Banyak lagi kenangan kecil beliau di era masyarakat jahiliyah. Di antaranya, sebagai anak remaja, sesekali terbesit juga keinginan untuk ikut begadang sambil menonton atau mendengarkan hiburan bersama remaja-remaja lain sebayanya. Beliau berkata, “tidak lebih dari dua kali terbesit keinginanku untuk melakukan apa yang biasa dilakukan oleh ahli jahiliyah. Namun, Allah telah menghalangiku dari mewujudkan keinginan itu. Sejak itu hingga dimuliakan Allah dengan kerasulan, aku tidak lagi punya keinginan untuk hal-hal seperti itu.” Dalam dua kali keinginan itu, seakan-akan Allah membuat telinganya tuli dan matanya digelayuti rasa kantuk yang menyebabkannya tertidur pulas hingga batal mengikuti tradisi hura-hura anak-anak remaja kala itu.
Selain berprofesi sebagai pengembala kambing untuk mendapatkan upah sedirham dua dirham, Muhammad muda juga sering dipercayai oleh kaumnya untuk menjagakan barang-barang berharga mereka. Bahkan beliau pun tidak canggung-canggung berbaur dengan kaumnya dalam kerja-kerja sosial. Sungguh pun begitu, beliau tetap memilah dan memilih mana yang bisa diikuti dan mana yang tidak. Prinsip nakhtalitun waa laakin natamayyazuun [terjemah bebasnya, kami berbaur tapi tidak sampai lebur] yang menjadi slogan gerakan dakwah kontemporer, rupa-rupanya telah diterapkan oleh beliau. Ketika ada keributan untuk memperebutkan “kehormatan” meletakkan hajar aswad di tempatnya, beliau tidak ikut-ikutan. Dalam keadaan genting, justru beliau hadir sebagai penengah yang melegakan semua pihak dan menghindarkan pertumpahan darah.
Dalam pemugaran Ka’bah, beliau ikut pamannya, Abbas membantu mangangkat batu-batu. Agar kulit pundaknya tidak lecet terkena batu, pamannya menasehati, “Gunakan sarungmu untuk mengalas pundak!” (Harap maklum, kehidupan beliau dan masyarakatnya yang serba miskin menyebabkan pakaian kebanyakan orang kala itu hanya berupa sehelai kain tanpa berjahit yang dililitkan dari pinggang hingga sedikit di bawah lutut, ketika ditarik ke atas untuk menutupi pundak, maka sudah pasti auratnya akan terbuka) Ketika beliau hendak mengikuti nasehat pamannya mengalas pundak dengan kain sarung, tiba-tiba beliau jatuh tersungkur setengah tidak sadarkan diri. Setelah bangun, beliau segera membenahi sarungnya untuk menutup auratnya lagi. Kejadian tersingkap aurat itu saat beliau baru beranjak remaja dan hanya sekali itu saja terjadi sepanjang hayat beliau. Pasti Allah-lah yang menjaga manusia yang kelak menjadi Nabi dari segala aib yang memalukan dan menghinakan.
Sejumput Pelajaran
Dua kali kejadian itu dilaporkan kepada Nabi dan beliau mengatakan bahwa dia berbohong, besuk pasti akan kembali lagi. Betul, ketiga kalinya pencuri itu datang lagi dan tertangkap basah. Kali ini Abu Hurairah bertekad untuk tidak melepaskannya, namun dia berjanji akan memberitahukan sebuah bacaan yang bisa membuat setan lari. Bacaan tersebut adalah ayat Kursi. Maka dia pun dilepaskan. Keesokan harinya, Abu Hurairah, ra. memberitahu Rasul tentang kejadian semalam. Kata beliau, “kali ini dia benar [yakni tentang kegunaan ayat Kursi untuk menngusir setan] meski pun dia adalah pembohong. Kamu tahu, siapakah yang kamu ajak bicara sejak tiga malam itu?” Abu Hurairah berkata, “Tidak tahu.” Rasulullah menjelaskan, “dia adalah setan.”
Pelajaran dari mana pun datangnya, asalkan tidak bertentangan dengan ruh dan syariat Islam telah terbukti dapat diterima dalam peradaban Islam. Sebagaimana, menurut Imam al-Mawardi dalam Ahkam Sulthaniyah-nya, Khalifah Umar ra. telah mengadobsi model manajemen Bangsa Romawi dan Persia, terutama yang terkait dengan pembukuan harta benda yang masuk kepada negara, catatan hak dan kewajiban pemerintah, gaji dan tugas pasukan, hingga kepada masalah kependudukan. Sebagian dari produk peradaban Islam adalah hasil dari Islamisasi budaya atau Islamisasi sarana. Bahkan dalam hukum Islam dikenal kaedah akomodatif berbunyi, “al-‘aadatu muhakkamatun” (adat atau kebiasaan baik yang berlaku ditengah masyarakat – selagi tidak bertentangan dengan prinsip syariat Islam – bisa diberlakukan sebagai hukum).
Demi kebaikan dan kemashlahatan bersama -- apalagi dalam perkara yang tidak bertentangan dengan ruh dan syariat Islam - seorang dai dan pemimpin umat semestinya menjadi pelopor dan penganjur utama. Bukan hadir ketika ada pamrih dan kepentingan pribadi, namun hadir untuk membawa solusi. Seorang dai dan pemimpin yang baik tidak akan jauh dari rakyat dan objek dakwahnya. Bergaul dengan semua lapisan masyarakat dengan kepribadian yang matang dan karakter yang menyenangkan. Sehingga bisa berbaur tanpa lebur dan membersamai tanpa ternodai. Rasulullah memuji pribadi Muslim yang demikian itu:
Rasulullah saw. tidak dibiarkan oleh Rabb-nya terkontaminasi prilaku dan budaya buruk kaumnya. Sebagai calon panutan dan manusia teladan Utusan Allah tentu tidak pantas memiliki latar belakang prilaku menyimpang. Keterjagaan (ishmah) beliau dari perbuatan tercela bukan tiba-tiba setelah diangkat sebagai Nabi, bahkan sejak dini. Seperti beliau dipalingkan dari berkeinginan kepada perbuatan sia-sia hingga terjaga dari aib (nyaris terbuka auratnya meski pun beliau masih sangat muda) yang bisa menjatuhkan harga diri.
Tentu semua itu adalah bagian dari skenario Allah untuk melindungi calon Utusannya kelak. Karena penyeru kebaikan dan kebenaran tertinggi pastinya harus datang dari pribadi yang bersih dan paripurna. Begitulah para dai penyeru kebaikan dan keluhuran akhlaq, meski pun tidak maksum (terjaga dari dosa), tetapi haruslah senantiasa berusaha untuk memperbaiki diri dan menjauhi segala perbuatan tercela walau sekecil apa pun. Sungguh indah bait-bait syair berikut ini yang mengingatkan agar seorang dai dan penyeru kebaikan itu bukanlah pribadi jarkoni (istilah orang Jawa yang berarti, bisa berujar tidak bisa ngelakoni):















