Belajar, Berbagi, Melayani

  • KEAGUNGAN AL QURAN

    Al-Quran adalah cahaya yang menerangi kebutaan, penawar hati yang menyembuhkan penyakit dan kehampaannya, suguhan lezat bagi jiwa, taman indah sanubari, penuntun nurani menuju negeri yang damai.

  • BUAH TARBIYAH

    Kita bukanlah orang yang sudah benar-benar baik apalagi terbaik, melainkan hanya orang yang keburukannya tertutupi.

  • DOSA-DOSA YANG DIREMEHKAN

    Tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari 3 hari. Siapa yang mendiamkan saudaranya lebih dari 3 hari kemudian ia mati, maka ia masuk neraka.

  • CIRI PENGHUNI SURGA

    Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh. Inilah yang dijanjikan kepadamu.

  • SEREMONI

    Sejak pagi keluarga mempelai perempuan bersiap diri menyambut tamu yang telah lama dinanti-nanti. Akhirnya datang juga. Mempelai laki-laki dikawal rombongan sekeluarga.

10 November 2013

Motivasi Qurani-2: Apa yang dimaksud dengan ber-Al-Qur’an?

Ber-Al-Qur’an adalah memenuhi kewajiban terhadap Al-Qur’an sebagai konsekuensi keimanan (Rukun Iman ketiga). Kita telah mengikrarkan iman kita kepada kitab-kitab Allah, sedangkan Al-Qur’an adalah Kitab yang selalu terpelihara sampai akhir zaman sesuai firman-Nya: “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kamilah yang akan menjaganya”. 

Maka iman itu akan terbukti (kita disebut benar-benar beriman) manakala kita juga membenarkan di dalam hati dan mewujudkan dengan perbuatan. 

Ber-Al-Qur’an juga dimaknai dengan berinteraksi atau berakhlaq terhadap Al-Qur’an sebagai salah satu aspek Akhlaqul Karimah, yang mana batasan akhlak mulia menurut Mahmud Al-Mishri (di dalam bukunya Ensiklopedia Akhlak Muhammad saw.) mencakup berakhlak mulia terhadap Allah Sang Pencipta, terhadap Rasulullah saw., terhadap Kitab Suci, terhadap para malaikat, dan terhadap seluruh manusia. 

Akhlak mulia terhadap Al-Qur’an adalah dengan membaca dan merenungi setiap ayat-Nya. Selain itu mengaplikasikan ayat-ayat tersebut dalam kehidupan serta menjadikan nya sebagai penentu segala perkara, baik yang besar maupun yang kecil.

Dengan demikian, ber-Al-Qur’an adalah hidup di bawah naungan Al-Qur’an, yang dengan itu hidup Anda menjadi berkah dan segenap umur Anda manfaat. Apapun yang Anda alami dalam hidup ini Anda kaitkan dengan apa yang difirmankan Allah dalam Al-Qur’an. Dan apa yang Anda baca dari Al-Qur’an sebisa mungkin Anda hidupkan dalam kehidupan. Ayat-ayat itu akan terasa lebih hidup bagi Anda dan hidup Anda pun menjadi lebih hidup.



“Hidupkan Qur’an-mu, Qur’an-kan Hidupmu!”
Maksudnya, bacalah Al-Qur’an dengan penuh penghayatan dan kemudian jadikanlah hidup Anda bersinar dengan cahaya Al-Qur’an.
Share:

04 November 2013

Motivasi Qur'ani-1: Pendahuluan

Di antara kewajiban Anda terhadap Al-Qur'anul Karim ialah kita membaca dan menjadikannya sebagai bacaan harian. Namun tak sekedar membaca, melainkan Anda membacanya dengan bacaan yang benar menurut kaidah ilmu tajwid.
Omong-omong soal kewajiban “berakhlak” terhadap Al-Qur’an, kita saksikan Kaum Muslimin terbagi menjadi beberapa golongan.
Pertama, orang-orang yang sama sekali jauh dari Al-Qur’an. Jangankan untuk membaca dan mempelajarinya, menyentuhnya saja mungkin bisa dihitung dengan jari dalam seumur hidup mereka. Kita berdoa semoga Allah melimpahkan hidayah kepada kita dan mereka.
Kedua, mereka yang menjadikan Al-Qur’an sebagai ritual belaka. Di antara mereka ada yang amat berfokus mempelajari ilmu tilawah, melagukan serta melombakannya. Namun kebanyakan mereka terhenti pada aktivitas itu dan tidak memenuhi kewajibannya lebih lanjut. Ada kalangan yang begitu mengagungkan dan menyucikan fisik Al-Qur’an (mushhaf dan tulisannya), namun perilaku mereka tidak sejalan dengan nilai Al-Qur’an. Kita berlindung kepada Allah semoga tidak termasuk yang demikian. Sebab, boleh jadi kalangan semacam ini seperti yang disifati oleh Rasulullah SAW, “Suara mereka tidak dapat melewati tenggorokan mereka (tidak meresap dalam hati). Hati mereka dan orang-orang yang simpati kepada mereka telah terfitnah (keluar dari jalan yang lurus).” (Shahih Bukhari 4670; Musnad Ahmad 11150; Muwatha Imam Malik 428)
Ketiga, ada pula orang-orang yang menyikapi Al-Qur’an hanya dengan memahami dan mengamalkannya (menurut perkiraan mereka). Mereka tidak banyak membaca Al-Qur’an dan kurang memperhatikan kualitas bacaannya. Di antara mereka ada yang berkata, “Membaca Al-Qur’an itu tidak terlalu penting, yang penting adalah aplikasinya.”
Ketiga  kelompok tersebut semuanya merupakan kalangan yang tidak utuh dalam interaksinya dengan Al-Qur’an. Penyebab utamanya adalah dua hal: (1) Tidak diterimanya ilmu yang cukup tentang Al-Qur’an serta tuntutan iman terhadapnya; (2) Dominasi kerja akal yang hanya menikmati buah pikiran manusia. Yang pertama kita sebut penyakit syubhat, biasanya menimpa orang-orang awam yang kurang mendapatkan akses informasi dan pendidikan keislaman yang utuh sehingga mereka hanya mengikuti tradisi agama di lingkungannya. Dan yang kedua penyakit syahwat, biasanya menimpa orang-orang berpendidikan modern, termasuk di antaranya sebagian intelektual dan para aktivis muslim.
Motivasi Qur’ani merupakan sarana yang tepat dalam rangka mengobati kedua penyakit tersebut serta sangat sesuai diterapkan pada dua kalangan tersebut, yakni masyarakat umum dan kaum intelektual. Semoga hadirnya tulisan ini turut membantu menumbuhkembangkan dan meningkatkan keber-Al-Qur’an-an umat sehingga mereka termasuk dalam kelompok keempat, yakni orang-orang yang berusaha memenuhi kewajiban interaksinya terhadap Al-Qur’an secara sempurna. Amin. []
Share:

06 Oktober 2013

Menyelaraskan Keinginan Diri dengan Kehendak Ilahi




ارادتك التجريد مع اقامة الله اياك في الاسباب من الشهوة الخفية، وارادتك الاسباب مع اقامة الله اياك في التجريد انحطاط عن الهمة العلية.

Keinginanmu untuk lepas dari urusan duniawi padahal Allah membekalimu dengan sarana penghidupan, adalah syahwat yang samar. Sedangkan keinginanmu untuk mendapatkan sarana penghidupan padahal Allah telah melepaskanmu dari urusan duniawi, adalah suatu kemunduran dari cita-cita yang tinggi.
[Ibnu Athoillah, Al Hikam 002]


Luar biasa kalimat di atas, bisa dimengerti tapi sulit dijelaskan. Pada intinya, kita semestinya bersyukur dan ridho dengan kondisi dan kedudukan di mana Allah menempatkan kita, termasuk bersyukur dengan kondisi sarana penghidupan kita saat ini.

Jika Allah memposisikan kita sebagai pengusaha atau pekerja yang tugasnya mencari penghidupan dan dengan itu kita menjadi bermanfaat, maka tidak selayaknya kita meninggalkan kehidupan itu untuk menjadi ahli ibadah saja.

Sebaliknya, jika Allah telah menempatkan kita sebagai seorang ahli ibadah, pencari ilmu dan orang yang senantiasa disibukkan dengan urusan dakwah dan perjuangan, yang dengan itu sarana penghidupan kita menjadi tidak pasti namun tetap terjamin seiring keyakinan kepada Allah, maka meninggalkan kehidupan itu demi mencari sarana penghidupan yang pasti adalah suatu kemunduran dan penurunan cita-cita yang luhur.

Singkatnya, setiap orang terlahir ke dunia ini membawa tugasnya masing-masing yang berbeda satu sama lain. Dan kita harus merenungkan lagi dan lagi tentang misi hidup kita serta peran yang Allah inginkan untuk kita. Misi hidup tak perlu lagi dirumuskan karena Allah sudah menetapkannya untuk kita: ibadah. Namun peran kita untuk memaksimalkan ibadah itulah yang perlu kita temukan dalam perenungan panjang: "Sebenarnya Allah menginginkan saya untuk menjadi apa?".

Ukurannya adalah kenyamanan kita dengan peran yang sedang dijalani. Namun maksud kenyamanan di sini bukanlah kenyamanan dalam arti bermalas-malasan atau memanjakan hawa nafsu. Dan bukan juga kenyamanan dalam arti melakukan peran tanpa mau mengambil resiko. Kenyamanan di sini lebih diartikan dengan kesesuaian "panggilan jiwa", sesuatu yang benar-benar menggambarkan apa yang ingin kita lakukan dan tak ada beban atau tekanan perasaan dalam menjalaninya. Sekali lagi, semua ini memerlukan pemikiran dan perenungan yang mendalam. Wallahu a'lam. []
Share:

05 Oktober 2013

Pahala Jariyah yang Tak Kita Sadari



Oleh: Ust. Zulfi Akmal

Rasulullah bersabda: "Orang terbaik itu adalah orang yang bila kamu melihatnya kamu akan teringat kepada Allah".

Dalam pelajaran malam kemarin saya mendapatkan pelajaran baru dari Syekh. Beliau menceritakan pengalamannya:

Dulu pada tahun 70-an ketika aku masih duduk di bangku kuliah, setiap hari aku satu mobil dengan seseorang yang sampai hari ini tidak aku kenal dan dia tidak mengenalku. Orang itu selalu di atas mobil memegang tasbih sambil berzikir.

Karena setiap hari melihat pemandangan seperti itu, apa yang ia lakukan itu berbekas di dalam hatiku. Hingga akhirnya aku menirunya berzikir, sekalipun tidak pakai tasbih. Sampai hari ini kebiasaan itu sudah lengket pada diriku dan orang itu masih jadi inspirasi bagiku sekalipun sudah berlalu 40 tahun.

Insyaallah, orang itu akan mendapatkan kiriman pahala terus tanpa dia mengatakan dan mengajariku sesuatu selain perbuatannya yang sangat berbekas di hatiku.

Ada pelajaran yang dapat saya ambil dari kisah beliau ini:
  1. Amalan yang ikhlas akan memberikan pengaruh positif kepada orang lain, sekalipun sang pelaku tidak menyadari.
  2. Nasehat melalui perbuatan dan contoh jauh lebih baik dari pada bicara.
  3. Mungkin saja orang yang tidak "dianggap" bisa menginspirasi orang lain, bahkan merubah alur hidup orang lain.
  4. Tidak ada salahnya kita memperlihatkan amalan kepada orang lain, karena ikhlas itu ada di hati. Sekalipun disembunyikan belum tentu juga selamat dari riya', bahkan bisa jadi jatuh kepada dosa yang lebih parah dari itu, yaitu 'ujub.
  5. Orang yang riya tidak akan mungkin mampu konsisten dalam suatu amal kebaikan. Oleh karena itu hancurkanlah bisikan untuk riya' dengan amal yang berkesinambungan tanpa putus.

Share:

17 Agustus 2013

Sang Pemadam Api Permusuhan

Seri Kepemimpinan Nabi - 3
Oleh: Ust. Hamim Thohari

Penyulut Perang
Tidak bisa dipercaya jika sang penyulut perang itu adalah kaum yang paling mengerti agama, paling tahu baik dan buruk. Tapi itulah kenyataannya, kecamuk perang saudara yang diwariskan secara turun temurun di bumi Yatsrib ternyata disulut oleh tangan-tangan kaum yang mengaku sebagai bangsa pilihan tuhan. Maka perang antara dua suku besar, Khazraj dan Aus seakan tidak ada habisnya. Meski sesungguhnya, mereka telah lelah berperang. Jiwa mereka telah meronta dan mencari-cari jalan keluar. Namun pangkal jalan keluar itu belum juga mereka temukan.

Nasib bangsa Arab Yatsrib bagaikan itik yang berenang di sungai namun mati kehausan. Hidup bertentangga dengan kaum yang dianggap paling mengerti nilai-nilai kebaikan, tidak menjamin mereka mendapat pencerahan dan keluar dari krisis permusuhan. Alih-alih menjadi pereda permusuhan, kaum Yahudi Yatsrib malah menjadi penyulut permusuhan dan dalang di setiap kecamuk peperangan di antara suku Khazraj dan Aus. Rupanya, mereka meraup keuntungan dari perang saudara itu dengan berdagang senjata atau memberi hutangan kepada pemuka-pemuka suku yang hartanya habis terkuras untuk biaya perang atau untuk sekedar berfoya-foya. Tidak sedikit tanah dan kebun milik kepala suku berpindah tangan kepada kaum Yahudi akibat terjerat hutang yang berbunga sangat mencekik. Praktek riba oleh kaum Yahudi Yatsrib sudah sangat menggurita dan mencengkeram kedua suku besar bangsa Arab Yatsrib. Tidak heran jika kemudian urusan perang dan damai di tanah Yatsrib ada di tangan mereka.

Keadaan inilah yang mendorong sekelompok pemuda suku Khazraj untuk mencari pemimpin yang ideal. Meskipun hampir saja mereka mengangkat Abdullah bin Ubay bin Salul sebagai raja yang disepakati oleh kedua suku besar, namun mereka belum sepenuhnya percaya bahwa orang ini akan mampu membawa Yatsrib keluar dari krisis berkepanjangan. Buktinya, mereka masih mencari pemimpin lain yang lebih dipercaya. Apalagi mereka sering mendengar dari kaum Yahudi bahwa tidak lama lagi akan datang seorang nabi yang akan memimpin mereka untuk memerangi dan membinasakan bangsa lain selain Yahudi. Maka di musim haji tahun 11 setelah kenabian, enam pemuda Yatsrib dari suku Khazraj telah menerima dakwah Muhammad. Salah seorang dari mereka berkata, “Wahai kaumku, inilah nabi yang selalu disebut-sebut oleh kaum Yahudi untuk menakut-nakuti kalian. Jangan biarkan mereka mendahului kita. Segeralah mengikuti dakwahnya dan berislam!”

Mereka adalah pemuda-pemuda cerdas Yatsrib yang lelah dengan perang saudara yang tidak berkesudahan. Muak dengan kaum beragama sekutu dan tentangga mereka namun tidak pernah membawa solusi malah menjadi duri. Dengan mengikuti Muhammad, mereka berharap perdamaian dapat dihadirkan. Maka oleh-oleh haji mereka pada tahun itu adalah cahaya Islam. Nama Muhammad kemudian menjadi buah bibir di setiap rumah penduduk Yatsrib. Pada dua kali musim haji sesudah itu, utusan dari Yatsrib terdiri dari perwakilan suku Khazraj dan Aus datang untuk memberikan janji setia dan pembelaan kepada Muhammad dalam peristiwa yang dikenal dengan Baiat Aqabah pertama dan Baiat Aqabah kedua. Di antara butir perjanjian itu adalah “bahwa kalian mesti menolongku jika aku (Muhammad) datang kepada kalian, melindungiku seperti kalian melindungi jiwa-jiwa kalian, istri-istri dan anak-anak kalian. Sedangkan balasan buat kalian adalah surga.”

Sang Pemadam itu Datang
Sosok pemimpin yang diharapkan akan menjadi pemadam api permusuhan dan penebar rahmat itu pun datang. Penduduk Yatsrib menyembutnya dengan penuh suka cita sambil menyanyikan bait-bait syair penyambutan (dikenal dengan syair thala’al badru):
Purnama raya telah menyinari kami / Yang terbit dari arah Tsaniya al-Wada’/ Segala yang diserukannya karena Allah/ Sudah semestinya kami syukuri/ Wahai Utusan yang diutus untuk kami/ Kau datang untuk kami taati

Muhammad datang tidak sendirian. Sebelum dan sesudahnya ada pengikut-pengikutnya dari Mekah. Mereka yang berhijrah dari Mekah dikenal sebagai kaum Muhajirin dan saudara-saudara penolongnya  di Yatsrib dikenal sebagai kaum Anshor. Kedatangan mereka dalam jumlah besar di negeri dan lingkungan baru, tentu saja bukan tanpa persoalan. Paling mendesak adalah kebutuhan makan dan papan buat mereka. Di sinilah kepemimpinan Muhammad mulai teruji. Sebagai mana yang sering berlaku, kaum pengungsi sering menimbulkan permasalahan bagi penduduk lokal. Tapi dalam kasus hijrahnya Muhammad dan Sahabat-sahabatnya ini, sejarah telah menyaksikan nilai-nilai kemanusiaan universal disemai hingga tumbuh dan berkembang menjadi tuntunan abadi.

Muhammad telah berhasil mempersaudarakan satu persatu pengikutnya di antara kaum Muhajirin dan Anshor. Diikat dengan tali iman, diayomi di bawah keteduhan masjid dan dipelihara dengan keteladanan sang pemimpin. Belum pernah tercatat dalam sejarah mana pun ada persaudaraan seindah apa yang dibangun oleh Muhammad. Hingga seorang sahabat Anshor, Saad bin Rabi’ berkata kepada sahabatnya yang dipersaudarakan dari kaum Muhajirin, Abdur Rahman bin Auf, “saya orang Anshor yang paling berharta, separuh harta saya untuk kamu. Dan, istri saya dua, lihat mana yang paling menarik buatmu, saya akan ceraikan dan sesudah habis masa iddahnya silahkan kamu nikahi.” Mendapat tawaran begitu, sahabat ini tidak serta merta menerima, bahkan dengan santun menolaknya, “Semoga Allah memberkati harta dan keluarga Anda, saya hanya ingin tahu di mana pasar?” Sejarah kemudian mencatat Abdur Rahman bin Auf menjadi saudagar kaya raya hasil dari jerih payahnya sendiri.

Yatsrib benar-benar telah berubah. Api permusuhan telah dipadamkan. Luka akibat perang saudara selama bergenerasi telah disembuhkan. Dua suku besar yang bermusuhan ditambah dengan saudara-saudara pendatang baru mereka telah menjadi satu tubuh. Mereka mulai belajar dan merasakan indahnya hidup rukun berdampingan dan saling menguatkan dalam membela kebenaran dan melawan kezaliman. Yatsrib pun diganti namanya menjadi Madinah, sebagai simbol perubahan dari kehidupan tanpa aturan kepada kehidupan berberadapan dan beraturan. Dari kehidupan tanpa arah yang jelas kepada kehidupan yang terarah dan tertib dibawah hukum dan syariat Islam.

Semua yang mendiami bumi Yatsrib, baik yang beriman mau pun yang masih ragu-ragu, Yahudinya atau pun kaum musyriknya sekalian, diajak untuk hidup rukun berdampingan di bawah kepimpinan Muhammad saw. Para ahli sejarah mengakui bahwa butir-butir perjanjian yang dibuat oleh Muhammad bersama seluruh elemen masyarakat Madinah -- kemudian dikenal dengan sebutan Piagam Madinah -- bersifat universal dan ultra modern. Di antara bunyi perjanjian itu adalah: “Kaum Yahudi Dari Bani Auf adalah satu umat dengan mukminin. Bagi kaum Yahudi agama mereka, dan bagi kaum mukminin agama mereka. Juga (kebebasan ini berlaku) bagi sekutu-sekutu dan diri mereka sendiri, kecuali bagi yang dzalim dan jahat. Hal demikian akan merusak diri dan keluarganya.” Kemudian diikuti butir selanjutnya, “Kaum Yahudi Bani Najjar, Yahudi Bani Al Haris, Yahudi Bani Sa’idah, Yahudi Bani Jusyam … diperlakukan sama seperti Yahudi Bani Auf.”Dari sebagian butir-butir perjanjian ini berarti bahwa Muhammad tidak hanya memberi hak kebebasan dan perlindungan kepada suku besar Kaum Yahudi saja bahkan keluarga-keluarga kecil mereka yang terpencar-pencar di seantero tanah Yatsrib pun mendapatkan hak yang sama.

Ajaran Muhammad mempertautkan yang menganga dan mengobati yang terluka. “Janganlah kebencianmu kepada suatu kaum, mendorongmu untuk tidak bersikap adil. Bersikaplah adil karena itu lebih dekat kepada taqwa.” (Qs. 2: 237) Juga mengajarkan toleransi yang benar dan terhormat. “Bagimu agama-mu dan bagiku agamaku.” (Qs.109: 06) Bukan asimilasi agama, pencampuradukan praktek ibadah dan pembauran keyakinan, karena toleransi seperti itu sejatinya adalah penghinaan bukan pengakuan terhadap keyakinan orang lain. Toleransi ala Muhammad justru memberi ruang untuk saling memegangi kebenarannya masing-masing setelah saling beradu hujjah yang tegas dan nyata. Agar disebut toleran tidak perlu mengundang kaum Yahudi untuk beribadah di Masjid dan memaksakan orang Islam beribadah di Sinagog.

Sejumput Pelajaran
Umat Islam sejak dilahirkan telah dididik untuk hidup rukun berdampingan dan berkongsi ketentraman dengan orang lain. Dalam perbendaraan kosakata Islam sangat mudah dijumpai ajaran-ajaran universal yang sangat dibutuhkan oleh manusia sejagat: keadilan, kerukunan, kesatuan, kehormatan, keamanan dan kebahagiaan. Dalam peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad saw. ke Madinah telah dibuktikan komitmen beliau kepada nilai-nilai universal itu. Bagaimana beliau mampu memadamkan api permusuhan dan mempertautkan dua budaya berbeda kaum Anshor dan Muhajirin, bahkan tetap memberi perlindungan dan kebebasan kepada unsur-unsur yang berpotensi membuat keretakan. Maka soal hidup rukun dengan orang lain sambil berpegang kepada agama masing-masing bukan perkara baru bagi ummat Islam. Tidak selayaknya umat Islam menjadi tertuduh sebagai kelompok yang tidak bisa hidup rukun dan toleran. Maka umat Islam tidak perlu diajari tentang perkara itu, karena telah mempraktekkanya di saat semua peradaban bangsa-bangsa di dunia meninggalkanya. Sebaliknya, orang lainlah yang harus belajar dari umat Islam tentang hal itu. []
Share:

12 Agustus 2013

Seremoni


Prosesi pernikahan itu berjalan normal. Seperti umumnya. Sejak pagi keluarga mempelai perempuan bersiap diri menyambut tamu yang telah lama dinanti-nanti. Akhirnya datang juga. Mempelai laki-laki dikawal rombongan sekeluarga. Begitu berseri wajahnya walau mungkin “dag dig dug” di hatinya. Tapi tetap ia coba menampakkan kesan yakin, optimis, percaya diri. Kebahagiaan sejati tinggal selangkah lagi.
Hadirlah saya di sana. Duduk di antara para hadirin, saya mengambil posisi yang nyaman, jauh dari pusat keramaian. Kopiah telah terpasang rapi. Ternyata baju terlihat agak kusut. “Ah, cuma sedikit, tak masalah.” Demam panggung kerap menjadi momok sesaat. Aneh, padahal begitu sering saya bicara di atas mimbar.
Sepasang mempelai sudah siap. Petugas KUA sibuk membolak-balik dokumen. Para saksi (formal) juga telah menempati posisinya masing-masing.
Kini giliran saya. Majulah saya tampil di hadapan para hadirin. Seketika mereka menenangkan dirinya masing-masing, menyimak lantunan ayat-ayat yang saya bacakan. Itulah di antara “aktivitas” saya beberapa tahun terakhir, menjadi pembaca Al-Qur’an dalam seremoni.
Sebagian teman mengenal saya sebagai “tukang” baca Al-Qur’an. Biasanya saya diminta jadi qari dalam seremoni pembukaan berbagai kegiatan. Seolah itu sudah menjadi “cap” pada diri saya, sejak masih di SMA dulu, saat saya kuliah, dan sampai kini cap itu masih dipertahankan. Bagi saya, no problem. Mungkin itulah yang bisa saya lakukan di panggung da’wah. Mereka senang diperdengarkan bacaan Al-Qur’an dan saya pun suka membacakannya. Hingga suatu saat, saya ditugasi sebagai qari dalam acara pengajian di masjid dekat rumah. Dalam kajian, Ustadz yang menjadi pemateri mengritik soal acara pembacaan Al-Qur’an. Sebenarnya dia mengritik fenomena umat muslim pada umumnya. “Sekarang ini,” katanya, “Al-Qur’an hanya formalitas. Kalau ada acara-acara seperti ini, Al-Qur’an dibaca, tapi di rumah tidak pernah baca. Kenapa tadi si qari tidak baca artinya sekalian? Jadi semua orang bisa paham.”
Alasan itu bisa diterima, walaupun berbeda nilai dan rasanya antara membaca Al-Qur’an dan membaca terjemahnya, termasuk dalam mendengarkannya. Bagaimanapun, manfaat itu bisa diraih jika interaksi dengan Al-Qur’an dilakukan secara utuh. Sehingga ketika membaca atau menyimak Al-Qur’an, ada sensasi atau perasaan unik yang dialami, seolah “kita keluar dari dunia nyata memasuki alam yang berbeda”. Ini bukan tentang hipnotis atau pengembaraan alam bawah sadar, tapi lebih merupakan kekhusyu’an. Ya, membaca Al-Qur’an memang ibadah, dan ia adalah bentuk dzikir yang utama.
“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenanglah kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tiada seorang pemberi petunjuk pun baginya.” (Az-Zumar: 23)
Akhirnya, seremoni itu selesai juga, lancar. Sepasang pengantin telah bersanding dan para hadirin pun memberi ucapan selamat. Setelah itu mereka mulai antre menikmati hidangan. Di sela-sela itu, seorang perempuan – sedikit lebih muda dari saya – mendekati. “Pak, tadi yang dibaca surat apa ya?” ia bertanya. “Surat An-Nuur ayat 30 sampai 35,” jawab saya. Kuat dugaan saya, ia terdorong untuk bertanya karena saya bacakan juga terjemah ayat-ayat itu, langsung saya bacakan sendiri.
Ia bukanlah seorang perempuan berjilbab. Saat itu pun ia hanya menyelendangkan kerudungnya. Tapi ayat yang ia tanyakan – yakni yang saya bacakan – di antaranya ialah tentang interaksi lawan jenis, seruan menutup aurat, seruan agar kaum perempuan tidak menampakkan “perhiasan”nya kepada mereka yang tidak berhak. Saya berpikir, mungkin ayat-ayat seputar tema itu, seperti juga Al-Ahzab ayat 59, belum pernah didengarnya. Mungkin ayat-ayat ini, juga ayat Al-Qur’an seluruhnya, jarang disuarakan dengan lantang. Mungkinkah ia “dikalahkan” oleh suara-suara lainnya?
Dan orang-orang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al-Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka.” (Fushshilat: 26)
Tentu saja Al-Qur’an tak akan dapat dikalahkan oleh kalimat-kalimat lainnya. Tapi kenyataan dalam mana seruan selain Al-Qur’an lebih keras gaungnya, menjadi ujian bagi kita umat yang memikul amanah superberat ini. Seremonial Al-Qur’an seperti yang saya kemukakan bukannya tak berarti apa-apa. Ia tetap perlu sebagai syi’ar. Tapi perlu juga disadari bahwa gaung Al-Qur’an jangan sampai hanya ada dalam seremoni-seremoni, jangan hanya terpojok di sudut-sudut masjid dan forum terbatas. Sebab, Al-Qur’an adalah pedoman kita umat manusia dalam mengarungi kehidupan yang penuh tantangan ini.
Seluruh rangkaian hidup ini adalah ujian buat kita. Ujian yang hanya sekali, tak ada ujian susulan atau perbaikan. Setelah mati, kita tinggal menunggu saja, layakkah kita mendapat surga ataukah sebaliknya. Semua itu ditentukan oleh “kinerja” kita, bagaimana kita menempuh ujian-ujian itu. Dan sebenarnya cara menjawab “soal-soal” ujian itu telah diberikan oleh Allah SWT yang memberikan ujian. Kunci jawaban itu adalah Al-Qur’an. Masih perlu contoh? Allah berikan juga contohnya untuk kita. Adalah Rasulullah SAW, “Kaana khuluquhul qur’an, akhlaknya adalah Al-Qur’an.” demikian papar ‘Aisyah RA. Apa yang kurang? Yang kurang adalah kemauan kita. []
Share:

Pemimpin Sejati Tak Lahir dari Gemerlap Harta

Seri Kepemimpinan Nabi - 2



Sekilas Perjalanan
Suku Quraiys adalah suku paling mulia di kalangan bangsa Arab, dan di antara keluarga-keluarga besar yang berafiliasi kepada suku Quraisy, maka Baniy Hasyimlah yang dipandang paling bersih dan terhormat. Mengenai hal itu, Rasulullah saw. – dalam sebuah riwayat dari Abbas – pernah bersabda: "Allah telah menciptakan makhluq-Nya dan saya dipilih sebagai yang terbaik dari mereka, terbaik di antara berbagai kelompok, bahkan terbaik dari dua kelompok. Lalu dipilih  kabilah-kabilah terbaik, maka saya dipilih dari kabilah terbaik. Kemudian dipilihlah keluarga-keluarga terbaik, dan saya dipilih dari keluarga terbaik. Maka saya adalah pribadi yang terbaik dari keluarga terbaik."  [Hr. Tumudzi dan shahih sanadnya] Demikian mulia dan bersihnya keluarga Muhammad, hingga tidak ada yang bisa menyerang Muhammad dari sisi keturunannya.

Muhammad, manusia pilihan itu adalah anak manusia biasa. Lahir di tengah Keluarga sederhana bahkan miskin. Begitu lahir sudah menjadi yatim. Ayahnya meninggal, saat buah cintanya itu baru dua bulan dalam kandungan ibunya. Menginjak umur 6 tahun, ibunya pun menyusul sang ayah. Lengkaplah penderitaan dan kepahitan Muhammad, sejak kecil telah kehilangan kehangatan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Tugas mengasuh berpindah kepada kakeknya, Abdul Muthalib. Namun hanya dua tahun lamanya, sang kakek keburu dipanggil menghadap sang Khaliq. Kemudian Muhammad kecil diasuh oleh pamannya yang terbilang paling miskin, Abu Thalib. Namun kemiskinan sang paman tidak membuatnya miskin cinta dan kasih sayang untuk Muhammad kecil. Sebagaimana kemiskinan keluarga ini pun tidak membuat mereka menjadi miskin kemulian dan kehormatan karena mereka tidak pernah menghinakan diri dengan meminta-minta atau menagih simpati orang lain atas nama kemiskinan.


Sejumput Pelajaran
Umat Islam, secara garis keturunan memang bukan seluruhnya bernasab kepada Muhammad saw. Namun setiap manusia yang beriman kepadanya  --  tanpa memandang suku, bangsa, bahasa dan warna kulitnya – telah menerima berkah kemuliaan sebagai keluarga dan ummat Muhammad, saw.  Atas hikmah Allah yang Mahabijak, umat Islam berada di bawah payung petunjuk sosok manusia paling sempurna dan paling layak untuk dijadikan teladan. Tentu tidak pantas, umat yang bergelar khairu ummah (ummat terbaik, Qs. 3: 110) ini diafiliasikan kepada sosok manusia yang tidak jelas asal usul keturunannya bahkan tercemar nasabnya.  

Dahulu pepatah Arab mengatakan, فاقد الشيء لا يعطي - "yang tidak mempunyai apa-apa tidak akan bisa memberi.” Dalam pribadi Muhammad terdapat segala sisi kebaikan yang bisa diberikan kepada ummat manusia sebagai contoh dan keteladanan yang tidak ada habisnya sepanjang zaman. Muhammad tidak meninggalkan harta, lahir dalam keadaan miskin, meninggal pun dalam keadaan miskin. Namun kekayaan Muhammad adalah kemuliaan dan keteladanan. Dari Nasabnya yang bersih dan mulia, hingga prilakunya yang tanpa cela. Itulah sumber mata air kebaikan yang tidak akan pernah kering hingga hari Kiamat. Itulah kekayaan yang tidak dapat disamakan dengan kekayaan apa pun di dunia ini. Apalagi hanya sebentuk materi yang sebentar kemudian akan lenyap.

Muhammad dibesarkan oleh sosok pribadi-pribadi mulia yang kaya hati dan cinta, kaya jiwa dan sifat-sifat mulia. Dibesarkan dengan keadaan serba kekurangan dan jauh dari kemewahan, membuat sosok Muhammad sebagai pribadi mandiri. Untuk sekedar mendapat upah sekeping dua keping dirham, dia bekerja sebagai penggembala kambing milik penduduk Mekah. Bagaimana pun, kemiskinannya tidak dijadikannya sebagai alasan untuk mencuri dan menyelewengkan sekecil apa pun amanat yang diberikan kepadanya. Sebab itu banyak penduduk Mekah yang mau menitipkan barang-barangnya untuk dijagakan oleh Muhammad. Kepercayaan itulah yang membuatnya dijuluki al-amin (orang yang sangat bisa dipercaya). Karena amanah dan kejujurnnya, bahkan janda kaya seperti Khadijah pun jatuh hati kepadanya dan mau menikah dengannya, setelah mengamati sepak terjangnya ketika mengelola barang dagangannya.

Semua liku-liku kehidupan yang dijalaninya sejak kecil itu sesungguhnya merupakan design tarbiyah rabbaniyah untuk mengantarkannya sebagai  pemimpin hebat yang tak tertandingi sepanjang masa. Bahkan sebagai sunnatullah abadi, “Barangsiapa yang berbuat kebajikan (amal shalih), baik laki-laki atau pun perempuan dan dia itu beriman, maka benar-benar akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri mereka balasan lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan..” (Qs. 16: 97) Kaedah ini berlaku kepada siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Bahwa untuk menjadi pemimpin yang baik dan umat yang baik haruslah dipersiapkan sejak dini segala sisi kebaikannya.

Pemimpin sejati bukan dilahirkan dengan uang. Umat yang baik bukan dibangun dengan iming-iming materi dan taburan pundi-pundi. Sebab, pemimpin yang begini hanya akan menjadi pecundang, dan rawan untuk dikutuk dan disumpahserapahi oleh rakyatnya yang kecewa. Baik pemimpin atau rakyat yang dilahirkan dari proses yang tidak wajar seperti itu, akan menjadi sekelompok manusia yang paling lemah dan bobrok. Tidak mempunyai mental juang dan semangat membangun bangsanya dengan kehormatan. Asalkan meraup keuntungan materi, meski pun harus mengemis, bahkan mencuri sekali pun tidak menjadi masalah.

Al-Qur’an dengan gamblang telah memotret bagaimana bobroknya mental masyarakat yang berorientasi kepada materi semata-mata. Sepintas mereka bersemangat untuk berjuang, membela yang benar dan kepentingan wong cilik, tetapi ketika benar-benar dihadapkan kepada realitas perjuangan, mereka pun mundur. Dan, amat sedikit yang sanggup bertahan. (Qs. 2: 246) Mereka menjadikan kekayaan sebagai syarat utama kepemimpinan, sehingga memandang rendah seorang pemimpin yang tidak mempunyai harta meski pun punya kualitas ilmu di samping kekuatan fisik. (Qs. 2: 247)

Rasulullah, saw. memimpin bukan berangkat dari kekayaan, bukan menabur janji-janji manis untuk memberi berbagai fasilitas dan kekayaan. Meskipun kebanyakan pengikut Muhammad waktu itu berasal dari kalangan rakyat jelata, wong cilik, orang miskin bahkan hamba sahaya, tetapi mereka tidak kesengsem dakwahnya karena janji-janji materi dan iming-iming uang. Sebab, mereka tahu muhammad sejak kecil bukan orang kaya, tidak mempunyai kekayaan seperti tokoh-tokoh Quraisy yang disegani. Muhammad hanya punya kejujuran, kemuliaan dan kesanggupan untuk berkorban demi apa yang diyakininya benar. Terbukti dari ucapannya di hadapan Abu Tholib, “Wahai Paman, kalau pun mereka bisa memberiku matahari hingga diletakkan di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, lalu aku harus meninggalkan dakwahku, sungguh itu tidak akan kulakukan hingga Allah menentukan akhir dari urusan ini.”

Mereka tahu Muhammad memimpin bukan untuk mencari uang, pangkat atau tujuan duniawi apa pun. Sebab jika itu yang dicari, maka dia akan akur dan menerima apa yang ditawarkan oleh kaum Qurays kepadanya, “jika mau kekayaan kami siap mengumpulkan sebanyak apa pun harta kekayaan yang Anda inginkan, jika ingin menjadi raja kami siap mengangkat Anda menjadi raja, jika ingin wanita kami siap mencarikan wanita Arab mana yang paling cantik…” Kemuliaan dan kebersihan jiwa sosok pemimpin seperti Muhammad inilah yang membuatnya terus dicintai oleh pengikutnya sepanjang zaman. Berbeda dengan pemimpin-pemimpin yang lahir dari janji-janji serba materi, Muhammad selalu disebut-sebut oleh pengikutnya dengan doa dan kebaikan setiap waktu sepanjang masa, sementara pemimpin yang tidak berkualitas dan hanya karena faktor duit, akan disumpahi oleh pengikutnya sendiri setiap kali namanya disebut.

Biarlah orang bukan sebagai keturunan keluarga ningrat dan berdarah biru, biarlah dia sebagai anak seorang petani kecil bahkan tidak punya sepetak sawah pun, tapi cukuplah baginya untuk mendapat kemulian abadi dengan membenarkan kenabian Muhammad dan mengikuti ajarannya. Siapa pun orangnya, dari keturunan jenis manusia seperti apa pun, berhak menyandang kemuliaan sebagai bagian dari khairu ummah asalkan bergabung dalam kafilah ummat Muhammad untuk “menganjurkan kebaikan, mencegah keburukan dan beriman kepada Allah.” (Qs. 3: 110) Cukuplah kemuliaan itu diperoleh dari menjadi bagian Umat Muhammad yang telah dijanjikannya surga. sabda beliau, “Semua umatku bakal masuk surga, kecuali yang membangkang.” Sahabat bertanya, “Siapakah yang membangkang itu, ya Rasulullah?” Jawab beliau, “Yang taat kepadaku bakal masuk surga, dan yang mendurhakaiku (tidak mau mengikuti ajaranku), maka dialah yang membangkang itu.” [Hr. Bukhari dari Abu Hurairah]
Share:

Melahirkan Pemimpin Harapan Ummat


Seri Kepemimpinan Rasulullah - 1


Sekilas Perjalanan

Allah telah menganugerahkan kemulian akhlaq dan kecerdasan akal kepada Muhammad sejak kecil. Setiap orang yang melihatnya pasti akan segera mengetahui keistimewaan anak ini dibanding dengan anak-anak yang lain. Tidak heran jika sang kakek, Abdul Muthalib memberinya tempat paling istimewa di hatinya. Pernah pada suatu hari, Muhammad kecil hendak duduk di atas hamparan khusus milik kakeknya yang biasa digelar di pelataran Ka’bah. Melihat itu, paman-pamannya segera menarik dan menjauhkannya dari situ. Sebab, mereka sendiri sebagai putranya segan duduk di atas alas khusus milik Abdul Muthalib itu. Akan tetapi, sang kakek melarang cucunya dipindahkan, “biarkan saja, karena kelak dia akan memiliki sya’n (kedudukan penting).”  Begitu kata kakeknya.

Sejak kecil kepribadian Muhammad sudah terjaga. Tidak pernah terlibat dalam kemerosotan moral dan prilaku tercela. Bahkan sekedar untuk ikut bersenang-senang dalam sebuah hiburan pun Muhammad tidak terbiasa. Pernah terbesit dalam benaknya keinginan untuk menonton sebuah pentas nyanyian yang diselenggarakan oleh penduduk Mekah. Akan tetapi – atas kehendak Allah – matanya digelayuti oleh rasa kantuk yang teramat berat, sehingga Muhammad tertidur pulas dan baru terbangun pada keesokan harinya ketika tubuhnya tersengat sinar matahari yang telah beranjak naik. Meski pun tumbuh di lingkungan jahiliyah, di mana praktek perjudian, makanan dan minuman haram adalah perkara lumrah. Begitu juga persembahan kepada berhala bahkan menjadi kemestian. Namun Muhammad tidak pernah terlibat dalam perbuatan kotor dan kepercayaan bodoh tersebut. 

Sebaliknya, di usianya yang masih sangat muda, Muhammad sudah mengukir prestasi gemilang dan mendapat julukan al-amin, orang yang sangat bisa dipercaya. Bermula dari pemugaran Ka’bah yang rusak akibat diamuk banjir. Ketika hendak meletakkan hajar aswad di posisinya semula, terjadilah perselisihan bahkan nyaris menimbulkan peperangan di antara kabilah-kabilah Quraisy. Masing-masing merasa berhak untuk mendapatkan kehormatan meletakkan kembali hajar aswad. Akhirnya disepakati, orang yang pertama kali masuk ke Baitullah dari pintu Bani Syaibah adalah orang yang akan dijadikan hakim (penengah). Ternyata orang itu adalah Muhammad. Begitu mereka melihat bahwa yang masuk adalah pemuda yang terkenal baik dan terpercaya itu, mereka berkata, “dialah al-amin (orang yang terpecaya), kami rela menjadikannya sebagai penengah.” Muhammad kemudian membuat kebutusan yang sangat bijak dan melegakan semua pihak. Beliau membentangkan kain selendangnya dan meletakkan hajar aswad di atasnya, lalu kepada setiap kabilah dimintanya untuk memegangi setiap ujungnya dan mengangkatnya secara bersama-sama. Begitu batu hitam itu terangkat, maka Muhammad segera mengambilnya dan meletakkannya di tempatnya semula. Sebuah kecerdasan yang luar biasa. Dalam situasi genting, Muhammad hadir dengan ide yang cemerlang sehingga berhasil mencegah pertumpahan darah.



Sejumput Pelajaran

Segala keistimewaan yang dimiliki oleh Muhammad sejak kecil adalah merupakan anugrah Allah sebagai pendahuluan bagi tugas kenabian dan kerasulannya kelak. Semua itu adalah bagian dari  irhaashat, yaitu keistimewaan dan keluarbiasaan yang diberikan oleh Allah kepada seorang anak manusia yang kelak akan dipilih-Nya sebagai nabi dan pemimpin umat. Irhashot itu berbeda dengan keistimewaan atau keluarbiasaan yang dimiliki oleh anak indigo. Sebab,  jika ditelusuri, keluarbiasaan anak-anak indigo selalu mengarah kepada fitnah ummat. Keluarbiasaan mereka sering dilatarbelakangi amalan-amalan menyimpang dari orang tuanya atau mbah-buyutnya terdahulu. Atau bahkan ditunggangi oleh unsur sihir (fitnah jin / setan) yang hendak menyesatkan manusia. Akibatnya, tidak jarang anak yang dianggap indigo, meski pun berprilaku nyeleneh, dipercayai bisa melakukan tindakan supranatural (di luar kemampuan nalar dan tabiat manusia).

Keluarbiasaan Muhammad sewaktu kecil murni anugerah Allah sehingga tumbuh dengan perilaku yang jauh dari penyimpangan, baik dari segi akhlaq mau pun akidahnya. Sebagai calon nabi, Muhammad telah dijaga oleh Allah bahkan sejak dari asal-usul keturunan dan keluarganya. Dipilih dari kabilah terbaik, keluarga terbaik dan orang tua terbaik. Allah telah menjaganya dari segala keburukan yang bisa menodai kesempurnaan sosok manusia teladan. Maka dia harus dihadirkan sebagai anak manusia yang bersih keturunannya, bersih hatinya, bersih prilakunya. Dan, itu telah mendapatkan pengakuan dari seluruh kaumnya sejak usianya yang masih dini. Betapa tidak, dia akan dikirim sebagai sosok pelurus akidah, penyempurna budi pekerti dan pemimpin ummat. Manalah mungkin dia bisa memainkan peran mahapenting itu dan memberi sesuatu kepada orang lain, apalagi kepada umat yang besar ini jika dirinya sendiri tidak memiliki kesempurnaan itu.

Maka demikian itulah sunatullah dalam memilih kepemimpinan. Calon-calon pemimpin itu harus terjaga sejak dini dari prilaku tercela. Manakala sang Nabi dijaga langsung oleh Allah, maka calon-calon pemimpin dari ummatnya diamanatkan penjagaannya kepada orang tua, guru dan lingkungan yang membesarkan dan mendidiknya. Sebab, setelah umat ini ditinggal oleh pemimpin agungnya, Muhammad saw. kepemimpinan selanjutnya bukan atas ketetapan wahyu dan penunjukan ilahiyah, melainkan berdasarkan atas syura dan plihan ummat. Maka baik dan buruknya kepemimpinan ummat amat bergantung kepada kualitas umat yang melahirkan pemimpin-pemimpin itu. Sebagaimana pepatah Arab mengatakan, “kaifamaa takuunu yuwalla ‘alaikum” [bagaimana kualitas kamu, maka seperti itulah kepemimpinan terhadap kamu.” Sama makna dengan pepatah bahasa Inggris, “Presiden is what the people are.” Jika rakyatnya rendah kualitas, maka pemimpin yang dipilih dan diangkat adalah orang yang rendah kualitasnya. Jika rakyatnya senang sogok-menyogok, maka pilihannya akan jatuh kepada orang yang bisa memberi sogokan dan bayaran ketika mau menjadi pemimpin.

Umat Islam merindukan sosok pemimpin yang dibesarkan dari keluarga dan lingkungan yang bersih dan mulia. Kemulian keluarga tidak diukur dengan banyaknya harta dan tingginya pangkat. Sejarah umat Islam telah membuktikan bahwa pemimpin ummat tidak selamanya harus datang dari keluarga ningrat. Bahkan Nabi Muhammad saw. sendiri bukan keturunan raja-raja yang datang untuk mengklaim kerajaan nenek moyangnya yang hilang. Melainkan anak manusia biasa. Selagi umat Islam belum mendapatkan kepemimpinan yang sholih dan beriman, jujur dan adil, berilmu dan bijaksana, maka menjadi fardu ‘ain bagi setiap rumah tangga muslim untuk mendidik dan melahirkan kepemimpinan seperti itu. Sebab, pemimpin umat yang ideal itu bukanlah sosok misteri satrio paningit yang turun dari langit, tidak muncul dari segara kidul, atau menyembul dari kawah gunung merapi. Meski pun tidak mustahil jika sosok pemimpin harapan umat yang dapat menjaga kebaikan agama dan dunianya itu akan lahir dari sebuah rumah sederhana yang bersih dan mulia di tengah umat yang sakit ini. Allaahumma aamiin! []
Share:

02 April 2013

Memohon Rasa Takut, Ketaatan dan Keyakinan kepada Allah serta Pertolongan-Nya



Doa yang perlu dihafal, mari kita renungkan dan amalkan...


اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُوْلُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ 
وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ 
وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا 
وَمَتِّعْنِا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا 
وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا 
وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِيْ دِيْنِنَا 
وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا 
وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَخَافُكَ وَلاَ يَرْحَمُنَا
  

Ya Allah, berikan kepada kami dari rasa takut kami kepada-Mu sesuatu yang akan membentengi kami dari maksiat kepada-Mu, 
anugerahkan kami dari ketaatan kami kepada-Mu sesuatu yang akan mengantarkan kami ke surga-Mu, 
dan berikan untuk kami dari keyakinan kami kepada-Mu sesuatu yang akan meringankan kami dalam menghadapi musibah dunia. 
Berikan kenikmatan pada pendengaran, penglihatan dan semua kekuatan dan potensi kami selama Engkau hidupkan kami, jadikan semua itu sebagai peninggalan kami. 
Jadikan pembalasan kami hanya kepada orang yang telah menzhalimi kami, 
tolonglah kami atas orang-orang yang memusuhi kami, 
jangan Engkau jadikan musibah menimpa kami dalam agama dan iman kami, 
jangan Engkau jadikan dunia ini sebagai puncak cita-cita dan ilmu kami, 
dan jangan Engkau kuasakan kami kepada orang-orang yang tidak takut kepada-Mu dan tidak menyayangi kami.
Share:

Kenapa Kita Mudah Kecewa?

"Kenapa kita mudah kecewa kepada orang lain?" Mungkin pertanyaan di atas sesuai dengan keadaan diri kita. Atau boleh j...