresap dalam hati). Hati mereka dan
orang-orang yang simpati kepada mereka telah terfitnah (keluar dari jalan yang
lurus).” (Shahih
Bukhari 4670; Musnad Ahmad 11150; Muwatha Imam Malik 428)
Ketiga, ada pula orang-orang yang menyikapi Al-Qur’an hanya dengan memahami
dan mengamalkannya (menurut perkiraan mereka). Mereka tidak banyak membaca
Al-Qur’an dan kurang memperhatikan kualitas bacaannya. Di antara mereka ada
yang berkata, “Membaca Al-Qur’an itu tidak terlalu penting, yang penting adalah
aplikasinya.”
Ketiga kelompok
tersebut semuanya merupakan kalangan yang tidak utuh dalam interaksinya dengan
Al-Qur’an. Penyebab utamanya adalah dua hal: (1) Tidak diterimanya ilmu yang
cukup tentang Al-Qur’an serta tuntutan iman terhadapnya; (2) Dominasi kerja
akal yang hanya menikmati buah pikiran manusia. Yang pertama kita sebut penyakit syubhat, biasanya menimpa
orang-orang awam yang kurang mendapatkan akses informasi dan pendidikan keislaman
yang utuh sehingga mereka hanya mengikuti tradisi agama di lingkungannya. Dan yang
kedua penyakit syahwat, biasanya
menimpa orang-orang berpendidikan modern, termasuk di antaranya sebagian intelektual
dan para aktivis muslim.
Motivasi Qur’ani merupakan sarana yang tepat dalam rangka mengobati
kedua penyakit tersebut serta sangat sesuai diterapkan pada dua kalangan
tersebut, yakni masyarakat umum dan kaum intelektual. Semoga hadirnya tulisan
ini turut membantu menumbuhkembangkan dan meningkatkan keber-Al-Qur’an-an umat sehingga
mereka termasuk dalam kelompok keempat, yakni orang-orang yang
berusaha memenuhi kewajiban interaksinya terhadap Al-Qur’an secara sempurna.
Amin. []
06 Oktober 2013
Menyelaraskan Keinginan Diri dengan Kehendak Ilahi
ارادتك
التجريد مع اقامة الله اياك في الاسباب من الشهوة الخفية، وارادتك الاسباب
مع اقامة الله اياك في التجريد انحطاط عن الهمة العلية.
Keinginanmu
untuk lepas dari urusan duniawi padahal Allah membekalimu dengan sarana
penghidupan, adalah syahwat yang samar. Sedangkan keinginanmu untuk
mendapatkan sarana penghidupan padahal Allah telah melepaskanmu dari
urusan duniawi, adalah suatu kemunduran dari cita-cita yang tinggi.
[Ibnu Athoillah, Al Hikam 002]
Luar
biasa kalimat di atas, bisa dimengerti tapi sulit dijelaskan. Pada
intinya, kita semestinya bersyukur dan ridho dengan kondisi dan
kedudukan di mana Allah menempatkan kita, termasuk bersyukur dengan
kondisi sarana penghidupan kita saat ini.
Jika
Allah memposisikan kita sebagai pengusaha atau pekerja yang tugasnya
mencari penghidupan dan dengan itu kita menjadi bermanfaat, maka tidak
selayaknya kita meninggalkan kehidupan itu untuk menjadi ahli ibadah saja.
Sebaliknya,
jika Allah telah menempatkan kita sebagai seorang ahli ibadah, pencari
ilmu dan orang yang senantiasa disibukkan dengan urusan dakwah dan
perjuangan, yang dengan itu sarana penghidupan kita menjadi tidak pasti
namun tetap terjamin seiring keyakinan kepada Allah, maka meninggalkan
kehidupan itu demi mencari sarana penghidupan yang pasti adalah suatu
kemunduran dan penurunan cita-cita yang luhur.
Singkatnya,
setiap orang terlahir ke dunia ini membawa tugasnya masing-masing yang
berbeda satu sama lain. Dan kita harus merenungkan lagi dan lagi tentang
misi hidup kita serta peran yang Allah inginkan untuk kita. Misi hidup
tak perlu lagi dirumuskan karena Allah sudah menetapkannya untuk kita:
ibadah. Namun peran kita untuk memaksimalkan ibadah itulah yang perlu
kita temukan dalam perenungan panjang: "Sebenarnya Allah menginginkan
saya untuk menjadi apa?".
Ukurannya
adalah kenyamanan kita dengan peran yang sedang dijalani. Namun maksud
kenyamanan di sini bukanlah kenyamanan dalam arti bermalas-malasan atau
memanjakan hawa nafsu. Dan bukan juga kenyamanan dalam arti melakukan
peran tanpa mau mengambil resiko. Kenyamanan di sini lebih diartikan
dengan kesesuaian "panggilan jiwa", sesuatu yang benar-benar
menggambarkan apa yang ingin kita lakukan dan tak ada beban atau tekanan
perasaan dalam menjalaninya. Sekali lagi, semua ini memerlukan
pemikiran dan perenungan yang mendalam. Wallahu a'lam. []
05 Oktober 2013
Pahala Jariyah yang Tak Kita Sadari
Oleh: Ust. Zulfi Akmal
Rasulullah bersabda: "Orang terbaik itu adalah orang yang bila kamu melihatnya kamu akan teringat kepada Allah".
Dalam pelajaran malam kemarin saya mendapatkan pelajaran baru dari Syekh. Beliau menceritakan pengalamannya:
Dulu
pada tahun 70-an ketika aku masih duduk di bangku kuliah, setiap hari
aku satu mobil dengan seseorang yang sampai hari ini tidak aku kenal dan
dia tidak mengenalku. Orang itu selalu di atas mobil memegang tasbih
sambil berzikir.
Karena setiap hari melihat pemandangan seperti
itu, apa yang ia lakukan itu berbekas di dalam hatiku. Hingga akhirnya
aku menirunya berzikir, sekalipun tidak pakai tasbih. Sampai hari ini
kebiasaan itu sudah lengket pada diriku dan orang itu masih jadi
inspirasi bagiku sekalipun sudah berlalu 40 tahun.
Insyaallah,
orang itu akan mendapatkan kiriman pahala terus tanpa dia mengatakan dan
mengajariku sesuatu selain perbuatannya yang sangat berbekas di hatiku.
Ada pelajaran yang dapat saya ambil dari kisah beliau ini:
- Amalan yang ikhlas akan memberikan pengaruh positif kepada orang lain, sekalipun sang pelaku tidak menyadari.
- Nasehat melalui perbuatan dan contoh jauh lebih baik dari pada bicara.
- Mungkin saja orang yang tidak "dianggap" bisa menginspirasi orang lain, bahkan merubah alur hidup orang lain.
- Tidak ada salahnya kita memperlihatkan amalan kepada orang lain, karena ikhlas itu ada di hati. Sekalipun disembunyikan belum tentu juga selamat dari riya', bahkan bisa jadi jatuh kepada dosa yang lebih parah dari itu, yaitu 'ujub.
- Orang yang riya tidak akan mungkin mampu konsisten dalam suatu amal kebaikan. Oleh karena itu hancurkanlah bisikan untuk riya' dengan amal yang berkesinambungan tanpa putus.
Original Facebook Status: http://www.facebook.com/home.php?#!/profile.php?id=1288635192&v=wall&story_fbid=4765301492312
17 Agustus 2013
Sang Pemadam Api Permusuhan
Seri Kepemimpinan Nabi - 3
Oleh: Ust. Hamim Thohari
Penyulut Perang
Tidak bisa dipercaya jika sang penyulut perang itu adalah kaum yang paling mengerti agama, paling tahu baik dan buruk. Tapi itulah kenyataannya, kecamuk perang saudara yang diwariskan secara turun temurun di bumi Yatsrib ternyata disulut oleh tangan-tangan kaum yang mengaku sebagai bangsa pilihan tuhan. Maka perang antara dua suku besar, Khazraj dan Aus seakan tidak ada habisnya. Meski sesungguhnya, mereka telah lelah berperang. Jiwa mereka telah meronta dan mencari-cari jalan keluar. Namun pangkal jalan keluar itu belum juga mereka temukan.
Nasib bangsa Arab Yatsrib bagaikan itik yang berenang di sungai namun mati kehausan. Hidup bertentangga dengan kaum yang dianggap paling mengerti nilai-nilai kebaikan, tidak menjamin mereka mendapat pencerahan dan keluar dari krisis permusuhan. Alih-alih menjadi pereda permusuhan, kaum Yahudi Yatsrib malah menjadi penyulut permusuhan dan dalang di setiap kecamuk peperangan di antara suku Khazraj dan Aus. Rupanya, mereka meraup keuntungan dari perang saudara itu dengan berdagang senjata atau memberi hutangan kepada pemuka-pemuka suku yang hartanya habis terkuras untuk biaya perang atau untuk sekedar berfoya-foya. Tidak sedikit tanah dan kebun milik kepala suku berpindah tangan kepada kaum Yahudi akibat terjerat hutang yang berbunga sangat mencekik. Praktek riba oleh kaum Yahudi Yatsrib sudah sangat menggurita dan mencengkeram kedua suku besar bangsa Arab Yatsrib. Tidak heran jika kemudian urusan perang dan damai di tanah Yatsrib ada di tangan mereka.
Keadaan inilah yang mendorong sekelompok pemuda suku Khazraj untuk mencari pemimpin yang ideal. Meskipun hampir saja mereka mengangkat Abdullah bin Ubay bin Salul sebagai raja yang disepakati oleh kedua suku besar, namun mereka belum sepenuhnya percaya bahwa orang ini akan mampu membawa Yatsrib keluar dari krisis berkepanjangan. Buktinya, mereka masih mencari pemimpin lain yang lebih dipercaya. Apalagi mereka sering mendengar dari kaum Yahudi bahwa tidak lama lagi akan datang seorang nabi yang akan memimpin mereka untuk memerangi dan membinasakan bangsa lain selain Yahudi. Maka di musim haji tahun 11 setelah kenabian, enam pemuda Yatsrib dari suku Khazraj telah menerima dakwah Muhammad. Salah seorang dari mereka berkata, “Wahai kaumku, inilah nabi yang selalu disebut-sebut oleh kaum Yahudi untuk menakut-nakuti kalian. Jangan biarkan mereka mendahului kita. Segeralah mengikuti dakwahnya dan berislam!”
Mereka adalah pemuda-pemuda cerdas Yatsrib yang lelah dengan perang saudara yang tidak berkesudahan. Muak dengan kaum beragama sekutu dan tentangga mereka namun tidak pernah membawa solusi malah menjadi duri. Dengan mengikuti Muhammad, mereka berharap perdamaian dapat dihadirkan. Maka oleh-oleh haji mereka pada tahun itu adalah cahaya Islam. Nama Muhammad kemudian menjadi buah bibir di setiap rumah penduduk Yatsrib. Pada dua kali musim haji sesudah itu, utusan dari Yatsrib terdiri dari perwakilan suku Khazraj dan Aus datang untuk memberikan janji setia dan pembelaan kepada Muhammad dalam peristiwa yang dikenal dengan Baiat Aqabah pertama dan Baiat Aqabah kedua. Di antara butir perjanjian itu adalah “bahwa kalian mesti menolongku jika aku (Muhammad) datang kepada kalian, melindungiku seperti kalian melindungi jiwa-jiwa kalian, istri-istri dan anak-anak kalian. Sedangkan balasan buat kalian adalah surga.”
Sang Pemadam itu Datang
Sosok pemimpin yang diharapkan akan menjadi pemadam api permusuhan dan penebar rahmat itu pun datang. Penduduk Yatsrib menyembutnya dengan penuh suka cita sambil menyanyikan bait-bait syair penyambutan (dikenal dengan syair thala’al badru):
Purnama raya telah menyinari kami / Yang terbit dari arah Tsaniya al-Wada’/ Segala yang diserukannya karena Allah/ Sudah semestinya kami syukuri/ Wahai Utusan yang diutus untuk kami/ Kau datang untuk kami taati
Muhammad datang tidak sendirian. Sebelum dan sesudahnya ada pengikut-pengikutnya dari Mekah. Mereka yang berhijrah dari Mekah dikenal sebagai kaum Muhajirin dan saudara-saudara penolongnya di Yatsrib dikenal sebagai kaum Anshor. Kedatangan mereka dalam jumlah besar di negeri dan lingkungan baru, tentu saja bukan tanpa persoalan. Paling mendesak adalah kebutuhan makan dan papan buat mereka. Di sinilah kepemimpinan Muhammad mulai teruji. Sebagai mana yang sering berlaku, kaum pengungsi sering menimbulkan permasalahan bagi penduduk lokal. Tapi dalam kasus hijrahnya Muhammad dan Sahabat-sahabatnya ini, sejarah telah menyaksikan nilai-nilai kemanusiaan universal disemai hingga tumbuh dan berkembang menjadi tuntunan abadi.
Muhammad telah berhasil mempersaudarakan satu persatu pengikutnya di antara kaum Muhajirin dan Anshor. Diikat dengan tali iman, diayomi di bawah keteduhan masjid dan dipelihara dengan keteladanan sang pemimpin. Belum pernah tercatat dalam sejarah mana pun ada persaudaraan seindah apa yang dibangun oleh Muhammad. Hingga seorang sahabat Anshor, Saad bin Rabi’ berkata kepada sahabatnya yang dipersaudarakan dari kaum Muhajirin, Abdur Rahman bin Auf, “saya orang Anshor yang paling berharta, separuh harta saya untuk kamu. Dan, istri saya dua, lihat mana yang paling menarik buatmu, saya akan ceraikan dan sesudah habis masa iddahnya silahkan kamu nikahi.” Mendapat tawaran begitu, sahabat ini tidak serta merta menerima, bahkan dengan santun menolaknya, “Semoga Allah memberkati harta dan keluarga Anda, saya hanya ingin tahu di mana pasar?” Sejarah kemudian mencatat Abdur Rahman bin Auf menjadi saudagar kaya raya hasil dari jerih payahnya sendiri.
Yatsrib benar-benar telah berubah. Api permusuhan telah dipadamkan. Luka akibat perang saudara selama bergenerasi telah disembuhkan. Dua suku besar yang bermusuhan ditambah dengan saudara-saudara pendatang baru mereka telah menjadi satu tubuh. Mereka mulai belajar dan merasakan indahnya hidup rukun berdampingan dan saling menguatkan dalam membela kebenaran dan melawan kezaliman. Yatsrib pun diganti namanya menjadi Madinah, sebagai simbol perubahan dari kehidupan tanpa aturan kepada kehidupan berberadapan dan beraturan. Dari kehidupan tanpa arah yang jelas kepada kehidupan yang terarah dan tertib dibawah hukum dan syariat Islam.
Semua yang mendiami bumi Yatsrib, baik yang beriman mau pun yang masih ragu-ragu, Yahudinya atau pun kaum musyriknya sekalian, diajak untuk hidup rukun berdampingan di bawah kepimpinan Muhammad saw. Para ahli sejarah mengakui bahwa butir-butir perjanjian yang dibuat oleh Muhammad bersama seluruh elemen masyarakat Madinah -- kemudian dikenal dengan sebutan Piagam Madinah -- bersifat universal dan ultra modern. Di antara bunyi perjanjian itu adalah: “Kaum Yahudi Dari Bani Auf adalah satu umat dengan mukminin. Bagi kaum Yahudi agama mereka, dan bagi kaum mukminin agama mereka. Juga (kebebasan ini berlaku) bagi sekutu-sekutu dan diri mereka sendiri, kecuali bagi yang dzalim dan jahat. Hal demikian akan merusak diri dan keluarganya.” Kemudian diikuti butir selanjutnya, “Kaum Yahudi Bani Najjar, Yahudi Bani Al Haris, Yahudi Bani Sa’idah, Yahudi Bani Jusyam … diperlakukan sama seperti Yahudi Bani Auf.”Dari sebagian butir-butir perjanjian ini berarti bahwa Muhammad tidak hanya memberi hak kebebasan dan perlindungan kepada suku besar Kaum Yahudi saja bahkan keluarga-keluarga kecil mereka yang terpencar-pencar di seantero tanah Yatsrib pun mendapatkan hak yang sama.
Ajaran Muhammad mempertautkan yang menganga dan mengobati yang terluka. “Janganlah kebencianmu kepada suatu kaum, mendorongmu untuk tidak bersikap adil. Bersikaplah adil karena itu lebih dekat kepada taqwa.” (Qs. 2: 237) Juga mengajarkan toleransi yang benar dan terhormat. “Bagimu agama-mu dan bagiku agamaku.” (Qs.109: 06) Bukan asimilasi agama, pencampuradukan praktek ibadah dan pembauran keyakinan, karena toleransi seperti itu sejatinya adalah penghinaan bukan pengakuan terhadap keyakinan orang lain. Toleransi ala Muhammad justru memberi ruang untuk saling memegangi kebenarannya masing-masing setelah saling beradu hujjah yang tegas dan nyata. Agar disebut toleran tidak perlu mengundang kaum Yahudi untuk beribadah di Masjid dan memaksakan orang Islam beribadah di Sinagog.
Sejumput Pelajaran
Umat Islam sejak dilahirkan telah dididik untuk hidup rukun berdampingan dan berkongsi ketentraman dengan orang lain. Dalam perbendaraan kosakata Islam sangat mudah dijumpai ajaran-ajaran universal yang sangat dibutuhkan oleh manusia sejagat: keadilan, kerukunan, kesatuan, kehormatan, keamanan dan kebahagiaan. Dalam peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad saw. ke Madinah telah dibuktikan komitmen beliau kepada nilai-nilai universal itu. Bagaimana beliau mampu memadamkan api permusuhan dan mempertautkan dua budaya berbeda kaum Anshor dan Muhajirin, bahkan tetap memberi perlindungan dan kebebasan kepada unsur-unsur yang berpotensi membuat keretakan. Maka soal hidup rukun dengan orang lain sambil berpegang kepada agama masing-masing bukan perkara baru bagi ummat Islam. Tidak selayaknya umat Islam menjadi tertuduh sebagai kelompok yang tidak bisa hidup rukun dan toleran. Maka umat Islam tidak perlu diajari tentang perkara itu, karena telah mempraktekkanya di saat semua peradaban bangsa-bangsa di dunia meninggalkanya. Sebaliknya, orang lainlah yang harus belajar dari umat Islam tentang hal itu. []
Oleh: Ust. Hamim Thohari
Penyulut Perang
Tidak bisa dipercaya jika sang penyulut perang itu adalah kaum yang paling mengerti agama, paling tahu baik dan buruk. Tapi itulah kenyataannya, kecamuk perang saudara yang diwariskan secara turun temurun di bumi Yatsrib ternyata disulut oleh tangan-tangan kaum yang mengaku sebagai bangsa pilihan tuhan. Maka perang antara dua suku besar, Khazraj dan Aus seakan tidak ada habisnya. Meski sesungguhnya, mereka telah lelah berperang. Jiwa mereka telah meronta dan mencari-cari jalan keluar. Namun pangkal jalan keluar itu belum juga mereka temukan.
Nasib bangsa Arab Yatsrib bagaikan itik yang berenang di sungai namun mati kehausan. Hidup bertentangga dengan kaum yang dianggap paling mengerti nilai-nilai kebaikan, tidak menjamin mereka mendapat pencerahan dan keluar dari krisis permusuhan. Alih-alih menjadi pereda permusuhan, kaum Yahudi Yatsrib malah menjadi penyulut permusuhan dan dalang di setiap kecamuk peperangan di antara suku Khazraj dan Aus. Rupanya, mereka meraup keuntungan dari perang saudara itu dengan berdagang senjata atau memberi hutangan kepada pemuka-pemuka suku yang hartanya habis terkuras untuk biaya perang atau untuk sekedar berfoya-foya. Tidak sedikit tanah dan kebun milik kepala suku berpindah tangan kepada kaum Yahudi akibat terjerat hutang yang berbunga sangat mencekik. Praktek riba oleh kaum Yahudi Yatsrib sudah sangat menggurita dan mencengkeram kedua suku besar bangsa Arab Yatsrib. Tidak heran jika kemudian urusan perang dan damai di tanah Yatsrib ada di tangan mereka.
Keadaan inilah yang mendorong sekelompok pemuda suku Khazraj untuk mencari pemimpin yang ideal. Meskipun hampir saja mereka mengangkat Abdullah bin Ubay bin Salul sebagai raja yang disepakati oleh kedua suku besar, namun mereka belum sepenuhnya percaya bahwa orang ini akan mampu membawa Yatsrib keluar dari krisis berkepanjangan. Buktinya, mereka masih mencari pemimpin lain yang lebih dipercaya. Apalagi mereka sering mendengar dari kaum Yahudi bahwa tidak lama lagi akan datang seorang nabi yang akan memimpin mereka untuk memerangi dan membinasakan bangsa lain selain Yahudi. Maka di musim haji tahun 11 setelah kenabian, enam pemuda Yatsrib dari suku Khazraj telah menerima dakwah Muhammad. Salah seorang dari mereka berkata, “Wahai kaumku, inilah nabi yang selalu disebut-sebut oleh kaum Yahudi untuk menakut-nakuti kalian. Jangan biarkan mereka mendahului kita. Segeralah mengikuti dakwahnya dan berislam!”
Mereka adalah pemuda-pemuda cerdas Yatsrib yang lelah dengan perang saudara yang tidak berkesudahan. Muak dengan kaum beragama sekutu dan tentangga mereka namun tidak pernah membawa solusi malah menjadi duri. Dengan mengikuti Muhammad, mereka berharap perdamaian dapat dihadirkan. Maka oleh-oleh haji mereka pada tahun itu adalah cahaya Islam. Nama Muhammad kemudian menjadi buah bibir di setiap rumah penduduk Yatsrib. Pada dua kali musim haji sesudah itu, utusan dari Yatsrib terdiri dari perwakilan suku Khazraj dan Aus datang untuk memberikan janji setia dan pembelaan kepada Muhammad dalam peristiwa yang dikenal dengan Baiat Aqabah pertama dan Baiat Aqabah kedua. Di antara butir perjanjian itu adalah “bahwa kalian mesti menolongku jika aku (Muhammad) datang kepada kalian, melindungiku seperti kalian melindungi jiwa-jiwa kalian, istri-istri dan anak-anak kalian. Sedangkan balasan buat kalian adalah surga.”
Sang Pemadam itu Datang
Sosok pemimpin yang diharapkan akan menjadi pemadam api permusuhan dan penebar rahmat itu pun datang. Penduduk Yatsrib menyembutnya dengan penuh suka cita sambil menyanyikan bait-bait syair penyambutan (dikenal dengan syair thala’al badru):
Purnama raya telah menyinari kami / Yang terbit dari arah Tsaniya al-Wada’/ Segala yang diserukannya karena Allah/ Sudah semestinya kami syukuri/ Wahai Utusan yang diutus untuk kami/ Kau datang untuk kami taati
Muhammad datang tidak sendirian. Sebelum dan sesudahnya ada pengikut-pengikutnya dari Mekah. Mereka yang berhijrah dari Mekah dikenal sebagai kaum Muhajirin dan saudara-saudara penolongnya di Yatsrib dikenal sebagai kaum Anshor. Kedatangan mereka dalam jumlah besar di negeri dan lingkungan baru, tentu saja bukan tanpa persoalan. Paling mendesak adalah kebutuhan makan dan papan buat mereka. Di sinilah kepemimpinan Muhammad mulai teruji. Sebagai mana yang sering berlaku, kaum pengungsi sering menimbulkan permasalahan bagi penduduk lokal. Tapi dalam kasus hijrahnya Muhammad dan Sahabat-sahabatnya ini, sejarah telah menyaksikan nilai-nilai kemanusiaan universal disemai hingga tumbuh dan berkembang menjadi tuntunan abadi.
Muhammad telah berhasil mempersaudarakan satu persatu pengikutnya di antara kaum Muhajirin dan Anshor. Diikat dengan tali iman, diayomi di bawah keteduhan masjid dan dipelihara dengan keteladanan sang pemimpin. Belum pernah tercatat dalam sejarah mana pun ada persaudaraan seindah apa yang dibangun oleh Muhammad. Hingga seorang sahabat Anshor, Saad bin Rabi’ berkata kepada sahabatnya yang dipersaudarakan dari kaum Muhajirin, Abdur Rahman bin Auf, “saya orang Anshor yang paling berharta, separuh harta saya untuk kamu. Dan, istri saya dua, lihat mana yang paling menarik buatmu, saya akan ceraikan dan sesudah habis masa iddahnya silahkan kamu nikahi.” Mendapat tawaran begitu, sahabat ini tidak serta merta menerima, bahkan dengan santun menolaknya, “Semoga Allah memberkati harta dan keluarga Anda, saya hanya ingin tahu di mana pasar?” Sejarah kemudian mencatat Abdur Rahman bin Auf menjadi saudagar kaya raya hasil dari jerih payahnya sendiri.
Yatsrib benar-benar telah berubah. Api permusuhan telah dipadamkan. Luka akibat perang saudara selama bergenerasi telah disembuhkan. Dua suku besar yang bermusuhan ditambah dengan saudara-saudara pendatang baru mereka telah menjadi satu tubuh. Mereka mulai belajar dan merasakan indahnya hidup rukun berdampingan dan saling menguatkan dalam membela kebenaran dan melawan kezaliman. Yatsrib pun diganti namanya menjadi Madinah, sebagai simbol perubahan dari kehidupan tanpa aturan kepada kehidupan berberadapan dan beraturan. Dari kehidupan tanpa arah yang jelas kepada kehidupan yang terarah dan tertib dibawah hukum dan syariat Islam.
Semua yang mendiami bumi Yatsrib, baik yang beriman mau pun yang masih ragu-ragu, Yahudinya atau pun kaum musyriknya sekalian, diajak untuk hidup rukun berdampingan di bawah kepimpinan Muhammad saw. Para ahli sejarah mengakui bahwa butir-butir perjanjian yang dibuat oleh Muhammad bersama seluruh elemen masyarakat Madinah -- kemudian dikenal dengan sebutan Piagam Madinah -- bersifat universal dan ultra modern. Di antara bunyi perjanjian itu adalah: “Kaum Yahudi Dari Bani Auf adalah satu umat dengan mukminin. Bagi kaum Yahudi agama mereka, dan bagi kaum mukminin agama mereka. Juga (kebebasan ini berlaku) bagi sekutu-sekutu dan diri mereka sendiri, kecuali bagi yang dzalim dan jahat. Hal demikian akan merusak diri dan keluarganya.” Kemudian diikuti butir selanjutnya, “Kaum Yahudi Bani Najjar, Yahudi Bani Al Haris, Yahudi Bani Sa’idah, Yahudi Bani Jusyam … diperlakukan sama seperti Yahudi Bani Auf.”Dari sebagian butir-butir perjanjian ini berarti bahwa Muhammad tidak hanya memberi hak kebebasan dan perlindungan kepada suku besar Kaum Yahudi saja bahkan keluarga-keluarga kecil mereka yang terpencar-pencar di seantero tanah Yatsrib pun mendapatkan hak yang sama.
Ajaran Muhammad mempertautkan yang menganga dan mengobati yang terluka. “Janganlah kebencianmu kepada suatu kaum, mendorongmu untuk tidak bersikap adil. Bersikaplah adil karena itu lebih dekat kepada taqwa.” (Qs. 2: 237) Juga mengajarkan toleransi yang benar dan terhormat. “Bagimu agama-mu dan bagiku agamaku.” (Qs.109: 06) Bukan asimilasi agama, pencampuradukan praktek ibadah dan pembauran keyakinan, karena toleransi seperti itu sejatinya adalah penghinaan bukan pengakuan terhadap keyakinan orang lain. Toleransi ala Muhammad justru memberi ruang untuk saling memegangi kebenarannya masing-masing setelah saling beradu hujjah yang tegas dan nyata. Agar disebut toleran tidak perlu mengundang kaum Yahudi untuk beribadah di Masjid dan memaksakan orang Islam beribadah di Sinagog.
Sejumput Pelajaran
Umat Islam sejak dilahirkan telah dididik untuk hidup rukun berdampingan dan berkongsi ketentraman dengan orang lain. Dalam perbendaraan kosakata Islam sangat mudah dijumpai ajaran-ajaran universal yang sangat dibutuhkan oleh manusia sejagat: keadilan, kerukunan, kesatuan, kehormatan, keamanan dan kebahagiaan. Dalam peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad saw. ke Madinah telah dibuktikan komitmen beliau kepada nilai-nilai universal itu. Bagaimana beliau mampu memadamkan api permusuhan dan mempertautkan dua budaya berbeda kaum Anshor dan Muhajirin, bahkan tetap memberi perlindungan dan kebebasan kepada unsur-unsur yang berpotensi membuat keretakan. Maka soal hidup rukun dengan orang lain sambil berpegang kepada agama masing-masing bukan perkara baru bagi ummat Islam. Tidak selayaknya umat Islam menjadi tertuduh sebagai kelompok yang tidak bisa hidup rukun dan toleran. Maka umat Islam tidak perlu diajari tentang perkara itu, karena telah mempraktekkanya di saat semua peradaban bangsa-bangsa di dunia meninggalkanya. Sebaliknya, orang lainlah yang harus belajar dari umat Islam tentang hal itu. []
12 Agustus 2013
Seremoni
Hadirlah
saya di sana. Duduk di antara para hadirin, saya mengambil posisi yang
nyaman, jauh dari pusat keramaian. Kopiah telah terpasang rapi. Ternyata
baju terlihat agak kusut. “Ah, cuma sedikit, tak masalah.” Demam
panggung kerap menjadi momok sesaat. Aneh, padahal begitu sering saya
bicara di atas mimbar.
Sepasang
mempelai sudah siap. Petugas KUA sibuk membolak-balik dokumen. Para
saksi (formal) juga telah menempati posisinya masing-masing.
Kini
giliran saya. Majulah saya tampil di hadapan para hadirin. Seketika
mereka menenangkan dirinya masing-masing, menyimak lantunan ayat-ayat
yang saya bacakan. Itulah di antara “aktivitas” saya beberapa tahun
terakhir, menjadi pembaca Al-Qur’an dalam seremoni.
Sebagian
teman mengenal saya sebagai “tukang” baca Al-Qur’an. Biasanya saya
diminta jadi qari dalam seremoni pembukaan berbagai kegiatan. Seolah itu
sudah menjadi “cap” pada diri saya, sejak masih di SMA dulu, saat saya
kuliah, dan sampai kini cap itu masih dipertahankan. Bagi saya, no problem.
Mungkin itulah yang bisa saya lakukan di panggung da’wah. Mereka senang
diperdengarkan bacaan Al-Qur’an dan saya pun suka membacakannya. Hingga
suatu saat, saya ditugasi sebagai qari dalam acara pengajian di masjid
dekat rumah. Dalam kajian, Ustadz yang menjadi pemateri mengritik soal
acara pembacaan Al-Qur’an. Sebenarnya dia mengritik fenomena umat muslim
pada umumnya. “Sekarang ini,” katanya, “Al-Qur’an hanya formalitas.
Kalau ada acara-acara seperti ini, Al-Qur’an dibaca, tapi di rumah tidak
pernah baca. Kenapa tadi si qari tidak baca artinya sekalian? Jadi
semua orang bisa paham.”
Alasan
itu bisa diterima, walaupun berbeda nilai dan rasanya antara membaca
Al-Qur’an dan membaca terjemahnya, termasuk dalam mendengarkannya.
Bagaimanapun, manfaat itu bisa diraih jika interaksi dengan Al-Qur’an
dilakukan secara utuh. Sehingga ketika membaca atau menyimak Al-Qur’an,
ada sensasi atau perasaan unik yang dialami, seolah “kita keluar dari
dunia nyata memasuki alam yang berbeda”. Ini bukan tentang hipnotis atau
pengembaraan alam bawah sadar, tapi lebih merupakan kekhusyu’an. Ya,
membaca Al-Qur’an memang ibadah, dan ia adalah bentuk dzikir yang utama.
“Allah
telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang
serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit
orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenanglah kulit
dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan
kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa
yang disesatkan Allah, niscaya tiada seorang pemberi petunjuk pun
baginya.” (Az-Zumar: 23)
Akhirnya,
seremoni itu selesai juga, lancar. Sepasang pengantin telah bersanding
dan para hadirin pun memberi ucapan selamat. Setelah itu mereka mulai
antre menikmati hidangan. Di sela-sela itu, seorang perempuan – sedikit
lebih muda dari saya – mendekati. “Pak, tadi yang dibaca surat apa ya?”
ia bertanya. “Surat An-Nuur ayat 30 sampai 35,” jawab saya. Kuat dugaan
saya, ia terdorong untuk bertanya karena saya bacakan juga terjemah
ayat-ayat itu, langsung saya bacakan sendiri.
Ia
bukanlah seorang perempuan berjilbab. Saat itu pun ia hanya
menyelendangkan kerudungnya. Tapi ayat yang ia tanyakan – yakni yang
saya bacakan – di antaranya ialah tentang interaksi lawan jenis, seruan
menutup aurat, seruan agar kaum perempuan tidak menampakkan
“perhiasan”nya kepada mereka yang tidak berhak. Saya berpikir, mungkin
ayat-ayat seputar tema itu, seperti juga Al-Ahzab ayat 59, belum pernah
didengarnya. Mungkin ayat-ayat ini, juga ayat Al-Qur’an seluruhnya,
jarang disuarakan dengan lantang. Mungkinkah ia “dikalahkan” oleh
suara-suara lainnya?
Dan
orang-orang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan
sungguh-sungguh akan Al-Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya,
supaya kamu dapat mengalahkan mereka.” (Fushshilat: 26)
Tentu
saja Al-Qur’an tak akan dapat dikalahkan oleh kalimat-kalimat lainnya.
Tapi kenyataan dalam mana seruan selain Al-Qur’an lebih keras gaungnya,
menjadi ujian bagi kita umat yang memikul amanah superberat ini.
Seremonial Al-Qur’an seperti yang saya kemukakan bukannya tak berarti
apa-apa. Ia tetap perlu sebagai syi’ar. Tapi perlu juga disadari bahwa
gaung Al-Qur’an jangan sampai hanya ada dalam seremoni-seremoni, jangan
hanya terpojok di sudut-sudut masjid dan forum terbatas. Sebab,
Al-Qur’an adalah pedoman kita umat manusia dalam mengarungi kehidupan
yang penuh tantangan ini.
Seluruh
rangkaian hidup ini adalah ujian buat kita. Ujian yang hanya sekali,
tak ada ujian susulan atau perbaikan. Setelah mati, kita tinggal
menunggu saja, layakkah kita mendapat surga ataukah sebaliknya. Semua
itu ditentukan oleh “kinerja” kita, bagaimana kita menempuh ujian-ujian
itu. Dan sebenarnya cara menjawab “soal-soal” ujian itu telah diberikan
oleh Allah SWT yang memberikan ujian. Kunci jawaban itu adalah
Al-Qur’an. Masih perlu contoh? Allah berikan juga contohnya untuk kita.
Adalah Rasulullah SAW, “Kaana khuluquhul qur’an, akhlaknya adalah Al-Qur’an.” demikian papar ‘Aisyah RA. Apa yang kurang? Yang kurang adalah kemauan kita. []
Pemimpin Sejati Tak Lahir dari Gemerlap Harta
Sekilas Perjalanan
Suku Quraiys adalah suku paling mulia di kalangan bangsa Arab, dan di antara keluarga-keluarga besar yang berafiliasi kepada suku Quraisy, maka Baniy Hasyimlah yang dipandang paling bersih dan terhormat. Mengenai hal itu, Rasulullah saw. – dalam sebuah riwayat dari Abbas – pernah bersabda: "Allah telah menciptakan makhluq-Nya dan saya dipilih sebagai yang terbaik dari mereka, terbaik di antara berbagai kelompok, bahkan terbaik dari dua kelompok. Lalu dipilih kabilah-kabilah terbaik, maka saya dipilih dari kabilah terbaik. Kemudian dipilihlah keluarga-keluarga terbaik, dan saya dipilih dari keluarga terbaik. Maka saya adalah pribadi yang terbaik dari keluarga terbaik." [Hr. Tumudzi dan shahih sanadnya] Demikian mulia dan bersihnya keluarga Muhammad, hingga tidak ada yang bisa menyerang Muhammad dari sisi keturunannya.
Muhammad, manusia pilihan itu adalah anak manusia biasa. Lahir di tengah Keluarga sederhana bahkan miskin. Begitu lahir sudah menjadi yatim. Ayahnya meninggal, saat buah cintanya itu baru dua bulan dalam kandungan ibunya. Menginjak umur 6 tahun, ibunya pun menyusul sang ayah. Lengkaplah penderitaan dan kepahitan Muhammad, sejak kecil telah kehilangan kehangatan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Tugas mengasuh berpindah kepada kakeknya, Abdul Muthalib. Namun hanya dua tahun lamanya, sang kakek keburu dipanggil menghadap sang Khaliq. Kemudian Muhammad kecil diasuh oleh pamannya yang terbilang paling miskin, Abu Thalib. Namun kemiskinan sang paman tidak membuatnya miskin cinta dan kasih sayang untuk Muhammad kecil. Sebagaimana kemiskinan keluarga ini pun tidak membuat mereka menjadi miskin kemulian dan kehormatan karena mereka tidak pernah menghinakan diri dengan meminta-minta atau menagih simpati orang lain atas nama kemiskinan.
Sejumput Pelajaran
Umat Islam, secara garis keturunan memang bukan seluruhnya bernasab kepada Muhammad saw. Namun setiap manusia yang beriman kepadanya -- tanpa memandang suku, bangsa, bahasa dan warna kulitnya – telah menerima berkah kemuliaan sebagai keluarga dan ummat Muhammad, saw. Atas hikmah Allah yang Mahabijak, umat Islam berada di bawah payung petunjuk sosok manusia paling sempurna dan paling layak untuk dijadikan teladan. Tentu tidak pantas, umat yang bergelar khairu ummah (ummat terbaik, Qs. 3: 110) ini diafiliasikan kepada sosok manusia yang tidak jelas asal usul keturunannya bahkan tercemar nasabnya.
Dahulu pepatah Arab mengatakan, فاقد الشيء لا يعطي - "yang tidak mempunyai apa-apa tidak akan bisa memberi.” Dalam pribadi Muhammad terdapat segala sisi kebaikan yang bisa diberikan kepada ummat manusia sebagai contoh dan keteladanan yang tidak ada habisnya sepanjang zaman. Muhammad tidak meninggalkan harta, lahir dalam keadaan miskin, meninggal pun dalam keadaan miskin. Namun kekayaan Muhammad adalah kemuliaan dan keteladanan. Dari Nasabnya yang bersih dan mulia, hingga prilakunya yang tanpa cela. Itulah sumber mata air kebaikan yang tidak akan pernah kering hingga hari Kiamat. Itulah kekayaan yang tidak dapat disamakan dengan kekayaan apa pun di dunia ini. Apalagi hanya sebentuk materi yang sebentar kemudian akan lenyap.
Muhammad dibesarkan oleh sosok pribadi-pribadi mulia yang kaya hati dan cinta, kaya jiwa dan sifat-sifat mulia. Dibesarkan dengan keadaan serba kekurangan dan jauh dari kemewahan, membuat sosok Muhammad sebagai pribadi mandiri. Untuk sekedar mendapat upah sekeping dua keping dirham, dia bekerja sebagai penggembala kambing milik penduduk Mekah. Bagaimana pun, kemiskinannya tidak dijadikannya sebagai alasan untuk mencuri dan menyelewengkan sekecil apa pun amanat yang diberikan kepadanya. Sebab itu banyak penduduk Mekah yang mau menitipkan barang-barangnya untuk dijagakan oleh Muhammad. Kepercayaan itulah yang membuatnya dijuluki al-amin (orang yang sangat bisa dipercaya). Karena amanah dan kejujurnnya, bahkan janda kaya seperti Khadijah pun jatuh hati kepadanya dan mau menikah dengannya, setelah mengamati sepak terjangnya ketika mengelola barang dagangannya.
Semua liku-liku kehidupan yang dijalaninya sejak kecil itu sesungguhnya merupakan design tarbiyah rabbaniyah untuk mengantarkannya sebagai pemimpin hebat yang tak tertandingi sepanjang masa. Bahkan sebagai sunnatullah abadi, “Barangsiapa yang berbuat kebajikan (amal shalih), baik laki-laki atau pun perempuan dan dia itu beriman, maka benar-benar akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri mereka balasan lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan..” (Qs. 16: 97) Kaedah ini berlaku kepada siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Bahwa untuk menjadi pemimpin yang baik dan umat yang baik haruslah dipersiapkan sejak dini segala sisi kebaikannya.
Pemimpin sejati bukan dilahirkan dengan uang. Umat yang baik bukan dibangun dengan iming-iming materi dan taburan pundi-pundi. Sebab, pemimpin yang begini hanya akan menjadi pecundang, dan rawan untuk dikutuk dan disumpahserapahi oleh rakyatnya yang kecewa. Baik pemimpin atau rakyat yang dilahirkan dari proses yang tidak wajar seperti itu, akan menjadi sekelompok manusia yang paling lemah dan bobrok. Tidak mempunyai mental juang dan semangat membangun bangsanya dengan kehormatan. Asalkan meraup keuntungan materi, meski pun harus mengemis, bahkan mencuri sekali pun tidak menjadi masalah.
Al-Qur’an dengan gamblang telah memotret bagaimana bobroknya mental masyarakat yang berorientasi kepada materi semata-mata. Sepintas mereka bersemangat untuk berjuang, membela yang benar dan kepentingan wong cilik, tetapi ketika benar-benar dihadapkan kepada realitas perjuangan, mereka pun mundur. Dan, amat sedikit yang sanggup bertahan. (Qs. 2: 246) Mereka menjadikan kekayaan sebagai syarat utama kepemimpinan, sehingga memandang rendah seorang pemimpin yang tidak mempunyai harta meski pun punya kualitas ilmu di samping kekuatan fisik. (Qs. 2: 247)
Rasulullah, saw. memimpin bukan berangkat dari kekayaan, bukan menabur janji-janji manis untuk memberi berbagai fasilitas dan kekayaan. Meskipun kebanyakan pengikut Muhammad waktu itu berasal dari kalangan rakyat jelata, wong cilik, orang miskin bahkan hamba sahaya, tetapi mereka tidak kesengsem dakwahnya karena janji-janji materi dan iming-iming uang. Sebab, mereka tahu muhammad sejak kecil bukan orang kaya, tidak mempunyai kekayaan seperti tokoh-tokoh Quraisy yang disegani. Muhammad hanya punya kejujuran, kemuliaan dan kesanggupan untuk berkorban demi apa yang diyakininya benar. Terbukti dari ucapannya di hadapan Abu Tholib, “Wahai Paman, kalau pun mereka bisa memberiku matahari hingga diletakkan di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, lalu aku harus meninggalkan dakwahku, sungguh itu tidak akan kulakukan hingga Allah menentukan akhir dari urusan ini.”
Mereka tahu Muhammad memimpin bukan untuk mencari uang, pangkat atau tujuan duniawi apa pun. Sebab jika itu yang dicari, maka dia akan akur dan menerima apa yang ditawarkan oleh kaum Qurays kepadanya, “jika mau kekayaan kami siap mengumpulkan sebanyak apa pun harta kekayaan yang Anda inginkan, jika ingin menjadi raja kami siap mengangkat Anda menjadi raja, jika ingin wanita kami siap mencarikan wanita Arab mana yang paling cantik…” Kemuliaan dan kebersihan jiwa sosok pemimpin seperti Muhammad inilah yang membuatnya terus dicintai oleh pengikutnya sepanjang zaman. Berbeda dengan pemimpin-pemimpin yang lahir dari janji-janji serba materi, Muhammad selalu disebut-sebut oleh pengikutnya dengan doa dan kebaikan setiap waktu sepanjang masa, sementara pemimpin yang tidak berkualitas dan hanya karena faktor duit, akan disumpahi oleh pengikutnya sendiri setiap kali namanya disebut.
Biarlah orang bukan sebagai keturunan keluarga ningrat dan berdarah biru, biarlah dia sebagai anak seorang petani kecil bahkan tidak punya sepetak sawah pun, tapi cukuplah baginya untuk mendapat kemulian abadi dengan membenarkan kenabian Muhammad dan mengikuti ajarannya. Siapa pun orangnya, dari keturunan jenis manusia seperti apa pun, berhak menyandang kemuliaan sebagai bagian dari khairu ummah asalkan bergabung dalam kafilah ummat Muhammad untuk “menganjurkan kebaikan, mencegah keburukan dan beriman kepada Allah.” (Qs. 3: 110) Cukuplah kemuliaan itu diperoleh dari menjadi bagian Umat Muhammad yang telah dijanjikannya surga. sabda beliau, “Semua umatku bakal masuk surga, kecuali yang membangkang.” Sahabat bertanya, “Siapakah yang membangkang itu, ya Rasulullah?” Jawab beliau, “Yang taat kepadaku bakal masuk surga, dan yang mendurhakaiku (tidak mau mengikuti ajaranku), maka dialah yang membangkang itu.” [Hr. Bukhari dari Abu Hurairah]
Suku Quraiys adalah suku paling mulia di kalangan bangsa Arab, dan di antara keluarga-keluarga besar yang berafiliasi kepada suku Quraisy, maka Baniy Hasyimlah yang dipandang paling bersih dan terhormat. Mengenai hal itu, Rasulullah saw. – dalam sebuah riwayat dari Abbas – pernah bersabda: "Allah telah menciptakan makhluq-Nya dan saya dipilih sebagai yang terbaik dari mereka, terbaik di antara berbagai kelompok, bahkan terbaik dari dua kelompok. Lalu dipilih kabilah-kabilah terbaik, maka saya dipilih dari kabilah terbaik. Kemudian dipilihlah keluarga-keluarga terbaik, dan saya dipilih dari keluarga terbaik. Maka saya adalah pribadi yang terbaik dari keluarga terbaik." [Hr. Tumudzi dan shahih sanadnya] Demikian mulia dan bersihnya keluarga Muhammad, hingga tidak ada yang bisa menyerang Muhammad dari sisi keturunannya.
Muhammad, manusia pilihan itu adalah anak manusia biasa. Lahir di tengah Keluarga sederhana bahkan miskin. Begitu lahir sudah menjadi yatim. Ayahnya meninggal, saat buah cintanya itu baru dua bulan dalam kandungan ibunya. Menginjak umur 6 tahun, ibunya pun menyusul sang ayah. Lengkaplah penderitaan dan kepahitan Muhammad, sejak kecil telah kehilangan kehangatan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Tugas mengasuh berpindah kepada kakeknya, Abdul Muthalib. Namun hanya dua tahun lamanya, sang kakek keburu dipanggil menghadap sang Khaliq. Kemudian Muhammad kecil diasuh oleh pamannya yang terbilang paling miskin, Abu Thalib. Namun kemiskinan sang paman tidak membuatnya miskin cinta dan kasih sayang untuk Muhammad kecil. Sebagaimana kemiskinan keluarga ini pun tidak membuat mereka menjadi miskin kemulian dan kehormatan karena mereka tidak pernah menghinakan diri dengan meminta-minta atau menagih simpati orang lain atas nama kemiskinan.
Sejumput Pelajaran
Umat Islam, secara garis keturunan memang bukan seluruhnya bernasab kepada Muhammad saw. Namun setiap manusia yang beriman kepadanya -- tanpa memandang suku, bangsa, bahasa dan warna kulitnya – telah menerima berkah kemuliaan sebagai keluarga dan ummat Muhammad, saw. Atas hikmah Allah yang Mahabijak, umat Islam berada di bawah payung petunjuk sosok manusia paling sempurna dan paling layak untuk dijadikan teladan. Tentu tidak pantas, umat yang bergelar khairu ummah (ummat terbaik, Qs. 3: 110) ini diafiliasikan kepada sosok manusia yang tidak jelas asal usul keturunannya bahkan tercemar nasabnya.
Dahulu pepatah Arab mengatakan, فاقد الشيء لا يعطي - "yang tidak mempunyai apa-apa tidak akan bisa memberi.” Dalam pribadi Muhammad terdapat segala sisi kebaikan yang bisa diberikan kepada ummat manusia sebagai contoh dan keteladanan yang tidak ada habisnya sepanjang zaman. Muhammad tidak meninggalkan harta, lahir dalam keadaan miskin, meninggal pun dalam keadaan miskin. Namun kekayaan Muhammad adalah kemuliaan dan keteladanan. Dari Nasabnya yang bersih dan mulia, hingga prilakunya yang tanpa cela. Itulah sumber mata air kebaikan yang tidak akan pernah kering hingga hari Kiamat. Itulah kekayaan yang tidak dapat disamakan dengan kekayaan apa pun di dunia ini. Apalagi hanya sebentuk materi yang sebentar kemudian akan lenyap.
Muhammad dibesarkan oleh sosok pribadi-pribadi mulia yang kaya hati dan cinta, kaya jiwa dan sifat-sifat mulia. Dibesarkan dengan keadaan serba kekurangan dan jauh dari kemewahan, membuat sosok Muhammad sebagai pribadi mandiri. Untuk sekedar mendapat upah sekeping dua keping dirham, dia bekerja sebagai penggembala kambing milik penduduk Mekah. Bagaimana pun, kemiskinannya tidak dijadikannya sebagai alasan untuk mencuri dan menyelewengkan sekecil apa pun amanat yang diberikan kepadanya. Sebab itu banyak penduduk Mekah yang mau menitipkan barang-barangnya untuk dijagakan oleh Muhammad. Kepercayaan itulah yang membuatnya dijuluki al-amin (orang yang sangat bisa dipercaya). Karena amanah dan kejujurnnya, bahkan janda kaya seperti Khadijah pun jatuh hati kepadanya dan mau menikah dengannya, setelah mengamati sepak terjangnya ketika mengelola barang dagangannya.
Semua liku-liku kehidupan yang dijalaninya sejak kecil itu sesungguhnya merupakan design tarbiyah rabbaniyah untuk mengantarkannya sebagai pemimpin hebat yang tak tertandingi sepanjang masa. Bahkan sebagai sunnatullah abadi, “Barangsiapa yang berbuat kebajikan (amal shalih), baik laki-laki atau pun perempuan dan dia itu beriman, maka benar-benar akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri mereka balasan lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan..” (Qs. 16: 97) Kaedah ini berlaku kepada siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Bahwa untuk menjadi pemimpin yang baik dan umat yang baik haruslah dipersiapkan sejak dini segala sisi kebaikannya.
Pemimpin sejati bukan dilahirkan dengan uang. Umat yang baik bukan dibangun dengan iming-iming materi dan taburan pundi-pundi. Sebab, pemimpin yang begini hanya akan menjadi pecundang, dan rawan untuk dikutuk dan disumpahserapahi oleh rakyatnya yang kecewa. Baik pemimpin atau rakyat yang dilahirkan dari proses yang tidak wajar seperti itu, akan menjadi sekelompok manusia yang paling lemah dan bobrok. Tidak mempunyai mental juang dan semangat membangun bangsanya dengan kehormatan. Asalkan meraup keuntungan materi, meski pun harus mengemis, bahkan mencuri sekali pun tidak menjadi masalah.
Al-Qur’an dengan gamblang telah memotret bagaimana bobroknya mental masyarakat yang berorientasi kepada materi semata-mata. Sepintas mereka bersemangat untuk berjuang, membela yang benar dan kepentingan wong cilik, tetapi ketika benar-benar dihadapkan kepada realitas perjuangan, mereka pun mundur. Dan, amat sedikit yang sanggup bertahan. (Qs. 2: 246) Mereka menjadikan kekayaan sebagai syarat utama kepemimpinan, sehingga memandang rendah seorang pemimpin yang tidak mempunyai harta meski pun punya kualitas ilmu di samping kekuatan fisik. (Qs. 2: 247)
Rasulullah, saw. memimpin bukan berangkat dari kekayaan, bukan menabur janji-janji manis untuk memberi berbagai fasilitas dan kekayaan. Meskipun kebanyakan pengikut Muhammad waktu itu berasal dari kalangan rakyat jelata, wong cilik, orang miskin bahkan hamba sahaya, tetapi mereka tidak kesengsem dakwahnya karena janji-janji materi dan iming-iming uang. Sebab, mereka tahu muhammad sejak kecil bukan orang kaya, tidak mempunyai kekayaan seperti tokoh-tokoh Quraisy yang disegani. Muhammad hanya punya kejujuran, kemuliaan dan kesanggupan untuk berkorban demi apa yang diyakininya benar. Terbukti dari ucapannya di hadapan Abu Tholib, “Wahai Paman, kalau pun mereka bisa memberiku matahari hingga diletakkan di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, lalu aku harus meninggalkan dakwahku, sungguh itu tidak akan kulakukan hingga Allah menentukan akhir dari urusan ini.”
Mereka tahu Muhammad memimpin bukan untuk mencari uang, pangkat atau tujuan duniawi apa pun. Sebab jika itu yang dicari, maka dia akan akur dan menerima apa yang ditawarkan oleh kaum Qurays kepadanya, “jika mau kekayaan kami siap mengumpulkan sebanyak apa pun harta kekayaan yang Anda inginkan, jika ingin menjadi raja kami siap mengangkat Anda menjadi raja, jika ingin wanita kami siap mencarikan wanita Arab mana yang paling cantik…” Kemuliaan dan kebersihan jiwa sosok pemimpin seperti Muhammad inilah yang membuatnya terus dicintai oleh pengikutnya sepanjang zaman. Berbeda dengan pemimpin-pemimpin yang lahir dari janji-janji serba materi, Muhammad selalu disebut-sebut oleh pengikutnya dengan doa dan kebaikan setiap waktu sepanjang masa, sementara pemimpin yang tidak berkualitas dan hanya karena faktor duit, akan disumpahi oleh pengikutnya sendiri setiap kali namanya disebut.
Biarlah orang bukan sebagai keturunan keluarga ningrat dan berdarah biru, biarlah dia sebagai anak seorang petani kecil bahkan tidak punya sepetak sawah pun, tapi cukuplah baginya untuk mendapat kemulian abadi dengan membenarkan kenabian Muhammad dan mengikuti ajarannya. Siapa pun orangnya, dari keturunan jenis manusia seperti apa pun, berhak menyandang kemuliaan sebagai bagian dari khairu ummah asalkan bergabung dalam kafilah ummat Muhammad untuk “menganjurkan kebaikan, mencegah keburukan dan beriman kepada Allah.” (Qs. 3: 110) Cukuplah kemuliaan itu diperoleh dari menjadi bagian Umat Muhammad yang telah dijanjikannya surga. sabda beliau, “Semua umatku bakal masuk surga, kecuali yang membangkang.” Sahabat bertanya, “Siapakah yang membangkang itu, ya Rasulullah?” Jawab beliau, “Yang taat kepadaku bakal masuk surga, dan yang mendurhakaiku (tidak mau mengikuti ajaranku), maka dialah yang membangkang itu.” [Hr. Bukhari dari Abu Hurairah]
Melahirkan Pemimpin Harapan Ummat
Seri Kepemimpinan Rasulullah - 1
Sekilas Perjalanan
Allah
telah menganugerahkan kemulian akhlaq dan kecerdasan akal kepada
Muhammad sejak kecil. Setiap orang yang melihatnya pasti akan segera
mengetahui keistimewaan anak ini dibanding dengan anak-anak yang lain.
Tidak heran jika sang kakek, Abdul Muthalib memberinya tempat paling
istimewa di hatinya. Pernah pada suatu hari, Muhammad kecil hendak
duduk di atas hamparan khusus milik kakeknya yang biasa digelar di
pelataran Ka’bah. Melihat itu, paman-pamannya segera menarik dan
menjauhkannya dari situ. Sebab, mereka sendiri sebagai putranya segan
duduk di atas alas khusus milik Abdul Muthalib itu. Akan tetapi, sang
kakek melarang cucunya dipindahkan, “biarkan saja, karena kelak dia akan memiliki sya’n (kedudukan penting).” Begitu kata kakeknya.
Sejak
kecil kepribadian Muhammad sudah terjaga. Tidak pernah terlibat dalam
kemerosotan moral dan prilaku tercela. Bahkan sekedar untuk ikut
bersenang-senang dalam sebuah hiburan pun Muhammad tidak terbiasa.
Pernah terbesit dalam benaknya keinginan untuk menonton sebuah pentas
nyanyian yang diselenggarakan oleh penduduk Mekah. Akan tetapi – atas
kehendak Allah – matanya digelayuti oleh rasa kantuk yang teramat
berat, sehingga Muhammad tertidur pulas dan baru terbangun pada
keesokan harinya ketika tubuhnya tersengat sinar matahari yang telah
beranjak naik. Meski pun tumbuh di lingkungan jahiliyah, di mana
praktek perjudian, makanan dan minuman haram adalah perkara lumrah.
Begitu juga persembahan kepada berhala bahkan menjadi kemestian. Namun
Muhammad tidak pernah terlibat dalam perbuatan kotor dan kepercayaan
bodoh tersebut.
Sebaliknya, di usianya yang masih sangat muda, Muhammad sudah mengukir prestasi gemilang dan mendapat julukan al-amin, orang yang sangat bisa dipercaya. Bermula dari pemugaran Ka’bah yang rusak akibat diamuk banjir. Ketika hendak meletakkan hajar aswad
di posisinya semula, terjadilah perselisihan bahkan nyaris menimbulkan
peperangan di antara kabilah-kabilah Quraisy. Masing-masing merasa
berhak untuk mendapatkan kehormatan meletakkan kembali hajar aswad.
Akhirnya disepakati, orang yang pertama kali masuk ke Baitullah dari
pintu Bani Syaibah adalah orang yang akan dijadikan hakim (penengah).
Ternyata orang itu adalah Muhammad. Begitu mereka melihat bahwa yang
masuk adalah pemuda yang terkenal baik dan terpercaya itu, mereka
berkata, “dialah al-amin (orang yang terpecaya), kami rela menjadikannya
sebagai penengah.” Muhammad kemudian membuat kebutusan yang sangat
bijak dan melegakan semua pihak. Beliau membentangkan kain selendangnya
dan meletakkan hajar aswad di atasnya, lalu kepada setiap
kabilah dimintanya untuk memegangi setiap ujungnya dan mengangkatnya
secara bersama-sama. Begitu batu hitam itu terangkat, maka Muhammad
segera mengambilnya dan meletakkannya di tempatnya semula. Sebuah
kecerdasan yang luar biasa. Dalam situasi genting, Muhammad hadir dengan
ide yang cemerlang sehingga berhasil mencegah pertumpahan darah.
Sejumput Pelajaran
Segala
keistimewaan yang dimiliki oleh Muhammad sejak kecil adalah merupakan
anugrah Allah sebagai pendahuluan bagi tugas kenabian dan
kerasulannya kelak. Semua itu adalah bagian dari irhaashat, yaitu
keistimewaan dan keluarbiasaan yang diberikan oleh Allah kepada
seorang anak manusia yang kelak akan dipilih-Nya sebagai nabi dan
pemimpin umat. Irhashot itu berbeda dengan keistimewaan atau keluarbiasaan yang dimiliki oleh anak indigo. Sebab, jika ditelusuri, keluarbiasaan anak-anak indigo
selalu mengarah kepada fitnah ummat. Keluarbiasaan mereka sering
dilatarbelakangi amalan-amalan menyimpang dari orang tuanya atau
mbah-buyutnya terdahulu. Atau bahkan ditunggangi oleh unsur sihir
(fitnah jin / setan) yang hendak menyesatkan manusia. Akibatnya, tidak
jarang anak yang dianggap indigo, meski pun berprilaku nyeleneh, dipercayai bisa melakukan tindakan supranatural (di luar kemampuan nalar dan tabiat manusia).
Keluarbiasaan
Muhammad sewaktu kecil murni anugerah Allah sehingga tumbuh dengan
perilaku yang jauh dari penyimpangan, baik dari segi akhlaq mau pun
akidahnya. Sebagai calon nabi, Muhammad telah dijaga oleh Allah bahkan
sejak dari asal-usul keturunan dan keluarganya. Dipilih dari kabilah
terbaik, keluarga terbaik dan orang tua terbaik. Allah telah
menjaganya dari segala keburukan yang bisa menodai kesempurnaan sosok
manusia teladan. Maka dia harus dihadirkan sebagai anak manusia yang
bersih keturunannya, bersih hatinya, bersih prilakunya. Dan, itu telah
mendapatkan pengakuan dari seluruh kaumnya sejak usianya yang masih
dini. Betapa tidak, dia akan dikirim sebagai sosok pelurus akidah,
penyempurna budi pekerti dan pemimpin ummat. Manalah mungkin dia bisa
memainkan peran mahapenting itu dan memberi sesuatu kepada orang lain,
apalagi kepada umat yang besar ini jika dirinya sendiri tidak memiliki
kesempurnaan itu.
Maka
demikian itulah sunatullah dalam memilih kepemimpinan. Calon-calon
pemimpin itu harus terjaga sejak dini dari prilaku tercela. Manakala
sang Nabi dijaga langsung oleh Allah, maka calon-calon pemimpin dari
ummatnya diamanatkan penjagaannya kepada orang tua, guru dan
lingkungan yang membesarkan dan mendidiknya. Sebab, setelah umat ini
ditinggal oleh pemimpin agungnya, Muhammad saw. kepemimpinan
selanjutnya bukan atas ketetapan wahyu dan penunjukan ilahiyah,
melainkan berdasarkan atas syura dan plihan ummat. Maka baik dan
buruknya kepemimpinan ummat amat bergantung kepada kualitas umat yang
melahirkan pemimpin-pemimpin itu. Sebagaimana pepatah Arab mengatakan,
“kaifamaa takuunu yuwalla ‘alaikum” [bagaimana kualitas kamu,
maka seperti itulah kepemimpinan terhadap kamu.” Sama makna dengan
pepatah bahasa Inggris, “Presiden is what the people are.” Jika
rakyatnya rendah kualitas, maka pemimpin yang dipilih dan diangkat
adalah orang yang rendah kualitasnya. Jika rakyatnya senang
sogok-menyogok, maka pilihannya akan jatuh kepada orang yang bisa
memberi sogokan dan bayaran ketika mau menjadi pemimpin.
Umat
Islam merindukan sosok pemimpin yang dibesarkan dari keluarga dan
lingkungan yang bersih dan mulia. Kemulian keluarga tidak diukur dengan
banyaknya harta dan tingginya pangkat. Sejarah umat Islam telah
membuktikan bahwa pemimpin ummat tidak selamanya harus datang dari
keluarga ningrat. Bahkan Nabi Muhammad saw. sendiri bukan keturunan
raja-raja yang datang untuk mengklaim kerajaan nenek moyangnya yang
hilang. Melainkan anak manusia biasa. Selagi umat Islam belum
mendapatkan kepemimpinan yang sholih dan beriman, jujur dan adil,
berilmu dan bijaksana, maka menjadi fardu ‘ain bagi setiap
rumah tangga muslim untuk mendidik dan melahirkan kepemimpinan seperti
itu. Sebab, pemimpin umat yang ideal itu bukanlah sosok misteri satrio paningit
yang turun dari langit, tidak muncul dari segara kidul, atau menyembul
dari kawah gunung merapi. Meski pun tidak mustahil jika sosok
pemimpin harapan umat yang dapat menjaga kebaikan agama dan dunianya
itu akan lahir dari sebuah rumah sederhana yang bersih dan mulia di
tengah umat yang sakit ini. Allaahumma aamiin! []
02 April 2013
Memohon Rasa Takut, Ketaatan dan Keyakinan kepada Allah serta Pertolongan-Nya
Doa yang perlu dihafal, mari kita renungkan dan amalkan...
اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُوْلُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ
وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ
وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا
وَمَتِّعْنِا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا
وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا
وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِيْ دِيْنِنَا
وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا
وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَخَافُكَ وَلاَ يَرْحَمُنَا
Ya Allah, berikan kepada kami dari rasa takut kami kepada-Mu sesuatu yang akan membentengi kami dari maksiat kepada-Mu,
anugerahkan kami dari ketaatan kami kepada-Mu sesuatu yang akan mengantarkan kami ke surga-Mu,
dan berikan untuk kami dari keyakinan kami kepada-Mu sesuatu yang akan meringankan kami dalam menghadapi musibah dunia.
Berikan kenikmatan pada pendengaran, penglihatan dan semua kekuatan dan potensi kami selama Engkau hidupkan kami, jadikan semua itu sebagai peninggalan kami.
Jadikan pembalasan kami hanya kepada orang yang telah menzhalimi kami,
tolonglah kami atas orang-orang yang memusuhi kami,
jangan Engkau jadikan musibah menimpa kami dalam agama dan iman kami,
jangan Engkau jadikan dunia ini sebagai puncak cita-cita dan ilmu kami,
dan jangan Engkau kuasakan kami kepada orang-orang yang tidak takut kepada-Mu dan tidak menyayangi kami.
















