• KEAGUNGAN AL QURAN

    Al-Quran adalah cahaya yang menerangi kebutaan, penawar hati yang menyembuhkan penyakit dan kehampaannya, suguhan lezat bagi jiwa, taman indah sanubari, penuntun nurani menuju negeri yang damai.

  • BUAH TARBIYAH

    Kita bukanlah orang yang sudah benar-benar baik apalagi terbaik, melainkan hanya orang yang keburukannya tertutupi.

  • DOSA-DOSA YANG DIREMEHKAN

    Tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari 3 hari. Siapa yang mendiamkan saudaranya lebih dari 3 hari kemudian ia mati, maka ia masuk neraka.

  • CIRI PENGHUNI SURGA

    Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh. Inilah yang dijanjikan kepadamu.

  • SEREMONI

    Sejak pagi keluarga mempelai perempuan bersiap diri menyambut tamu yang telah lama dinanti-nanti. Akhirnya datang juga. Mempelai laki-laki dikawal rombongan sekeluarga.

15 Mei 2014

Siapapun Dia, Hargailah Kebaikannya


Seri Kepemimpinan Nabi - 4
Oleh: Ust. Hamim Thohari

Sekilas Perjalanan
Ketika Muhammad  telah mendapat amanat kenabian, beliau terkadang mengenang kembali apa yang dahulu pernah dialaminya di masa kecil. Meskipun itu terjadi di era jahiliyah. Terutama hal yang merupakan best of the best-nya produk peradaban kaumnya di waktu itu. Beliau bercerita, “dahulu di rumah keluarga Abdullah bin Jad’an, aku pernah menyaksikan sebuah persepakatan yang lebih kusukai dari pada onta merah sekali pun. Kalau sekarang di era Islam ini aku diundang untuk (hal seperti) itu pasti akan kupenuhi (undangannya).”

Persepakatan yang dibuat di rumah keluarga Abdullah bin Jad’an at-Taimiy itu, dalam Kitab Sirah, disebut sebagai Hilful Fudhul. Saat itu usia beliau kurang lebih 15 tahun. Beberapa tokoh dari kabilah-kabilah kaum Quraisy yang terdiri dari Bani Hasyim, Bani Abdul Muthalib, Bani Asad bin Abdul Uzza, Bani Zuhrah bin Kilab dan Bani Taim bin Murrah bertemu di rumah pemuka kabilah Bani Taim tersebut. Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan bersama, “bahwa apabila terjadi tindak kezaliman di Mekah yang menimpa siapa pun di antara penduduk asli Mekah atau orang lain, maka mereka semua harus membela orang yang dizholimi dan menentang pelaku kezholiman sampai orang yang dizholimi mendapatkan haknya kembali.”

Banyak lagi kenangan kecil beliau di era masyarakat jahiliyah. Di antaranya,  sebagai anak remaja, sesekali terbesit juga keinginan untuk ikut begadang sambil menonton atau mendengarkan hiburan bersama remaja-remaja lain sebayanya. Beliau berkata, “tidak lebih dari dua kali terbesit keinginanku untuk melakukan apa yang biasa dilakukan oleh ahli jahiliyah. Namun, Allah telah menghalangiku dari mewujudkan keinginan itu. Sejak itu hingga dimuliakan Allah dengan kerasulan, aku tidak lagi punya keinginan untuk hal-hal seperti itu.” Dalam dua kali keinginan itu, seakan-akan Allah membuat telinganya tuli dan matanya digelayuti rasa kantuk yang menyebabkannya tertidur pulas hingga batal mengikuti tradisi hura-hura anak-anak remaja kala itu.

Selain berprofesi sebagai pengembala kambing untuk mendapatkan upah sedirham dua dirham, Muhammad muda juga sering dipercayai oleh kaumnya untuk menjagakan barang-barang berharga mereka. Bahkan beliau pun tidak canggung-canggung berbaur dengan kaumnya dalam kerja-kerja sosial. Sungguh pun begitu, beliau tetap memilah dan memilih mana yang bisa diikuti dan mana yang tidak. Prinsip nakhtalitun waa laakin natamayyazuun [terjemah bebasnya, kami berbaur tapi tidak sampai lebur] yang menjadi slogan gerakan dakwah kontemporer, rupa-rupanya telah diterapkan oleh beliau. Ketika ada keributan untuk memperebutkan “kehormatan” meletakkan hajar aswad di tempatnya, beliau tidak ikut-ikutan. Dalam keadaan genting, justru beliau hadir sebagai penengah yang melegakan semua pihak dan menghindarkan pertumpahan darah.

Dalam pemugaran Ka’bah, beliau ikut pamannya, Abbas membantu mangangkat batu-batu. Agar kulit pundaknya tidak lecet terkena batu, pamannya menasehati, “Gunakan sarungmu untuk mengalas pundak!” (Harap maklum, kehidupan beliau dan masyarakatnya yang serba miskin menyebabkan pakaian kebanyakan orang kala itu hanya berupa sehelai kain tanpa berjahit yang dililitkan dari pinggang hingga sedikit di bawah lutut, ketika ditarik ke atas untuk menutupi pundak, maka sudah pasti auratnya akan terbuka) Ketika beliau hendak mengikuti nasehat pamannya mengalas   pundak dengan kain sarung, tiba-tiba beliau jatuh tersungkur setengah tidak sadarkan diri. Setelah bangun, beliau segera membenahi sarungnya untuk menutup auratnya lagi. Kejadian tersingkap aurat itu saat beliau baru beranjak remaja dan hanya sekali itu saja terjadi sepanjang hayat beliau. Pasti Allah-lah yang menjaga manusia yang kelak menjadi Nabi dari segala aib yang memalukan dan menghinakan.


Sejumput Pelajaran
Nabi Muhammad, saw. telah mengajarkan kepada ummatnya agar pandai mengapresiasi kebaikan, sekali pun itu datangnya dari kelompok masyarakat yang tidak disukai. Pujian beliau terhadap hilful fudhul – yang merupakan produk masyarakat jahiliyah -- adalah buktinya. Jangankan kebaikan dan kebenaran dari sesama manusia, dari sosok makhluq gembong kebohongan pun Rasulullah saw. mengizinkan sahabatnya menerima apa yang diajarkan. Tersebut dalam shahih Bukhari, bahwa sahabat Abu Hurairah pernah memergoki pencuri yang menyatroni baitul mal. Sekali dan dua kali si pencuri itu dilepas karena berhasil meyakinkan si penangkapnya dengan alasan mencuri karena terpaksa.

Dua kali kejadian itu dilaporkan kepada Nabi  dan beliau mengatakan bahwa dia berbohong, besuk pasti akan kembali lagi. Betul, ketiga kalinya pencuri itu datang lagi dan tertangkap basah. Kali ini Abu Hurairah bertekad untuk tidak melepaskannya, namun dia berjanji akan memberitahukan sebuah bacaan yang bisa membuat setan lari. Bacaan tersebut adalah ayat Kursi. Maka dia pun dilepaskan. Keesokan harinya, Abu Hurairah, ra. memberitahu Rasul tentang kejadian semalam. Kata beliau, “kali ini dia benar [yakni tentang kegunaan ayat Kursi untuk menngusir setan] meski pun dia adalah pembohong. Kamu tahu, siapakah yang kamu ajak bicara sejak tiga malam itu?” Abu Hurairah berkata, “Tidak tahu.” Rasulullah menjelaskan, “dia adalah setan.”

Pelajaran dari mana pun datangnya, asalkan tidak bertentangan dengan ruh dan syariat Islam telah terbukti dapat diterima dalam peradaban Islam. Sebagaimana, menurut Imam al-Mawardi dalam Ahkam Sulthaniyah-nya, Khalifah Umar ra. telah mengadobsi model manajemen Bangsa Romawi dan Persia, terutama yang terkait dengan pembukuan harta benda yang masuk kepada negara, catatan hak dan kewajiban pemerintah, gaji dan tugas pasukan, hingga kepada masalah kependudukan. Sebagian dari produk peradaban Islam adalah hasil dari Islamisasi budaya atau Islamisasi sarana. Bahkan dalam hukum Islam dikenal kaedah akomodatif berbunyi, “al-‘aadatu muhakkamatun” (adat atau kebiasaan baik yang berlaku ditengah masyarakat – selagi tidak bertentangan dengan prinsip syariat Islam – bisa diberlakukan sebagai hukum).

Demi kebaikan dan kemashlahatan bersama -- apalagi dalam perkara yang tidak bertentangan dengan ruh dan syariat Islam - seorang dai dan pemimpin umat semestinya menjadi pelopor dan penganjur utama. Bukan hadir ketika ada pamrih dan kepentingan pribadi, namun hadir untuk membawa solusi. Seorang dai dan pemimpin yang baik tidak akan jauh dari rakyat dan objek dakwahnya. Bergaul dengan semua lapisan masyarakat dengan kepribadian yang matang dan karakter yang menyenangkan. Sehingga bisa berbaur tanpa lebur dan membersamai tanpa ternodai. Rasulullah memuji pribadi Muslim yang demikian itu:

ุงู„ْู…ُุคْู…ِู†ُ ุงู„َّุฐِูŠ ูŠُุฎَุงู„ِุทُ ุงู„ู†َّุงุณَ ูˆَูŠَุตْุจِุฑُ ุนَู„َู‰ ุฃَุฐَุงู‡ِู…ْ ุฃَุนْุธَู…ُ ุฃَุฌْุฑًุง ู…ِู†َ ุงู„َّุฐِูŠ ู„ุง ูŠُุฎَุงู„ِุทُ ุงู„ู†َّุงุณَ ، ูˆَู„ุง ูŠَุตْุจِุฑُ ุนَู„َู‰ ุฃَุฐَุงู‡ِู…ْ
"Seorang Mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas perkara yang menyakitkan mereka adalah lebih besar pahalanya dari pada seorang (mukmin) yang tidak mau bergaul dengan manusia dan tidak bersabar atas   perkara yang menyakitkan mereka." (dari Ibnu Umar diriwayatkan oleh al-Bukhari)

Rasulullah saw. tidak dibiarkan oleh Rabb-nya terkontaminasi prilaku dan budaya buruk kaumnya. Sebagai calon panutan dan manusia teladan Utusan Allah tentu tidak pantas memiliki latar belakang prilaku menyimpang. Keterjagaan (ishmah) beliau dari perbuatan tercela bukan tiba-tiba setelah diangkat sebagai Nabi, bahkan sejak dini. Seperti beliau dipalingkan dari berkeinginan kepada perbuatan sia-sia hingga terjaga dari aib (nyaris terbuka auratnya meski pun beliau masih sangat muda) yang bisa menjatuhkan harga diri.

Tentu semua itu adalah bagian dari skenario Allah untuk melindungi calon Utusannya kelak. Karena penyeru kebaikan dan kebenaran tertinggi pastinya harus datang dari pribadi yang bersih dan paripurna.  Begitulah para dai penyeru kebaikan dan keluhuran akhlaq, meski pun tidak maksum (terjaga dari dosa), tetapi haruslah senantiasa berusaha untuk memperbaiki diri dan menjauhi segala perbuatan tercela walau sekecil apa pun. Sungguh indah bait-bait syair berikut ini yang mengingatkan agar seorang dai dan penyeru kebaikan itu bukanlah pribadi jarkoni (istilah orang Jawa yang berarti, bisa berujar tidak bisa ngelakoni):

ูŠุงุฃูŠู‡ุง ุงู„ุฑุฌู„ُ ุงู„ู…ุนู„ู…ُ ุบูŠุฑู‡ُ *** ู‡ู„ุง ู„ู†ูุณูƒ ูƒุงู† ุฐุง ุงู„ุชุนู„ูŠู…ُ
Wahai guru bagi orang lain, sudahkah kau ajari dirimu
ุชุตูُ ุงู„ุฏูˆุงุก ู„ุฐูŠ ุงู„ุณู‚ุงู… ูˆุฐูŠ ุงู„ุถู†ู‰ *** ูƒูŠู…ุง ูŠุตุญ ุจู‡ ูˆุฃู†ุช ุณู‚ูŠู…ُ
Kau meracik obat untuk yang sakit, mana bisa menyembuhkan jika dirimu sendiri berpenyakit
ูˆู†ุฑุงูƒ ุชุตู„ุญُ ุจุงู„ุฑุดุงุฏ ุนู‚ูˆู„ู†ุง *** ุฃุจุฏุงً ูˆุฃู†ุชَ ู…ู† ุงู„ุฑุดุงุฏ ุนุฏูŠู…ُ
Kau perbaiki pikiran kami dengan bimbingan, mana bisa jika kau sendiri tidak terbimbing
ู„ุง ุชู†ู‡َ ุนู† ุฎู„ู‚ٍ ูˆุชุฃุชูŠ ู…ุซู„ู‡ُ *** ุนุงุฑٌ ุนู„ูŠูƒ ุฅุฐุง ูุนู„ุช ุนุธูŠู…ُ
Jangan melarang satu prilaku, sementara kau sendiri melakukannya, sungguh sangat memalukan jika itu kau lakukan
ูˆุงุจุฏุฃ ุจู†ูุณูƒ ูุงู†ู‡ู‡ุง ุนู† ุบูŠِّู‡ุง *** ูุฅุฐุง ุงู†ุชู‡ุชْ ู…ู†ู‡ ูุฃู†ุชَ ุญูƒูŠู…ُ
Mulailah dari dirimu terlebih dahulu, halangi dari kesesatan, jika kamu berhasil barulah kamu bijak
ูู‡ู†ุงูƒ ูŠู‚ุจู„ُ ู…ุง ูˆุนุธุชَ ูˆูŠูุชุฏู‰ *** ุจุงู„ุนู„ู… ู…ู†ูƒ ูˆูŠู†ูุนُ ุงู„ุชุนู„ูŠู…ُ
Dari situlah nasehatmu akan diterima, orang akan siap berkorban untuk mendapatkan ilmu darimu dan bergunalah pengajaranmu []
Share:

14 Mei 2014

Motivasi Qurani-4: Jangan Tinggalkan Al-Qur'an

Apa saja yang digolongkan sebagai sikap meninggalkan Al-Qur’an hingga seseorang menjadi temannya syaithan?

Ada sebentuk curahan hati Rasulullah SAW yang diabadikan dalam firman Allah pada Surat Al-Furqan ayat 30:
Dan berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang tidak diacuhkan.” (QS. Al-Furqan [25]: 30)

Yang dimaksud dengan ‘kaumku’ dalam ayat tersebut adalah orang-orang kafir di masa Rasulullah saw. yang tidak mau mendengarkan da’wah beliau yang disampaikan dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Tapi sepatutnya kita pun mau mengambil pelajaran bahwa siapapun bisa disebut meninggalkan (acuh tak acuh terhadap) Al-Qur’an jika telah memenuhi kriterianya.

Klasifikasi para ulama (mufassir) tentang sikap meninggalkan Al-Qur’an rasanya cukup sebagai alat deteksi apakah kita termasuk orang yang meninggalkannya atau tidak. Sikap meninggalkan Al-Qur’an itu meliputi:

1.      Meninggalkan Bacaannya
Tidak mau mendengarkan dengan seksama dan mengimaninya. Tidak mau diam, malah berbincang atau membuat kegaduhan ketika Al-Qur’an dibacakan dalam suatu majelis. Termasuk klasifikasi ini adalah tidak mau membaca Al-Qur’an.

2.      Meninggalkan Pelajarannya
Tidak mau memikirkan, mengkaji dan memahami apa yang dikehendaki oleh Allah di dalam firman-Nya itu. Termasuk disebut meninggalkan Al-Qur’an pada aspek ini adalah orang yang senantiasa rajin membacanya namun tidak mau memahami apa yang sedang dibacanya itu, terlebih lagi untuk merenungi dan menghayatinya.

3.      Tidak Taat
Tidak mau mengamalkan kandungannya serta tidak peduli dengan ketentuan halal dan haram yang diterangkannya. Selain itu tidak mau ber-tahkim dengan Al-Qur’an, yakni tidak menjadikannya sebagai dasar hukum dalam segala sisi kehidupan, serta tidak menjadikannya sebagai panduan hidup.

4.      Tidak Menyembuhkan Penyakit dengannya
Tidak menjadikannya sebagai obat penawar bagi beragam penyakit hati, malah berobat dengan yang selainnya. Kita renungkan betapa banyak orang yang merasakan kegelisahan dalam hidupnya sehingga hatinya menjadi terhimpit. Tapi mereka mencari penyembuhan dengan meninggalkan Al-Qur’an, padahal Allah saja telah menyebut Al-Qur’an sebagai obat penawar (Asy-Syifa) bagi berbagai macam penyakit yang bersarang di dalam hati. Mereka lari dari Al-Qur’an dan mendatangi paranormal, dukun, atau mencoba meditasi yang bersumber dari ajaran keyakinan selain Islam.

5.      Lebih Cenderung kepada yang Lain
Berpaling dari peringatan (dzikir) Al-Qur’an kepada hal-hal selainnya, seperti syair, musik dan nyanyian yang melalaikan, pembicaraan yang sia-sia, aneka permainan, tontonan dan sebagainya. Mari kita renungkan, jika mengacu pada kriteria ini saja, maka betapa banyak orang-orang yang disebut telah jauh meninggalkan Al-Qur’an.

Wahai saudara seiman yang memahami bahwa rukun iman yang enam itu memiliki konsekuensi dan tuntutannya masing-masing, marilah kita renungkan perkara yang teramat penting ini agar kita jauh dari kehidupan dan penghidupan yang sempit di dunia dan akhirat.

Ketahuilah bahwa orang-orang muslim yang tidak mau membaca Al-Qur’an adalah orang-orang yang meninggalkan Al-Qur’an, meski mereka beralasan, “Yang penting kami memahami dan menjalankan ajarannya.” Sebab, Rasulullah dan para sahabat adalah orang-orang yang mengamalkan Al-Qur’an, tapi mereka tak mau meninggalkan bacaan Al-Qur’an. Mereka jauh di atas kita dalam ilmu dan amal.

Kemudian, mereka yang tak mau mempelajari dan memperhatikan kandungan Al-Qur’an termasuk juga orang-orang yang meninggalkannya, sekalipun mereka membaca Al-Qur’an itu berulang-ulang namun tanpa penghayatan.

Dan juga mereka yang tidak mau mengamalkan ajaran Al-Qur’an adalah termasuk orang-orang yang meninggalkannya, meskipun mereka telah membaca dan mengkajinya dengan pemahaman yang mendalam. []
Share:

09 Mei 2014

Motivasi Qurani-3: Mengapa Kita Perlu Berinteraksi dengan Al-Quran?


Apa alasan utama ber-Al-Qur’an bagi Anda?
1. Karena kelak Anda ingin bisa menjawab pertanyaan malaikat di alam barzakh (kubur) tentang tiga hal utama (ushuluts tsalatsah), yakni pertanyaan: “Siapakah Tuhanmu, apa agamamu, dan siapa orang yang diutus kepadamu?”. Perhatikanlah kutipan terjemah hadits berikut:
Lantas roh (jenazah mukmin itu) dikembalikan ke jasadnya, kemudian dua malaikat mendatanginya dan mendudukkannya dan bertanya: “Siapa Rabbmu”. Ia menjawab “Rabbku Allah”. Tanya keduanya: “Apa agamamu?”, “Agamaku Islam”. Jawabnya. Keduanya bertanya lagi: “Bagaimana komentarmu tentang laki-laki yang diutus kepada kamu ini?” Si mayit menjawab: “Oh, dia adalah Rasulullah saw.” Keduanya bertanya: ”Darimana kamu tahu?” Ia menjawab: “Aku membaca Kitabullah sehingga aku mengimani dan membenarkannya”.
Lantas ada Penyeru di langit memanggil-manggil: “HambaKu benar, hamparkanlah surga baginya dan berikanlah pakaian surga, dan bukakanlah pintu baginya menuju surga”. Maka hamba itu memperoleh bau harum dan wangi surga dan kuburannya diperluas sejauh mata memAndang. Lantas ia didatangi oleh laki-laki berwajah tampan, pakaiannya indah dan wanginya semerbak. Kemudian ia berucap: "Bergembiralah dengan kabar yang menggembirakanmu. Inilah hari yang dijanjikan untukmu.” Si mayit bertanya: “Lho, siapa kamu ini sebenarnya? Rupanya wajahmu adalah wajah yang mendatangkan kebaikan!” Si laki-laki tampan menjawab: “Aku adalah amal solehmu”. Lantas hamba tadi meminta: "Ya Rabbku, jadikanlah hari kiamat sekarang juga sehingga aku bisa kembali menemui keluargaku dan hartaku”. (Musnad Ahmad 17803)
2.   Kemudian, Anda tidak ingin hidup Anda didominasi oleh pengaruh syaithan yang jelas-jelas musuh abadi manusia hingga akhir zaman. Mereka mengajak Anda ke neraka sedangkan Al-Qur’an menuntun Anda ke surga. Dengan demikian, ber-Al-Qur’an adalah cara yang paling jitu untuk mengusir syaithan (dalam arti yang seutuhnya). “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah (Al-Qur’an), akan Kami adakan baginya syaithan (yang menyesatkan). Maka syaithan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 36)
3.  Orang-orang yang tidak mau ber-Al-Qur’an atau berpaling dari peringatan Allah adalah orang-orang yang disengsarakan di dunia dan di akhirat. Sebagaimana firman Allah: Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapakah Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dulunya adalah seorang yang dapat melihat?”. Allah berfirman: “Demikianlah telah datang padamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan.” (QS. Thaahaa [20]: 124-126)
4.  Orang-orang yang tidak mau memahami, melihat dan mendengar ayat-ayat Allah diserupakan dengan binatang ternak dan dijadikan sebagai penghuni neraka jahannam. Firman-Nya: “Dan sungguh Kami jadikan untuk (mengisi) neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka punya hati (tapi) tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka punya mata (tapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka punya telinga (tapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagaikan binatang ternak bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raaf [7]: 179)
Share:

10 November 2013

Motivasi Qurani-2: Apa yang dimaksud dengan ber-Al-Qur’an?

Ber-Al-Qur’an adalah memenuhi kewajiban terhadap Al-Qur’an sebagai konsekuensi keimanan (Rukun Iman ketiga). Kita telah mengikrarkan iman kita kepada kitab-kitab Allah, sedangkan Al-Qur’an adalah Kitab yang selalu terpelihara sampai akhir zaman sesuai firman-Nya: “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kamilah yang akan menjaganya”. 

Maka iman itu akan terbukti (kita disebut benar-benar beriman) manakala kita juga membenarkan di dalam hati dan mewujudkan dengan perbuatan. 

Ber-Al-Qur’an juga dimaknai dengan berinteraksi atau berakhlaq terhadap Al-Qur’an sebagai salah satu aspek Akhlaqul Karimah, yang mana batasan akhlak mulia menurut Mahmud Al-Mishri (di dalam bukunya Ensiklopedia Akhlak Muhammad saw.) mencakup berakhlak mulia terhadap Allah Sang Pencipta, terhadap Rasulullah saw., terhadap Kitab Suci, terhadap para malaikat, dan terhadap seluruh manusia. 

Akhlak mulia terhadap Al-Qur’an adalah dengan membaca dan merenungi setiap ayat-Nya. Selain itu mengaplikasikan ayat-ayat tersebut dalam kehidupan serta menjadikan nya sebagai penentu segala perkara, baik yang besar maupun yang kecil.

Dengan demikian, ber-Al-Qur’an adalah hidup di bawah naungan Al-Qur’an, yang dengan itu hidup Anda menjadi berkah dan segenap umur Anda manfaat. Apapun yang Anda alami dalam hidup ini Anda kaitkan dengan apa yang difirmankan Allah dalam Al-Qur’an. Dan apa yang Anda baca dari Al-Qur’an sebisa mungkin Anda hidupkan dalam kehidupan. Ayat-ayat itu akan terasa lebih hidup bagi Anda dan hidup Anda pun menjadi lebih hidup.



“Hidupkan Qur’an-mu, Qur’an-kan Hidupmu!”
Maksudnya, bacalah Al-Qur’an dengan penuh penghayatan dan kemudian jadikanlah hidup Anda bersinar dengan cahaya Al-Qur’an.
Share:

04 November 2013

Motivasi Qur'ani-1: Pendahuluan

Di antara kewajiban Anda terhadap Al-Qur'anul Karim ialah kita membaca dan menjadikannya sebagai bacaan harian. Namun tak sekedar membaca, melainkan Anda membacanya dengan bacaan yang benar menurut kaidah ilmu tajwid.
Omong-omong soal kewajiban “berakhlak” terhadap Al-Qur’an, kita saksikan Kaum Muslimin terbagi menjadi beberapa golongan.
Pertama, orang-orang yang sama sekali jauh dari Al-Qur’an. Jangankan untuk membaca dan mempelajarinya, menyentuhnya saja mungkin bisa dihitung dengan jari dalam seumur hidup mereka. Kita berdoa semoga Allah melimpahkan hidayah kepada kita dan mereka.
Kedua, mereka yang menjadikan Al-Qur’an sebagai ritual belaka. Di antara mereka ada yang amat berfokus mempelajari ilmu tilawah, melagukan serta melombakannya. Namun kebanyakan mereka terhenti pada aktivitas itu dan tidak memenuhi kewajibannya lebih lanjut. Ada kalangan yang begitu mengagungkan dan menyucikan fisik Al-Qur’an (mushhaf dan tulisannya), namun perilaku mereka tidak sejalan dengan nilai Al-Qur’an. Kita berlindung kepada Allah semoga tidak termasuk yang demikian. Sebab, boleh jadi kalangan semacam ini seperti yang disifati oleh Rasulullah SAW, “Suara mereka tidak dapat melewati tenggorokan mereka (tidak meresap dalam hati). Hati mereka dan orang-orang yang simpati kepada mereka telah terfitnah (keluar dari jalan yang lurus).” (Shahih Bukhari 4670; Musnad Ahmad 11150; Muwatha Imam Malik 428)
Ketiga, ada pula orang-orang yang menyikapi Al-Qur’an hanya dengan memahami dan mengamalkannya (menurut perkiraan mereka). Mereka tidak banyak membaca Al-Qur’an dan kurang memperhatikan kualitas bacaannya. Di antara mereka ada yang berkata, “Membaca Al-Qur’an itu tidak terlalu penting, yang penting adalah aplikasinya.”
Ketiga  kelompok tersebut semuanya merupakan kalangan yang tidak utuh dalam interaksinya dengan Al-Qur’an. Penyebab utamanya adalah dua hal: (1) Tidak diterimanya ilmu yang cukup tentang Al-Qur’an serta tuntutan iman terhadapnya; (2) Dominasi kerja akal yang hanya menikmati buah pikiran manusia. Yang pertama kita sebut penyakit syubhat, biasanya menimpa orang-orang awam yang kurang mendapatkan akses informasi dan pendidikan keislaman yang utuh sehingga mereka hanya mengikuti tradisi agama di lingkungannya. Dan yang kedua penyakit syahwat, biasanya menimpa orang-orang berpendidikan modern, termasuk di antaranya sebagian intelektual dan para aktivis muslim.
Motivasi Qur’ani merupakan sarana yang tepat dalam rangka mengobati kedua penyakit tersebut serta sangat sesuai diterapkan pada dua kalangan tersebut, yakni masyarakat umum dan kaum intelektual. Semoga hadirnya tulisan ini turut membantu menumbuhkembangkan dan meningkatkan keber-Al-Qur’an-an umat sehingga mereka termasuk dalam kelompok keempat, yakni orang-orang yang berusaha memenuhi kewajiban interaksinya terhadap Al-Qur’an secara sempurna. Amin. []
Share:

06 Oktober 2013

Menyelaraskan Keinginan Diri dengan Kehendak Ilahi




ุงุฑุงุฏุชูƒ ุงู„ุชุฌุฑูŠุฏ ู…ุน ุงู‚ุงู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ุงูŠุงูƒ ููŠ ุงู„ุงุณุจุงุจ ู…ู† ุงู„ุดู‡ูˆุฉ ุงู„ุฎููŠุฉ، ูˆุงุฑุงุฏุชูƒ ุงู„ุงุณุจุงุจ ู…ุน ุงู‚ุงู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ุงูŠุงูƒ ููŠ ุงู„ุชุฌุฑูŠุฏ ุงู†ุญุทุงุท ุนู† ุงู„ู‡ู…ุฉ ุงู„ุนู„ูŠุฉ.

Keinginanmu untuk lepas dari urusan duniawi padahal Allah membekalimu dengan sarana penghidupan, adalah syahwat yang samar. Sedangkan keinginanmu untuk mendapatkan sarana penghidupan padahal Allah telah melepaskanmu dari urusan duniawi, adalah suatu kemunduran dari cita-cita yang tinggi.
[Ibnu Athoillah, Al Hikam 002]


Luar biasa kalimat di atas, bisa dimengerti tapi sulit dijelaskan. Pada intinya, kita semestinya bersyukur dan ridho dengan kondisi dan kedudukan di mana Allah menempatkan kita, termasuk bersyukur dengan kondisi sarana penghidupan kita saat ini.

Jika Allah memposisikan kita sebagai pengusaha atau pekerja yang tugasnya mencari penghidupan dan dengan itu kita menjadi bermanfaat, maka tidak selayaknya kita meninggalkan kehidupan itu untuk menjadi ahli ibadah saja.

Sebaliknya, jika Allah telah menempatkan kita sebagai seorang ahli ibadah, pencari ilmu dan orang yang senantiasa disibukkan dengan urusan dakwah dan perjuangan, yang dengan itu sarana penghidupan kita menjadi tidak pasti namun tetap terjamin seiring keyakinan kepada Allah, maka meninggalkan kehidupan itu demi mencari sarana penghidupan yang pasti adalah suatu kemunduran dan penurunan cita-cita yang luhur.

Singkatnya, setiap orang terlahir ke dunia ini membawa tugasnya masing-masing yang berbeda satu sama lain. Dan kita harus merenungkan lagi dan lagi tentang misi hidup kita serta peran yang Allah inginkan untuk kita. Misi hidup tak perlu lagi dirumuskan karena Allah sudah menetapkannya untuk kita: ibadah. Namun peran kita untuk memaksimalkan ibadah itulah yang perlu kita temukan dalam perenungan panjang: "Sebenarnya Allah menginginkan saya untuk menjadi apa?".

Ukurannya adalah kenyamanan kita dengan peran yang sedang dijalani. Namun maksud kenyamanan di sini bukanlah kenyamanan dalam arti bermalas-malasan atau memanjakan hawa nafsu. Dan bukan juga kenyamanan dalam arti melakukan peran tanpa mau mengambil resiko. Kenyamanan di sini lebih diartikan dengan kesesuaian "panggilan jiwa", sesuatu yang benar-benar menggambarkan apa yang ingin kita lakukan dan tak ada beban atau tekanan perasaan dalam menjalaninya. Sekali lagi, semua ini memerlukan pemikiran dan perenungan yang mendalam. Wallahu a'lam. []
Share:

05 Oktober 2013

Pahala Jariyah yang Tak Kita Sadari



Oleh: Ust. Zulfi Akmal

Rasulullah bersabda: "Orang terbaik itu adalah orang yang bila kamu melihatnya kamu akan teringat kepada Allah".

Dalam pelajaran malam kemarin saya mendapatkan pelajaran baru dari Syekh. Beliau menceritakan pengalamannya:

Dulu pada tahun 70-an ketika aku masih duduk di bangku kuliah, setiap hari aku satu mobil dengan seseorang yang sampai hari ini tidak aku kenal dan dia tidak mengenalku. Orang itu selalu di atas mobil memegang tasbih sambil berzikir.

Karena setiap hari melihat pemandangan seperti itu, apa yang ia lakukan itu berbekas di dalam hatiku. Hingga akhirnya aku menirunya berzikir, sekalipun tidak pakai tasbih. Sampai hari ini kebiasaan itu sudah lengket pada diriku dan orang itu masih jadi inspirasi bagiku sekalipun sudah berlalu 40 tahun.

Insyaallah, orang itu akan mendapatkan kiriman pahala terus tanpa dia mengatakan dan mengajariku sesuatu selain perbuatannya yang sangat berbekas di hatiku.

Ada pelajaran yang dapat saya ambil dari kisah beliau ini:
  1. Amalan yang ikhlas akan memberikan pengaruh positif kepada orang lain, sekalipun sang pelaku tidak menyadari.
  2. Nasehat melalui perbuatan dan contoh jauh lebih baik dari pada bicara.
  3. Mungkin saja orang yang tidak "dianggap" bisa menginspirasi orang lain, bahkan merubah alur hidup orang lain.
  4. Tidak ada salahnya kita memperlihatkan amalan kepada orang lain, karena ikhlas itu ada di hati. Sekalipun disembunyikan belum tentu juga selamat dari riya', bahkan bisa jadi jatuh kepada dosa yang lebih parah dari itu, yaitu 'ujub.
  5. Orang yang riya tidak akan mungkin mampu konsisten dalam suatu amal kebaikan. Oleh karena itu hancurkanlah bisikan untuk riya' dengan amal yang berkesinambungan tanpa putus.

Share:

Kenapa Kita Mudah Kecewa?

"Kenapa kita mudah kecewa kepada orang lain?" Mungkin pertanyaan di atas sesuai dengan keadaan diri kita. Atau boleh j...